
"Sikil ku njarem, wes aku push up wae" kata seorang remaja bernama Sholikin yang hampir menyerah mencari telur bebek.
"Ayolah.. kasihan Bu DanSat. Beliau ngidam betul itu" jawab si Manik.
"Eehh.. ngomong-ngomong Bang Made kemana?"
"Sang Hyang Btari.. ini kaki ada tersangkut apaaa???" teriak Made di balik semak.
"Toloooong.. Tolooooooong"
"Bang, itu bukan setan Bang..!!!"
"Apa?? apa ini??" pekik Made.
"Senyap Bang, merunduk..!!"
Made semakin berjingkat ketakutan apalagi merasa rambutnya terjambak. Wajahnya pucat tak berani bicara.
"Ituuuu.. ituuu Om Chiko nya Bu DanSat..!!! lepas?????"
...
"Alhamdulillah.. Terima kasih banyak Pak Samsudin. Berapa saya harus bayar pak?" kata Bang Zaldi ingin menangis.
"Nggak usah Dan, ini buat Ibu DanSat. Nggak perlu jadi pikiran. Nikmati semua fase ini pak. Ini akan menjadi cerita yang tidak akan pernah terulang lagi. Istri begini juga bukan maunya. Dengan begini kita jadi dekat dengan istri, karena caranya 'mengganggu' kita dengan begitu unik" ucap Pak Samsudin.
"Terima kasih banyak pak. Benar kata bapak. Cerita ini akan menjadi kenangan seumur hidup saya" jawab Bang Zaldi sendu.
"Oya.. Ngomong-ngomong ada keributan apa tadi?"
"Oohh.. itu, para remaja cari telur bebek di semak tapi mengabaikan perintah. Si Made di Jambak si Chiko Dan" Pak Samsudin kembali tertawa jika mengingat kerusuhan tadi.
"Chiko????" Bang Zaldi mengerutkan keningnya.
"Chiko.. Om Chiko nya Bu DanSat dari gang buntu" jawab Pak Samsudin.
"Innalilahi.. dasar pria tak tau malu" gumam Bang Zaldi.
...
"Ora miring, pucuke merah, ditaruh piring motif bunga warna biru" gumam Bang Zaldi sambil mengedarkan pandangan mencari piring dengan motif yang di carinya.
"Aduuhh.. aseemm..!!" Bang Zaldi mengibaskan tangan saat tangannya tidak sengaja menyentuh nasi panas hasil warna merah dari buah beet.
Bang Zaldi segera mengambil piring yang terjepit diantara tumpukan piring lain.
"Ngitungi kancing.. anakku lanang opo wedhok??" ucapnya bergumam sendiri di dapur.
Bibi terkikik melihat tuannya mengoceh saking bahagianya menikmati akan menjadi seorang ayah lagi.
"Lanang.. wedhok.. lanang.. wedhok.. lanang.." ucapnya berhenti di kata itu.
"Aahh ulang.. sekali-kali perempuan lah. Belum sempat buktikan nih"
"Abaang.. cepat..!!"
"Siap.. siap sayangkuu" teriaknya dari arah dapur.
__ADS_1
"Lima menit lagi ya"
:
Arnes memperhatikan hasil kerja Bang Zaldi yang begitu rapi tanpa ada salah sedikitpun. Memang soal pekerjaan, rata-rata suaminya itu minim kesalahan dan selalu perfect.
"Kurang puas my queen?" tanya Bang Zaldi.
"Puas sekali. Abang memang pintar menyenangkan Arnes"
"Yo jelaas.. suami siapa dulu donk. Kepuasan istri nomer satu" jawab Bang Zaldi dengan sombong memainkan alisnya naik turun.
Arnes melirik Bang Zaldi yang mulai tersenyum nakal.
"Enak nggak??"
"Enak Bang, Arnes suka" jawab Arnes.
"Alhamdulillah.. demi anak, panas hujan, kena omel pun Abang hadapin"
...
Bang Zaldi mengusap perut Arnes. Lega rasanya istrinya mau makan meskipun harus melalui drama yang luar biasa. Ia memperhatikan lagi luka di dahi Arnes.
Ada rasa sedih dalam hatinya. Masalah Inggrid belum usai membebani istrinya, sekarang masih harus mengerjakan pula pekerjaan yan bertumpuk di kantor. Itulah resiko menjadi istri seorang prajurit, tidak hanya mendampingi.. tapi banyak kegiatan di belakang layar yang juga harus menjadi perhatian.
"Kasihan kamu dek. Sebenarnya Abang mau kamu istirahat saja di rumah, tapi bagaimana lagi. Tuntutan sebagai istri Abang tidaklah mudah. Yang tegar ya sayang, yang kuat.. segala jerih payahmu akan selalu Abang ingat istri solehah ku"
***
Bang Zaldi memperhatikan Arnes dari jauh. Sejak tadi istrinya itu mondar mandir sendirian. Sesekali bahunya bersandar pada dinding. Mungkin sudah terlalu lelah, tapi tak sekalipun Livi istri Bima membantu Arnes menyelesaikan pekerjaannya.
Bang Zaldi hendak berjalan mencari Bang Bima tapi teriakan dari ibu-ibu membuatnya terkejut.
"Bu Zaldiiii"
Dada Bang Zaldi berdesir kuat, ia segera berlari melihat keadaan Arnes.
"Duuhh.. kecapekan kamu ini dek..!!" tak menunggu waktu lama, Bang Zaldi segera membawa Arnes ke ruangannya lalu menghubungi dokter Immanuel.
