Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
42. Kembalinya sang mantan.


__ADS_3

"Siap salah ibu" Anye menunduk santun.


"Kamu harus banyak belajar dari senior ya" kata Bu Bowo.


"Siap..!!"


-_-_-_-


Rinto push up di kantor kantor ayah Rama. Papa Ardi hanya melihat sambil menahan senyumnya.


"Cukup..!!!" kata ayah Rama.


"Bisa-bisanya molor saat jam Komandan" tegur ayah Rama.


"Siap salah..!!" jawab Rinto secara formal.


"Sudah Ram. Kamu ini seperti nggak pernah muda ada, capek panjat pinang lah" celetuk Papa Ardi.


Rinto menunduk mengulum senyum. Ada wajah bahagia disana.


Rama pun menghela nafas dalam-dalam.


"Repot kalau urusannya sudah kangen"


-_-_-_-


"Bowo.. ini sudah lengkap ya berkas saya?" tanya Rinto.


"Siap Dan. Satu map itu saya ambil dan lengkap" laporan Bowo.


"Acara kenaikan pangkat bulan depan apa benar mau buat panggung prajurit?" tanya Rinto karena ia belum tau sama sekali tentang info kantor.


"Benar Dan.." jawab Bowo.


"Jangan aneh-aneh ya acaranya. Nanti saya rundingan dengan pak Brian dulu. Kalau ada panggung prajurit jangan bikin acara aneh-aneh. Leher saya bisa di tebas istri" gumam Rinto.


"Siap Dan.." jawab Bowo.


tok..tok..tok..


"Masuk..!!" kata Rinto.


Perlahan pintu terbuka, Anye melangkah masuk ke dalam ruangan Rinto.


Anye dan Bowo saling pandang. Ada rasa terkejut yang tidak bisa ia sembunyikan dan Rinto menangkap pemandangan itu.


"Kenapa sayang?" tanya Rinto dengan lembut. Dia tidak akan membiarkan pria lain masuk ke dalam kehidupan rumah tangga mereka.


"Anye lapar Bang" ucap Anye dengan nada sedikit manja pada suaminya.


"Mau makan dimana? Abang masih pakai seragam nih"


"Makan bakso ya Bang..!!"


"Ayo..!! Ambilkan jaket Abang..!!" ajak Rinto.


"Ijin Dan. Saya pamit dulu" kata Bowo.


"Ijin Ibu" ucapnya dengan senyum kecil.


"Silakan..!!" kata Rinto.


"Silakan Pak Bowo" ucap Anye sambil mengambilkan jaket Bang Rinto. Seketika Rinto langsung menoleh ke arah istrinya.


...


"Kamu kenal Bowo?" tanya Bang Rinto penasaran.


"Kenal Bang" jawab Anye.


"Kenal dimana?" tanya Bang Rinto lagi.


"Dia mantan Anye Bang" jawab Anye sedikit takut.


"Oohh.. masa SMA?" tanya Bang Rinto.


"Iya.. Abang marah?"


"Itu masa lalumu. Asal kamu nggak macam-macam Abang nggak akan marah" jawab Bang Rinto sambil mengusap kening Anye.


"Kamu istri Rinto Dirgantara. Harus tau batasanmu sendiri. Ngerti dek?"


"Ngerti Bang"


...


"Abang belum kenyang?" tanya Anye saat melihat Bang Rinto maka di mangkok keduanya.


"Abang banyak kegiatan, kalau makan cuma sekepal tangan aja mana terasa di perut" jawab Rinto sambil mengunyah makanannya.

__ADS_1


"Perut karet..!!"


"Perut ini buat kamu tergila-gila" ledek Bang Rinto.


"Setelah ini pulang ya..!! Abang free sampai istirahat siang" Bang Rinto sudah menyenggol kaki Anye, Alisnya sudah terangkat menunjukan sinyal.


"Hhh... Abang"


...


"Abang berangkat ya..!! Kamu tidur saja" ucap Bang Rinto setelah mereka berdua selesai berduaan.


"Iya Bang" jawab Anye tidak dapat menahan rasa kantuknya.


"Maaf..!!" ucapnya tersenyum penuh dengan banyak makna.


Maafkan Abang ya dek. Abang nggak bermaksud membohongimu dan bermaksud egois.


***


"Apa kabar dek Anye?" Bowo mencoba mengakrabkan diri kembali saat tidak ada orang disana.


"Baik Mas Bowo" ucap Anye datar.


"Ternyata kamu istri Danki saya. Nggak nyangka kamu bisa berubah jadi seperti ini"


"Semua memiliki perubahan pada masanya Mas" jawab Anye.


"Maafkan sikap Mas yang dulu kasar dan nggak sabaran"


"Itu sudah berlalu Mas. Nggak perlu di bahas lagi" ucap Anye tidak ingin mengingat tentang masa lalunya.


"Saya permisi ya Mas. Mau ke ruangan Abang" pamit Anye.


"Silakan dek" Bowo memberi jalan pada Anye


...


"Darimana dek?" tanya Bang Rinto sengaja menguji kejujuran Anye. Ia tadi sempat melihat Anye berbincang dengan Bowo.


"Tadi dari lapangan Bang. Terus ketemu Mas Bowo sebentar" refleks Anye menutup bibirnya karena memanggil Bowo dengan sebutan 'Mas'.


"Maaf Bang"


Mendengar kejujuran Anye, senyum Bang Rinto tersungging sempurna.


"Terima kasih ya Bang" Anye memeluk Bang Rinto yang masih duduk gagah di kursinya.


