Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
157. Om Rinto gelisah.


__ADS_3

"Istrimu dalam posisi aman seperti semua laporanmu Rin. Pak Ardian yang handle semua kasusnya dan beliau sendiri yang menjamin bahwa Anyelir tidak ada kaitannya dengan masalah prostitusi kemarin. Jangan cemas.. Minggu depan Mawar sudah di pastikan menjadi tahanan resmi" kata Bang Satriyo.


"Alhamdulillah.. terima kasih banyak sudah percaya dan bantu saya Bang"


"Saya mengenal kamu sudah lama. Rasanya nggak mungkin kamu dan istri terlibat masalah seperti ini" Bang Satriyo termenung seolah tak sanggup merasakan apa yang sudah di alami Rinto dan keluarganya.


"Andai saya yang mendapat masalah bertubi-tubi seperti ini, jujur mungkin saya akan bunuh diri Rin. Saya hanya manusia biasa"


"Apa Abang pikir saya nggak pernah merasa seperti itu???" senyum tipis Bang Rinto mengembang. Asap rokok mengepul meneman mereka berdua.


"Siapa yang bisa di salahkan?? Saya prajurit.. banyak bertugas di luar kota. Pernah kehilangan anak, istri di ambil sahabat sendiri. Di bilang kuat ya nggak kuat Bang. Tapi saya cinta.. sayang sama istri. Mau bagaimana lagi??" Bang Rinto mengusap air mata di sela bingkai matanya itu namun sesaat kemudian ia kembali tersenyum.


flashback on


"Bisa-bisanya kamu Briaaaann..!!!!! Anye istriku Briiii..." Rinto terus berteriak kencang tanpa arah.


"Nanti Abang bantu selesaikan semua Rin. Kamu sabar sebentar" Bang Arben berusaha keras menenangkan Rinto yang sedang kalap tak bisa di kendalikan bahkan ayah Rama dan papa Rival pun bingung mengatasinya.


"Anye istriku Bang, Brian sudah mengambilnya dariku"


"Atas nama pribadi, keluarga dan mewakili Abrian. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas kekhilafan yang sudah kami lakukan" Bang Arben pun tak kalah sedih dan hancur menghadapi masalah ini.


"Tolong tinggalkan saya sendiri Bang..!!" pinta Rinto.


"Kamu nggak bisa sendiri Rin"


"Tolong Abang.. saat ini saya nggak sanggup kalau harus mendengar banyaknya masukan pada diri saya. Semua bertolak belakang dengan kata hati saya..!!!!" ucap Rinto masih di penuhi amarah.


"Ya sudah.. tenangkan dirimu dulu" Bang Arben meninggalkan Rinto tapi ia tetap berjaga tak jauh dari juniornya itu.


#


Rinto menepi dan terus menangis di sudut gedung. Jauh dari kebisingan orang berlalu lalang.


"Kamu harus kembali sama Abang apapun keadaannya dek. Kamu istri Abang. Nggak ada yang bisa mengambilmu dari pelukan Abang" gumamnya mencoba menguatkan hatinya sendiri.


"Tunggu Abang sayang..!! Abang pasti akan mengambilmu kembali"


Bang Arben bersandar di dinding dan mengingat kelakuan Gata pada Dira istrinya. Hatinya sesak tapi mungkin tidak sesesak hati Rinto.


***


Rinto merebahkan dirinya usai mengaji di masjid yang sepi. Ia menangis pilu sesenggukan seorang diri.


"Aku ikhlas Ya Allah.. Aku sudah ikhlas" ucapnya berkali-kali.


Bang Arben yang tidak pernah jauh darinya segera menghampiri Rinto.


"Sudah Rin.. kamu sudah terlalu lelah berpikir. Ayo kita makan dulu. Nanti kamu sakit" ucap Bang Arben memberi perhatian tak ubahnya perhatian pada adiknya sendiri.


"Saya ingin sendiri Abang" Rinto memberontak menerima bantuan Bang Arben.


plaaaakk...


"Cukup Rinto..!!!!!! Katanya kamu sudah ikhlas. Kamu bisa mati kalau terus seperti ini" bentak Bang Arben karena Rinto mulai menangis meraung tak terkendali.


"Ada apa ini??" tanya Bang Satriyo yang mendatangi masjid setelah mendapatkan laporan dari seorang anggota.


"Rinto Bang.. dia frustasi sekali sampai seperti ini" jawab Bang Arben.

__ADS_1


"Bawa ke mess dan rawat dia disana. Redam masalah ini jangan sampai ada berita baru lagi yang bocor ke atasan...!!" perintah Bang Satriyo.


"Siap Bang"


...


"Sabar sedikit lagi Rin..!! Bulan depan harus pindah tugas ke daerah perbatasan di timur" kata Bang Arben yang malam itu meminta ijin pada Dira istrinya untuk menemani Rinto.


"Saya baik-baik saja. Abang pulanglah. Kasihan Dira di rumah" jawab Rinto.


"Kamu berani mengusir seniormu???" tanya Bang Arben.


"Siap.. tidak berani Bang...!!"


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" Bang Arben mencoba mencari tahu seberapa ikhlas perasaan Rinto saat ini.


"Alhamdulillah jauh lebih baik Bang. Maaf saya sempat kelepasan dan terbawa emosi. Jujur sebenarnya saya tidak ingin begini dan berpikir tenang tapi........."


