Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 34. Warna warni rumah tangga.


__ADS_3

"Aarrgghh.. ya Allah.. badanku sakit semua" gumamnya memercing sakit usai mandi menjelang sholat ashar di jam-jam terakhir. Ia pun segera mengambil baju kokonya dan segera bersiap sholat.


"Lho dek. Kenapa masih duduk saja. Cepat sholat.. Ini waktunya hampir habis" tegur Bang Zaldi.


"Badan Arnes susah gerak Abaaang"


"Duuhh sayang.. nggak ada alasan. Nggak sampai lima belas menit dek. Ayo to..!!!" Bang Zaldi sedikit memaksa Arnes karena sholat adalah kewajiban umat muslim.


//


Arnes menyandarkan kepalanya di ranjang. Mulai kemarin Bang Zaldi tak hentinya membuatnya lelah hingga usai sholat magrib ini ia kembali tertidur saat Bang Zaldi sedang mengaji.


Merasa tak ada suara dari istrinya, Bang Zaldi menoleh dan mendapati istrinya sedang tidur nyenyak masih memakai mukenanya. Suami Arnes itu pun menghentikan kegiatannya lalu memindahkan Arnes ke atas ranjang dan menyelimutinya.


"Kasihan sekali kamu dek. Maafin Abang ya" satu kecupan ia berikan di kening Arnes.


Bang Zaldi mengambil ponselnya lalu menghubungi seorang anggota yang biasa bersamanya di Batalyon.


"Rafli.. tolong saya ya..!!"


//


"Terima kasih ya..!! Yang satu bungkus kamu bawa untuk makan malam..!!" kata Bang Zaldi.


"Siap.. Terima kasih banyak Komandan" jawab Pratu Rafli.


"Sama-sama"


Setelah Rafli pergi. Bang Zaldi menata rica bebek di atas mangkok lalu kembali ke kamar membangunkan Arnes yang masih tidur.


"Gustii Allah.. Ini tadi perasaan sudah di suruh bangun, kenapa balik tidur lagi ini si Munaroh" gumam Bang Zaldi.


"Neng geulis.. bangun dulu. Makan yuk. Kalau makan terlalu malam nanti kamu gendut lho"


Secepat kilat ada bantal menghantam wajah Bang Zaldi.


"Memangnya Arnes gendut???????"


"Astaga.. Abang kaget dek. Di bangunkan dari tadi nggak mau bangun. Giliran di bilang gendut matanya sampai mau lepas begitu" jawab Bang Zaldi.


"Awas kalau Abang ucap kata haram itu lagi..!!" ancam Arnes dengan mata melotot.


"Abang harus punya kamus untuk mengingat kata apa saja yang bisa bikin Abang celaka" kata Bang Zaldi.


"Ayo makan. Kalau nggak mau makan.. Rica bebeknya Abang habiskan sendiri"


"Gendong.." Arnes mengulurkan tangannya.


"Ogaahh.. tadi marah sekarang minta gendong.." ledek Bang Zaldi.


"Ya sudah.. home teather Abang, Arnes tutup selama satu minggu" ancam Arnes.


"Hedeeehh.. persis nih sama dugaan Abang. Tau banget kamu gimana caranya bikin Abang sengsara" jawab Bang Zaldi. Tanpa banyak mulut Bang Zaldi segera menggendong Arnes sampai meja makan.


"Monggo Bu Komandan..!!" ucap Bang Zaldi menggoda Arnes.


"Terima kasih Pak Komandan yang kaku.


Bang Zaldi hanya diam saja tapi berbeda dengan hatinya yang tersenyum melihat tingkah sang istri.


"Oya Bang. Arnes di tawari kerja di kantor peternakan desa. Boleh nggak Bang?" tanya Arnes.

__ADS_1


Sebenarnya Bang Zaldi sudah mendengar ada permintaan untuk menambah anggota baru di kantor peternakan tapi Bang Zaldi memang tidak mengatakan pada Arnes.


"Boleh ya Bang..!! Abang ganteng deh" bujuk rayu Arnes.


"Kalau Abang nggak ganteng.. kamu mana mau" Jawab Bang Zaldi.


"Baaanngg..!!"


"Hmm.. Besok Abang antar ke kantor peternakan" jawab Bang Zaldi mengalah, selera makannya pun jadi berkurang mendengar permintaan sang istri.


***


Bang Zaldi menjemput Arnes usai apel pagi. Ia sudah meminta ijin untuk mengantar Arnes ke kantor peternakan.


//


Bang Zaldi merokok di dalam mobil sambil membuka jendela menunggui Arnes yang sudah dua jam belum keluar dari kantor.


Tak lama Arnes keluar bersama seorang pria. Arnes dan pria itu terlihat sangat akrab di pertemuan pertama ini. Bang Zaldi langsung mematikan puntung rokoknya dengan wajah datar.


//


"Itu tadi siapa dek??" tanya Bang Zaldi.


"Mas Fauzan. Kepala kantor peternakan ini" jawab Arnes dengan santai.


"Abang minta kamu hanya profesional kerja dengan Fauzan. Tetap kabari Abang sebisa dan sesering mungkin" ucap Bang Zaldi.


"Memangnya kenapa Bang?" tanya Arnes.


