
Yang nggak pernah merasakan ngidam seperti ini.. nikmati saja ya ceritanya..
Di ceritakan bukan berarti tidak ada. OK 👌😁😁😘😘
🌹🌹🌹
Rinto mengokang senapan laras panjang miliknya. Kali ini ia bisa berkonsentrasi karena mualnya berangsur menghilang. Semua arahan bisa ia terima dengan baik.
...
Latihan hingga sore pun aman terkendali. Rinto melepas helm baja pelindung diri. Nafasnya masih tersengal.
Dari jauh ia bisa melihat Nayla. Gadis manis berusia sekitar dua puluh dua tahun. Mata seorang pria hanya mengagumi indahnya ciptaan Allah bernama wanita tanpa punya maksud lain.
Daerah itu memang streril dari jangkauan warga sipil dan hanya beberapa saja yang bisa masuk sesuai ijin yang berlaku dan itupun terbatas serta bersyarat.
"Bapak nggak ngopi lagi?" tanya Nayla menghampiri Rinto yang sedang duduk sendirian sebelum akhirnya Gathan dan yang lainnya menyusul.
"Kamu punya kopi apa berani menawari saya lagi?" tanya Rinto.
"Bapak minta apa?" jawab Nayla sambil tersenyum.
"Woah.. bener nih di tawarin?"
"Hey.. Gathan.. Kamu yang paling rajin ngopi. Pernah coba kopi apa aja??" tanya Rinto.
"Pernah semua Bang.. Abang nggak coba" jawab Gathan kurang fokus karena sibuk ber chating ria dengan Sekar.
"Nggak, enak yang di rumah" jawab Rinto. Ia sudah pasti paham bagaimana kelas wanita yang ia temui. Karena ia pun bukan fuckboy dadakan.
"Tapi kopi buatanku enak lho pak..!!" kata Nayla yang mencoba mengambil duduk tepat di samping Rinto. Seorang teman Nayla duduk di samping Bang Arben.
"Di tantang boy, berani nggak??" tanya Bang Arben sambil tertawa.
"Yuk dek, ngopi dimana??" Rinto memainkan alisnya bertanya pada Nayla.
Baru saja mulut Rinto tertutup, rasa mual tiba-tiba menjalari tubuhnya.
"Nah loh.. kumat lagi nggak tuh" celetuk Brian.
"Stop Bri.. khusus suaramu.. tolong jangan keluar..!!" pinta Rinto masih sekuat tenaga menahan mual.
Tau Rinto sudah tersiksa, Brian malah semakin menjadi mengerjai Rinto.
"Jadi ngopi Pak?" tanya Nayla.
"Nggak.. maaf.." Rinto berlari menjauh dari rekannya.
-_-_-_-
"Baik-baik saja. Tekanan darahnya juga normal" kata dokter bagian lapangan.
"Saya nggak baik-baik saja dok..!!" protes Rinto.
"Ini Abang sedang di periksa. Tadi sempat mual parah" jawab Gathan saat menerima panggilan video call dari Anye.
"Aahh.. Bang Rinto pasti nakal nih. Anye sama si dedek sudah sumpahin Bang Rinto. Kalau papanya si adek nakal.. biar papanya mual parah" ucap Anye dengan mantap.
"Abang nakal apa sih dek?? Mau nakal sama siapa disini?? Ini kawasan hutan" Rinto menyahut ucapan Anye.
"Oohh.. masih berani ya Abang bilang begitu. Sampai besok pagi Abang bakalan terus begitu. Teruskan saja kelakuan Abang menggoda berang-berang" ancam Anye kemudian mematikan video call nya.
__ADS_1
"Eehh.. apaan sih kamu dek" pekik Rinto berjingkat.
"Aahh.. ada-ada saja.. Mana ada yang begitu" Rinto merebahkan tubuhnya lagi lalu mencoba memejamkan matanya.
Setelah sekitar lima menit Rinto tidur.
"Hhkk.." Rinto terkejut tiba-tiba perutnya terasa teraduk, ia berlari keluar camp. Bang Arben mengikuti adiknya itu dengan santai.
