Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 2. Tak bisa akur.


__ADS_3

Seseorang menarik bahu Bang Zaldi.


"Abang mau apa Bang?" tatapan Bang Seno begitu garang. Entah sejak kapan kakak Arnes hadir disana.


plaaaakk...


"Harusnya saya yang tanya. Maumu apa sampai membohongi saya soal identitas adikmu?? Kamu kira saya ini buaya darat main caplok setiap bertemu perempuan????" tanya Bang Zaldi hilang kesabaran.


"Bukan begitu Bang. Saya hanya...."


Arnes memutus ucapan Bang Seno.


"Bang.. sudah. Antar Arnes ke kost" pinta Arnes menyimpan wajah sedih tak menentu.


"Kamu naik apa??" tanya Bang Zaldi.


"Ojeg Bang" jawab Bang Seno.


"Naik mobil saya..!! Saya antar"


-_-_-_-_-_-


Bang Zaldi mencuri pandang ke arah Arnes dan Bang Seno memergokinya. Bang Seno tau betul seniornya ini sangat jauh dari wanita sampai rekannya menduga dirinya tidak tertarik dengan lawan jenis.


"Cantik nggak Bang?" tanya Seno.


"Semua wanita pasti cantik. Kalau ganteng namanya laki-laki" jawab Bang Zaldi.


Bang Seno manggut-manggut pura-pura paham maksud Bang Zaldi.


Beberapa saat kemudian Arnes keluar memakai pakaian wanitanya. Bang Zaldi nampak biasa saja tapi ia terus menunduk mengalihkan pandangan.


"Pakai jaket..!! Dingin" perintah Bang Seno beralasan karena ia paham betul mata lelaki meskipun ia tau Bang Zaldi tidak akan sekurang ajar itu.


Arnes masuk ke kamar melihat mata Bang Seno penuh peringatan.


//


"Besok Abang bawa pickup kesini untuk pindahkan barangmu ke rumah. Papa marah sekali kamu kost seperti ini" kata Bang Seno.


"Tapi Bang....."


"Kamu mau kejadian itu terulang lagi?" tegas Bang Seno.


"Arnes nurut Abang" raut wajah Arnes langsung berubah. Tanpa perlawanan ia menurut kata Bang Seno.


"Kalau kakak sudah bilang itu dengar. Jangan jadi pembangkang" ucap Bang Zaldi.


"Apa sih main sambar aja om-om satu ini"


"Om lagi dia bilang. Kemakan omongan naksir sama om-om, habislah kamu" jawab Bang Zaldi.


Bang Seno sampai ternganga. Sejak kejadian itu baru kali ini Arnes tidak takut dengan laki-laki bahkan mau 'ribut' juga.


//


Bang Zaldi ingin mencari tau tentang Arnes tapi ada rasa gengsi dalam hatinya, lagipula ia tidak tau bagaimana caranya memulai mencari informasi tentang wanita.


Bang Seno melirik Bang Zaldi yang duduk dengan gelisah. Ia ingin juga mengerjai Abangnya itu.


"Bang, bagaimana menurut Abang kalau Arnes saya kenalkan dengan Bang Irfan?"


"Haaahh.. nggak ada pilihan lain? Irfan itu pacarnya banyak. Bisa nangis guling-guling adikmu di buatnya.

__ADS_1


"Kalau Bang Sony?"


"Apalagi Sony. Dia garangan kelas berat" jawab Bang Zaldi.


"Terus siapa donk Bang. Saya punya adik perempuan cuma satu, kesayangan" pancing Bang Seno.


"Jangan di paksa. Biar adikmu memilih yang terbaik untuk dirinya, yang sesuai dengan hatinya. Kalau bisa setelah saling mengenal atau lebih.. baik sampai jenjang pernikahan, jangan pernah ada kata perpisahan" kata Bang Zaldi sambil menatap ramainya jalanan daerah Bandung.


"Apa itu sebabnya Abang nggak menjalin hubungan dengan wanita?" tanya Bang Seno.


"Bagi saya wanita itu makhluk yang rumit dan ajaib. Banyak maunya, suka selingkuh, saya juga paling tidak suka nada keras perempuan kalau bicara sama laki-laki. Aahh sudahlah.. hati saya juga belum siap berhadapan dengan makhluk Tuhan yang satu itu" jawab Bang Zaldi.


Bang Seno hanya melempar senyum sambil menyalakan musik di mobilnya. Ia paham betul karakter Bang Zaldi yang kaku.


***


Pagi hari sesuai dengan perkataan Bang Seno, Arnes pulang ke tempat Papa Rinto karena sekarang Arnes sudah menyelesaikan KKNnya. Usianya memang terbilang muda. Dalam akademis Arnes termasuk gadis yang pintar.


Bang Seno meminta tolong pada rekanan Bang Zaldi untuk meminjam pick up yang akan digunakan untuk membawa barang-barang Arnes.


//


"Gila.. semua warna pink" gumam Bang Zaldi karena ia sangat suka warna hitam.


"Kenapa.. ini warna perempuan" jawab Arnes yang ternyata mendengar ucapan Bang Zaldi.


"Nggak usah nyolot, cerewet sekali makhluk namanya wanita ini" gerutu Bang Zaldi.


"Angkat ini kopermu..!!"


Arnes mengangkat kopernya tapi ternyata tenaganya tidak cukup kuat untuk mengangkatnya.


braaakk...


