Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
48. Selesai berdebat.


__ADS_3

Anye tersipu malu. Bang Rinto benar-benar menuruti permintaannya hingga sampai rumah.


"Sudah nih ya..!! Tenggorokan Abang sampe kering ngomong terus. Buatkan Abang minuman donk..!!" punya Bang Rinto.


"Iya.. nanti Anye buatkan"


...


Anye sudah mengganti pakaiannya dengan daster. Ia mengangkat rambutnya dan mencepolnya ke atas membentuk sanggul tinggi menyisakan anak rambut di bagian tengkuk.


Siang ini Anye membuatkan Bang Rinto susu soda gembira, mungkin bisa di bilang segembira hatinya karena Bang Rinto sudah mulai melunak dan ia mulai bisa merasakan nyamannya menjadi istri Kapten Rinto Dirgantara.


tok..tok...tok...


Terdengar suara ketukan pintu yang lumayan kencang. Anye berjalan pelan setelah mengaduk susu soda gembira. Dari balik vitrage terlihat bahwa seorang perempuan yang mengetuk pintu rumahnya maka ia memberanikan diri untuk membukanya.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" tanya Anye dengan sopan.


Wanita itu berbalik badan. Terlihatlah wajah Nova yang penuh amarah.


"Heehh... gara-gara kamu aku dan suamiku bertengkar. Kamu itu benar-benar pelakor" teriak Nova.


"Maksudnya apa ya Bu Bowo??"


"Dasar wanita tidak tau diri, kamu tidak pantas jadi istri seorang perwira" Nova mendorong bahu Anye hingga nyaris terjungkal jika saat itu Bang Rinto tidak menahan tubuhnya.


"Jaga bicaramu Nova...!!!!!!!!!!!!" bentak Bang Rinto membuat Nova kaget sampai rasanya nyawa seakan melayang. Tidak ada sopan santun lagi di antara mereka karena Nova yang memulainya terlebih dahulu.


"Kamu nggak apa-apa sayang?? Ada yang luka?" tanya Bang Rinto sangat cemas.


"Wanita sok cantik ini yang mulai, karena dia saya bertengkar dengan Mas Bowo" teriak Nova.


Tak lama Bowo datang dengan motornya bersama Bang Arben. Gathan dan Ezhar menyusul di belakangnya.


Begitu Bowo datang.. Bang Rinto melepaskan pegangannya pada Anye dan langsung menarik kerah seragam Bowo. Di hajarnya pria itu habis-habisan hingga Bang Arben, Gathan dan Ezhar sulit untuk memisahkan mereka. Si herder benar-benar mengeluarkan taringnya sekarang.


"Karena tidak mungkin saya menghajar istrimu ini, kamu harus terima akibat karena kelancangan istrimu. Dasar b******k..!!!!!!!!!" umpatnya. Bang Rinto tidak membiarkan Bowo untuk menangkisnya untuk membela diri bahkan bicara pun tidak.


Nova berteriak ketakutan karena Bang Rinto menghajarnya hingga babak belur.

__ADS_1


"Tahan tanganmu..!!! Bowo bisa mati..!!" cegah Bang Arben.


"Jauhkan Nova dari istriku..!!! Dia pikir siapa dia beraninya menyentuh istriku..????" bentak Bang Rinto masih mencengkeram kerah baju Bowo.


"Apa aku ini sudah terlalu tua untuk memisahkamu??? Amarahmu itu benar-benar gila Rin" tegur Bang Arben.


"Duduk tenang dulu.. bicarakan baik-baik" saran Bang Arben.


"Apa Abang masih mau bicara saat istri Abang dihina? Istriku di tuduh, dibilang pelakor dan tidak punya harga diri Bang" ucap Bang Rinto.


"Dan kamu Nova.. Buka telingamu baik-baik..!! Asal kamu tahu ya, saya tidak kurang memberi nafkah lahir dan batin untuk istri saya. Tidak ada alasan untuk istri saya mencari kehangatan dan kenyamanannya pada laki-laki lain. Termasuk suamimu ini. Mantan tetaplah mantan. Anye adalah istri saya sekarang" kemarahan Bang Rinto sampai harus di panggilkan tambahan anggota POM.


Nyali Nova terasa ciut mendengar perkataan suami Anye itu. Ingin berlindung pada suaminya tapi ia masih terlalu takut karena ia yang memulai semua keributan ini.


...