"Nggak usah banyak tanya dek. Nurut saja apa kata Abang" jawab Bang Zaldi kemudian menyalakan mesin mobil dan keluar dari area kantor peternakan.


"Jawab...!!!" kata Bang Zaldi ringan, wajahnya mulai sedingin es.


Arnes menekan tanda hijau di ponselnya.


"Hai Arnes. Besok nggak usah di antar sopirmu ya..!! Mas antar aja" kata Mas Fauzan.


"Mas, ini yang mengantar tadi tuh suami Arnes" jawab Arnes jujur karena Bang Zaldi sudah memasang tampang ingin menelan orang bulat-bulat.


"Hahaha.. kalau begitu Mas ini bapakmu. Umurmu itu masih berapa??" Mas Fauzan tidak percaya dengan jawaban Arnes dan malah menertawainya.


"Apa maksudnya si sontoloyo itu???" Bang Zaldi mulai tidak suka dengan kedekatan Arnes dan Fauzan.


"Ehm.. sudah ya mas. Arnes tutup dulu panggilan teleponnya" ucap Arnes mengakhiri percakapan.


"Sudah ya mas, Arnes tutup dulu panggilan teleponnya" gaya bicara Bang Zaldi di buat mirip macam Arnes.


"Aaseeeeem tenan. Jawab omongan si Fauzan itu lembut banget kamu dek, coba jawab Abang.. nyereti koyo telo"


"Apa sih Abang. Ya masa Arnes harus marah sama Mas Fauzan??" kata Arnes.


"Terserah.. yang penting kamu jauh-jauh dari makhluk yang namanya Fauzan. Titik...!!!!!!"


"Boleh.. tapi nggak aja juga Aning, Nuning atau Olivia" jawab Arnes tak mau kalah.


"Kalau nggak.. home teather............"


"Oke.. nggak ada mereka. Jangan tutup ya..!!!!!!!"


Arnes duduk menghadap arah jalanan. Tangannya menyalakan musik koplo kesukaannya. Tak lama mereka berdua asyik ribut di dalam mobil berjoget ala kadarnya dan bernyanyi berdua.

__ADS_1


"Mari kita sambiit. Nyonya Zaldi bojo ngeselin sepanjang dekade ini" ucap Bang Zaldi membuka lagu berikutnya.


"Ha e.. Ha e.." Bang Zaldi menimpali Arnes yang akan memulai bernyanyi dengan suara merdunya.


plaakk...


"Awwh.. Astaga..!!" Bang Zaldi sampai kaget di buatnya.


Arnes menepak lengan Bang Zaldi dengan kesal.


"Abaang.. yang benar donk. Ulangi..!!!!!!"


"Kita sambut Nyonya Zaldi Kesayangan..!!" ucapnya dengan suara rendah.


Dunia hari ini begitu tak berarti


Tak berjalan cepat seolah tak peduli


Lambat laun ku bertahan dengan hari ini


Hari yang takkan pernah berakhir


Semua telah berubah sejalan dengan waktu


Setiap detik berharga bagiku


Waktu pun ingin kuubah, kembali tertawa


Aku hanya bisa menangis, aku tak bisa.....


***


Satu minggu telah berlalu. Arnes menjalani pekerjaannya dengan bahagia dan tanpa hambatan. Banyak pegawai kantor peternakan yang mulai mengidolakan si cantik Arnes.


"Kapan kita bisa pulang sama-sama?" tanya Mas Fauzan pada Arnes saat sedang makan siang.


"Maaf ya mas, nggak bisa. Arnes khan sudah bilang kalau Arnes sudah menikah" jawab jujur Arnes.


"Yang benar Nes. Kamu masih sangat muda. Usia dua puluh tahun saja sudah buat Mas kaget" kata Mas Zainal bingung.


"Jaman sekarang banyak percepatan Mas, Arnes selalu dapat kelas percepatan dan akhirnya lulus kuliah dengan cepat. Belum sempat kerja tapi sudah menikah. Sebenarnya suami Arnes nggak mau kalau Arnes kerja. Tapi Arnes meminta ijin dan di perbolehkan" jawab Arnes.


"Oohh.. Mas kira kamu single. Suamimu pasti orang yang kaku dan dingin" tebak Mas Fauzan.


"Deehh.. cangcorang itu ngomong apa sih?? Aku nggak dengar" Bang Zaldi menunduk bersembunyi di balik tembok kantin kantor peternakan. Saat akan berdiri, ia lupa jika di atas kepalanya ada penyangga sisi meja hingga kepalanya terbentur dengan keras.


"Aawh.." pekik Bang Zaldi.


"Abang.. Abang ada disini?? Kenapa nggak duduk sekalian disini sih Bang" kata Arnes yang akhirnya menghampiri suaminya.


"Ehm.. Abang lagi merokok. Nggak mau sampai kandunganmu kena asap rokok" jawab Bang Zaldi mulai membual.


"Oohh.. kamu lagi hamil Nes?? Selamat ya" kata Mas Fauzan.


"Eehh.. Ii..Iya Bang" jawab Arnes salah tingkah tidak enak. Matanya melirik Bang Zaldi dengan jengkel tapi Bang Zaldi hanya menjulurkan lidahnya meledek Arnes memasang wajah puas penuh kemenangan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2