
Jika kehilangan anak saat usia kandungan itu masih d awal, rasanya masih bisa di toleransi meskipun sakit dalam hati. Namun bayi ini telah berbentuk. Ada tangan dan kaki serta wajah sempurna.
Bang Zaldi tau Arnes pasti tidak akan kuat menerimanya, tapi tidak mungkin ia menyembunyikan kenyataan.
"Adek nggak bergerak lho Bang. Cepaat..!!"
"Abang tau dek" jawab Bang Zaldi dengan suara tercekat.
"Abang tau?? Tau apa Bang??" Arnes memperhatikan wajah Bang Zaldi dengan lekat.
"Anak kita sudah pulang, kita belum bisa menjaganya" Bang Zaldi berurai tangis tapi tidak bagi Arnes yang diam seribu bahasa tanpa kata dan sama sekali tidak menangis.
:
"Dek, bicara sama Abang" Bang Zaldi terus membujuk Arnes tapi satu jam berlalu,. Arnes hanya diam saja.
Di luar sana Bang Bima baru tiba. Ia melihat banyak anggota. Papa dan Bang Seno dengan wajah sedihnya masih tetap siaga disana.
"Ada apa?" tanya Bang Bima pada Markus.
"Ijin Dan.. Pagi ini akan di lakukan pemakaman almarhum putra DanSat. Tapi belum ada info lanjutan karena ibu......." Markus tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Matanya memerah, ia juga ikut bersedih. DanSat dan ibu membawa cerita tersendiri di hati para anggota.
Bang Bima mengintip dari balik pintu.
"Pantaskah Arnes menangis? Arnes telah menghilangkan nyawa istri Bang Bima dan anaknya. Tuhan sudah menghukum Arnes.. apa masih boleh Arnes menangis? Ini adil Bang.. sangat adil" air mata menggenang di pelupuk mata tapi tidak ia tumpahkan.
Bang Bima terpukul dengan ucapan Arnes. sungguh sikapnya sangat keterlaluan.
"Arnes tidak ingin punya anak lagi. Arnes bukan ibu yang baik, tidak bisa menjaga anak-anak Abang dengan baik. Ibra dan Ryan saja sudah cukup di hati Arnes" saat setitik air matanya luruh, pandangan Arnes menghilang dan tenang di pelukan Bang Zaldi.
"Dek.. Ya Allah jangan begini sayang. Kamu yang seperti ini buat Abang jadi nggak kuat. Tolong sayang, Abang juga hancur kehilangan anak lagi" gumamnya menciumi wajah Arnes.
:
Hari sudah semakin siang. Bang Zaldi dengan berat hati mengijinkan Papa Rinto memakamkan putranya karena kondisi Arnes begitu buruk.
"Pa.. boleh aku yang memakamkan anaknya Bang Zaldi?" tanya Bang Bima hati-hati karena menyadari dirinya sudah membuat kesalahan besar.
"Nggak boleh, kamu kental bau alkohol.. aroma perempuan terlalu kuat menempel di tubuhmu" tolak Bang Seno masih begitu kesal dengan ulah Bang Bima.
Bang Bima menunduk, berurai air mata penuh penyesalan.
"Jangan berdebat di sini Seno.. Bima..!! Papa sudah lelah. Pikirkan nasib adikmu nanti. Nyawa Zaldi sudah bagai mayat hidup tak terkumpul melihat Arnes seperti itu. Apa kalian masih mau menambah beban mereka. Kalian ini saudara, sama-sama terlahir dari rahim mama. Saudara harus saling menguatkan dan mengingatkan" tegur Papa Rinto.
"Ya pa"
"Iya pa. Maaf..!!"
__ADS_1
-_-_-_-_-
"Arnes dalam kondisi mental yang stabil, maklum lah, ibu mana yang mau kehilangan anak. Dari seluruh ceritamu sangat wajar kalau Arnes begitu tertekan. Istrimu butuh waktu untuk tenang, malah saat ini mentalmu yang hancur total Zal. Kamu butuh rileks dulu agar pikiranmu tidak 'kaget'. Coba untuk mengolah hati dan pikiranmu lagi. Kalau masih terasa sakit dan berat. Kamu bisa sharing" kata dokter senior.
"Siap.."
"Cintamu untuk istrimu membuat saya salut Zal"
...
Bang Zaldi mengalihkan pikiran dengan sholat dan mengaji. Nyatanya suara itu membuat Arnes perlahan mulai tenang. Suara merdu yang begitu mendinginkan hati. Inilah caranya mengadu pada Yang Maha Kuasa agar di kuatkan hatinya menghadapi segala cobaan ini di saat hatinya sungguh tidak sanggup lagi menahan beban berat dalam bahunya.
"Bang..!!" sapa Arnes untuk pertama kalinya.
Bang Zaldi segera menyudahi mengajinya.
"Dalem sayangku.. Masih sakit?" tanya Bang Zaldi.
"Anak-anak mana?"
"Di rumah sama Omanya, pulang yuk main sama anak-anak. Kamu cepat sehat. Kita ke pantai.. Oiya.. ada salam dari Om Chiko. Kangen sama kamu tuh" bujuk Bang Zaldi.
