
Dilarang membahas jiwa korsa seolah Nara tidak tau. Ini Novel Nara. Tidak seluruh dunia militer dapat Nara ceritakan. Harap kerjasamanya. Tidak suka.. skip..!!!!!
🌹🌹🌹
Arnes bangun pagi hari saat subuh berkumandang. Ia merasakan tangan kekar memegangi tangannya, dilihatnya Bang Zaldi tidur dengan posisi duduk di lantai. Wajahnya terlihat sangat lelah.
"Bang Zaldi? Kenapa Abang disini??" Arnes panik dan ketakutan kalau sampai papanya tau, pasti papa akan menghajar mereka berdua terutama Bang Zaldi.
Tak disangka Papa Rinto sudah membuka pintu dan melihat Bang Zaldi tidur dengan posisi duduk sambil memegangi tangan Arnes.
"Arnes nggak tau pa. Ini yang pegang juga Abang" kata Arnes yang belum apa-apa sudah ketakutan.
"Kamu suka sama si buras ini??" tanya Papa Rinto.
"Agh.. eghh.. Nggak pa" jawab Arnes gugup tidak berani menatap mata papanya. Papa Rinto menggeleng melihat ekspresi wajah Arnes.
"Lettu Erzaldi.. Mana senjatamu?????" bentak Dan Rinto.
"Siap salah..!!!" Refleks Bang Zaldi langsung berdiri tegak dan sikap sempurna meskipun badannya masih sedikit oleng. Bang Zaldi mengerjap mengumpulkan nyawanya yang masih berhamburan.
Saat matanya sudah terbuka yang di lihatnya adalah Pak Rinto dan Bang Zaldi langsung memberikan hormatnya.
"Mimpi kamu Zal????" tegur Dan Rinto.
"Belum bisa terima kenyataan???"
"Saya terima segalanya dengan ikhlas Dan"
"Bullshit.." Papa Rinto sama sekali tidak percaya dengan apapun ucapan Bang Zaldi.
"Cepat sholat subuh. Jangan cari kesempatan kamu disini"
***
Bang Zaldi tidak bisa konsentrasi saat latihan lempar pisau. Semua lemparan nya tak berarah dan belepotan membuatnya harus mendapat teguran para seniornya apalagi ini latihan bersama kesatuan lain.
Konsentrasi nya semakin terpecah karena melihat ada Kapten Guntur disana. Dengan sombongnya Kapten Guntur lewat di hadapan Bang Zaldi dan tidak terkena tindakan apapun padahal Bang Zaldi menerima tindakan dari atasan karena pelanggaran disiplin akibat memukuli senior di depan umum.
"Heeii.. kalian mau tau nggak, junior yang menghajar ku kemarin?" ucap Bang Guntur di depan rekan kesatuannya.
"Dia tiba-tiba menyerangku karena seorang wanita. Itu lho yang fitnah aku"
"Yang mana?" tanya littingnya.
"Ya ini. Inisial E.G.A ya dia ini. Erzaldi" jawab Bang Guntur dengan angkuh. Rekan Guntur hanya diam tak memberi respon karena mereka tau bagaimana sifat, karakter dan cara kerja Zaldi, jadi dalam hati mereka berpikir tidak mungkin Zaldi akan mencari perkara jika tidak ada sesuatu yang terjadi.
"Selamat pagi Bang" Bang Zaldi masih memberi hormat pada seniornya yang lain.
"Pagi Zaldi. Apa kabar? Lesu sekali kamu hari ini" tanya seorang senior menyapa Zaldi agar suasana tidak semakin bertambah panas
"Ijin Bang. Kurang tidur saja"
Sony mendekati Zaldi karena wajah rekannya itu sudah tidak bersahabat menatap mata Bang Guntur.
"Ijin Bang. Kami ke kantin dulu..!!" pamit Sony.
__ADS_1
Bang Guntur mendekati Zaldi. Ia membisikkan sesuatu di telinga Zaldi.
"Ngomong-ngomong.. apa kabar mantanku itu? Selamat menikmati barang jarahanku"
Dada Bang Zaldi rasanya sangat sakit, panas dan terbakar. Bang Zaldi menyergap Bang Guntur, pisau yang masih ada di tangannya seketika langsung melayang ia gunakan untuk menggores leher senior itu.
