
Bang Rinto melepas pakaian luarnya lalu menutup badan Anye yang telah basah. Ia pun juga membuka sepatu roda Anye. Pokok benda pembuat masalah hari ini.
"Bawa pulang sepatu rodanya ke rumah ayah dan jangan biarkan bumil ini mengambilnya tanpa seijin Abang..!!" kata Bang Rinto sambil menyerahkan sepatu roda itu ke tangan Ezhar.
"Siap Bang..!!" jawab Ezhar ikut merasa bersalah dan
Bang Topan sudah mengajak Nila pulang terlebih dahulu. Sepertinya Bang Topan juga tak kalah kesalnya dengan ulah bumilnya.
"Bang..!!" sapa Anye.
"Apa lagi????" Bang Rinto sedang tidak ingin mendengar rengekan Anye lagi. Kepalanya sudah terlalu pusing dan hatinya sudah kalang kabut nyeri memikirkan ulah istri kecilnya.
"Kaki Anye sakit, terkilir" jawab Anye.
"Terus??????"
"Gendong..!!!" ucap Anye pelan.
Para anggota disana berusaha keras menahan tawanya melihat Danki dan istri saling 'bersitegang'.
"Itu ada sepatu rodanya Nila. Kamu pakai saja untuk meluncur pulang" ucap kesal Bang Rinto meskipun tidak ada niat menyakiti hati Anye.
Anye menunduk dan sesenggukan, ada rasa kesal.. tapi ia memang salah sudah membohongi suaminya terlebih untuk hal yang membahayakan dirinya bahkan bayinya seperti ini.
"Maaf..!!" kata Anye.
"Kapok apa nggak??" tanya Bang Rinto tegas.
"Kapookk Bang.. sakiiiitt..!!!!" tangis Anye semakin menjadi. Sebenarnya ia lebih menangis karena suara keras Bang Rinto meskipun kakinya juga terasa sakit.
"Abang marah bukan karena nggak sayang. Abang jaga istri betul-betul tapi kamu yang sengaja cari perkara" Bang Rinto sudah mengurangi suara kerasnya. Melihat Anye sudah sangat sedih tentu saja perasaannya menjadi tidak tega.
"Sudah jangan nangis lagi..!! Apa dikira cantik kalau sudah mewek" Bang Rinto mengusap air mata Anye lalu segera mengangkat istrinya yang mulai kedinginan.
-_-_-_-
Bang Rinto melihat di meja makannya sudah terhidang pesmol, tumis buncis dan sambal goreng kentang. Ada senyum merekah ternyata sang istri masih ingat tanggung jawabnya sebagai seorang istri meskipun ia kabur-kaburan.
"Ya cuma kamu yang paling bisa acak-acak hati Abang seperti ini"
Bang Rinto segera menjemur handuk Anye yang basah setelah Anye mandi sehabis tercebur di kolam ikan tadi dan kembali lagi masuk ke dalam kamar.
"Kamu masak sebanyak itu apa kamu sendiri sudah makan?" tanya Bang Rinto.
Anye menggeleng pelan.
"Sepertinya enak sekali masakanmu hari ini. Abang lapar. Mau makan sama Abang?" kata Bang Rinto.
__ADS_1
Anye memberanikan diri menatap mata Bang Rinto. Sudah tidak ada kemarahan lagi disana.
"Mau.." jawab Anye singkat.
...
"Ehm.. Enaknya masakanmu dek..!!" puji Bang Rinto. Suami Anye itu langsung makan banyak. Nafsu makannya bertambah saat makan berdua bersama Anye.
"Masa Bang?"
"Iya, enak sekali ini ikannya" kata Bang Rinto.
"Masih terasa banget bau ikannya" Anye sangat tidak suka dengan bau ikannya sampai rasa mual tiba-tiba menyerang. Anye lebih memilih makan sambal goreng kentang dan tumis daripada makan pesmol buatannya sendiri.
"Nggak aahh, Abang malah heran kenapa ikan ini bisa nggak ada bau khas ikan" Rinto berdiri dari duduknya karena sudah selesai makan.
"Masih mau makan nggak dek?" tanya Bang Rinto.
"Nggak.. cukup Bang" Anye menunduk tidak tahan melihat tulang ikan berserakan di piring padahal saat memasaknya tadi, tidak ada apapun yang terjadi. Semua nampak biasa saja tapi sekarang rasanya melihat bentuk ikan sudah sangat menyiksanya.
