Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 120. Emosi.


__ADS_3

"Ada sedikit masalah pada dinding rahim. Sepertinya ibu tidak cocok kontrasepsi apapun"


"Waduuhh.. terus alternatifnya bagaimana dok?" tanya Bang Zaldi.


"Mau tidak mau ya bapak harus mengalah. Memakai metode hormon ini, ibu selalu pendarahan dan jangka waktunya lama. Kalau setiap bulan terus seperti ini juga tidak baik untuk kesehatan ibu" jawab dokter.


...


Bang Zaldi terus terngiang perkataan dokter. Apapun yang berhubungan dengan Arnes pasti membuatnya takut.


"Kalau Abang takut.. kita bisa pakai banyak metode khan Bang. Mungkin saluran indung telur Arnes diikat"


"Kita nggak mungkin pakai cara itu. Kamu masih terlalu muda dek. Sudah.. nggak perlu kamu pikirkan. Ini cuma masalah kecil saja" jawab Bang Zaldi yang sebenarnya juga resah namun tidak ingin menunjukannya di hadapan Arnes.


***


Sejak kejadian itu Bang Zaldi lebih banyak diam, sampai interaksi nya dan Arnes pun semakin berkurang.


Ibra, Ryan dan Fia duduk bersama. Bang Ibra bersifat kaku dan tak mau tau dengan hal apapun di sekitarnya tapi tetap perhatian dengan kedua adiknya. Sifat itu berbanding terbalik dengan Ryan yang lebih terbuka dan penuh kasih.


Bang Zaldi mengawasi anak-anaknya namun dengan pikirannya yang kosong, dirinya menjadi tidak fokus.


braaaaakkkkk...


Suara tangis kencang dari Fia begitu mengagetkan Arnes. Ibu muda itu berlari menghampiri sumber suara.


"Ada apa Bang? Kenapa Fia nangis??"


"Nggak ada apa-apa" jawab Bang Zaldi ringan.


Arnes melihat alis Fia luka karena terantuk pinggir meja. Darahnya mengalir cepat sampai mengotori lantai.


"Abang nggak lihat Fia luka?" tanya Arnes.


Bang Zaldi segera mengambil kotak obat lalu mengobati alis Fia yang terluka.


"Reaksi Abang hanya begini saja?" tanya Arnes lagi.

__ADS_1


"Terus Abang harus bagaimana? Ini juga Abang obati"


"Abang yang jaga, Abang juga yang lalai.. Apa Abang nggak punya perasaan kasihan sama anak sendiri???" nada keras Arnes memicu amarah Bang Zaldi.


Ia mengangkat tangannya tinggi hendak menampar Arnes.


"Jangan pernah bernada keras di hadapanku..!! Tak punya sopan santun kau sama suamimu???" bentak Bang Zaldi langsung menghantam hiasan dinding di sampingnya.


"Lama-lama Arnes nggak tahan dengan sikap Abang. Lebih baik Abang hiduplah sendiri. Arnes nggak tahan" ucapnya sambil membawa Fia kecil pergi.


"Pergilah sesuka hatimu. Yang jauh kalau perlu." Bang Zaldi mengambil dompet yang ia simpan di atas lemari hias lalu melemparnya di belakang punggung Arnes.


Arnes berbalik dan menampar pipi Bang Zaldi sekencangnya.


"Aku bukan p*****r mu Bang. Aku tidak butuh uangmu"


"B*****t beraninya kamu" Bang Zaldi mencengkeram kuat kedua lengan Arnes yang membuat istrinya kesakitan.


"Sejak kapan Abang mengumpat di hadapan Arnes. Anak-anak dengar Bang..!! Abang keterlaluan..!!!!!" teriak Arnes semakin kesal.


ccttssss..


"Ibraaaa.. Jangan kurang ajar..!!!!" bentak Bang Zaldi.


"Abang nggak suka papa jahat sama mama" ucap Ibra sambil berlarian menghindari kemarahan papanya.


Bang Zaldi mengambil kopel di gantungan dinding dan bersiap menghajar Ibra tapi Arnes menghalanginya.


"Abaang.. jangan..!!!!!!"


Fia menghadang tangan Bang Zaldi tapi sayang, tenaganya tidak cukup kuat hingga Arnes harus terpental. Bang Zaldi yang gelap mata masih belum puas dan mengayunkan kopel itu pada Ibra.


Satu ayunan kopel mengarah ke badan kecil Ibra tapi di saat yang bersamaan Arnes sudah merangkak melindungi putranya hingga kopel itu melayang di punggung Arnes.


"Astagfirullah hal adzim.. Arnes" Bang Zaldi perlahan tersadar kelakuannya yang begitu buruk untuk dilakukan seorang suami.


"Ya Allah.. apa yang sudah aku lakukan ini?" Bang Zaldi membantu Arnes untuk duduk. Tak di sangka Ibra menonjok wajah Bang Zaldi dengan kuat.

__ADS_1


"Abang masih kecil, gk bisa pukul. Kalau Abang sudah besar pasti hajar papa" teriak Ibra.


"Ibra.. anak baik nggak boleh begitu. Papa sama Mama khan lagi latihan. Ayo Ibra minta maaf sama papa. Papa juga nggak sengaja kok nak" bujuk Arnes mengembangkan senyumnya.


"Maaf pa. Ibra salah..!!" kata Ibra. Bang Zaldi tau putranya itu masih setengah hati dan hanya mengikuti permintaan mamanya.


Bang Zaldi memegangi kaki putranya.


"Maafkan papa nak. Papa benar-benar nggak sengaja. Papa yang salah"


"Ibra main dulu sama adik-adik ya..!! Mama mau bicara sama Papa" pinta Mama Arnes.


Ibra pun keluar rumah dan bermain dengan Ryan dan Fia.


Bang Zaldi melirik pakaian Arnes, ada bekas koyak disana. Berarti cambukannya sangat keras.


Apa jadinya kalau cambukan itu mengenai punggung Ibra. Apa aku bisa memaafkan diriku sendiri kalau terjadi sesuatu pada darah dagingku sendiri.


"Abang boleh menyakiti Arnes, tapi jangan pernah menyakiti anak-anakku. Mereka nyawa Arnes Bang" ucap Arnes menekankan rasa tidak sukanya karena Bang Zaldi menyakiti putranya.


"Abang minta maaf dek. Abang khilaf.. sungguh tidak sengaja melakukannya." Bang Zaldi menggenggam kedua tangan Arnes tapi Arnes menarik tangannya.


"Ayo kita obati di kamar..!!" Bang Zaldi mencoba menggenggam tangan Arnes lagi tapi lagi-lagi Arnes menepisnya.


"Sebaiknya kita introspeksi diri Bang. Semakin lama sikap Abang dingin dan kasar. Arnes nggak nyaman Bang. Mungkin ada baiknya kita saling memberi waktu untuk berpikir dan memperbaiki hubungan kita. Arnes mau pulang ke rumah papa"


Arnes berdiri meninggalkan Bang Zaldi tapi suaminya itu mencegahnya. Bang Zaldi pun segera memeluknya.


"Abang tau Abang salah dek. Sungguh Abang minta maaf sudah menyakitimu. Tolong dek..!! Jangan pergi.. beri Abang kesempatan untuk memperbaiki diri..!!" pinta Bang Zaldi sungguh-sungguh.


"Kenapa Abang berubah. Apa salah Arnes?"


"Terus terang............."


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2