Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
27. Yang tak terucap.


__ADS_3

Rinto masih di papah Bang Arben dan Gathan. Melihat Anye didorong ke ruang tindakan, Rinto hampir saja pingsan melihat istrinya. Ayah Rama akhirnya tidak tega, melihat Rinto lemas tanpa daya. Ia pun pernah di posisi ini dan sekacau ini. Cinta Rinto untuk putrinya membuat perasaannya tersentuh.


"Setelah tindakan ini istrimu pasti baik-baik saja" Kata Rama memberi semangat.


"Ayah tau?"


"Iya. Wira terus mencari mu untuk tindakan ini" jawab Rama.


"Anak ku yah..!!" Rinto sudah tidak karuan.


"Iya.. ayah tau. Setelah kamu pergi, Anye tetap merasa kesakitan. Obat pereda nyeri seakan tidak mempan untuk Anye. Wira akhirnya meneliti ulang dan ternyata.. calon anakmu yang satu lagi masih hidup dengan baik"


"Alhamdulillah Ya Allah" Rinto tersenyum dalam tangisnya, tak ada yang bisa mengalahkan rasa bahagia seorang ayah, seorang suami.. saat tau Istrinya mengandung dan ia akan menjadi seorang ayah.


"Yeess... jadi Om" pekik Gathan tak kalah senang.


Ezhar diam-diam menghubungi kekasihnya di sudut lorong. "Maaf ya.. Abang nggak bisa kesana hari ini. Adik Abang masuk rumah sakit"


***


"Bagaimana Anye Bang???" Dinda menangis saat datang ke rumah sakit. Rama tidak mengijinkan Dinda untuk ikut dan melihat keadaan Anye. Tapi perasaan seorang ibu sungguh tiada duanya. Ia datang bersama Sekar ke rumah sakit.


Gathan langsung meraih tangan Sekar dan mencium keningnya.


"Kenapa kesini?? Anye sudah stabil. Sekarang tidur sama Rinto di dalam. Menantumu itu merepotkan sekali. Dari tadi hanya buat keributan saja. Cicak lewat di dinding saja bisa kena maki si herder satu itu" senyum Rama sudah tidak segarang biasanya.


"Apa kata Bang Wira?"


Rama menghela nafasnya seolah tidak siap mengatakannya pada Dinda. "Abang akan jadi Opa"


Gathan dan Ezhar yang tertawa disana langsung mendapat lirikan tajam ayahnya.


"Setelah ini ayah pasti kejang kalau aku bilang Sekar lagi hamil" celetuk Gathan sambil memeluk Sekar.


Mata Rama terbelalak saat melihat Gathan memeluk Sekar.


"Jangan macam-macam kamu Gathan" tegur Rama baru menyadari ternyata selama ini Gathan menjalin hubungan dengan Sekar.


"Ini pelajaran yah. Lain kali ayah nggak boleh melarang suami istri untuk melanjutkan keturunan. Coba ayah lihat..tanpa sadar ayah sudah ikut andil mempengaruhi Anye. Beruntung Abang Rinto nggak gila memikirkan semuanya. Apa ayah nggak kasihan" tegur Gathan.


-_-_-_-


flashback on


"Banyak sabar Rin. Hormon kehamilan bisa mempengaruhi kondisi mental Anye. Istrimu masih sangat muda untuk menjalani kehamilannya. Jangankan yang baru tujuh belas tahun seperti Anye. Yang dewasa saja banyak mendapat kasus seperti ini. Dan ini memang bawaan psikis kehamilan" kata dokter Wira menjelaskan.


"Siap.." jawab Rinto dengan mata berkaca-kaca.


"Ayah mertuamu juga pernah mengalami hal pelik seperti ini. Tapi akhirnya.. Anye terselamatkan. Siapa sangka sekarang terulang padamu dan Anye" Dokter Wira menepuk bahu Rinto, berusaha menguatkan hati menantu rekan seperjuangannya itu.


flashback off

__ADS_1


...


Rinto mengusap dadanya tak sanggup membayangkan jika ia harus kehilangan anak dan melihat Anye menderita. Tangan itu seketika memeluk Anye dengan erat.


"Jangan di apa-apakan lagi anak Abang. Biarkan papanya mendengar tangisnya, Abang pengen banget punya anak dari kamu dek" ucapnya di sela leher Anye.


Hati Anye berdesir mendengar setiap ucapan Bang Rinto. Suaminya yang terus berteriak marah, kini sudah melemah.. menjadi lembut membelainya.


"Bang.. apa dia sudah nggak ada?" tanya Anye kini sudah lebih tenang tapi air mata tak bisa ia tahan untuk menetes.


Bang Rinto mengarahkan tangan Anye menyentuh perut datarnya sendiri. "Dia masih ada disini. Delapan bulan lagi kita pasti bertemu dengan buah hati kita"


Tangis Anye pecah, ia beralih memeluk erat suaminya. Tak tau bagaimana mengungkapkan perasaannya yang campur aduk.