"Sudah ini.. jangan mual ya..!!" Bang Rinto segera menyingkirkan semuanya agar istrinya tidak sampai mual.
***
Beberapa waktu telah berlalu. Bang Rinto bersandar di kursi kerjanya. Satu tangannya sibuk memijat pelipisnya, satu tangannya lagi meremas perutnya yang sudah terasa tidak karuan. Nampaknya sudah dua hari ini rasa mual sudah berpindah pada dirinya.
"Masuk..!!"
"Ijin Dan.. ini jahe panasnya" kata Thomas membawakan segelas minuman jahe panas untuk Bang Rinto.
"Iya, terima kasih ya" jawab Bang Rinto.
"Ohh.. iya..!! Tolong ganti pengharum ruangan saya dengan wangi yang lain. Saya mual sekali..!!"
"Ijin Dan.. mau beli aroma apa??" tanya Thomas.
Bang Rinto berpikir sejenak karena ia tidak tau aroma apa yang membuatnya tidak mual.
"Kamu beli macam-macam pengharum ruangan. Nanti saya pilih"
...
"Hhkkk..!!! Buang ini..!!! Saya nggak suka" Bang Rinto menyingkirkan satu persatu pengharum ruangan yang tidak disukainya. Alex dan Thomas sibuk memisahkan mana pengharum yang disukai Dankinya.
Sampah plastik sudah banyak memenuhi ruangan Danki. Thomas dan Alex mengumpulkan semua bungkusan dari hasil kerja keras Danki menyobek bungkus plastik.
"Naahh.. ini saja.." Bang Rinto merasa cocok dengan aroma semangka yang ia pegang.
__ADS_1
...
"Ya ampun, repot sekali ngidamnya" gumam ayah Rama saat Alex selesai memasang pengharum ruangan di ruangan kerjanya.
Alex tersenyum geli karena memang Dankinya itu sedang rewel.
"Alex, apa Dankimu sudah baik-baik saja?" tanya Rama.
"Ijin.. Sudah lebih baik" jawab Alex.
"Ya.. baguslah, dia yang mual satu Batalyon ikut repot" gerutu Rama tapi tidak bisa menyembunyikan senyumnya.
***
Malam hari di belakang rumah Bang Rinto. Anye menghampiri suaminya yang sedang mengumpulkan ranting kayu di belakang rumah. Udara terasa sangat dingin.
"Mau kopi Bang?" tanya Anye sembari mengusap perutnya yang sudah sedikit terlihat, kehamilan hampir tiga bulan.
"Nggak, Abang nggak mau begadang. Kamu ambil di atas lemari makan..!! Itu ada minuman yang Abang bungkus di plastik warna biru, tolong buatkan itu saja..!!" pinta Bang Rinto.
"Iya Bang" Anye segera membuatkan apa yang diminta Bang Rinto.
...
"Jangan di serakin lagi rantingnya, nanti mati" Bang Rinto menjepit rokok di bibirnya, mengambil ranting di tangan Anye lalu sedikit menarik tangan Anye agar sedikit menjauh dari api yang hampir redup.
"Anye mau bakar rantingnya Bang. Bukan mau serakin" kata Anye.
"Kalau begitu caranya, asapnya kemana-mana dek. Bajumu bisa bau asap" sesaat kemudian nyala api sudah sempurna.
Bang Rinto mengambil tikar anyam yang terlipat rapi dari sela atap teras belakang rumahnya lalu menggelar tidak jauh dari api. Bang Rinto mengajak Anye untuk duduk disana.
"Kalau hidup bersama Abang hanya bisa sesederhana ini yang Abang berikan" kata Bang Rinto sambil mendekap pinggang Anye dan mengusap perut istrinya.
"Anye suka. Dulu ayah sering mengajak Anye duduk begini sambil bermain api di belakang rumah" saat tangan Anye berusaha menyentuh ranting, Bang Rinto pun segera menarik tangan Anye dan memasukan tangan Anye ke ember air bersih yang ada tepat di samping Anye.
"Ini tangan usil sekali" tegur Bang Rinto.
"Pegang Abang saja daripada pegang ranting" gerutunya tepat di samping telinga Anye.
Anye tertunduk tersipu malu padahal Bang Rinto tidak berbuat apapun. Bang Rinto menyadari hal itu tapi ia pura-pura tidak tau. Agaknya saat ini Bang Rinto ingin bermain-main dengan istri tercinta.
.
.
.
__ADS_1