Arnes mengangguk pelan.
"Pak DanSat kangen nggak?"
"Kangen bangeeett.. makanya pulang yuk" sambil tangannya menari di paha Arnes.
"Biar to "
Mereka berdua tidak tau kalau Bang Seno, Bang Bima dan Bang Righan sedang berseteru dengan pihak kepolisian. Sebisa mungkin mereka meredam semuanya karena saat ini Bang Zaldi tidak ingin di ganggu. Ketiga Abang Arnes tidak mau sampai tragedi berdarah terjadi lagi sebab Bang Zaldi tidak bisa mentoleransi apapun yang bisa membahayakan Arnes.
...
Bang Seno langsung menemui Kepala kepolisian untuk mengusut tuntas masalah ini dan ternyata ada oknum yang di bayar dari persoalan foto Icon tersebut.
Pihak kepolisian akhirnya mengkaji ulang dan memanggil beberapa oknum di dalamnya.
***
Hari ini Arnes sudah boleh pulang, dan Bang Zaldi segera kembali pada rutinitas yang beberapa hari ini ia tinggalkan. Ia mulai berusaha membuka hati untuk berhadapan dengan Bang Bima.
"Abang.. saya minta maaf.."
Secepatnya Bang Zaldi memeluk Abang iparnya.
"Sudahlah Bim. Cukup sampai disini saja hati ini merasakan sakit. Allah sudah menegur kita dengan caranya. Semoga dengan kejadian ini kita jadi sosok pria yang lebih bijak dan tidak hanya mengedepankan ego semata. Tak akan ada habisnya kalau kita menyimpan rasa sakit itu. Nanti setelah lepas kerja. Temui Arnes, agar bebannya juga berkurang" Bang Zaldi menepuk pundak Bang Bima sebagai tanda keikhlasan.
__ADS_1
"Siap Bang"
:
"Ini janggal ya Sen. Silsilah keluarga ini seperti pernah saya baca. Tapi dimana?"
Lembar demi lembar Bang Zaldi meneliti semua berkas Ibu Inggrid.
"B******n... " Bang Zaldi meremas kertas itu, darahnya langsung mendidih.
"Apa Bang?" tanya Bang Seno.
"Selama ini kita benar-benar tertipu. Kalau ini asli.. berarti Inggrid adalah adik kandungnya Guntur" jawab Bang Zaldi.
"Kita datangi dia sekarang..!!"
"Jangan Bima. Kita harus kalem menghadapinya. Saya nggak mau Arnes tertekan lagi. Biar saya melihat senyum manisnya. Jangan ada tangisnya lagi meskipun darah juga yang harus menebusnya" ucap Bang Zaldi.
-_-_-_-_-
Bang Zaldi mengusap wajahnya saat akan masuk ke dalam rumah, di buangnya nafas berat yang menyesakan dada.
"Waduuh.. sudah cantik aja nih. Tau aja kalau Abang mau pulang" sapa Bang Zaldi saat melihat Arnes sedang bercanda dengan kedua putranya.
"Abang bawakan roti bantal kesukaanmu nih"
Arnes tersenyum tipis.
"Terima kasih Abang" keadaannya sudah lebih baik, tapi masih membutuhkan banyak usaha ekstra untuk meluluhkan hati sang bidadari.
"Satu lagi nih" Bang Zaldi membawa bucket bunga andalan yang selalu ia hadirkan untuk membujuk Arnes. Entah kali ini berapa yang harus ia keluarkan, tak menjadi masalah asalkan sang istri kembali tersenyum bahagia.
"Untuk ibu dari anak-anak Abang" Bang Zaldi mengeluarkan satu kotak kecil dari kantong celana lorengnya lalu menyematkan cincin cantik di jari Arnes.
"Sebuah benda memang tidak berharga, uang ini pun tidak akan mengembalikan dua harapan kita tapi Abang tidak mampu jika harus kehilangan senyum indahmu, istriku. Ijinkan Abang mengulang kembali masa indah kita. Yang sudah lalu biarlah berlalu, kita mulai lembaran baru. Apapun yang akan terjadi nanti, kita hadapi berdua. Abang tidak akan pernah meninggalkanmu"
Arnes memeluk Bang Zaldi dengan erat. Kali ini tangisnya pecah.
"Kenapa Arnes tidak becus menjadi seorang ibu? Arnes berusaha menjaganya Bang, kenapa anak kita tetap tidak bisa bersama kita. Arnes bukan ibu yang baik, Arnes sudah gagal"
"Bukan kamu sayang, Abang yang salah.. Abang yang menyusahkan mu. Kalau harus ada kata-kata itu, Abanglah yang gagal. Jangan salahkan dirimu sendiri" hati luluh lantah meruntuhkan segala ego dari seorang Zaldi. Ia kuat dalam hal apapun kecuali menghadapi seorang Arnes.
"Kalau hatimu masih tetap sakit, bagaimana cara Abang menyembuhkan luka itu? Abang hanya punya pertaruhan diri dan hati untukmu. Apa yang kamu minta dari Abang dek?"
.
.
__ADS_1
.
.