Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
33. Kecelakaan.


__ADS_3

"Kenapa Rin??" tanya ayah Rama saat melihat Rinto dan Anye keluar dari toilet.


"Saya pulang dulu pa. Anye nggak enak badan" pamit Rinto pada ayah Rama dan Mama Dinda.


"Oohh.. ya sudah sana..!!"


Rinto pun akhirnya menggandeng Anye keluar gedung.


"Kasihan Anye Bang. Mungkin mual lagi" kata Mama Dinda.


"Yang nggak enak badan bukan Anye.. tapi Rinto"


"Rinto?? Masa iya Bang" tanya Mama Dinda.


Rama tersenyum licik. Bagian seperti ini dia adalah pakarnya.


***


“Alhamdulillaahi lladzii khalaqa minal maa i basyaraa”


Rinto melonggarkan tubuhnya setelah itu bergeser dari tubuh Anye setelah selesai menggauli istrinya. Tangan itu terus membelai rambut panjang istrinya.


"Abang tau kamu marah dengan sikap Seruni" ucap Rinto.


"Kalau Abang tau kenapa Abang tadi masih terpancing perlakuan Anye" tanya Anye.


"Bukan itu pokok masalahnya. Kalau kamu tanya kenapa Abang terpancing. Jelas itu manusiawi. Abang laki-laki.. kamu perempuan, Kamu memancing.. jelas Abang tergoda" jawab Bang Rinto.


"Maksud Abang, kamu jangan terlalu frontal mengerjai dia. Perasaan Abang nggak enak"


"Abang terlalu banyak pikiran"


"Abang serius dek. Kamu jangan bertindak macam-macam tanpa sepengetahuan Abang" kata Rinto mengingatkan.


"Iya Bang..!!" jawab Anye dengan malas.


***


Siang hari Anye makan siang berdua dengan Bintang.


"Gimana kandunganmu?" Bisik Bintang bertanya saat melirik perut Anye mulai sedikit terlihat.


"Dia sehat, Bang Rinto senang sekali mau punya anak" jawab Anye penuh semangat.


"Itu sudah terlihat jelas, kalau tidak mana mungkin herder mu itu mau mengikutimu sampai jadi dosen kita segala" kata Bintang.


"Pak Rinto benar-benar sayang padamu"


Mendengar itu, Anye tersipu malu. Kini hatinya pun perlahan mulai terbuka dan terisi nama Rinto Dirgantara disana.


"Masuk yuk..!! Sebentar lagi kelas di mulai. Jangan sampai herder mu ngamuk karena kita telat. Pak Rinto sungguh menakutkan..!!" kata Bintang sambil meraih tasnya.


-_-_-_-


Praktek kali ini sedikit menyimpang karena Pak Rinto akan menunjukan secara langsung bagaimana cara menangani emisi gas buang.


...

__ADS_1


"Kalian duduk paling pinggir dan tidak boleh mendekat ke area itu..!!" perintah Pak Rinto pada Anye, Bintang dan Ivana agar tidak ada kecurigaan.


Niat Rinto sebenarnya hanya ingin menjauhkan Anye dari buruknya pengaruh gas.


Para mahasiswa memperhatikan dengan seksama bagaimana langkah demi langkah yang di jabarkan Pak Rinto selaku dosen.


...


Mata kuliah hari ini terlihat sangat menyenangkan. Para mahasiswa satu persatu kembali ke kelas untuk melanjutkan materi, mereka senang dengan Pak Rinto karena setiap penjelasannya sangat mudah untuk di pahami meskipun dosen itu terkenal killer.


Anye duduk kembali di ruang praktek, tiba-tiba saja perutnya terasa kram dan nyeri. Tapi saat ini tidak mungkin baginya untuk mengadu pada Bang Rinto.


"Ayo jalan..!!" ajak Ivana.


"Kalian jalan saja duluan, aku benahi sepatuku dulu" alasan Anye pada Bintang dan Ivana.


Setelah Bintang dan Ivana pergi, Anye mengirim pesan singkat pada Bang Rinto


Om-om 👁️🧺 : Bang, perut Anye kram. Anye ijin dulu ya mau ke kantin cari minuman hangat. 😬✌️ ✅


❤️ Lady Senja ❤️ : Si adek nggak apa-apa khan? Kamu masih kuat nggak? Jangan lama-lama kamu. Ini masih jam mata kuliah Abang, 15 menit harus kembali. Kalau nggak, kamu dapat nilai D ✅


Om-om 👁️🧺 : Makanya kasih ijin donk Bang 🥺 ✅


❤️ Lady Senja ❤️ : 15 menit nggak kurang nggak lebih ✅


Setelah mengirim pesan singkat, Anye berjalan menuju pintu. Tapi pada saat Anye berusaha membukanya, pintu itu tidak bisa terbuka.