"Kyaaaaaa..." pekik Arnes sambil menutupi barang-barang yang jatuh berhamburan.


"Astagaaa... kamu ini memang kepala udang ya. Isinya t*i semua. Masa koper isi jeroan dan ubur-ubur nggak kamu kunci..!!!!!!" ucap Bang Zaldi yang sampai sekarang tidak bisa berbicara lembut dengan wanita. Dunianya hanya dunia petarung dan penuh dengan kekerasan.


"Kalau nggak mau bantu nggak usah ngomel. Dasar om-om kolot" pekik Arnes.


"Jangan teriak..!!!!!" nada keras Bang Zaldi membuat Arnes terdiam sejenak tapi Bang Zaldi segera membantu Arnes memasukan barang pribadi milik Arnes ke dalam koper.


"Jangan sentuh barang Arnes. Laki-laki semua mata keranjang. Begitu melihat ini pikirannya langsung liar kemana-mana"


Bang Zaldi membanting 'ubur-ubur' yang masih ada di tangannya.


"Eehh.. dengar ya cakar ayam. Kalau dadamu itu indah barulah kamu bergaya. Dada hanya sekepal nasi M*d saja kamu banggakan. Kamu buka baju saja saya nggak ngiler" ucap Bang Zaldi sambil meninggalkan Arnes.


Bang Seno yang baru saja menghubungi seseorang sampai terbelalak melihat pakaian dalam Arnes berhamburan dan melihat Bang Zaldi meninggalkan Arnes dengan kesal.


"Duuhh Nes. Opo iki?? Ngisin-ngisini ( malu-maluin ). Nggak malu kamu??" tegur Bang Seno yang lalu ikut membereskan barang Arnes.


"Buat apa malu di depan Owa hutan. Suka teriak-teriak" jawab Arnes sambil melirik Bang Zaldi yang sedang merokok.


#


Papa Rinto berdiri di depan rumah, tangannya berkacak pinggang menatap mata putri satu-satunya.


"Kenapa balik kost lagi???"


"Arnes pengen mandiri pa"


"Papa bilang bukan begitu caranya mandiri. Kamu masih ceroboh" ucap Papa Rinto bernada keras.

__ADS_1


"Setiap kamu di luar tanpa Abangmu, ada saja masalah yang kamu buat. Nabrak pedagang bakso, nggak tau jalan pulang, baju sobek, siapa yang kerepotan?? Abang-Abangmu juga yang bingung"


"Pa.. sudah, malu banyak orang" kata Mama Anye.


"Ini juga karena papa khan. Anak nggak boleh belajar motor takut lecet, nggak boleh lari takut jatuh. Anak papa bukan peliharaan"


Papa Rinto langsung masuk ke dalam rumah sambil mengelus dadanya.


"Sama saja seperti Opanya khan Nye. Suatu saat nanti Arnes pasti akan bahagia sepertimu kalau sudah menemukan orang yang tepat" kata Oma Dinda.


Bang Zaldi hanya menguping, ia jadi semakin penasaran dengan latar belakang keluarga Pak Rinto. Matanya sesekali melirik Arnes yang begitu manja di hadapan Omanya.


#


Arnes meletakan tiga cangkir kopi di hadapan Bang Zaldi dan Bang Seno dan Papa Rinto.


"Diminum Bang..!!" senyum Arnes licik sekali sambil menatap mata Bang Zaldi.


"Terima kasih" jawab Bang Zaldi masih punya rasa sopan.


Bang Zaldi dan Bang Seno pun membahas tentang kegiatan kantor sesuai arahan Dan Rinto untuk hari Senin karena akan ada pameran di mall.


Sudah beberapa saat mereka mengobrol akhirnya Bang Zaldi menyeruput kopinya tanpa perhitungan. Mata Bang Zaldi langsung melotot, matanya meremang merah.


gleekk...


"Aarrgghh.." Bang Zaldi meremas dada dan perutnya setelah meminum kopi buatan Arnes.


"Zaall... Kamu kenapa Zal???" Papa Rinto sampai kaget di buatnya.


Bang Seno mengambil cangkir kopi milik Bang Zaldi dan menghirup kopinya.


"Astaga Tuhan..!!"


"Arneees.. dek..!!!!!!! Sini kamu" teriak Bang Seno dari teras depan.


"Apa Bang?" tanya Arnes memasang wajah polos.


"Kamu kasih apa di kopi Bang Zaldi??" tanya Bang Seno.


"Nggak ada"


"Ngaku nggak??? Abang cium bau garam, cabe bubuk, sama obat pelancar BAB nih" kata Bang Seno yang sudah terlatih soal hal intel bersama Bang Zaldi.


Mata Papa Rinto membulat tajam mendengarnya.


"Yang benar aja kamu Nes"


"Iihh Papa.. Arnes cuma main-main"


"Ya Allah Arnes..!!!!!!" Bang Seno mengacak rambutnya, ia sudah cemas melihat Bang Zaldi bersandar lemas.


"Masuk penjara kamu kalau Bang Zaldi mati"


"Aaaahh.. nggak.. nggak.." Arnes langsung mendekati Bang Zaldi dan berniat membantu senior kakaknya itu dengan panik.


"Arnes nggak mau di penjara. Bang Zaldiiii..." Arnes menggoyang lengan Bang Zaldi dengan wajah tegang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2