"Bang..!!" Anye menarik lengan Bang Rinto pelan, wajahnya penuh permohonan. Anye bersandar di sofa, ia sedikit syok dengan keributan yang terjadi di rumahnya. Bang Rinto mengusap disana sini. Hal ini pun membuat Bang Rinto sangat cemas.


Rinto mungkin kuat menerima apapun dalam hidupnya, tapi soal Anye selalu terasa menyiksa batinnya. Hati Anye yang begitu lembut tidak jauh berbeda dengan sikapnya yang dulu. Mungkin semua benar, Anye hanya berlindung dari kerasnya dunia luar tapi sekarang yang ia tau, istrinya tetap seorang wanita lemah yang butuh perlindungan dan dekapan seorang pria.


"Atas nama istri saya. Saya minta maaf Dan..!!" ucap Bowo merasa sangat bersalah pada atasannya.


"Kalau kalian mau bertengkar ya bertengkar lah sendiri. Jangan libatkan istri saya dalam urusan rumah tangga kalian. Urusan ini akan saya naikan ke meja Danyon" tegas Bang Rinto. Demi istri tercinta Bang Rinto menekan kuat sifat brutalnya.


"Kamu punya istri yang sedang hamil, saya juga punya istri yang sedang hamil. Perbaiki hubunganmu dengan istrimu..!! Jangan ganggu rumah tangga saya. Tidak ada suami yang bisa menerima saat tau istrinya disakiti. Bawalah istrimu pergi sebelum saya lupa dan berbuat kasar karena mengira dia bukan seorang wanita"


"Siap.. Ijin.. kami mendahului.." pamit Bowo sambil meraih tangan Nova dan mengajaknya keluar.


"Pak Bowo silakan selesaikan dengan saya..!!" ucap Ezhar selaku POM Batalyon.


Gathan berjongkok lalu ikut mengusap puncak kepala Anye.


"Kamu jangan banyak pikiran. Kasihan bayimu. Abang hanya mengingatkan agar kamu bisa menjaga kesehatanmu, jaga anakmu baik-baik. Kamu lihat, tangan Abang saja sampai terkilir karena tidak bisa menahan amarah suamimu. Bisa-bisa Abangmu bikin mati orang kalau kamu ada apa-apa" ucap Gathan setengah menyindir Bang Rinto agar bisa mengurangi emosinya juga.


Bang Rinto hanya melirik Gathan dengan kesal. Kakak iparnya itu hanya tersenyum saja.


"Abang tidak ingin ada yang menyakiti Anye"


"Saya ngerti Bang, terima kasih"

__ADS_1


-_-_-_-


"Yaaa.. soda gembiranya sudah nggak gembira lagi" gerutu Bang Rinto.


"Anye buatkan lagi Bang..!" kata Anye setelah perasaannya sudah terasa lebih baik. Anye mulai mengaduk segelas susu soda lagi.


"Abang nggak berangkat kerja?" tanya Anye saat suaminya hanya sibuk bermain game di ponselnya.


"Baanngg..!!!" sapa Anye lagi karena Bang Rinto seolah tak mendengarnya bicara.


"Nggak..!!"


"Kenapa?? Abang jangan makan gaji buta ya..!!" ucap Anye.


"Dari Abang pulang satgas Libanon, Abang belum pernah libur dek. Boleh lah sekali-kali Abang santai" Bang Rinto mengambil rokok dan bersiap menyulutnya.


Anye menarik rokok itu dari bibir Bang Rinto. "Kalau ada Anye jangan merokok lagi Bang. Anye nggak kita bau asap rokok"


"Oohh iya sayang.. Maaf Abang masih suka lupa" Bang Rinto kemudian mengambil dan mematahkan rokok dari tangan Anye.


Anye berjalan mengambil permen dari dalam toples lalu membuka dan menyuapkan sebutir permen itu ke mulut Bang Rinto.


"Eegghh.. pahit banget dek" protes Bang Rinto sambil memercing.


"Masa Bang?? Anye baru beli lho" tanya Anye dengan bingung.


"Iyaa.. sini kamu coba" Bang Rinto mendekati Anye, mendekapnya lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Anye.


Anye seakan mematung tak bisa melawan Bang Rinto yang mengerjainya.


"Ini baru manis. Lanjuutt??????" tanya Bang Rinto.


Anye mengangguk saat merasakan perlakuan manis dari Bang Rinto.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2