"Permisi.. apa ada orang??" tanya Anye setengah berteriak.


Tidak ada orang yang menyahut, tiba-tiba lampu padam. Suara hujan terdengar kencang. Ia meraba dinding sebagai sandaran, dadanya terasa tertekan sesak hingga ia kesulitan bernafas. Ingin bersuara saja rasanya tidak mampu, apalagi berteriak.


Terdengar lamat suara mendesis, seperti suara pipa bocor. Benar saja.. baunya begitu menyengat menusuk hidung hingga membuat kepalanya terasa berat. Anye merosot berpegangan pada dinding.


"Abaaang.. tolong Anye.." ucapnya lirih.


...


Kelas telah usai. Rinto baru menyadari kalau sudah empat puluh lima menit dan Anye tidak kembali ke kelasnya.


"Berani sekali dia kabur dari mata kuliahku. Memangnya untuk siapa aku bersusah payah begini??" gerutu Rinto. Ia langsung berjalan menuju kantin berniat menyusul Anye.


Sesampainya di kantin, Rinto sama sekali tidak menemukan sosok istrinya. Sampai ia bertanya pada orang di sekitar, tapi tidak ada yang bertemu Anye sama sekali.


Perasaan Rinto mulai tidak enak. Tepat saat sedang bingung dengan pikirannya, ada beberapa petugas yang berlarian ke ruang praktek mesin otomotif.


Rinto pun menarik lengan salah seorang petugas karena penasaran.


"Apa yang terjadi di ruang praktek?" tanya Rinto.


"Ada kebocoran gas buang Pak" jawab petugas tersebut.


"Haaahh.. kok bisa??" Rinto segera mengikuti langkah petugas itu karena sebelumnya kelas ini ada pada pengawasannya.


...


Pintu ruang praktek di buka. Saat pintu itu terbuka lebar, Jantung Rinto kaget bukan main. Terlihat jelas Anye sudah tidak sadar dalam posisi tertelungkup.

__ADS_1


"Ya Allah.. Anyee..!!!!"


-_-_-_-


braakk...jduugh...


"Bukaa dok..!!!!!!!!" teriak Rinto, ia menendang dan mengetuk pintu ruang tindakan dengan kencang karena dokter Wira tidak mengijinkan Rinto untuk masuk ke ruang tindakan.


"Bang Rinto, tenang dulu..!!" Gathan menyergap Rinto.


Ayah Rama tau saat ini perasaan Rinto benar-benar cemas dan berantakan.


"Dokter Wira, kalau dokter nggak buka pintunya, saya pastikan ruangan dokter sudah kebakaran besok pagi" ancam Rinto.


"Rinto jangan gila kamu..!!!" tegur ayah Rama.


"Kalau sampai ada apa-apa sama Anye dan bayiku, aku bisa gila yah" teriak Rinto terlihat sangat frustasi dan stress.


Tak lama dokter Wira keluar dari ruangan.


"Nggak Rama, nggak Rinto.. sama saja kelakuan onarnya" ucap dokter Wira dengan mata membulat tajam.


"Istri saya bagaimana dok??" tanya Rinto pada dokter Wira.


"Terus terang kondisinya tidak baik. Dia keracunan lebih dari tiga puluh menit. Saat di bawa kesini tadi, Anye hampir nggak bisa nafas"


"Bayinya bagaimana dok..??" Rinto cemas bukan main memikirkan Anye.


"Alhamdulillah.. bayimu sehat, dia kuat seperti papanya" jawab dokter Wira.


...


Anye mulai sadar dan langsung melihat kesekeliling ruangan. Oksigen membantu jalan nafasnya.


"Anye di mana Bang?"


"Taman bermain" jawab Bang Rinto.


"Ini di rumah sakit.. Siapa tadi yang pamit mau ke kantin?" tanya Bang Rinto.


"Anye memang mau ke kantin. Tapi waktu Anye mau buka pintu ruang praktek, ternyata pintu itu tiba-tiba terkunci. Terus ada suara mendesis, mungkin pipa bocor" jawab Anye.


Rinto mengangguk menanggapi, wajahnya juga terkesan datar saja tapi tangannya mengambil ponsel di sakunya lalu mengetik di layar, mengarahkan sesuatu pada Gathan.


...


Anye sudah berada di rumah. Ia di perbolehkan pulang sesuai aturan dan arahan dari dokter Wira. Malam hari Anye sudah nyenyak tidur setelah makan dan minum obat.


Rinto segera mengganti pakaiannya untuk menemui seseorang. Gayanya begitu maskulin, wangi.. dengan rambut rapi dan tipis khas seorang tentara.


Ini yang kamu mau???? Kita main cantik sebelum kamu merasakan siapa Rinto Dirgantara.


"Hai.. Abang bisa ketemu malam ini??" sapa Rinto dalan sambungan telepon.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2