
"Aman nggak Bro??" tanya Bang Rinto pada dokter Anye.
"Kamu harus pahami riwayat kandungan istrimu. Satu kali persalinan operasi dan hampir semua prematur" jawab dokter Ian.
"Terus bagaimana??"
"Kita cek lagi ya..!! Kalau tidak memungkinkan lebih baik tunda perjalanan dulu. Apalagi kalau disana ada acara jalan-jalan dan mungkin saja kamu mencuri waktu berduaan dengan Anye, secara ini liburan" saran dokter.
"Benar juga katamu. Nggak mungkin mata sama pikiran gue nggak ke arah sana. Apalagi daerah itu bisa buat mataku rabun seketika. Ujung-ujungnya minta study tour juga sama Anye" jawab Bang Rinto.
"Apa tidak ada obat penguat kandungan atau sejenisnya??" tanya Bang Rinto lagi.
"Ada.. tapi tidak di sarankan karena kandungan istrimu cukup sehat" jawab dokter.
"Naahh.. kamu dengar sendiri. Bukan Abang yang bermaksud beralasan" Bang Rinto menggenggam tangan Anye membiarkan istrinya yang memutuskan sendiri.
"Ya sudah.. nggak jadi saja Bang" jawab Anye.
"Bukannya kamu pernah ke Bali?? Abang lihat fotomu yang kucel itu" tanya Bang Rinto.
Anye melirik tajam karena Bang Rinto meledeknya.
"Itu acara sekolah, Anye nggak banyak ikut acara karena mabuk naik bus" jawab jujur Anye.
"Makanya jadi orang tuh jangan teleran" tegur Bang Rinto walaupun sebenarnya ia juga merasa kasihan melihat Anye.
"Bisa saja kalian pergi, tapi kamu harus benar-benar ekstra menjaga agar bumilmu tidak kelelahan" kata dokter.
"Hmm.. Abang beri dua pilihan untuk kamu dek. Abang ganti ke Bali nya kalau si dedek sudah lahir saja.. Kita bikin acara kecil saja di sekitar rumah atau tunggu empat hari lagi. Kalau kandunganmu sehat.. Kita langsung berangkat " bujuk Bang Rinto.
Bang Rinto tau apapun yang akan di gantikan olehnya jika tidak jadi pergi pasti tidak akan sama rasanya seperti kalau mereka jadi ke Bali. Karena rasa ngidam itu hanya satu kali dan bisa saja terus terbayang dalam angan.
"Boleh Anye tunggu empat hari dulu?" tanya Anye.
"Iya boleh" Bang Rinto memberikan ijinnya.
***
Esok harinya Bang Rinto melihat Anye sedang meminum susu ibu hamil. Senang sekali rasanya melihat bumilnya begitu sehat dan banyak makan.
"Makan yang banyak dek. Biar kuat..!!"
"Ini makan banyak Bang" jawab Anye dengan semangatnya.
"Mau tambah lagi makannya Nok??" tanya Bi Ana.
"Biar saja makan sedikit dulu bi, asal sering" kata Bang Rinto.
HT berbunyi nyaring, ada panggilan agar Bang Rinto segera merapat ke kantor.
"Makan yang banyak ya dek. Abang berangkat ke kantor"
"Iya Bang" jawab Anye.
Bang Rinto berjongkok lalu menciumi perut Anye dengan gemas. "Papa berangkat ya ndhuk..!!"
__ADS_1
"Abaaaang.. kalau anak kita laki bagaimana??"
Bang Rinto hanya menyentil hidung mancung istrinya.
"Taruhannya apa kalau ternyata perempuan??"
Anye menghela nafas panjang mendengar suaminya begitu percaya diri.
...
( Kisah nyata, di samarkan sesuai dengan kebutuhan ).
"Ada apa rapat dadakan??" tanya Bang Rinto pada Gathan.
"Dari mabes ada perintah untuk menggusur keluarga para purnawirawan masa kerja tahun 70an di komplek kota karena rumah tersebut sudah tidak di fungsikan sebagaimana mestinya, sudah beberapa kali surat di sampaikan tapi tidak ada tanggapan dari para purnawirawan. Dan lagi kita harus cepat sebab banyak dari anggota yang masih kekurangan papan dan tinggal apa adanya di barak bersekat. Pengantin baru dan keluarga tinggal bersekat triplek Bang." jawab Gathan.
"Saya sempat memikirkannya juga, sampai terbayang dalam benak saya bagaimana setiap harinya harus bicara berbisik karena papan yang begitu tipis. Rumah tangga juga butuh privasi. Tapi apa sudah yakin kalau kita akan membawa anggota untuk menggusur mereka?? Bagaimanapun juga beliau-beliau juga sangat berjasa bagi bangsa dan negara. Jika kita menggusur mereka, apa mereka sudah memiliki papan di luar sana??" tanya Bang Rinto.
"Itu isi hati kita Bang. Tapi kita bisa apa? Kita ini hanya bawahan yang juga hanya menjalankan perintah atasan tanpa bantahan" kata Gathan.
"Abang putuskan kapan kita harus bergerak" kompi kita nego dulu"
"Saya akan bicara pada seorang purnawirawan sebagai perwakilan, tidak usah mengagetkan mereka dan bawa beberapa orang saja kesana" perintah Bang Rinto.
"Siap Bang"
#
Siang itu Bang Rinto bersama beberapa para anggota mendatangi kompleks eks purnawirawan untuk bernegosiasi dengan para purnawirawan beserta keluarga.
