
Tidak kuat harap skip 🙏🙏🙏🙏🙏
🌹🌹🌹
Akhirnya sang biang onar tidur juga. bang Zaldi mengambil waktu me time nya disela rasa penatnya. Tangannya mengambil ponsel yang terbengkalai beberapa jam. Ada info kalau besok di hari weekend ada olahraga terjun paralayang bersama dinas di puncak. Senyum Bang Zaldi pun merekah, sudah setahun terakhir ia tidak merasakan lompat dari ketinggian lagi. Ia pun menjawab info groupnya.
Z : Lettu Zaldi dan istri ikut meramaikan.
***
"Bang.. ini kok tulisannya 'Selamat datang di acara Paralayang' ???????" tanya Arnes bingung.
"Mau lompat kita dek" jawab Bang Zaldi ringan.
"Nggak mauuu.. Arnes takut Bang..!!" pekiknya memekakkan telinga Bang Zaldi di dalam mobil.
"Kita berduaan, nggak sendiri. Kamu duduk saja. Abang yang kendalikan"
-_-_-_-_-
Arnes melihat para anggota nampak sangat terhibur melompat dari atas tapi tidak untuknya yang sangat takut akan ketinggian.
"Sebentar lagi giliran kita dek" kata Bang Zaldi.
"Arnes nggak mau Bang. Takuuut..!!"
"Halaahh.. cuma terbang sebentar terus mendarat, enak dek. Kamu ini penakut sekali nggak cocok sama sifat galakmu" ledek Bang Zaldi.
"Naahh.. ayo kita terbang"
Tarik menarik ringan antara suami istri itu menimbulkan gelak tawa para anggota dan keluarga.
//
"Hwaaa.. Abaaaanngg..!!!" Arnes berteriak kencang saat Bang Zaldi mengajaknya sedikit berlari dan menarik parasutnya.
Hal pertama yang dirasakan Arnes adalah kakinya ringan. Pemandangan indah terlihat dari atas sana. Hamparan hijau dan rumah terlihat sangat kecil tapi rasa takutnya akan ketika membuat degub jantungnya tak beraturan.
"Jangan tegang, rileks.. Abang yang biasa tegang saja santai begini" goda Bang Zaldi.
"Perut Arnes mual" ucapnya gemetar. Ia menatap mata Bang Zaldi seakan membutuhkan pertolongan darurat.
Bang Zaldi pun akhirnya tak fokus menatap hamparan luas yang seharusnya menjadi titik konsentrasinya. wajah sang istri yang cantik jelita sangat mengusik nalurinya. Entah ada dorongan darimana, Bang Zaldi mengecup bibir Arnes. Tanpa sadar dalam beberapa saat mereka berdua saling berbagi rasa.
"Bang.. Wooii.. Kita gelantungan Bang, bukan di atas kasur" teriak Righan menyadarkan Bang Zaldi yang membawa bahaya.
"Astagfirullah..!!" Bang Zaldi pun tersadar dan segera kembali mengendalikan parasutnya. Arnes masih saja menatapnya membuat konsentrasi Bang Zaldi tak segera pulih.
"Lihat sekitarmu. Jangan buat Abang kehilangan konsentrasi" tegur Bang Zaldi.
"Masa lihat suami nggak boleh. Abang saja yang gampang baper" ucapnya tak melepaskan pandangannya dari Bang Zaldi.
"Kamu cantik, bikin Abang nggak tahan" ucapnya berwajah datar saja.
Arnes tersipu malu mendengarnya.
"Nggak tahan pengen pengen nabok" sambung Bang Zaldi lagi.
"Iisshh Abang nih" tawa Arnes langsung berubah suram.
"Jelas Abang tergoda lah. Suami mana yang nggak baper kalau merasa di butuhkan istri sendiri" ucap Bang Zaldi pelan namun masih terdengar di telinga Arnes.
Perlahan parasut mulai turun. Kepala Arnes rasanya sudah berputar-putar tak karuan, perutnya sudah seperti di aduk.
Bang Zaldi yang lebih tinggi dari Arnes segera mendaratkan parasut dengan sempurna kemudian diikuti Arnes.
"Aaawwhhh.." Arnes memegangi perutnya saat mendarat dan hentakan dari kaki langsung merambat hingga perutnya.
Dengan sigap Bang Zaldi menangkap Arnes yang akan tumbang ke arah depan.
__ADS_1
"Dek.. kamu nggak apa-apa??" tanya Bang Zaldi tapi tak ada jawaban dari sang istri.
"Cepat tolong bantu saya lepas parasut dan pengamannya" ucap Bang Zaldi dengan panik.
//
"Heh Righan.. Katamu Arnes nggak setakut ini sama ketinggian. Kenapa sekarang jadi begini????" tegur Bang Zaldi pada Righan.
"Sumpah Bang, biasanya nggak gini amat" kata Bang Righan ikut cemas.
Arnes perlahan membuka matanya dan langsung merasa mual.
"Sakit ya perutnya? Apa pusing?" tanya Bang Zaldi.
Arnes hanya bisa menangis tanpa jawaban. Bang Zaldi mengecup kening Arnes, lama kelamaan Bang Zaldi tidak tega juga.
ddrrrtttt.. dddrrtt.. dddrrttt...
Ada nomer asing menghubungi Bang Zaldi. Suami Arnes itu pun mengangkat panggilan telepon itu.
"Selamat pagi..!!" Sapa Bang Zaldi.
"Ini benar Mas Zaldi?? Ini Eliana Mas" ucap seorang wanita menjawab sapaan Bang Zaldi.
"Eliana siapa ya??"
"Tetangga Mas Zaldi dulu. Lupa kah sama Eliana? Eliana mau mengabarkan kalau ibu Mas Zaldi sedang sakit. Ini ada di rumah sakit"
"Ibu sakit???"
