
"Jangan Bang Bima..!!!" Dengan menahan sakitnya, Arnes memeluk melindungi tubuh Bang Zaldi.
Om Adi memasang badan untuk Arnes diikuti anggota yang lainnya.
"Kamu gila Bima..!!" bentak Bang Bayu.
"Arnes adikku Bang. Bang Zaldi sudah menyakitinya.." perih hati seorang Abang melihat adiknya di aniaya seperti itu.
"Saya paham Bima. Tapi kalau kamu menyalahkan Zaldi.. itu juga tidak benar. Zaldi terkena pengaruh obat dan dia tidak menyadarinya. Saya malah lebih cemas saat nanti dia sadar perbuatannya sudah mencelakai Arnes. Zaldi sayang sekali dengan Arnes dan anaknya. Tidak ingat kamu.. Arnes tersandung batu saja, batunya yang salah" ucap Bang Bima sambil mengamankan pistol di tangan Bang Bima.
Bang Zaldi mulai mengamuk dan sekali lagi Arnes terpental.
"Bawa ke kamar mandi barak, siram lagi..!!" perintah Bang Bayu.
"Jangan..!!"
"Kamu harus tega Arness..!!!!"
...
Bang Zaldi gelagapan saat merasakan derasnya air yang mengguyur tubuhnya.
"B*****n kalian semua..!!!!!" teriaknya dengan marah. Om Adi dan Bang Bima yang memeganginya pun sampai kewalahan menghadapi Bang Zaldi yang hanya seorang diri.
"Kamu.. Perempuan macam apa kamu. Kenapa kamu tidak biarkan saya mati..!!!!" bentaknya pada Arnes.
Berember-ember air es mengguyur tubuh Bang Zaldi agar DanSat segera sadar. Arnes yang kebetulan masih kesakitan, tak peduli dengan dirinya, ia tak sampai hati melihat suaminya harus 'di tundukan'. Secepatnya ia melepaskan diri dari pelukan Tante Mey.
byuuuurrr..
Arnes pun ikut tersiram bersama Bang Zaldi.
"Siram Arnes juga..!!" pintanya lirih.
Bang Zaldi sekuatnya menyadarkan dan memaksa untuk menguasai dirinya.
"Arneeeeesss...!!!!!!!" teriaknya kencang.
Semua terperanjat dan berhenti mengguyur saat mendengar DanSat menyebut nama istrinya. Dalam keadaan apapun, ia tidak pernah lupa dengan sosok istri tercinta.
Alam bawah sadarnya berusaha untuk berkumpul.
"Arnes disini Abang..!!" ucapnya terbata merasakan sakit yang luar biasa.
Bang Zaldi belum juga menyadari siapa yang tengah memeluknya saat ini.
"Siapa kamu?? Pergi.. saya sudah punya istri" Bang Zaldi menghempaskan Arnes dengan kasar.
"Mana tali, kita ikat dia"
Hati Arnes begitu sakit melihat Bang Zaldi diamankan Abang dan omnya.
"Kau pikir aku selera melihatmu?? Seseksi apapun dirimu, tak ada yang mengalahkan Arnesku.." Bang Zaldi meracau tidak jelas. Ingin rasanya Bang Bima membungkam mulut tengil adik iparnya. Memang Bang Zaldi tidak sadar, tapi mulutnya itu cukup membongkar aib.
"Eegghh.. Arnes..!! Kamu cantik sekali sayang. Kita sembunyi di dapur belakang yuuuk..!!"
Para anggota pura-pura tidak mendengar saat komandan harus berkicau menjabarkan cantiknya sang istri sampai akhirnya Bang Bayu terpaksa menyumpal mulut yang tak tau aturan itu.
//
Arnes sudah berganti pakaian. Tak ada satupun yang berani membuka ikatan Bang Zaldi meskipun bajunya sudah basah kuyup. Khawatir Bang Zaldi akan mengamuk lagi. Terus terang butuh tenaga ekstra untuk melumpuhkan pria nomer satu itu.
"Biar Arnes saja yang mengganti pakaiannya..!! Kalian bisa tinggalkan kami." kata Arnes.
__ADS_1
"Ini bahaya Nes..!!"
"Tolong Bang..!!" pinta Arnes pada Bang Bima.
:
Arnes mengganti pakaian Bang Zaldi. Suaminya itu hanya menatapnya.
"Kenapa wajahmu seperti istriku?"