"Abang paham perasaanmu. Sudahlah..!!" Bang Arben menepuk bahu Rinto.


"Abang sudah bilang anak-anak untuk belikan nasi Padang"


"Saya nggak nafsu makan Bang" tolak Rinto.


"Apa hukumnya menolak senior????"


"Siap salah"


Tidak ada yang tahu sebenarnya Bang Arben pun cemas memikirkan Brian yang sama hancurnya dengan Rinto tapi kali ini Rinto benar-benar terluka dalam dan ia memaklumi segala keadaan ini.


"Bang.. saya tidak akan menyalahkan Brian.. apalagi Anye. Ini sudah jalan dari Tuhan. Maafkan saya yang kekanakan dan kurang sabar" kata Rinto yang membuat Bang Arben salut.


Bang Satriyo menghantam dada Bang Rinto sebagai tanda salut pada pria itu.


"Real man broo..!!"


Bang Rinto tersenyum geli mendengarnya.


"Ngomong-ngomong kita mau main apa Bang??" tanya Bang Rinto.


"Lari sore yuk..!! Di pesisir pantai banyak gadis cantik Rin kalau sore" jawab Bang Satriyo.


"Serius Bang??" mata Bang Rinto berbinar terang seakan ia baru saja menang lotre. Sebenarnya ia menyetujui ajakan Bang Satriyo juga karena punya maksud lain.


#


"Sama siapa Bang??" tanya Anye.


"Sama Brian, Gathan, Bang Arben sama Bang Satriyo juga" jawab Bang Rinto.


"Ya sudah.. jangan lama-lama..!!"


...


Sudah jelas sekali siapa di antara mereka yang paling genit. Bang Satriyo sejak tadi bersiul menggoda gadis-gadis dan ternyata kelakuan 'nakal' itu menular ke semua juniornya.


Rinto duduk meluruskan kakinya usai lari sore. Ia bersungguh-sungguh dalam berlari, sengaja membuat dirinya lelah.


"Sini Rin. Minum dulu..!!" ajak Bang Arben di ambil meminum es sirupnya.

__ADS_1


"Kamu pesan apa??"


"Samakan dengan Abang" kata Bang Rinto.


Di meja seberang ada beberapa orang gadis sedang menatap ke lima orang pria berambut cepak itu. Seorang gadis mengerlingkan mata pada Bang Rinto. Pakaiannya sangat menggoda dan terasa mengganggu mata.


Astagfirullah.. gadis jaman sekarang sungguh berani. Kalau Anye tau disini banyak gadis.. pasti aku sudah di tumbuk lembut nih.


"Di kedipan tuh Bang" kata Gathan menggoda Bang Rinto saat Abangnya itu duduk satu meja dengan mereka.


"Naahh.. itu dia, pengen balas tapi ada adiknya Anye" jawab Bang Rinto sekenanya.


"Godain balik Bang..!! Mumpung Anye nggak tau" tantang Gathan.


"Serius nih??? Jangan bilang saya suami nggak setia ya"


Belum sampai bibir keduanya tertutup, ada seorang gadis melambaikan tangan ke arah meja mereka dengan senyum yang di buat secantik mungkin.


"Sekarang saya yang serius. Siapa saja yang bisa mendapat respon lebih dulu dari gadis yang duduk di meja itu, akan kuberikan uang senilai tunjangan kemahalan" janji Bang Satriyo.


"Hwuuu... lanjut Bang..!!!" entah kenapa bang Arben yang biasanya lebih berhati-hati malah seolah membakar semangat keempat rekannya yang lain.


"Heii jabrik.. pilih di amuk Anye apa pilih duit??" tanya Brian.


"Duit lah, Anye ada di rumah. Asal mulut kalian tidak bau menyan. Aku nggak bakalan kena sambar geledek" jawab Rinto dengan yakin.


...


"Sepuluh menit Abang nggak sampai rumah.. Abang akan tau akibatnya...!!!!!!!!!" nada suara Anye terdengar sangat murka dari seberang sana saat Rinto masih duduk bersebelahan dengan seorang gadis.


"Dek........" Bang Rinto refleks berdiri dan celingukan mencari kemungkinan ada mata-mata yang melihatnya duduk di bangku wanita dan langsung berpindah duduk ke tempat rekannya


tuuuuuuuutttt....


"Kenapa Rin??" tanya Brian pada Rinto yang langsung terpaku. Brian yang cemas juga ikut pindah bergabung bersama rekannya.


"Perasaanku nggak enak Bri"


Rinto mengeluarkan selembar uang berwarna merah, meletakkannya di atas meja lalu berbalik dan berlari mencari tukang ojeg tak jauh dari pantai.


"Kita nyusul nggak?? Kalau Rinto kena sambar geledek bagaimana??" kata Bang Arben.


"Ya sudah ayo..!! Kita lari atau ngojek??" tanya Brian


"Naik ojeg aja. Cenglu.." ajak Bang Satriyo.


"Apa itu Bang??" tanya Gathan.


"Bonceng telu" jawab Bang Arben.


"Walah.. bahaya Bang" kata Brian.


"Sok militan lu.. Ayo naik" ajak Bang Satriyo sambil menghampiri seorang tukang ojeg.


Akhirnya mereka berempat naik dua motor dengan berboncengan tiga menuju asrama Batalyon tanpa ada perlawanan dari kedua tukang ojeg.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2