"Waahh.. Rinto junior menegurmu dengan keras" Bang Arben memijat tengkuk Rinto.
Saking tidak kuatnya, Rinto sampai melambaikan tangan tanda menyerah.
"Anyeeee.. jahat kamu dek" gumamnya pelan.
"Mana sikap jantan yang kamu sombongkan tadi?" ledek Bang Arben.
"Sudah lah Bang. Hancur-hancuran nih saya" lirik Rinto dengan wajah memelas.
...
"Ayolah dek..!!"
"Bodo amat Bang. Abang nikmati sendiri tuh. Makanya jangan jelalatan" jawab Anye setelah Rinto menghubunginya hanya untuk merayunya agar mau menarik sumpah sesatnya.
"Hwaaaa.. tolong Abang donk dek..!! Abang lemes banget nih" rengek Bang Rinto yang sudah mulai frustasi dengan keadaannya.
"Itu tergantung Abang. Kalau Abang nggak berulah, semua pasti aman" kata Anye.
"Abang janji nggak akan begitu lagi" rengeknya sekali lagi.
"Masa om-om di kalahkan sumpah anak bau kencur" balas Anye karena Bang Rinto sering mengatai dirinya anak ingusan dan anak bau kencur.
"Aarrgghh.. Awas kamu ya, seminggu lagi Abang pulang. Lihat dan rasakan saja bagaimana cara Om Rinto mengatasi bocil macam kamu dek..!!" ancam Bang Rinto.
" Swempruulll.. Berani bertingkah kamu ya..!!" gumam Rinto semakin gemas.
"Hhkkk.." Rinto menutup mulutnya dan berlari keluar.. seperti biasa.
...
Astagfirullah dek.. Ngerjain papa betul kamu ya. Sudah ya nak. Papa sudah nggak kuat ini..!!Papa nggak akan macam-macam sama mama. Papa sayang mama.
Rinto mengusap dada sampai perutnya, membujuk buah hatinya dalam hati, mengajaknya mengeluh dan menyampaikan isi hatinya kalau papanya sangat mencintai mamanya.
***
Siang hari ini. Anye berangkat kuliah, ia melihat semua pakaiannya.. sudah nampak ketat dan sesak. Perutnya kini sudah sedikit lebih timbul. Kalau ia memakai pakaian seperti itu pasti banyak orang yang bisa langsung menebak. Tapi saat ini ia tidak punya pakaian yang lebih longgar. Hanya rok hypster di atas lutut dan kemeja wanita sebatas pinggang.
Papamu pasti marah kalau tau mama pakai pakaian seperti ini, tapi hanya pakaian ini yang buat kamu nyaman.
...
Anye mengusap bibirnya dengan tissue. Anye menatap dirinya dalam pantulan cermin di toilet kampus. Sudah sekitar satu minggu lebih ia merasa sangat mual, meskipun rasanya tidak karuan, tapi ada seulas senyum bahagia di paras wajah calon mama muda itu. Mungkin saja suaminya sudah tidak seusil kemarin.
Diusapnya perut yang sudah semakin terasa mengencang jika ia raba.
"Kapan papa pulang ya dek? Katanya satu minggu lagi. Ini sudah lewat..!" tanyanya pada sang baby, sekarang Anye sudah tau bagaimana memendam rasa rindu.
"Sayang.. tolong tanyakan..!! Hey Om Rinto.. Kapan pulang??" ucapnya sambil menghapus setitik air mata lalu bergegas masuk ke dalam kelasnya.
...
__ADS_1
Kelas masih berisik, riuh suara para pria teman Anye di kelasnya tak kalah ramainya dengan mulut wanita. Hingga terlihat gagang pintu bergerak pertanda dosen akan segera masuk ke dalam kelas. Suara riuh itu sedikit mereda.
Pintu terbuka lebar. Sesosok pria memasuki ruangan membuat para mahasiswa langsung terdiam, begitu juga Anye yang langsung terbelalak kaget hingga jantungnya berlompatan, ia memastikan matanya bahwa dosen yang masuki kelasnya adalah Om Rinto.