"Mungkin Abang terlalu sayang istri Abang itu"
"Saya bisa sendiri..!!" ucapnya dingin.
Bang Zaldi memalingkan wajahnya, ia menutup tubuhnya yang belum beres dengan selimut.
"Pergi..!! Istriku pasti sakit hati melihatmu bersamaku. Saya tidak mau Arnes salah paham"
Arnes tak tahan lagi, Bang Zaldi nyaris tak mengenalinya.
"Abang sangat mencintai Arnes. Tapi Abang tidak mengenali Arnes. Lihatlah Bang, apa sungguh Abang melupakan Arnes?" Arnes mengarahkan wajah Arnes agar menatapnya.
Cukup lama Bang Zaldi melihatnya dengan pandangan kosong, bayangan Arnes mendesak berputar di kepalanya.
"Aarrgghh.. " Bang Zaldi berteriak meremas kepalanya yang terasa terjungkir balik.
"Aku Arnes, istrimu, Nyonya Zaldi Kesayangan mu" Arnes mendekatkan bibirnya pada Bang Zaldi menawarkan kehangatan sebagai seorang istri, dunia Bang Zaldi pun terasa berguncang hingga akhirnya benar-benar menyadari wanita yang berada di hadapannya adalah istrinya. Ia membalas pagutann manis itu penuh cinta dan perasaan. Diusapnya punggung yang hilang dalam dekapnya. Rindu.. rindu teramat sangat memenuhi hatinya.
"Dek.." sapa Bang Zaldi lembut setelah sadarnya pulih.
"Eegghh.." Arnes menggeliat pelan. Ia bersandar di dada bidang Bang Zaldi.
Bang Zaldi melirik memperhatikan wajah Arnes, penuh luka dan lebam.
Dengan cepat ia beralih dan merebahkan Arnes. Perlahan ia membuka jilbab Arnes, terlihat banyak luka disana, matanya memicing.. ada gurat memar di leher seperti bekas tekanan kuat.
Dada Bang Zaldi terhantam sesak, ia bisa menerka jika ini pasti perlakuan buruknya tapi begitu takut menghadapinya. Dengan gemetar, satu persatu Bang Zaldi membuka kancing bajunya Arnes.
Bagai tersambar petir melihat tubuh Arnes penuh lebam, merah biru keunguan bekas luka cambuk. Ia meraba pinggangnya dan melihat ikat pinggangnya tidak ada, matanya menyisir sekitar dan melihat ikat pinggang itu tergeletak di lantai.
"Apa Abang melakukannya?" tanyanya terbata.
Degup jantung Bang Zaldi terasa menekan perasaannya. Sakit tak terkira menusuk dirinya. Di sentuhnya perlahan lebam itu.
"Sakiiiit Bang. Sakit sekali" Arnes merintih kesakitan. Mata Arnes memejam, hanya tangannya saja mengusap paha Bang Zaldi sebagai respon bahwa ia masih sadar dan baik-baik saja.
"Astagfirullah hal adzim.. Ya Allah.." seketika Bang Zaldi syok, ia terduduk lemas di samping Arnes. Punggung nya tersandar dengan kasar. Nafasnya seakan berhenti mendadak.
"Kenapa Kau tidak buatku mati saja Tuhan" teriaknya begitu hancur. Ia meremas dadanya yang tiba-tiba tertekan.
Bang Zaldi sekuatnya berjalan meskipun sempoyongan mencari kotak P3K di barak dan mencari salep untuk Arnes. Langkahnya yang berat mengalahkan segala rasa dalam dirinya. Tak satupun obat ia temukan.
"Anakku?? Bagaimana anakku?? Aku menyakiti istriku" Bang Zaldi bergumam.
Jelas sekali dirinya sangat tertekan dengan keadaan ini. Tak menunggu waktu lama, Bang Zaldi merapikan pakaiannya juga Arnes lalu membawanya keluar ruangan.
"Zaldi.. kamu mau bawa Arnes kemana??" tanya Bang Bayu.
"Aku mau membawanya ke rumah sakit" jawab Bang Zaldi.
"Nggak bisa Zal. Kamu bisa kena pasal KDRT. Kamu juga bisa kena tindak karena di anggap lalai dalam tugas" kata Bang Bayu.
"Aku akan hadapi resikonya. Istriku sakit Bay. Apa aku harus mendiamkan semua ini??" bentak Bang Zaldi mulai frustasi.
__ADS_1
"Biar istriku yang merawat Arnes dengan bantuan Noe" saran Bang Bayu.
