
Ikuti alurnya saja...!!! Jangan lupa dukungannya..!! ๐๐
๐น๐น๐น
Mama Yasmin memandikan Baby Alen. Seruni belum bisa caranya merawat bayi, tangannya masih gemetar saat memegang bayi.
Seruni terharu sekali karena Mama Yasmin tidak menyimpan dendam dan masih mau membagi kasih sayangnya untuk Alen juga. Meskipun mungkin suara Mama Yasmin tidak bisa di dengar oleh baby Alen tapi isyarat wajah dan tangannya untuk sang bayi kecil sudah mampu mengungkap kalau Oma Yasmin sangat mencintai baby Alen.
"Sini biar Abang gendong. Lama sekali Abang nggak gendong bayi. Abang kangen" kata Ardi sambil mengambil Alen dari gendongan Yasmin.
"Cantik ya Bang seperti ibunya" ucap Yasmin. Seruni hanya bisa menangis, ia merosot dan bersandar di dinding sampai akhirnya Hengky datang.
"Kenapa sendirian disini?" tanya Hengky.
"Aku sedih Bang. Sudah membuat hidupku sia-sia dengan menanamkan rasa benci, iri dan dengki dalam hati. Mungkin jika aku mati, tanah pun tidak akan menerima jasadku" ucap sedih Seruni.
"Nggak ada manusia yang sempurna dek. Apa selama ini Abang nggak banyak melakukan kesalahan?" Hengky mengusap punggung Seruni. Tangisnya begitu sesak.
"Aku ibu yang buruk, aku yang menimpakan masalah untuk putriku Bang" ucap pedih seorang ibu.
"Sudah sayang.. sudah..!! Ini bukan salahmu..!!!"
***
Para anggota sedang mencari keberadaan Rinto karena seharusnya mereka patroli malam. Tapi hingga malam tiba, Komandan itu tak tampak batang hidungnya.
...
"Sedikit saja nggak apa-apa lah, biar hati dan pikiranku tenang" gumam Rinto karena tidak tahan dengan rasa rindunya pada Anye.
-_-_-_-
"Astagfirullah hal adzim.. kenapa ini??? Abang????" Gathan panik bukan kepalang melihat Rinto terkapar di samping bebatuan di sekitar rerumputan berduri tajam.
"Tolong panggil petugas kesehatan lapangan..!!"
"Abaang.. Ya Allah Bang.. kenapa jadi begini" pekik Gathan.
...
"Anyee.." Rinto menarik seragam Bang Arben dalam kondisi tidak sadar.
"Heehh.. Rinto, mau apa kamu??? Saya bukan Anye..!!!" pekik Bang Arben.
...
Para anggota tertawa karena sesaat tadi Rinto terus memeluk Arben sampai akhirnya Rinto bisa sepenuhnya sadar.
"Kamu itu sebenarnya kenapa?? Kenapa bisa pingsan" tanya Bang Arben.
"Saya nggak pingsan Bang. Saya tidur" jawab Rinto dengan tidak enak.
"Tidur saja sudah mirip orang mati. Apa maumu?? Satu regu mengira kamu di tembak musuh" kata Bang Arben.
__ADS_1
"Maaf Bang, saya minum obat anti mabuk karena pengen tidur nyenyak. Saya capek sekali seminggu ini insomnia" jawab jujur Rinto.
"Suatu saat nanti, semua pasti ada akhirnya. Sabar.. tinggal beberapa bulan lagi. Harus kuat..!!!" kata Bang Arben.
"Siap..!!!" jawab Rinto tegas.
***
Seruni selesai berkomunikasi dengan baby Alen memakai bahasa isyarat. Bayinya tersenyum bahagia melihat senyum ibunya. Tapi begitu memeluk sang bayi, derai tangis Seruni tak bisa ia tahan lagi.
"Mama ini mama yang buruk. Masih pantaskah aku di sebut mama?" hanya itu ucapan yang selalu keluar dari bibir Seruni.
***
Anye melihat foto suaminya di bingkai foto yang ia letakan di atas meja kamar asramanya. Suaminya tampak gagah dengan seragam loreng. Diusapnya bingkai foto itu, banyak kata yang ingin ia ucapkan.. tapi semuanya hanya berhenti di tenggorokan.