"Jangan pernah bicara buruk tentang calon Nyonya Erzaldi. Lebih baik kau tutup mulutmu yang seperti perempuan itu"
Para senior sudah kelabakan melihat Zaldi yang di apresiasi pernah memenggal kepala pemberontak di daerah rawan konflik hingga julukan sang petarung itu melekat padanya.
"Toloong..!!!! Kalian tidak lihat dia menyerang saya..!!" teriak Bang Guntur.
"Diam di tempat kalian..!!!!" perintah Bang Zaldi.
//
Seorang anggota datang terburu-buru menggunakan motor ke rumah Dan Rinto. Komandannya itu pulang karena topi rimbanya tertinggal di rumah.
"Ijin Dan.. ada yang melapor, king aligator ngamuk di Batalyon" lapor seorang anggota di depan rumah.
"Astaga.. bocah itu tidak berubah. Kenapa Komandanmu itu ribut??" tanya Dan Rinto.
"Ijin Dan.. karena.............."
//
Suara Dan Rinto sampai serak berteriak membujuk Zaldi. Zaldi akan semakin memberi Bang Guntur pelajaran setiap kali rekan yang akan membantu Bang Guntur. Zaldi yang kalap mengikat kedua kaki Bang Guntur keatas dan mencelupkan kepalanya ke dalam tong berisi air. Zaldi sudah menghajar orang-orang yang berusaha membantu Bang Guntur.
"Kamu mau kena tindak disiplin lagi??" ancam Dan Rinto.
Dari jauh terdengar langkah kaki. Para anggota meninggalkan tempat saat tau yang datang adalah Arnes, putri Dan Rinto.
Langkah berat dan tak bertenaga masih terlihat jelas tapi Arnes tetap datang menemui Bang Zaldi saat ia tadi tidak sengaja mendengar pria itu ribut dengan Bang Guntur karena dirinya.
Arnes berlari menubruk dan memeluk Bang Zaldi, refleks tangannya yang sedang memegang tali untuk menggantung kaki Bang Guntur terlepas begitu saja hingga kepalanya masuk ke dalam tong. Para anggota yang masih tersisa segera menyelamatkan Bang Guntur.
"Kenapa kamu kesini?" ajaib.. nada suara bang Zaldi tidak segarang tadi bahkan terdengar lembut. Tidak biasanya seorang Zaldi bernada bicara seperti ini. Tangan Bang Zaldi pun belum membalas pelukan Arnes.
"Bang..!! Entah kenapa daripada Papa atau Bang Seno yang menghajarnya, rasanya saat Abang yang menghajarnya.. hati Arnes merasa lega dan puas" ucap Arnes begitu emosional.
"Kamu mau Abang menghajarnya lagi?? Atau kamu ingin menghajarnya dengan tanganmu sendiri?" tanya Bang Zaldi.
"Bilang..!! Apa yang nggak Abang lakukan buat kamu" semua kata itu meluncur begitu saja.
"Jangan Zal. Kamu bisa kena mutasi" kata Dan Rinto memperingatkan.
"Di buang kemanapun saya nggak peduli"
"Pukul saya..!! Kamu akan rasakan di buang jauh" ucap Bang Guntur dengan sombongnya dan tersenyum sinis.
"Seorang pria sejati tidak bertingkah seperti ini Bang. Maaf.. saya ini seorang tentara. Mau di pindah tugaskan kemanapun saya tetap bisa hidup. Sekarang silakan Abang hubungi panglima..!! Itu khan mau Abang??" tantang Bang Zaldi.
"Saya tidak pernah takut dengan apa yang Abang lakukan. Saya hanya kecewa dengan sikap Abang yang tidak memperlakukan kekasih saya dengan tidak sopan"
Papa Rinto dan Bang Seno sampai terbelalak mendengar Bang Zaldi mengatakan bahwa Arnes adalah kekasihnya.
__ADS_1
"Kurang ajar betul si buras itu Sen..!!" protes Papa Rinto.
"Tuh khan papa mulai lagi. Pria yang Papa tolak itu sangat menyayangi putri Papa." kata Bang Seno.
