
Nara tidak suka bertele-tele dalam bercerita. Alur cepat pun asal bisa di pahami.. itu sudah cukup. Tenang.. dan jangan spoiler..!!
🌹🌹🌹
"Aswin??" Bang Zaldi sudah tau keberadaan Aswin di kota ini tapi mereka memang belum sempat bertatap muka kembali.
"Saya mau bicara dengan Abang..!!" pinta Aswin.
Bang Zaldi langsung membayar cepat semua tagihan es krim.
//
Tanpa di duga Bang Aswin langsung menyerang Bang Zaldi yang sedang menggendong Ibra. Terang saja Bang Zaldi langsung memilih melindungi Ibra sambil satu kali menahan serangan Aswin.
"Abaaaanngg..!!" teriak Arnes cemas.
"Baang.. sudaah..!!" Puri menghalangi Abangnya yang kalap.
"Markus, bawa anak-anak saya pulang..!!" perintah Bang Zaldi dengan cepat.
"Kalian bawa pergi anak-anak dari sini dan tolong yang tidak berkepentingan harap kembali ke posisi masing-masing..!!" perintahnya lagi pada beberapa anggota.
:
"Kamu lihat dia sudah menikah. Kenapa kamu masih mau melakukan hal nista itu dengannya Puriiiiii..!!!!" bentak Bang Aswin.
"Apa yang di lakukan suami saya om??" tanya Arnes.
Bang Bima dan Om Adi datang tergopoh-gopoh ke ruang DanSat setelah mendengar laporan para anggota.
"Dia telah menghamili adik saya Puri" ucap Bang Aswin dengan lantang.
"Jaga mulutmu Aswin..!!!!!!!" Bang Zaldi yang tidak tau tentang hal ini tentu saja tidak terima dengan tuduhan Aswin.
Puri menarik lengan Abangnya agar Abangnya tidak semakin membuat masalah.
"Abang menghamilinya???" Arnes menatap Bang Zaldi.
"Apa Abang sudah sinting sampai bermain-main dengan wanita malam??. Punya kamu saja sudah cukup buat Abang" jawab Bang Zaldi.
"Wanita malam??" Arnes berusaha mengingat karena ia merasa pernah melihat sosok Puri. Tak lama Arnes mengingatnya.
"Kamu.. kamu yang bersama suamiku malam itu. Di cafe...."
"Itu memang Abang. Tapi Abang tidak melakukan apapun. Ada Righan dan Bima disana" Bang Zaldi berusaha menjelaskan.
"Saya cukup tau diri kalau adik saya memang seorang p*****r, tapi dia meyakini bahwa anak ini adalah anak komandan disini..!!" ucap tegas Bang Aswin.
"Sudah Abang.. aku bisa menanggungnya sendiri.." kata Puri.
"Oohh begitu maumu Puri?? Kamu tidak mau mendengar kata Abangmu lagi??" Bang Aswin menarik lengan Puri.
"Ikut Abang gugurkan kandungan itu..!!!!"
Jantung Arnes rasanya terhujam, antara percaya dan tidak, tapi bayi itu jelas tidak bersalah.
"Biar saya yang mengalah kalau itu anak Bang Zaldi" teriak Arnes. Ia berlari memeluk Puri tapi Bang Zaldi menariknya kembali.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu dek?? Kamu nggak percaya Abang??? Demi Allah seumur hidup Abang hanya kamu satu-satunya wanita yang Abang sebut dalam doa menjadi ibadah seumur hidup Abang sampai surgaNya. Berani mati kalau Abang tidak setia sama kamu..!!"
"Jangan katakan apapun lagi Bang..!" Arnes meremas dadanya yang sesak. Segalanya terasa sakit.
Bang Bima terpaku, bibirnya terasa Kelu tapi hatinya tak sanggup melihat sang adik menanggung beban.
"Dek.. Abang harus bagaimana lagi? Itu bukan anak Abang.." Bang Zaldi terbawa emosi sampai mengguncang kedua bahu Arnes.
"Gugurkan ya gugurkan..!!!!!!" ucap Aswin.
Puri pun terus menangis. Sekilas ia menatap mata Bang Bima. Pandangan perlahan kabur, di saat yang sama Arnes pun terhuyung ambruk di pelukan Bang Zaldi.
Bang Bima berlari memeluk Puri.
"Abang akan tanggung jawab..!!" ucapan itu membuat yang lain menatap tajam ke arah Bang Bima terutama Bang Zaldi.
...
Bang Zaldi berusaha menyadarkan Arnes. Tangannya mengepal kuat dan dingin. Wajahnya pucat badannya hangat sama seperti Puri. Saat Puri berbaring, perutnya sudah terlihat lebih membuncit. Bang Bima menciumi perut itu dengan sayang dan mengusapnya sedangkan Bang Aswin hanya bisa menatapnya dengan lemas.
"Ayo dek.. Bangun. Jangan buat Abang cemas begini. Melihatmu seperti ini rasanya Abang mau mati" gumam Bang Zaldi.
buugghh.. buugghhhh...
"Aku nggak nyangka Bimaaaa..!!!!!" teriak Bang Aswin.
"Aku nggak tau Puri adikmu"
"Aku nggak pernah main perempuan, kenapa kamu menemui adikku??????" tanya Bang Aswin dengan emosi.
"Aku nggak percaya kamu bisa melakukan semua ini tanpa berpikir. Aku akan membawanya pergi.. Sekarang aku ragu kalau kamu ayah biologis dari anak ini. Adikku seorang kupu-kupu malam Bim" Bang Aswin bersiap mengangkat Puri tapi Bang Bima mencegahnya.
"Aku yang memintanya dan aku yang memintanya tidak menggunakan pengaman saat bersamaku." kata Bang Bima berterus terang.
