
Bang Zaldi tidak bisa ikut kegiatan lapangan hari ini karena kakinya terkilir dan Irfan yang berbaik hati mengurut pergelangan kaki sahabatnya itu.
"Sakiiit pot" Bang Zaldi memercing saat Bang Irfan mengurut kakinya.
"Kalau pelan-pelan namanya di usap, bukan di urut" Jawab Bang Irfan.
Bang Zaldi menggelinjang tak karuan menutupi wajahnya. Pergelangan kakinya biru dan bengkak.
"Rig.. tolong jemput Arnes lagi donk" pinta Bang Zaldi pada Bang Righan.
"Siap Bang..!!!"
"Nanti bilang sama Arnes belikan ikan kuah asam sama garang asem ya..!!" kata Bang Zaldi lagi.
"Siap Abaang..!!" Bang Righan segera meninggalkan tempat usai apel sore itu.
-_-_-_-_-
Bang Righan melihat Arnes mengobrol ceria dengan seorang pria. Pria itu nampaknya memberikan perhatian lebih pada Arnes tanpa adiknya itu sadari. Pria itu terus merangkul bahu Arnes tanpa penolakan dari adiknya yang polos.
"Nes.. Ayo pulang..!!" ajak Bang Righan bernada dingin.
"Abang.." Arnes kaget melihat Bang Righan ada di kantornya.
"Arnes pulang dulu ya mas..!!" pamitnya pada Mas Fauzan.
Bang Righan menatap tajam ke arah Bang Fauzan sebagai tanda peringatan tapi Bang Fauzan seolah tidak mau tau dengan peringatan itu.
//
"Kamu mau di hajar Bang Zaldi?? Kenapa kamu diam saja waktu laki-laki itu pegang kamu???" tanya Bang Di atas motor.
"Takut Arnes jatuh Bang. Makanya di pegangi" jawab Arnes.
"Kamu bisa bedakan laki-laki yang tulus sama yang jelalatan nggak????" tegur Bang Righan.
"Ini kalau sampai Abang Zaldi tau, kamu bisa di remas habis dek. Pegangannya itu nggak kira-kira"
"Kenapa sih Abang sama Bang Zaldi berlebihan sekali"
"Kamu yang bodoh. Bukan Abang" bentak Bang Righan menghentikan jawaban Arnes.
...
Bang Zaldi dan Arnes makan malam bersama. Dari pulang tadi Arnes banyak diam.
"Kamu kenapa?" tanya Bang Zaldi sambil menyantap dua menu pesanannya. Ia menyapa selembut mungkin pada istrinya.
"Arnes mau tanya. Kenapa Abang sama Bang Righan sensitif sekali dengan Mas Fauzan. Padahal mas Fauzan itu baik" kata Arnes.
Mendengar itu perasaan Bang Zaldi rasanya terbakar karena Arnes tidak menyadari hal buruk yang terjadi.
"Kalau Abang duduk bersebelahan dengan Olivia lalu merangkulnya, kira-kira kamu marah nggak??" Bang Zaldi balik bertanya tanpa emosi menghadapi istrinya yang bagaikan ujian akhir kelulusan sekolah.
"Ya marah lah. Memangnya siapa dia berani dekat suami Arnes" jawabnya dengan kesal.
__ADS_1
"Naahh.. kalau kamu tau itu tidak baik kenapa kamu masih tanya??? Apapun alasannya.. bagaimanapun baiknya Fauzan. Dia bukan suamimu. Abang harap kamu nggak bersikap begitu lagi" kata Bang Zaldi yang tadi sudah mendapat laporan dari Righan.
Bang Zaldi sengaja tidak bertanya, ia ingin tau Arnes akan membahas hal ini dengannya atau tidak.
"Dia hanya tolong Arnes saja karena jalannya berbatu" jawab Arnes dengan polosnya.
"Sayang.. tidak ada pertemanan dari seorang pria dan wanita yang akan berakhir seratus persen tulus. Abang sudah ingatkan kamu satu kali ini dan jangan sampai terulang lagi. Tolong peka dengan keadaan" ucap Bang Zaldi.
Arnes diam mengingat apa yang sudah di lakukan Mas Fauzan padanya. Memang selama ini pria itu sering menghujaninya dengan banyak makanan dan coklat. Bahkan coklat itu masih ia simpan dalam lemari agar Bang Zaldi tidak tau.
"Bang.. Mas Fauzan kasih Arnes banyak coklat. Di lemari ada dua puluh bungkus dan dua bungkusan yang belum Arnes buka sama sekali" Arnes baru berani jujur pada Bang Zaldi.
Bang Zaldi menghabiskan sesendok makanan terakhirnya lalu meneguk segelas air putih di hadapannya kemudian berdiri mengecup kening Arnes.
"Terima kasih ya kamu mau jujur sama Abang"
Dengan menahan rasa kesal, Bang Zaldi menuju kamar dan membuka lemari baju. Memang benar ada dua puluh coklat yang Arnes simpan disana dan dua bungkusan rapi dalam kado yang belum terlihat terbuka. Bang Zaldi pun membuka bungkusan itu. Ada tulisan yang membuat hatinya panas mendidih.