-_-_-_-_-
Bang Zaldi dilema, tak tega meninggalkan Arnes di tanah rantau tapi ibu tercinta sedang sakit.
"Arnes ikut Abang ya..!!" pinta Arnes.
Melihat wajah sendu Arnes, hati Bang Zaldi kembali tidak tega.
"Ya sudah, kamu ikut Abang. Sebentar lagi kita ke bandara. Tunggu Rafli antar surat ijin jalan dulu. Kamu cepat bersiap" ajak Bang Zaldi.
-_-_-_-_-
Sepanjang perjalanan Arnes terus saja mual dan muntah bahkan dalam perjalanan pun sempat pingsan. Perasaan Bang Zaldi begitu kacau di buatnya.
Ya Allah.. istriku kenapa. Kesehatanya tiba-tiba menurun drastis. Ibu juga sedang sakit. Sembuhkan lah wanita-wanitaku Ya Allah..
"Hhkk..." Arnes memeluk Bang Zaldi dengan erat. Tubuhnya sudah sangat lemas.
"Sabar ya dek, nanti sampai rumah sakit kita sekalian check kesehatanmu" kata Bang Zaldi sesekali melihat apakah Bima sudah sampai Bandara.
"Assalamu'alaikum.." sapa Bang Bima.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Bang Zaldi.
"Lho.. Arnes kenapa ini Bang??" tanya Bang Bima.
"Nggak tau lah Bim" perasaan Bang Zaldi mendadak tidak enak.
Bang Zaldi mengambil ponsel yang terus bergetar dalam sakunya. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari Eliana. Bang Zaldi mengangkat panggilan telepon itu.
"Mas ada dimana?? Ibu kritis, pengen ketemu Mas" kata Eliana.
"Iya Li.. Mas sudah jalan"
-_-_-_-_-
Mata Bang Zaldi berkaca-kaca, ia terus berkomunikasi dengan Eliana. Sesampainya di ruang ICU samping lobby rumah sakit, Bang Zaldi langsung keluar dari mobil dan mempercepat langkahnya menuju ruang ICU meninggalkan Arnes yang masih susah payah menegakan badannya merasakan mual hebat.
Tiba-tiba Eliana menghambur memeluk Bang Zaldi dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suami Arnes itu.
__ADS_1
"Ibu kritis mas. Eli takut" ucapnya menangis manja. Bang Zaldi berusaha melepaskan pelukan itu tapi Eliana bersikeras tidak mau melepasnya.
"Saya mau lihat keadaan ibu" kata Bang Zaldi.
"Masih ada dokter" jawab Eliana.
Seorang dokter keluar dari ruang ICU.
"Permisi pak, kata istrinya ibu punya riwayat sakit darah tinggi??"
"Istri yang mana dok?? Saya baru saja datang bersama istri saya" Bang Zaldi menoleh ke sekitar dan baru menyadari kalau ia sudah meninggalkan Arnes.
"Bu Eliana ini istri Bapak khan?" tanya dokter.
Eliana langsung memeluk Bang Zaldi lagi.
"Sudahlah mas, masa mas mau mempermasalahkan masalah kecil seperti ini"
Bang Zaldi melepaskan pelukan Eliana.
"Jaga sikapmu Eliana. Ada istri saya disini..!!!" tegur Bang Zaldi dengan tegas.
"Iya dok benar, ibu saya ada riwayat darah tinggi" jawab Bang Zaldi menahan rasa kesalnya.
"Kami pihak rumah sakit meminta ijin untuk melakukan tindakan" kata dokter.
Bang Zaldi segera menanda tangani.
:
Arnes menghampiri Bang Zaldi. Sedari tadi Eliana mengekor di sekitar Bang Zaldi saja.
"Duduk disini dek. Sabar ya.. setelah tau kondisi ibu, nanti kita periksa ke dokter" kata Bang Zaldi tak peduli pada Eliana.
Wajah Eliana cemberut dan masam melihat Bang Zaldi begitu perhatian pada istrinya.
"Mas, nanti kita masuk ke ruangan sama-sama ya. Orang tidak sehat dilarang masuk ke ruang ICU. Takut bawa virus" ucap Eliana.
"Setau saya yang berhak masuk adalah pihak keluarga, orang yang tidak berkepentingan di larang masuk. Istri saya nggak sakit. Hanya mabuk perjalanan saja" jawab Bang Zaldi tegas.
Eliana semakin kesal tak bisa menjawab ucapan Bang Zaldi.
Mendadak Arnes berlari menuju toilet rumah sakit, Bang Zaldi yang cemas segera mengikutinya.
"Bang Arnes seperti nggak kuat bau obat di rumah sakit" ucap Arnes.
"Kamu mau ke hotel depan rumah sakit sama Bima?? Abang cemas sekali ini lihat kamu begini"
"Nggak mau, Abang mau apa berduaan sama Eliana???" tanya Arnes.
"Abang jaga ibu. Nggak akan macam-macam" janji Bang Zaldi.
"Kalau Arnes nggak mengijinkan?????" Arnes mulai ketus.
"Abang minta dia pulang, Abang jaga ibu sendirian. Nggak sama Eliana"
Arnes kembali muntah sampai lemas. Bang Zaldi benar-benar kelabakan dan serba salah saat ini.
//
Arnes tidur menyandarkan kepalanya di paha Bang Zaldi pada kursi ruang tunggu. Eliana sungguh tidak mau pulang dan terus berwajah masam disana. Tapi mata Bang Bima terus mengawasi wanita yang terlihat toxic itu.
Bang Zaldi menyelimuti Arnes dengan jaketnya. Matanya sulit terpejam memikirkan dua wanita kesayangannya.
.
.
.
__ADS_1