"B******n kamu Bima. Kalau nggak ingat kamu ini kakak ipar saya, sudah saya habisi juga nyawamu. Ulahmu ini hampir buat saya sama Arnes cerai. Mana sifat jantanmu sebagai seorang pria??????" tegur Bang Zaldi.
Perlahan Puri sadar. Pertama kali yang di lihatnya adalah Bang Bima.
"Kita nikah ya dek..!!"
"Nggak.. saya nggak setuju" tolak Bang Aswin.
"Kamu mau perut Puri semakin besar? Mau anak ini lahir tanpa bapak????" tanya Bang Bima penuh penekanan.
"Astagfirullah.. kenapa aku harus di hadapkan dengan situasi seperti ini?" gumam Bang Aswin mengusap wajahnya.
"Aku pun menolaknya" jawab Puri membuat semuanya kaget.
"Kenapa dek? Anak ini ada ayahnya" kata Bang Bima.
"Abang orang yang berpangkat dan memiliki derajat. Sedangkan aku hanyalah sampah dan pengganggu rumah tangga orang lain, melayani pria hidung belang setiap malam. Aku nggak menginginkan dia ada, tapi sebagai seorang wanita.. aku menyayanginya. Usia sudah tiga bulan di bulan. Kelak jika dia lahir.. aku akan mendidiknya agar menjadi orang yang berguna, tidak berperilaku buruk seperti ibunya. Biarkan semua ini aku simpan rapat. Hanya satu yang bisa aku ceritakan padanya. Ayahnya adalah pria yang hebat" ucap Puri.
"Kamu nggak kasihan membiarkannya tanpa identitas dan pengakuan??? Abang mengakui kalau anak itu darah daging Abang"
"Terima kasih Bang, tapi biar aku dan anak ini hidup bersama tanpa menyusahkan Abang dan Bang Aswin.
Bang Aswin tidak sanggup berkata apapun. Ia sangat syok.
__ADS_1
"Saya tidak mengijinkan kamu kemana-mana..!!!" ucap Bang Bima.
Bang Bima berlutut memeluk kaki Aswin.
"Aswin.. hari ini saya meminta langsung di hadapanmu. Bolehkah saya meminang adikmu sebagai istri saya satu-satunya. Setidaknya kasihani nasib keponakanmu" pinta Bang Bima.
"Kamu sungguh kurang ajar Bima. Kamu membuatku tidak punya pilihan. Dia adikku satu-satunya Bimaaa.. Kalau kamu sampai menyakitinya, aku sebagai Abangnya yang tidak terima. Dua tahun terpisah darinya hampir membuatku gila. Sekarang aku malah mendapati kenyataan kalau dia mengandung anakmu. Aku harus bagaimana Bima???" Bang Aswin tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya.
Puri ikut luluh mendengar kata dari Abangnya. Ia ikut menunduk bersandar di paha Bang Aswin.
"Abang harus bagaimana dek? Kamu pikir Abang tidak sedih menghadapi kenyataan sepahit ini. Kalau Abang menikahkanmu dengan orang yang salah. Seumur hidup Abang akan mengutuk diri Abang sendiri" Bang Aswin membelai rambut Puri.
"Semakin lama perutmu semakin besar, tidak masalah kalau Abang membiayai segalanya. Tapi anakmu tetap butuh bapaknya"
"Maafin aku Bang, aku selalu menyusahkan Abang"
Bang Aswin menangis merasakan sesak dalam dada. Adiknya memang bersalah tapi ia tetap tidak tega.
"Bolehkah aku menikahi Puri?"
"Aku tau kamu tidak mencintai adikku. Kamu tau betul masa lalu Puri yang kelam. Tapi anakmu ini sengaja menguji diri kita Bima. Kita sama-sama belajar dari kesalahan kita. Mulai hari ini kulepas adikku, tapi jika kamu menyakiti fisik dan mental Puri, kamu akan mendapat masalah besar dari Abangnya. Saya tidak mau titik hitam Puri menjadi alasan untuk kamu membuatnya terluka"
"Aku paham"
"Ijin Bang.. saya meminta waktu hari ini" kata Aswin meminta ijin pada Bang Zaldi yang masih sibuk menyadarkan Arnes yang belum tau apapun. Arnes begitu syok hingga belum sadarkan diri.
"Lakukanlah.." jawab Bang Zaldi, matanya memerah, hatinya sakit melihat Arnes kembali terguncang atas salah paham hari ini.
"Arnes.. bangun dek. Tidak percayakah kamu sama Abang??" gumamnya cemas.
Tak lama Arnes terbangun, matanya nanar. Ia menatap wajah Bang Zaldi tapi sesaat kemudian ia mual hebat.
:
"Astaga.. sudah nggak ada lagi yang keluar dari perutmu. Kamu salah makan?? Bagian mana yang nggak enak?" tanya Bang Zaldi tak tega.
"Kenapa Abang menghamilinya? Apa karena Arnes tidak mau hamil lagi?" Arnes kembali terpukul, tangisnya masih terasa begitu pedih.
"Aduuuhh.. sinyal H marai mumet. Sudah ada penyelesaian dek. Hari ini langsung menikah dan berkas menyusul.. Kamu.............."
bruugghh..
"Arnees.. " Bang Zaldi menepuk pipi Arnes.
"Brewookk..!!! Hubungi bagian kesehatan."
"Aduuh.. Mbak Arnes kenapa lagi Bang?"
"Ini nih kalau wanita sudah salah sangka. Dapat berita di telinga sepotong, sampai di hati full kapasitas. Morat-marit kabeh." gerutu Bang Zaldi mengangkat Arnes kembali ke ruangan.
.
.
.
.
__ADS_1