"Perkenalkan saya Rinto Dirgantara.. dosen pengganti sementara pada Mata kuliah Engine management system. Untuk beberapa waktu kedepan.. Anda akan terus melihat wajah saya"
...
Rinto berdiri, menerangkan dengan jelas dan ringkas. Para mahasiswa pun mudah memahami setiap pokok bahasan yang di jelaskan Pak Rinto.
"Bagaimana mbak Anye.. paham dengan penjelasan saya??" tanya Rinto tanpa menatap wajah istrinya.
Saat semua pandangan mahasiswa sedang sibuk dengan alat catat mereka masing-masing, tangan Bang Rinto mengusap perut Anye. Nyatanya ia pun sudah merindukan istrinya itu.
Sesaat tadi, ia mengikuti istrinya yang masuk ke dalam toilet dan melihat rok istrinya yang sangat tidak bisa ia toleransi, tapi saat melihat di dalam kelas Anye menutup pahanya dengan kain.. Rinto berusaha menahan diri.
Ivana yang melihat Pak Rinto memperlakukan Anye dengan lembut jadi bertanya-tanya. Apalagi pikirannya sudah berfantasi saat melihat tangan Rinto mengusap perut Anye yang nampak lebih membesar saat Anye duduk.
"Apa jangan-jangan Anye jadi selingkuhan Pak Rinto dan sekarang Anye sedang hamil. Aku harus cari tau" gumam Ivana pelan.
"Huusstt... kenapa?" tanya Bintang sambil menyenggol kaki Ivana.
"Aku curiga sama Anye, jangan-jangan dia hamil anak Pak Rinto. Tau sendiri khan kamu.. Pak Rinto dan Anye pernah berduaan" jawab Ivana.
"Jangan ikut campur. Itu urusan mereka" kata Bintang mengingatkan.
-_-_-_-
"Kenapa pakai pakaian seperti itu??" tegur Bang Rinto saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Baju Anye nggak cukup Bang. Semua sudah sempit. Adek tertekan pakaian Anye yang mulai sempit" kata Anye memberi alasan. Anye membuka kancing bajunya sebatas dada karena gerah setelah naik turun tangga.
"Pendek sekali rok mu itu. Abang nggak suka" wajah datar Bang Rinto menunjukan kalau ia benar-benar tidak suka.
"Suka atau nggak suka???" tanya Anye sambil bersandar di bahu Bang Rinto.
"Suka lah, tapi Abang nggak suka kalau laki-laki lain ikut lihat. Awas aja kamu kalau berani pakai pakaian seperti ini lagi." ucapnya dengan tegas.
"Abang cemburu yaa..??????"
"Buat apa cemburu. Nggak sopan aja pakai baju terbuka" jawab Bang Rinto.
"Oohh.."
Tak lama Anye tertidur tetap dengan posisi bersandar. Bang Rinto berbelok ke arah pom bensin. Ia menutup paha Anye dengan tangan kirinya sebelum membuka kaca mobil dan menutup dada istrinya yang sedikit terbuka.
"Selamat sore.. mau diisi berapa Pak?" tanya petugas pom bensin yang refleks melihat paha istrinya.
"Full.." jawab Rinto sambil menyerahkan uang. Ia melirik petugas yang tertangkap basah tanpa sengaja melirik Anye lagi.
"Heeh.. matamu..!!! Beraninya kamu lihat istri saya..!!" bentak Bang Rinto langsung menutup seluruh kaca mobilnya dengan rapat.
"Setaann..!!!!!" umpatnya kesal. Kalau saja Anye tidak sedang tidur, mungkin saja ia akan mengajak petugas pom bensin itu untuk baku hantam. Tangan itu mengusap paha Anye. Ia melajukan mobilnya keluar dari pom bensin.
Lama-lama gemuruh kesalnya meledak juga.
" Iyoo.. Abang cemburu.. puas koe dek??? Di pikir lara, Di rasakne yo malah tambah lara. Pokoke cemburu Iki lara" kesal Bang Rinto sambil memukul kemudi mobil.
.
.
__ADS_1
.