Kapan kita bisa keluar sama-sama. Kamu pasti cantik pakai baju ini.
"B*****t.. Mau cari mati dia rupanya" umpatnya. Bang Zaldi membanting bungkusan pertama lalu membuka bungkusan kedua. Dadanya kembali panas terbakar, emosinya pun memuncak.
Arnes berlari memastikan apa yang membuat suaminya begitu murka.
"Kenapa Bang??" Arnes melihat Bang Zaldi mengepalkan tangan, wajahnya begitu dingin dan seperti menyimpan amarah.
Bang Zaldi sedikit mendorong barang yang ia banting ke bawah kolong ranjang agar Arnes tidak syok.
"Nggak apa-apa. Besok Abang kembalikan coklat ini ya"
"Oyaaa??? Banyak sekali alergimu. Kalau sama Abang nggak alergi khan??" Bang Zaldi menggigit kecil hidung mancung Arnes.
"Eeennggak.. malah pengen dekat terus" ucapnya manja.
"Masa sih???" Bang Zaldi memainkan bibir nakalnya di sela leher Arnes.
***
Setelah kejadian itu baru hari ini Bang Zaldi bisa menemui Fauzan di kantor. Kesibukan kegiatan di kantor membuatnya begitu kerepotan membagi waktu ini dan itu.
"Bisa kita bicara??"
"Ada apa ya pak... Erzaldi??" Fauzan melihat nama dada Bang Zaldi.
"Apa maksudmu memberikan barang ini pada istri saya???" tegur Bang Zaldi dengan keras.
"Arnes masih dua puluh tahun. Nggak mungkin dia sudah menikah. Lagipula pria yang menjemputnya juga berbeda-beda" ucap Fauzan dengan sinis.
"Kau kira istriku apa???????" bentak Bang Zaldi.
Fauzan mengendikan bahu seolah tidak peduli.
"Kau sendiri yang tau wanita macam apa dia"
Hantaman keras bertubi-tubi melayang mengenai bahu, wajah dan tulang iga Fauzan. Pria itu terkapar tanpa daya. Para pegawai membantu Fauzan untuk berdiri tapi mereka juga tidak menyalahkan kemarahan Bang Zaldi karena mereka pun tau tingkah dan ucapan Fauzan yang kurang ajar.
__ADS_1
Arnes yang baru keluar dari ruangan sangat terkejut melihat Bang Zaldi menghajar Fauzan sampai babak belur.
"Kenapa Abang hajar Mas Fauzan???" pekik Arnes.
"Mulai hari ini, kamu Abang larang kerja disini..!!!!!" ucap tegas Bang Zaldi.
"Tapi kenapa Bang?? Abang sudah janji mengijinkan Arnes kerja"
"Kamu bisa nurut sama Abang nggak???? Ayo pulang...!!!!!!!" Bang Zaldi menarik tangan Arnes. Jalanan berbatu membuat langkah Arnes terseok.
"Bang pelan..!! Perut Arnes sakit"
Bang Zaldi tidak peduli dan terus menarik tangan Arnes hingga ke motor yang ia parkir.
...
"Boleh ya Bang..??" Arnes berusaha keras membujuk Arnes.
"Sekali Abang bilang nggak ya nggak" jawab Bang Zaldi kaku tanpa bisa di lawan.
"Arnes khan belum hamil Bang" protes Arnes.
Bang Zaldi semakin kesal saja. Ia menarik tangan Arnes lagi menuju ke dalam kamar.
"Lebih baik Abang hamilii kamu saja biar semua orang tau kamu ini milik siapa"
:
Tiba-tiba saja Arnes menangis dan itu sangat menyulut emosi Bang Zaldi.
"Sebegitu kamu membela Fauzan sampai nggak mau melayani suamimu sendiri?????"
Bang Zaldi mendekap erat tubuh Arnes dan segera menuntaskan pelepasannya.
//
"Abang mau makan??" tanya Arnes pelan-pelan mengingat wajah Bang Zaldi masih begitu dingin.
"Iya.. jawabnya singkat tapi sudah mulai mengurangi sikap kerasnya pada Arnes. Sebenarnya ia cemas juga melihat tangisan istrinya tapi Arnes yang sulit sekali mengikuti keinginannya sungguh membuatnya kesal.
"Duduk disini" Bang Zaldi menarik kursinya agar Arnes bisa duduk disebelahnya.
Arnes pun duduk dengan ragu sambil memandangi wajah Bang Zaldi.
"Abang sudah kasar. Maaf ya dek" ucap Bang Zaldi dengan tulus.
"Iya Bang..!!"
"Besok kita ke kantor ya. Abang mau bawa kamu dan memperkenalkan kamu sebagai istri Lettu Erzaldi. Abang sudah muak mendengar ocehan orang yang terus menyudutkanmu"
.
.
.
__ADS_1