Selama ini tak ada kata rindu yang terucap jika mereka sedang bertegur sapa. Hanya kiriman tangan tanpa wajah.
ddrrtt.. ddrrrtttt.. ddrrrtttt...
Om-om ๐๏ธ๐งบ :
"Jangan lepas tangan Abang..!!" โ
โค๏ธLady Senjaโค๏ธ :
Hari ini pun sama. Tak banyak kata untuk mengisi hari mereka berdua.
Rinto mendekap ponsel di dada bidangnya. "Kamu atau Abang yang gengsi dek" gumam Rinto pelan.
Jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, jangan pernah tanyakan apakah rasa ini masih sama seperti yang dulu.. karena rasa ini tidak akan berubah sedikit pun untuk kamu, bahkan lebih.
***
"Alhamdulillah.." Bang Arben merosot di dinding dan mengusap wajahnya. Air matanya tumpah melihat Dira melahirkan seorang bayi perempuan.
"Maafin Abang ya dek. Abang nggak temani kamu disana. Cepat sehat ya sayang..!!" ucap Bang Arben merasa sangat bersalah.
"Iya Bang.. Dira ngerti. Dira sehat kok. Bayi Abang juga sehat nih" Dira menunjukan wajah putrinya pada Arben.
" I love you. Abang sayang kamu dek"
...
"Sebentar lagi kita akan kembali ke tanah air. Kapan Anye kembali?" tanya Bang Arben setelah selesai dengan urusannya berkomunikasi dengan sang istri.
"Belum tau Bang, belum ada kabar" jawabnya lirih tapi jelas tersirat rasa sedih juga rindu disana.
***
__ADS_1
Beberapa bulan kemudian, waktunya Rinto kembali ke tanah air. Belum ada kabar dari sang istri kapan istrinya itu akan kembali.
"Mau ikut cari oleh-oleh nggak Rin? Daripada kamu bengong disana" ajak Bang Arben.
"Ayolah Bang..!!"
...
"Terima kasih" kata Rinto setelah membayar belanjaannya.
"Sudah Rin?" tanya Bang Arben.
"Sudah Bang"
Gathan pun sudah kembali setelah membeli beberapa barang untuk Sekar. Ia benar berniat akan melamar gadis itu.
"Semoga perjalanan kita besok lancar..!!" Kata Bang Arben.
"Aamiin..!!!" jawab Rinto dan Gathan.
***
Pesawat satgas Libanon telah tiba di tanah air. Setelah tiba, mereka masih harus berada di penampungan sementara hingga kembali ke kesatuan tugas masing-masing.
***
Tiga hari kemudian. Truk datang memasuki kesatrian Batalyon. Para anggota satgas berbaris rapi memasuki area Batalyon.
Ayah Rama mengalungkan untaian bunga yang indah untuk Bang Arben, kemudian untuk Rinto sebelum akhirnya Mama Dinda memeluk menantunya itu.
Mata Rinto melihat sosok mungil lucu dan cantik. Bayi lucu berusia sembilan bulan karena Rinto terlambat kembali ke tanah air. Bayi itu langsung meminta gendong pada 'Abangnya'.
"Cantik.. kalau anaknya Abang masih ada pasti sudah seusiamu" ucap Rinto dengan sendu.
"Siapa namamu?"
"Diajeng Amarilys Sahna"
Tak lama ada suara klakson mobil memasuki area Batalyon. Bukan sembarang mobil. Tapi mobil M******s berwarna hitam mengkilat. Rinto menyerahkan baby Mey pada Mama Dinda.
Seorang anggota membukakan pintu untuk seseorang yang duduk di jok belakang mobil.
Terlihat sepatu wedges mengkilat dengan hak setinggi tunggu tujuh centimeter turun dari mobil. Wanita itu memakai seragam kebanggaan seorang istri tentara.
Rinto terpaku di tempatnya. Bibirnya belum dapat berucap saat wanita itu berjalan ke arahnya.
"Assalamualaikum.. Om Rinto" ucapnya tersenyum manis membuat jantung Rinto berdebar kencang.
"Wa'alaikumsalam kesayangan Om Rinto" jawab Rinto dengan senyum yang tak kalah manisnya.
.
.
__ADS_1
.