Dan Rinto memutuskan untuk pergi, kepalanya sudah pusing melihat semua keributan ini. Tak ada yang tau pasti mengapa kali ini Dan Rinto berani meninggalkan Arnes bersama lelaki yang ditolaknya mentah-mentah.
Arnes melepas pelukannya dan berdiri di hadapan Bang Guntur. Seketika itu juga Arnes kalap dan memukuli Bang Guntur.
"Kamu laki-laki paling kurang ajar yang pernah Arnes temui Bang. Seumur hidup Arnes akan mengingatnya" teriak Arnes histeris meluapkan seluruh amarahnya.
Bang Guntur yang arogan tak terima seorang wanita seperti Arnes memukuli nya sampai seperti itu. Harga dirinya di atas segalanya. Karena terlalu kesal, ia berniat membalas Arnes. Tangannya sudah mengepal dan melayang ingin menghajar Arnes. Bang Zaldi segera maju di depannya dan menepisnya satu kali untuk melindungi Arnes.
"Gadis bodoh, selama aku bersamamu dulu.. aku nggak pernah suka sama kamu. Aku hanya memanfaatkan mu saja. Seleraku itu di atas rata-rata. Kamu gadis yang memuakkan. Selalu ingatkan makan, istirahat bahkan sampai sholat harus kau ingatkan. Memangnya aku ini anakmu. Pakaianmu terlalu culun, longgar seperti kelelawar. Hanya sekarang saja kau seperti wanita" bentak Bang Guntur sambil menunjuk wajah Arnes.
Untuk kedua kalinya Bang Zaldi menepis tangan Bang Guntur. Bang Zaldi pun menghantam belakang lutut Bang Guntur hingga berlutut di hadapan Arnes.
"Masalahnya bukan ada pada Arnes, tapi pada matamu. Saya nggak menyangka bisa punya senior b*****t sepertimu. Arnes mungkin bukan seleramu. Tapi dia pilihan dan keinginan saya. Beraninya kau melukai nyonya Erzaldi" Bang Zaldi memelintir tangan Bang Guntur hingga pria itu kelojotan.
Para anggota yang tersisa terpaksa hanya berjaga saja di antara urusan pribadi para perwira ini karena memang Dan Guntur sudah salah besar.
"Abang tanya sama kamu. Mau di apakan tikus got ini???" tanya Bang Zaldi pada Arnes. Gadis itu masih menangis.
"Arnes serahkan sama Abang saja" jawab Arnes pasrah.
Untuk kesekian kalinya, Bang Zaldi menghantam dada Bang Guntur menggunakan sepatu PDL nya hingga terkapar lalu menggandeng tangan Arnes menjauh dari lapangan lempar pisau.
"Zal.. ini pelanggaran berat. Kamu bisa kena masalah berlapis" kata Bang Sony cemas dengan tindakan Bang Zaldi.
"Mau hukum ya hukum saja" jawab Bang Zaldi enteng.
Arnes berhenti dan menarik tangan Bang Zaldi, agaknya sekarang Arnes mulai mencemaskan pria itu.
"Bang, bagaimana kalau nanti Abang di hukum?"
"Kamu nggak usah mikir kejauhan lah dek. Paling cuma telinga Abang yang di sentil" jawab Bang Zaldi.
"Abang jangan bohong. Arnes bukan anak TK yang nggak bisa mikir"
Bang Zaldi pun menghentikan langkahnya.
"Percayalah.. apapun yang akan Abang terima nggak akan buat Abang tewas begitu saja. Ini hanya sekedar hukuman, bukan untuk menghilangkan nyawa"
"Tapi Bang..!!!"
"Sudah aahh.. jangan banyak tanya" sela Bang Zaldi.
"Terima kasih ya Bang.. sudah bela Arnes"
"Siapa yang membelamu, nggak usah geer. Abang hanya malas lihat ada perempuan yang kerjanya cuma nangis saja. Apalagi kalau nangis jelek sekali" ucap Bang Zaldi.
Arnes menunduk senyum mendengarnya. Pasalnya meskipun nada bahasa Bang Zaldi ketus dan dingin tapi genggaman tangannya begitu erat dan lembut.
.
.
__ADS_1
.