Bang Bima dengan sigap mengambil Arnes.
"Dia sakit karenamu Bang..!! Kalau dia tidak menikah denganmu.. hidupnya tidak akan semalang ini"
"Tinggalkan adikku. Lebih baik Arnes pulang dan tinggal bersama papa daripada terus menderita bersamamu" Bang Bima berlalu dari hadapan Bang Zaldi membawa Arnes yang perlahan tak terlihat lagi dalam pandangannya.
Mendengar itu perasaan Bang Zaldi sangat terpukul. Tubuhnya kembali gemetar, tanpa obat itu rasa sakitnya akan hilang dan timbul dengan cepat.
"Jangan dengarkan Bima. Dia hanya terbawa emosi sesaat" ucap Bang Bayu mencoba mendinginkan hati Bang Zaldi.
hhhgghghhh...
Detak ini terasa berhenti. Sakitnya terasa hingga menekan ulu hati.
"Suami macam apa aku ini. Tanpa perasaan aku menyiksa lahir batin istriku. Pantas Tuhan tidak mengijinkanku menjadi seorang ayah" ucap Bang Zaldi.
"Zal.. kamu kenapa??"
Seakan tak ada daya, Bang Zaldi tumbang menubruk Bang Bayu.
...
"Tolong Bima, Saya ingin lihat Arnes" dalam wajah pucat pasi, Bang Zaldi merendahkan diri bersimpuh di kaki Bang Bima agar mengijinkannya bertemu dengan Arnes karena Bang Bima membawa kunci kamar Arnes.
"Kuburlah harapan Abang itu, aku tidak mau adikku terus mengalami hal buruk jika hidup bersamamu" ucap kasar Bang Bima.
"Sungguh saya tidak sengaja Bima. Kamu boleh hukum saya tapi tolong ijinkan Ibra dan Ryan bertemu ibunya"
"Aku pasti akan pertemukan mereka kalau Arnes sudah lebih baik. Bertemu mereka saat ini pun tak ada gunanya. Arnes tidak akan bisa memberikan kasih sayangnya pada dua jagoan" Bang Bima menepis kakinya meninggalkan Bang Zaldi dalam kehancuran batinnya.
Rasanya sudah tidak kuat untuk berjalan. Bang Zaldi merangkak hingga sampai ke pintu kamar di barak itu. Tubuhnya menggigil dan bergetar, Bang Zaldi meringkuk di lantai. Menemani Arnes dari luar sana berselimut angin malam yang berderu. Gerimis semakin membuat tubuh Bang Zaldi terasa membeku.
Abang akan terus disini dan berusaha sadar. Abang tau kesalahan ini tidak terampunkan. Tapi masih bisakah Abang berharap agar kamu kembali sama Abang. Tapi masih pantaskah Abang bersanding denganmu yang luar biasa. Kalau saja waktu bisa Abang putar kembali, Abang hanya ingin kamu habisi nyawa Abang. Jujur Abang tidak sanggup menanggung semua beban ini. Rasanya berat sekali.
"Kata maaf tak akan bisa menebus segala salah Abang. Abang pasrah menunggu keputusanmu dek..!!"
Bang Zaldi berusaha keras mengatur emosi dalam dirinya. Pikirannya kembali melayang terbang. Ia merangkak hingga ke tempat wudhu.
:
Langkahnya terseok berpegangan pada dinding kembali ke kamar Arnes di barak. Tangannya merogoh sakunya, di ambilnya tasbih dan merosot duduk menahan rasa sakitnya. Ingin rasanya menjerit karena tidak tahan.
"Subhanallah.. Subhanallah.. Subhanallah...." ucapnya tetap berusaha sadar, ia menggelinjang tak karuan hingga membenturkan kepalanya ke bibir pintu.
"Kita perlu memberikan obatnya atau tidak pak?" Bang Bayu mengusap air matanya yang menetes karena tidak tega.
"Ijin Dan.. sebaiknya kita tolong saja. Tapi jangan berikan obatnya. Sejauh ini Pak Zaldi sudah mati-matian bertahan. Hanya saja gairah hidupnya berkurang drastis" saran Pak Samsudin.
Para anggota jaga pun turut bersedih dengan musibah yang di alami DanSat.
Tiba-tiba Bang Zaldi memegangi dadanya, bibirnya menggigit dengan kuat. Tak lama Bang Zaldi tak sadarkan diri.
"Zaldiii..!!!!"
.
.
.
.
__ADS_1
.