"Noe, ke kantor saya sekarang ya..!!" perintahnya sambil melonggarkan pengait di belakang punggung Arnes lalu membanting ponselnya sembarangan.
//
"Tekanan darahnya rendah sekali Bang. Istri Abang butuh istirahat. Jangan banyak pikiran dulu"
"Cckk.. Arnes ini sulit sekali di arahkan. Dia maunya segala pekerjaan selesai sesuai target" jawab Bang Zaldi.
"Tapi kondisinya kurang kuat. Bawaan bayi khan beda-beda Bang"
"Oke.. thanks ya bro"
//
"Disini hanya ada istri saya dan istrimu saja yang di tuakan karena Adi belum menikah. Sejak nama istrimu naik, belum sekalipun saya lihat usaha istrimu untuk membantu Arnes, sampai pekerjaan Livi pun Arnes semua yang handle." Bang Zaldi memanggil Bang Bima dan menegur di dalam ruangannya.
"Ijin Bang, Livi belum biasa interaksi dengan ibu-ibu yang lain. Dia juga belum bisa mengerjakan tugasnya, dan lagi dia khan sekarang sedang hamil"
__ADS_1
"Apa mata saya buta tidak bisa melihat istrimu yang sedang hamil. Terus kamu lihat perut Arnes itu besar karena apa?? Di sengat lebah??? Miring juga otakmu..!!!!!" tegur keras Bang Zaldi tak mau apapun hal yang menyangkut profesional kerja.
"Persatuan istri prajurit itu salah satunya juga untuk saling mengenal satu sama lain dan menjalin hubungan kekeluargaan antar sesama istri prajurit. Lantas kalau hanya mengandalkan rasa takut dan tidak mau bergabung dengan yang lain, mau jadi apa dia?? Kamu lihat adikmu itu..!! Tangannya di pasang jarum infus beberapa jam, Arnes sudah lelah mengerjakan semuanya. Itu di perutnya ada anak saya. Kalau sampai ada apa-apa sama Arnes dan anak saya.. Saya cincang kamu meskipun kamu Abangnya" ucap Bang Zaldi.
...
Bang Bima mencoba bicara dengan Livi, tapi dalam keadaan yang juga sedang hamil malah membuat Livi menjadi sensitif dan tak berhenti menangis. Livi merasa tidak di bela Bang Bima.
"Apa selamanya Abang akan terus membela Arnes??"
"Bukan membela Arnes. Keadaannya sedang drop sekarang dan Bang Zaldi sangat marah karena Arnes sempat pingsan di kantor" jawab Bang Bima.
"Tapi Livi sedang hamil Bang. Livi maunya di rumah saja. Nggak mau kerjakan apapun"
"Abang tau kamu inginnya santai di rumah, tapi ada beberapa pekerjaan yang memang menjadi tanggung jawabmu dek. Bantu Arnes sedikit lah. Arnes juga sedang hamil, keadaannya sama sepertimu.. buktinya dia bisa" kata Bang Bima.
"Terus saja Abang bela Arnes. Abang memang pengen Livi pingsan juga karena terlalu capek. Abang nggak sayang Livi" Livi menghentakkan kaki dan berlalu masuk kedalam kamar.
"Ya Allah, omongan apalagi sih itu dek.. nggak baik bilang begitu..!!"
Kalau begini terus bisa-bisa aku remuk di tindak Abang. Abang paling tidak bisa ada sesuatu yang menyenggol Arnes. Lagipula kenapa Livi jadi begitu sih.
***
Arnes kembali melakukan semua kegiatannya di bantu ibu-ibu yang lain sambil memberi arahannya. Meskipun sudah banyak di bantu ibu-ibu tapi tetap saja tanggung jawab Arnes paling besar disana.
Untuk kesekian kalinya Bang Zaldi tidak melihat Livi.
"Kemana istrimu??" tanya Bang Zaldi.
"Tolong maafkan istri saya Bang. Dia belum siap?" jawab Bang Bima berterus terang.
:
"Tolong jangan bilang sama Abang ya Bu. Kalau Abang tau saya belum sehat, nanti semua anggota bisa kena imbas amarahnya" kata Arnes yang kemudian dalam hitungan detik langsung tertidur.
Bu Sanusi membantu Arnes merebahkan diri di sofa ruang Ibu Dansat. Nafas Arnes sangat lemah membuat ibu-ibu pengurus kompi menjadi cemas.
"Istri saya kenapa Bu?" pertanyaan Bang Zaldi yang langsung mendapat reaksi tidak siap dari para ibu pengurus.
"Ehm.. Ibu tertidur di sini pak. Mungkin sudah tidak kuat dengan rasa lelahnya"
"Setelah ini masih ada kegiatan Bu?" tanya Bang Zaldi.
"Nggak ada pak"
"Kalau begitu tolong tinggalkan saya berdua dengan istri saya" pinta Bang Zaldi.
:
Bang Zaldi melepas seragam luarnya lalu menyelimuti Arnes. Ia mengangkat kaki Arnes kemudian duduk dan meluruskan kaki Arnes di atas pahanya.
Cantik.. Abang berusaha kuat melihatmu seperti ini. Kalau karena Abang menitipkan malaikat kecil kita ini begitu menyakitimu, Abang minta maaf. Abang ingin sekali memanjakanmu setiap waktu, tapi Abang masih punya tanggung jawab lain. Abang tau, sebagai suamimu.. Abang masih banyak kurangnya tapi Abang pastikan hilangnya waktu yang ada hanya untuk membahagiakanmu nantinya. Cepat sembuh sayang..
.
.
__ADS_1
.
.