"Oya Bang. Anye mau ketemu sama Vicky di mall nanti sore. Boleh nggak Bang? Atau Abang ikut juga nggak apa-apa"


"Ya sudah. Lagi pula di rumah mau apa" jawab Bang Rinto.


"Sekalian belanja bulanan. Abang khan baru gajian..!! Tau sendiri Abang di rumah nggak ada persediaan apapun"


"Jadi ajak Abang untuk apa??" tanya Bang Rinto.


"Bawa barang belanjaan donk" jawab Anye.


"Wooo.. pelanggaran kamu ini"


***


"Victoria.. biasa di panggil Vicky" Vicky melotot melihat wajah tampan Bang Rinto. Perlahan Bang Rinto melepaskan genggaman tangannya.


"Ini pacarmu Nyee?" tanya Vicky pada Anye. Vicky sungguh terpana.


"Bukan..!!" jawab Anye.


"Syukurlah.." Vicky tersenyum senang.


"Abang Rinto ini suami Anye" jawab Anye.


"Haaaaahh.. kamu sudah menikah???????" tanya Vicky.


"Umurmu masih delapan belas tahun Nyee" Vicky sungguh tidak percaya sampai nadanya berubah menjadi tinggi.


"Dia memang istri saya" ucap Bang Rinto membenarkan.


"Iya Vic.. memang benar Bang Rinto suaminya Anye. Tapi kamu jangan pernah cerita hal sekecil apapun sama Ivana ya?" kata Bintang yang ikut berada disana.


"Iya.. kamu bisa percaya aku" kata Vicky.


"Ya sudah, aku nggak bisa lama-lama. Mau belanja bulanan" pamit Anye.


...


"Sebenarnya ada apa dengan Ivana?" tanya Vicky yang mulai penasaran.


"Begini Vic....................."

__ADS_1


***


Di akhir bulan segala persiapan untuk acara panggung prajurit dan kenaikan pangkat sedang sibuk di laksanakan.


"Angkat potnya..!! Jangan cuma badan aja yang aduhai tapi atur pot saja tidak bisa" perintah Bu Bowo pada Anye.


Para anggota ingin membantu ibu Danki mereka tapi Bu Danki melarangnya karena Anye masih sanggup menangani sendiri masalahnya.


"Ijin ibu. Pot ini lumayan besar. Apa tidak bisa kita meminta bantuan om-om disana?" tanya Anye dengan sopan.


"Istri prajurit harus bisa apapun. Kuras tandon, ganti lampu yang putus, perbaiki genteng" jawab Bu Bowo.


"Jangan manja jadi istri prajurit. Kalau saya tidak sedang hamil muda.. pasti saya tangani sendiri" ucap Bu Bowo yang baru enam bulan ini pindah ke Batalyon.


Tak ingin membuat keributan, Anye segera menggeser pot bunga itu perlahan.


"Aduuhh.." Anye merintih kesakitan.


"Bu Rinto.. kenapa Bu??" tanya para ibu disana.


"Ya Allah.. sakit sekali perutku..!!"


"Saya panggilkan bapak ya Bu??" tanya seorang istri anggota.


"Jangan.. tolong bawa saya ke ruang pengurus" pinta Anye.


"Astaga.. manja sekali..!!" Bu Bowo menyambar tasnya lalu melenggang pergi.


"Iihh.. ini orang" gerutu Bu Taufik.


"Om.. tolong ibu" pinta seorang disana.


"Loh, Bu Rinto kenapa????" tanya Bowo.


Anye mengisyaratkan agar semua diam.


"Tolong jangan bilang suami saya" ucapnya sesaat sebelum ia tidak sadarkan diri.


Bowo segera membawa Anye masuk ke ruang pengurus.


...


"Nggak bisa begini. Pak Rinto harus tau" kata Bowo sambil merogoh ponsel di sakunya lalu menghubungi Danki.


Anye baru saja sadar dari pingsannya.


"Ijin Dan. Ibu......"


...


"Astagfirullah.. kenapa kamu dek?????" Rinto panik dan mengusap peluh di kening Anye.


"Apa yang sakit???"


"Anye nggak apa-apa Bang. Hanya kehausan saja setelah ikut kurve" jawab Anye.


"Haus?? Itu air galon penuh. Apa lemari es kantor isinya habis?? Sebenarnya kamu mau minum apa? Apa perlu Abang sediakan minuman yang lain??" tanya Bang Rinto.


"Cari es dawet ayu yuk Bang..!!" ajak Anye daripada Bang Rinto mengusut semuanya.


"Kamu mau itu?? Tapi ini panas sekali kalau mau beli di luar"


"Terus gimana Bang??" tanya Anye.


Rinto diam dan berpikir sejenak, lalu mengambil ponselnya.


"Tolong ya untuk anggota yang nganggur.. bawa pedagang dawet ayu ke Batalyon..!! Kalau perlu sama gerobaknya di angkut sekalian..!!"


"Ijin Dan.. butuh berapa gerobak??"


"Tebas semua pedagang dawet. Bu Danki yang minta" perintah Bang Rinto.


Yang mendengar perintah itu masih mencerna perintah Danki.


"Kamu dengar nggak???" tanya Rinto dengan nada tajam.


"Siap dengar. Laksanakan Dan"


"Bagus..!!!"


Seisi ruangan tersenyum melihat Pak Rinto menyelesaikan masalah istri tercinta.


"Beres sayang..!!" ucap pak Danki.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2