
"Nyonya besar sudah enakan?" tanya Bang Rinto saat Anye sudah meminum teh hangat yang ia ambilkan.
"Sudah Bang. Sudah nggak terasa pusing" jawab Anye sambil makan molen mini. Betapa sulitnya mencari molen mini itu karena hari masih pagi.
"Ada tahu isi nggak Bang?" tanya Anye yang baru saja selesai menghabiskan molen mini.
"Ada.. tunggu sebentar ya..!!" Bang Rinto berjalan ke arah meja perjamuan karena ia tau tadi ada tahu isi disana.
Tak lama Bang Rinto datang dengan membawa empat buah tahu isi.
"Ini dek..!!"
Dalam sekejap tahu isi itu sudah habis masuk ke dalam perut Anye.
"Mau apalagi??" tanya Bang Rinto.
"Kenyang..!!"
"Abang keluar dulu ya..!! Masa Abang sembunyi terus disini. Abang khan naik pangkat" pamit Bang Rinto.
"Iya Bang"
-_-_-_-
"Pak Rinto mau saya ambilkan minum?" tanya Nova.
"Kamu nggak lihat saya sudah bawa minum" tunjuknya pada gelas yang di genggamnya.
"Atau mau makan sesuatu? Saya ambilkan"
"Terima kasih.." jawab Bang Rinto datar.
Nova pun pergi dari hadapan Bang Rinto.
"Aawwhh.. " Nova tersandung tepat di hadapan Bang Rinto
"Aduuh.. kakiku terkilir"
Bang Rinto tidak menanggapi tingkah Nova yang seolah mencari perhatian padanya. Ia mendekati Nova.
"Rasanya dunia ini semakin hancur saja. Wanita jaman sekarang bukannya menjaga harga diri,. tapi malah menjual diri" ucap Bang Rinto dengan kasar kemudian berjalan pergi.
"Apa maksudnya pak? Yang sopan ya..!! Bapak menghina saya??" tanya Nova.
"Waahh... kamu merasa menjual diri?? Padahal saya bergumam sendiri. Ternyata kamu merasa terhina?" cibir Bang Rinto.
Sebenarnya Bowo merasa geram dengan ucapan Rinto, tapi memang Istrinya yang sudah mencari perkara.
...
"Tolong singkirkan jeruk itu..!!! Saya mual..!!" pinta Rinto pada anggotanya.
Beberapa anggota langsung menyingkirkan buah jeruk yang membuat Danki mereka seperti mabuk arak.
"Waduuhh.. permaisuri lagi isi nih sepertinya" ledek Brian.
"Jelas nih.. Tanda-tanda kronisnya Rinto sangat khas" jawab Bang Arben.
"Puas sekali kalian meledek saya..!!" gerutu Rinto masih berusaha mengatur rasa tidak karuan yang ada di perutnya.
"Saya terima begini saja. Yang penting Kapten Rinto punya anak" ucapnya dengan semangat.
__ADS_1
"Hhhkkk..." Rasa di perut Rinto semakin teraduk-aduk.
"Hhhhh... Makanya jangan banyak bicara. Anakmu ngamuk tuh" tegur Bang Arben.
***
Satu minggu kemudian Anye dan Bang Rinto menjenguk si kecil Alen di rumah sakit. Operasinya berhasil di lakukan. Suasana begitu hening di kamar rawat Alen. Dokter membuka perban di sekitar area telinga Alen.
Alen kecil menatap mata mamanya. Seruni mencoba tegas jika mungkin Alen tetap tidak akan bisa mendengar suaranya.
Dokter memberi isyarat agar Seruni menyapa putrinya.
"Alen sayang.. ini mama" ucapnya perlahan.
Bibir Alen mencoba terbuka, bibirnya mencebik sedih mengikuti gerak bibir sang mama.
"Ma..ma.." sapa Alen kecil. Intonasi suaranya sudah berubah. Seruni menangis sekuatnya dan memeluk Alen begitu erat.
"Iya sayang.. ini mama.. mamamu yang jahat" usapnya tak pernah sehari pun ia lalui tanpa penyesalan.
Hengky pun memeluk anak dan istrinya. Ia menatap mata Rinto.
"Terima kasih banyak kamu masih mau membantu keluargaku"
"Ada seorang wanita yang memintanya sampai menangis. Kalau dia tidak memohon padaku. Aku tidak akan mau membantu mu" ucap Rinto datar.
Seruni dan Hengky memandang wajah Anye yang sedikit pucat. Mereka tau mungkin jika tanpa bantuan Anye, hati Rinto tak akan tergerak meskipun sebenarnya Rinto juga bukan orang yang jahat.
"Apapun katamu, aku sangat berterima kasih"
...
"Kenapa Abang berkata begitu pada mereka? Bukankah Abang juga sayang sama Alen" tanya Anye di kantin rumah sakit.
"Abang masih menyimpan rasa untuk Kak Seruni? Abang belum ikhlas Kak Seruni menikah dengan Bang Hengky??" tanya Anye yang tiba-tiba merasa sensitif dengan keadaan ini.
