Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
59. Bencana.


__ADS_3

Jangan di ambil buruknya. Nanti pasti akan terjawab mengapa ada cerita yang seolah terkesan negatif . Membaca juga harus sabar. Ambil buruknya dan ambil sisi baiknya jika memang ada hal yang sesuai..🙏🙏🙏


🌹🌹🌹


Bang Rinto baru pulang dari masjid setelah ada acara bersama di Batalyon. Lututnya terasa ngilu, punggungnya juga pegal.


"Keluar yuk..!! Ajak Brian juga" ajak Topan. Ia memang belum banyak tau manapun di kota ini.


"Kemana..!!" tanya Brian tiba-tiba muncul.


"Lain kali aja lah, capek banget aku hari ini" kata Rinto yang benar-benar merasa kelelahan setengah mati. Anye sudah membuatnya hampir patah tulang.


"Ini hari Sabtu, malam mingguan lah" Topan membujuk Rinto lagi.


Semilir angin lembut tiba-tiba berubah menjadi sedikit kencang.


"Aku pulang, jangan ada rencana keluar, bini kita lagi hamil" ucap Bang Rinto mengingatkan.


"Hamil juga di rumah, pasti aman...!!" kata Topan.


"Berangkatlah sendiri, aku nggak ikut" Bang Rinto segera berlari pulang.


"Aku juga mau pulang, kelamaan di luar aku bisa di cakar Shisi" kata Brian.


"Kalian ini memang penakut sekali" gumamnya kesal. Akhirnya Topan berjalan pulang juga. Ia merasa bosan di rumah karena setiap hari Nila hanya marah, cemberut dan mengomel saja membuatnya sakit kepala padahal dulu istrinya tidak begitu. Belum lagi suka meminta ini dan itu saat badannya sudah sangat lelah bekerja seharian yang lebih parah adalah sifat cemburunya yang nggak ketulungan.


-_-_-_-


Bang Rinto masuk ke dalam rumah dan segera menguncinya. Angin di luar sana begitu kencang. HT mengabarkan di daerah sekitar banyak pepohonan tumbang, atap warga berhamburan.


Bang Rinto menjawab untuk standby on call dulu di tempat sampai keadaan membaik.


"Dek..!!!" Bang Rinto memanggil Anye tapi belum ada jawaban, ia pun segera mencari istrinya ke segala penjuru rumah.


"Dek..!!!!" panggilnya sekali lagi saat istrinya tak kunjung menjawab. Rasa cemas mulai terasa di hati.


Anye masuk lewat pintu belakang rumahnya, ia terdorong angin sampai tidak bisa menutup pintunya. Mendengar suara itu Bang Rinto segera berjalan cepat menuju belakang rumah.


"Darimana kamu dek???" tanyanya dengan cemas. Bang Rinto menutup pintu rumah belakang karena Anye seperti tidak kuat menutup pintunya.


"Rumah Bu Juki hampir seluruhnya ambruk Bang" kata Anye sambil memegang perutnya.


"Sebelum kamu melihat keadaan orang lain, seharusnya kamu pastikan kondisi mu dulu" tegur Bang Rinto.


"Iya Bang, Anye minta maaf. Abang nggak bisa lihat orang lain susah. Bangunan rumah Bu Juki bukan bangunan rumah seperti kita. Itu dulu gudang yang di jadikan tempat tinggal.


"Abang tau, tapi kamu juga jangan dekati reruntuhan bangunan. Bahaya..!!!"


Tiba-tiba Anye terhuyung ke arah Bang Rinto.


"Cckk.. kamu pasti kecapekan ini dek. Istirahat ya..!!" ajak Bang Rinto. Anye mengangguk tak melawan. Bang Rinto segera membawanya ke dalam kamar.


Sampai di kamar Bang Rinto melepas kerudung Anye lalu menyelimuti istrinya.

__ADS_1


"Nanti kalau sudah enakan baru ganti pakaian" kata Bang Rinto.


Panggilan HT bersahutan, getar ponsel juga ikut menambah paniknya keadaan. Bang Rinto melihat info di ponselnya.


"Kamu Abang antar ke rumah mama ya..!! Abang harus ke kantor, di luar banyak rumah warga yang tumbang dan banyak bangunan ringan tersapu angin" Bang Rinto segera membuka lemari dan mengambil seragamnya.


"Anye disini saja Bang. Mau istirahat..!!" kata Anye.


"Tapi dek.. Angin ini juga bahaya kalau semakin membesar. Kamu nggak boleh tidur sendirian. Kalau di rumah mama, disana ada Sekar juga" bujuk Bang Rinto.


"Anye nggak akan tidur Bang. Disini juga dekat piket jaga. Kalau ada apa-apa Anye minta tolong anggota piket jaga" jawab Anye.


Dengan terburu-buru Bang Rinto merapikan pakaiannya. Ia tidak bisa terus berlama-lama karena anggota kompinya juga membutuhkan arahannya.


"Hati-hati di rumah, kalau ada apa-apa kamu juga wajib hubungi Abang" Bang Rinto mencium kening dan bibir Anye tak lupa mencium perut Anye.


"Papa pergi sebentar ya nak..!! Jangan nakal, jangan rewel dan jaga mama..!!" ucapnya kemudian mencium perut Anye sekali lagi.


