Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 73. Mengurai kasih.


__ADS_3

Hanya cerita Nara jangan di hubungkan dengan dunia militer yang sebenarnya.


🌹🌹🌹


"Ijin.. Komandan tidak bisa memaksa saya untuk memilih. Lebih baik saya mati daripada harus di hadapkan pada pilihan yang tidak masuk akal seperti itu. Baik istri maupun seragam ini.. keduanya adalah nyawa saya"


Panglima tersenyum mendengar jawaban Bang Zaldi. Pria itu memang tidak pernah munafik atau mencari muka saja hanya untuk menyelamatkan diri.


"Kamu menyesal sudah membunuh seniormu??" tanya panglima.


"Siap.. tidak"


"Jadi kamu bahagia sudah menghilangkan nyawanya??"


"Saya tidak bahagia, tidak sedih, juga tidak menyesal membinasakan manusia macam Guntur" jawab Bang Zaldi datar.


"Saya hanya malu hidup berdampingan dengan dia. Saya hanya manusia biasa yang punya perasaan, saya menikahi istri saya bukan untuk di hina dan di caci maki. Istri saya adalah pakaian bagi saya begitu juga sebaliknya. Saya akui, apa yang saya lakukan memang salah. Tapi saya akan lebih salah jika sebagai imam tidak mampu melindungi harga diri istri saya. Saya adalah perisai bagi istri saya. Jika saya tidak bisa melakukannya, untuk apa sebutan suami melekat pada diri saya??"


"Luar biasa kamu Kapten. Jujur beberapa hari yang lalu, beberapa perwakilan mendatangi kantor saya. Mereka meminta saya untuk mempertimbangkan kasusmu ini, tapi karena kita adalah negara hukum.. maka semua harus di selesaikan dengan cara yang patut. Ada sanksi yang harus kamu terima nantinya. Saya tanya sekali lagi. Kamu pilih yang mana jika di dalam hidupmu hanya ada dua pilihan itu"


Rasanya kepala Bang Zaldi berputar nyeri, tidak ada pilihan yang terbaik saat ini.


"Jawablah pada persidangan nanti. Pihak hukum akan memajukan jadwal sidang mu" kata panglima.


"Siap..!!


...


"Bagaimana? Kamu sudah lihat sendiri khan bagaimana Zaldi..!!" kata seorang Komandan


"Siap Bang, Biar nanti kami tangani saat persidangan" kata junior Komandan tersebut.


"Saya hanya minta, tolong melihat segala sesuatu dari berbagai sisi"


...


Bang Zaldi masuk ke dalam kamar membawa awan mendung lalu duduk di samping Arnes yang baru menidurkan Ryan.


"Kenapa Bang?" tanya Arnes


Bang Zaldi langsung menghambur memeluk Arnes, tanpa kata.. hanya tetesan air mata yang mengungkapkan bahwa pria itu begitu banyak menyimpan beban.


"Nggak ada orang disini, kalau Abang mau menangis.. menangis lah Bang..!!" kata Arnes.


"Bahagiakah kamu punya suami seperti Abang dek? Abang tidak punya sesuatu untuk di banggakan. Apa kamu tidak malu kalau besok suamimu ini hanya bertani, berkebun dan beternak? bercampur lumpur setiap harinya"


"Kenapa harus malu? Itu semua halal Bang. Arnes bisa bantu Abang usaha di rumah" jawab Arnes.


"Dengan seorang pembunuh??"


"Abang yang terhebat, Arnes paham apa yang Abang lakukan" Arnes menunduk mengecup kening Bang Zaldi.


Tangis Bang Zaldi semakin lepas. Kali ini Arnes melihat suaminya begitu hancur dalam sebuah keadaan.

__ADS_1


"Apapun itu, Arnes akan selalu mencintai Abang" ucap Arnes menenangkan hati Bang Zaldi.


***


"Hidup adalah sebuah pilihan. Kapten Erzaldi.. Apapun pilihan yang anda tentukan, kami pun punya keputusan..!!"


"Diantara sebuah pilihan, pasti salah satunya harus terkalahkan bahkan tersakiti. Jika ini adalah konsekuensi yang harus saya pilih, saya sudah punya jawabannya."


Satu persatu kancing baju kebanggaan nya ia lepaskan. Pangkat kapten yang bertengger di bahunya mungkin harus pupus saat ini juga. Tapi lebih baik ia kehilangan dunianya asalkan tidak kehilangan istri tercinta.


"Saya mengakui kesalahan saya. Mulai detik ini, saya kembalikan pangkat ini pada negara. Kini saya bukanlah bagian dari salah prajurit negara. Saya rela kehilangan segalanya tapi tidak dengan istri saya. Harta bisa di cari, tapi tanpa istri, jiwa raga serasa mati."


"Lancang kamu Kapten Erzaldi" bentak Panglima.


"Siapa yang memintamu melepas pangkat itu dari bahumu tanpa ijin saya..!!!"


"Siap salah..!!" jawab Bang Zaldi mendengar teguran keras itu.


"Kamu memang selalu salah. Disini saya yang memutuskan.. bukan kamu. Laki kok mudah patah arang. Dengarkan dulu baik-baik..!!"


"Siap..!!" jawabnya tegas tapi sudah melemah.