"Jangan ngawur..!! Pikiran macam apa itu????" tegur Bang Rinto.
"Terus siapa wanita yang memohon pada sama Abang sampai menangis?????"
"Kamu ini amnesia apa pura-pura gila??? Siapa yang kemarin peluk Abang sampai nangis minta Alen di operasi?? pita suara Bang Rinto mendadak meninggi.
"Ya khan perasaan Anye begitu Bang" jawab Anye.
"Jangan main perasaan. Perasaan wanita itu suka bikin pertengkaran. Hal yang nggak ada di ada-adakan.. yang nggak mungkin bisa jadi mungkin" berbicara dengan Anye sudah lumayan menarik urat lehernya.
"Abang marah sama Anye???"
Bang Rinto mengurut dadanya, kalau tidak bersabar-sabar dirinya bisa langsung stroke mendadak.
"Siapa sih yang mau marah sama istri cantik seperti ini. Istri cantik begini kok di marahi" ucapnya lembut.
Anye sesenggukan, para pengunjung kantin memperhatikan Anye dengan tatapan simpati dan disini Bang Rinto sebagai tempat yang salah.
"Sudah donk dek.. Nanti di kira orang Abang bikin kamu sedih" bisiknya.
"Abang memang buat Anye sedih" jawabnya.
"Ya sudah.. Abang minta maaf.. Abang yang salah" ucapnya mengalah daripada Rinto harus mendapatkan tatapan mengancam dari pengunjung kantin.
-_-_-_-
__ADS_1
Rinto sedang sholat isya di rumahnya. Ia menahan rasa mual sejak tadi siang.
Ya Allah.. rasanya sungguh sangat menyiksa. Tapi kalau rasa ini akan sebanding dengan kebahagiaan yang akan Abang dan kamu rasakan, Abang rela meskipun harus mabuk dan tumbang setiap hari. Semua demi anak, dan maafkan Abang kalau harus menyakitimu saat melahirkan anak kita karena Abang yang begitu menginginkannya.
"Bang..!!" sapa Anye saat suaminya lebih lama dalam beribadah.
Bang Rinto menoleh ke arah panggilan istrinya.
"Kenapa dek?"
"Punggung Anye sakit" ucapnya pelan.
Bang Rinto mengusap wajahnya, meletakan tasbih lalu segera berdiri menghampiri istrinya. Tangan kekar itu berusaha memanjakan istri tercinta dengan perhatian dan pijatan lembutnya.
"Apa dulu Abang juga perlakukan istri Abang seperti ini?" tanya Anye saat mengingat ada sosok yang pernah mengisi hati Bang Rinto dulu.
"Kenapa kamu tanyakan hal itu?"
"Anye hanya ingin tau saja" kata Anye.
"Tidak akan ada wanita yang kuat saat suaminya menyebut wanita lain. Abang sedang berusaha keras menjaga hatimu"
"Apakah Abang bisa lupa dengan semua wanita Abang?" tanya Anye.
"Anyeeeee...!!!!!!!!" bentak bang Rinto.
"Kamu ini kenapa selalu menguji kesabaran Abang" pikiran Rinto mulai kesal karena pertanyaan Anye yang seolah mencari pertengkaran mereka.
"Masa lalu tidak akan pernah kembali meskipun Abang sangat mencintainya. Tidak ada Sheila, Seruni bahkan istri Abang Vilia" ucapnya dengan keras.
Anye bangkit dan duduk dari posisinya.
"Begitu kah Bang?" nada Anye begitu pelan.
"Tadinya Anye hanya ingin mendengar kata sayang Abang yang hampir tidak pernah bisa Anye dengar. Tapi malah Anye harus mendengar kejutan lain. Abang masih sangat mencintai Vilia istri Abang. Apa Anye hanya pilihan terakhir?"
deg....
Jantung Rinto rasanya bergemuruh. Ia selalu tidak bisa menata hatinya jika mengingat tentang Vilia.
"Maksud Abang bukan begitu dek"
"Nggak apa-apa Bang. Anye paham" Anye turun dari ranjang.
"Kamu mau kemana dek?" tanya Bang Rinto dengan cemas.
"Mau ke dapur Bang. Anye pengen buat kopi" jawabnya tanpa menoleh.
"Astagfirullah.. bodohnya aku. Aku pun nggak bermaksud begitu. Kenapa sih sulit sekali meyakinkanmu. Bagaimana sih pola pikir perempuan. Hal tidak rumit selalu di buat rumit" umpatnya kesal.
Bang Rinto pun segera menyusul Anye ke dapur.
"Sini Abang buatkan, tapi jangan kopi ya..!! Susu saja" bujuknya.
"Anye bisa sendiri..!!" ucap Anye datar, langkahnya menjauhi Bang Rinto.
Bang Rinto meraih tangan Anye.
"Bisa kita bicara dari hati ke hati?"
.
__ADS_1
.
.