"Jangan pikir macam-macam lagi. Kalau semua terasa berat di hatimu. Bilang sama Abang, biar Abang yang pikirkan jalan keluarnya. Abang hanya minta kamu menjaganya"


"Apa Anye bisa jadi ibu? Anye terlalu kekanakan. Anye tidak berpikir panjang untuk setiap tindakan"


"Pertanyaanmu itu sudah menunjukan kedewasaanmu"


"Bagaimana kuliah Anye?"


Rinto tau saat ini ucapan dan tindakan yang salah akan mengganggu kestabilan mental Anye. Menolak secara halus adalah cara terbaik membuat Anye mundur perlahan. Karena jika secara frontal meminta Anye berhenti, pasti akan ada masalah baru lagi.


"Boleh kuliah. Tapi kegiatan setiap harinya harus sepengetahuan Abang. Tidak boleh kerjakan aneh-aneh" pesan Rinto.


Dengan begitu banyak pertimbangan, Rinto memutar otak bagaimana caranya bisa mengawasi Anye. Sungguh rasa cemasnya sangat mengusik batinnya. Berhubungan dengan mesin sedikit banyak pasti mempengaruhi kandungan Anye.


"Sama-sama" meskipun ada senyum di wajah Rinto, hatinya was was bukan main.


"Dek..!!"


"Iya Bang..!!"


"Jangan pernah bilang Abang nggak sayang kamu" Tadi Rinto sempat terpukul mendengar Anye mengucapkan kata-kata itu.


"Jadi..??????" Anye semakin mendongak menunggu jawaban Bang Rinto.


Rinto seketika menguap dan memejamkan mata. "Abang ngantuk..!"


"Iihh Abang" Anye kesal sekali sampai menepak bahu Rinto.


"Abang sayang kamu" bisik Bang Rinto pelan sekali.


"Apa Bang??????" pekik Anye tersenyum senang.


"Nggak ada siaran ulang" jawab Bang Rinto.


Anye bersungut kesal. Lama kelamaan ia tidur di pelukan Bang Rinto. Bang Rinto membelai rambut Anye.


"Dasar wanita.. apa semua harus di ucapkan?? Ribet sekali" gumam Bang Rinto.

__ADS_1


Nafas sesenggukan sesekali masih terdengar. Nampaknya Anye masih terbawa suasana kejadian tadi.


"Maaf ya dek. Abang menyesal, Abang terlalu emosional sampai nggak memikirkan akibatnya" Bang Rinto menciumi wajah Anye penuh penyesalan.


...


Tengah malam, perut Rinto terasa di aduk. Ia memindah posisi tidur Anye di bantalnya lalu segera berlari ke kamar mandi.


"Hhkk.." Rasa mual ini sama persis seperti yang ia rasakan di lapangan. Rinto meraba sakunya dan mengambil ponsel.


"Selamat malam. Ijin.. dengan Pratu Alex.. Ada yang bisa dibantu??" jawab Pratu Alex di sambungan telepon.


"Cepat masuk ruang rawat istri saya..!! Saya di toilet" perintah Rinto.


...


Di saat Anye tidur nyenyak.. Terjadi kegaduhan di ruang rawat istri Danki. Lettu Rinto Dirgantara pingsan di toilet karena mengalami dehidrasi.


"Pak.. Pak Rinto bisa dengar suara saya??" seorang dokter piket berusaha menyadarkan Rinto.


Perlahan Rinto mulai sadar. Begitu sadar suami Anye itu kembali mual.


"Haduuhh.. sakiiiitt bangeet" ucapnya memercing nyeri.


"Hhkkk.."


Dokter hampir angkat tangan menangani pasien pemarah seperti Rinto.


...


Setelah mengalami keributan panjang. Rinto memilih diinfus dengan cara duduk. Ia tidak ingin di perlakukan seperti orang sakit. Rama sampai harus kembali ke rumah sakit bersama Gathan karena tidak ada yang berani membujuk Lettu Rinto.


"Ya begini ini kalau istri hamil. Banyak sabar aja kamu. Ayah sudah lolos uji sampai jungkir balik" ucap Ayah Rama mengawasi menantu barbar macam Rinto.


Rinto memijat keningnya. Memang sungguh dahsyat rasa mual itu menyiksanya. Posisi apapun tidak dapat menyelamatkannya.


Kalau benar ini yang harus papa tanggung untuk bisa mendapatkanmu.. Papa ikhlas. Baik-baik kamu di perut mama. Papa ada untuk kalian berdua. Jangan nakal, jangan buat mama susah.. Biar papa saja yang merasakannya.


***


Pagi hari Rinto sudah merasa lebih baik. Ia segera menghubungi Ezhar.


"Selamat pagi Bang"


"Pagi Nyo.. Bisa tolong bantu saya..???" ucapnya melirihkan suara saat melihat Anye menggeliat.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2