"Kamu lebih memilih istrimu daripada seragam mu. Saya mengerti.. karena saya juga akan melakukan hal yang sama seperti kamu jika di hadapkan dalam masalah sepertimu. Seperti apa katamu. Harta bisa di cari, tapi tanpa istri, jiwa raga serasa mati." kata Panglima.


"Tapi yang perlu kamu tau. Negara.. juga sangat membutuhkan prajurit sepertimu. Kamu tetap akan memakai seragam itu dan tetap berdinas sebagaimana mestinya"


"Allahu Akbar..!!!" Bang Zaldi meremas dadanya. Dirinya cukup terkejut mendengar semua ini. Di antara segalanya.. bayangan sang ibu dan istrinya berputar bergantian membayang di kepalanya. tapi yang paling menyakitkan hatinya adalah tangisan sang istri. Tubuhnya ringan.


"Abaaaanngg..!!!" Arnes berlari menghampiri Bang Zaldi yang ambruk tidak sadarkan diri. Bang Bima dan Bang Righan ikut berlari menolong Bang Zaldi.


...


"Dekk.. Adeekk.." panggilnya.


"Bang.. Arnes disini" Arnes membangunkan Bang Zaldi dari tidurnya.


"Sudah Papa bilang untuk percaya sama Dan Arben. Kenapa Zaldi malah jadi seperti ini??" gerutu Papa Rinto.


Dokter hanya tersenyum mendengarnya, tak heran jika Kapten Zaldi sampai lemas tanpa daya. Suami Arnes itu mengalami tingkat stress yang tinggi. Hati dan pikirannya sudah berada pada titik puncaknya.


"Buka mata Zal.. jangan tidur terus..!!" Papa Rinto membangunkan Bang Zaldi.


"Aduuuhh.. kepalaku sakit sekali pa" ucapnya pertama kali saat baru sadar. Tangannya menyingkirkan selang oksigen di hidungnya lalu menggelinjang memegangi perutnya yang tidak karuan.


"Mana minyak angin green tea mu dek??" tanya Bang Zaldi.


"Nggak bawa Bang. Arnes bawa yang melati" jawab Arnes.


Baru membayangkan bau melati rasa perutnya sudah mulai tidak enak.


"Abang makan ini saja..!!" Arnes langsung secepatnya memasukkan permen kenyal ke dalam mulut Bang Zaldi.


Perlahan tapi pasti, rasa itu mulai hilang.

__ADS_1


"Nah.. rasakno kowe. Kualat, makanya jangan minta enaknya saja. Tanggung juga akibatnya" kata Papa Rinto meledek Bang Zaldi.


Bang Zaldi kehilangan kata-kata. Rasa campur aduk ia rasakan saat ini. Bahagia, terharu, sedih, rasa bersalah bergolak menjadi satu.


"Anak-anak dimana dek?" tanya Bang Zaldi kemudian.


"Di rumah Bang. Kalau bawa anak-anak ke tempat seperti itu pasti ribet. Ibra sudah banyak tingkah. Anak Abang satu lagi tadi demam" jawab Arnes.


"Kenapa bisa demam? Ya sudah.. kita pulang saja. Urusan ini Abang selesaikan besok saja"


-_-_-_-_-


Sesampainya di rumah Bang Zaldi langsung mencari 'anak keduanya'. Melihat tangis sedih itu tetap hatinya tergerak meskipun sakit terasa menekan seluruh perasaannya.


"Kenapa le, mau minum susu?" Bang Zaldi memberikan sebotol susu dan ternyata putra kecilnya itu mau meminum susu dari tangan Bang Zaldi. Bibirnya pun masih mencebik sedih.


"Di sayang pa. Dedek minta di sayang" kata Arnes.


Meskipun berat, Bang Zaldi mencoba menyayangi putranya itu. Ia menempelkan ujung hidungnya pada hidung Ryan kecil, seketika tangis itu berhenti.


"Dedek Ryan pengen di sayang papa"


"Maafin Abang harus membawanya kesini. Sungguh Abang tidak tau bagaimana caranya menebus segala situasi ini sama kamu dek" Bang Zaldi masih merutuki dirinya sendiri. Bahkan rasanya untuk menatap mata Arnes saja ia


"Ryan bukan anak hasil dari perbuatan buruk Abang. Dia hanya anak bernasib malang. Arnes ingin kita saling menguatkan untuk menghadapi ini semua. Karena kita tidak akan pernah kuat jika hanya ada Abang atau Arnes saja.


"Iya sayang"


//


Di samping kolam renang rumah Papa Rinto, Bang Zaldi merokok meratapi nasibnya, ia tak sanggup membayangkan yang akan terjadi jika dirinya benar-benar masuk penjara. Kini dirinya bukanlah ayah satu orang anak, tapi dua dan satu lagi akan segera menyusul.


"Minum Bang??" Bang Righan menawari Bang Zaldi minum.


"Saya sudah mengurangi minum seperti itu Rig" tolak Bang Zaldi.


"Ini hanya minuman bersoda Bang"


"Kenapa kamu tuang di gelas itu?" tanya Bang Zaldi saat Bang Righan menunjukan gelas sloki .


"Biar garang gitu Bang" jawab Bang Righan dengan gaya sok cool.


"Norak lu" Bang Zaldi memalingkan wajahnya.


//


Malam semakin larut, besok pagi ia akan ke kantor tempatnya ditahan. Perasaannya masih campur aduk tak karuan. Saat membuka pintu kamarnya..


"Arneess....!!!!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2