"Mau apa kamu datang kesini??? Anak perempuan saya tinggal satu tapi mau saya jodohkan dengan orang lain" jawab seorang purnawirawan yang ditemui Bang Rinto dengan ketus.
"Mohon maaf pak, saya juga sudah berkeluarga. Niat saya bukan itu. Kami hanya menyampaikan berita dari atasan bahwa.. papan ini akan di ambil alih oleh negara dan bapak sekeluarga bersama rekan yang lain di mohon untuk bergeser dalam waktu dua kali dua puluh empat jam"
"Kamu masih ingusan sudah mau usir saya???? Usia anak pertamaku dengan kamu saja masih tua anakku..!!!!! Bagaimana perasaanmu kalau ada di posisi kami??" hardik bapak tersebut pada Bang Rinto.
"Nggih pak. Kami paham, tapi kami hanya menjalankan perintah"
"Kamu dapat sudah enaknya saja. Kami yang babat alas mati-matian.. kalian hanya tinggal angkat kaki tapi hanya rumah saja tidak kami dapatkan. Tidak adakah penghargaan untuk kami para purnawirawan????" purnawirawan tersebut mengambil gelas air mineralnya lalu menyiram air itu ke wajah Bang Rinto.
"Pergi kamu dari sini. Jangan sampai kalian datang lagi..!!!"
"Siap pak. Saya mohon ijin" Bang Rinto pergi dengan memberi hormat pada purnawirawan berpangkat Serma tersebut.
//
"Astagfirullah Bang. Abang di siram???" tanya Gathan.
"Sudah jangan bahas masalah kecil seperti ini" Bang Rinto melepas seragam luarnya lalu menyampirkan di sandaran kursi depan mobil.
"Kalau sudah begini, kira-kira apa rencanamu??" tanya Bang Brian.
"Meskipun hati nggak tega. Mau nggak mau kita harus kerja. Semua pasti ada pro dan kontra. Kita harus siap apapun resikonya" kata Bang Rinto.
"Lalu???"
__ADS_1
"Rabu tengah malam, kita gerak dan ambil alih" perintah Bang Rinto"
***
Bang Rinto sudah melakukan persiapan dan mengambil seragam dinasnya.
"Abang mau kemana malam begini??" Anye memeluk Bang Rinto dari belakang.
"Abang kerja sayang..!! Kamu baik-baik di rumah. Besok sore Abang pulang" kata Bang Rinto.
"Abang keluar kota?? Hati-hati ya Bang" Anye sedikit cemas memikirkan Bang Rinto.
"Nggak, dekat sini saja. Hayoo.. nggak boleh pikir macam-macam. Doakan saja Abang pulang sehat walafiat. Katanya mau jalan ke Bali sama Abang" Bang Rinto memeluk dan menenangkan istri tercintanya.
"Ayo donk jangan sedih. Abang sudah setor tunai masa masih di tangisi. Ini nggak dinas luar lho dek. Hanya ke kota saja" bujuk Bang Rinto.
"Iya Bang.. Ya sudah Abang hati-hati" Anye mencium punggung tangan Bang Rinto dan Bang Rinto langsung menyambar bibir manis Anye. Di kecupnya dalam dan hangat hingga keduanya sempat terhanyut kembali.
Sadar ini bukan perpisahan yang jauh, Bang Rinto melepas pagutannya untuk sang istri tercinta.
"Sudah ya dek. Besok Abang pulang, kita lanjut lagi" ucapnya sambil beralih mengecup kening Anye.
-_-_-_-_-
Sekitar enam truk sudah terparkir berjajar di depan kompleks purnawirawan. Para anggota turun perlahan dan senyap tak terdengar lalu mereka berjajar rapi mendengar arahan Kapten Rinto.
"Satu Truk menangani satu barak rumah..!! Ketuk dan usahakan bersebelahan untuk meminimalkan perlawanan. Kalian boleh menghindari serangan tapi jangan memukul balik. Rata-rata mereka sudah sepuh" perintah Bang Rinto mengingatkan para anggota.
"Siap laksanakan..!!"
Malam itu juga pukul dua belas malam. Pergerakan di lakukan di kompleks perumahan purnawirawan C******g. Tengah malam di ambil karena saat para sepuh sedang tidur maka tidak ada banyak persiapan yang bisa di lakukan.
#
Teriakan dan tangisan terdengar nyaring bahkan ada bayi dan anak-anak yang membuat hati Bang Rinto miris di buatnya.
"Lihat ulah kalian yang tidak punya hati. Anak-anak masih tidur harus di bangunkan. Kami harus pindah kemana?????" teriak seorang ibu memukuli dan menampar pipi beberapa para anggota.
Pengeroyokan lebih di dominasi para wanita yang berteriak-teriak meminta rumah itu kembali.
"Kami bukan tidak punya hati. Kami pun sama sedihnya dengan bapak ibu. Hanya saja sesuatu milik negara memang harus kembali pada negara. Bapak yang sudah selesai dalam tugas, memang harus beralih karena negara akan mengambil fungsi dari papan ini" ucap Bang Rinto dengan tegas.
-_-_-_-_-
"Kalian cepat makan dulu.. Gantian dengan yang lain..!!" perintah Bang Rinto pada anggotanya saat kantor sudah mengirim makan pagi untuk para anggota.
Bang Rinto masih sibuk mengecek kondisi sekitar sambil menjaga beberapa anggotanya yang sedang istirahat makan pagi.
"Permisi pak. Ini kopi untuk bapak?" kata seseorang menyapa Bang Rinto.
.
.
.
__ADS_1