"Iya papa. Hati-hati..!!" jawab Anye dengan senyumnya.


-_-_-_-


"Malam ini sebagian fokus pada warga dan membuatkan tenda darurat dulu..!! Besok pagi sekali baru membereskan puing dan kayu besar di jalan. Sebagian lagi mempersiapkan logistik dan menyingkirkan hal yang menutup jalanan agar akses kendaraan bisa terbuka" perintah Bang Rinto pada anak buahnya.


"Siap..!!"


Pasukan mulai bergerak, Rinto pun tidak hanya berpangku tangan dan asal perintah saja. Ia pun turut membantu jalannya evakuasi dan pertolongan pertama pada warga.


"Ijin Danki.. Ada seorang wanita tertimpa reruntuhan. Apa ada yang bawa gergaji mesin cadangan??" kata seorang anggota memberi informasi.


...


"Astaga.. Sheila..!!" Rinto bersama yang lain segera mengangkat kayu yang menimpa tubuh Sheila.


"Mas, aku selalu sayang kamu. Aku menunggu maafmu" ucap Sheila di sela kesadarannya.


"Bicara apa kamu. Ini bukan saatnya bicara masalah cinta" Rinto malas menanggapi Sheila. Ia menolongnya hanya demi rasa kemanusiaan saja.


Setelah reruntuhan bangunan itu sudah disingkirkan, Rinto mengangkat tubuh Sheila. Wanita itu tersenyum gembira dan bersandar di bahu kekar pria yang dulu sempat menjadi kekasihnya itu.


"Cepat bawa mobil kesini..!!!" perintah Rinto.


"Aargh.. kakiku sakit sekali mas..!!" teriak Sheila.


"Sabar, semoga tidak ada yang patah" jawab Rinto dingin tapi jawaban itu di anggap sebuah perhatian oleh Sheila.


"Ada apa Rin.." tanya Bang Arben.


"Ini Bang..!!"


"Ayo bantu Bri..!!!" kata Bang Arben pada Brian.


-_-_-_-

__ADS_1


Angin kencang kembali datang..


braaakkk...


Terdengar suara angin menyapu bagian belakang rumah Anye. Anye yang sempat ketiduran segera bangkit dan mengambil tas kecil serta ponselnya. Perutnya mendadak terasa nyeri sekali karena panik dan terbangun tiba-tiba.


Karena susah bergerak, ia berinisiatif menghubungi Bang Rinto tapi tak ada jawaban dari suaminya. Ia pun langsung menghubungi piket jaga tapi piket jaga pun juga sangat sibuk dan sulit di hubungi. Banyak panggilan tak terjawab dari ayah dan mama, tapi seluruh panggilan itu sekarang tidak bisa di hubungi kembali.


Ia melangkah perlahan berpegangan pada dinding rumah, tak lama ponselnya berbunyi. Bang Gathan menelepon. Anye segera mengangkatnya.


"Assalamualaikum.. kamu dimana?? Bang Rinto dinas luar khan?" tanya Bang Gathan.


"Wa'alaikumsalam Bang.. Anye di rumah, Anye sulit berjalan. Perut Anye sakit..!!" jawab Anye sambil membuka pintu berjalan ke teras depan.


Baru dua langkah Anye berjalan..


kraaaaakkk......


"Aaaaaaaaaaaaa...."


"Anyeee... dek..!!!!"


-_-_-_-


"Ya Allah Anye.. tahan ya dek..!!" Bang Gathan menekan aliran darah yang mengucur deras dari pelipis adiknya.


"Bang Rinto.." Anye merintih mencari suaminya. Kesadarannya menurun drastis.


Bang Gathan sampai menangis karena perut Anye tertimpa reruntuhan kayu dari atap. Ia segera menggendong adiknya itu ke ruang IGD.


"Tolong adik saya dok..!!" pinta Bang Gathan dengan panik pada seorang dokter.


"Baik pak..!!"


"Sakiiiiiitt....!!!!!" teriak seorang wanita.


"Mas jangan pergi..!!!! Aku nggak mau di tinggal..!!!" pekiknya saat Rinto akan melepaskan pegangan tangan Sheila.


"Sheila.. saya harus pulang...!!" ucap Rinto dengan sedikit keras.


Sheila tak mau tau, ia memeluk erat Bang Rinto. Jika dilihat dari belakang, posisinya seperti orang sedang bermesraan.


"Abaang..???" Anye melihat suaminya memeluk wanita lain. Hatinya langsung terasa sangat sakit. Seketika dadanya begitu sesak.


"Dek.. sayang.. Kamu kenapa dek???" Bang Rinto nyaris Jantungan melihat keadaan Anye. Secepatnya ia melepaskan pelukan Sheila dengan kasar.


Anye bersandar di pelukan Abangnya, tak mau menatap wajah Bang Rinto.


"Dengar sayang.. ini nggak seperti yang kamu lihat" Bang Rinto panik mengetahui keadaan Anye semakin melemah, ia pun panik melihat posisinya yang tidak tepat.


Anye meremas dadanya tidak tahan melihat pemandangan itu, Apa yang ia lihat pertama kali membuatnya salah paham pada Bang Rinto.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2