
Tidak ada umpatan, chat pribadi penuh hujatan. Biarkan Nara berekspresi. Nara sudah tau kapan harus bahagia 🙏🙏🙏😊😊😊
🌹🌹🌹
"Abaang.. Anye nggak mau pulang sama Abang..!!" tolak Anye mencoba menarik tangannya kembali.
Mendengar Anye menolaknya, Bang Rinto semakin kalap dan beringas. Ia menarik Anye masuk ke dalam mobil.
"Kamu tolak Abang..??? Kamu benar-benar minta di hajar"
-_-_-_-
Mobil Bang Rinto melesat kencang hampir menabrak palang Ksatrian bahkan salam dari anak buahnya pun di abaikan.
Sepanjang perjalanan menuju rumah adalah seperti menjadi perjalanan menuju neraka bagi Anye. Bang Rinto bukan seperti suami yang ia kenal.
"Turun..!!!!" perintah Bang Rinto saat mereka berdua sudah sampai di rumah.
"Nggak mau.." Anye sudah takut sekali melihat kemarahan Bang Rinto.
Secepatnya Bang Rinto turun dan menarik Anye untuk masuk ke dalam rumah. Tangannya sibuk membuka pintu. Tak lama Anye kabur tapi Bang Rinto bisa menangkapnya.
"Mau kemana kamu???" ucapnya sambil menutup rapat pintu rumahnya.
"Anye mau ke rumah ayah" jawab Anye.
"Kenapa??? Kamu nggak nyaman tinggal sama om-om yang ini??? Mau sama om-om yang itu??" bentak Bang Rinto.
Bang Rinto mengangkat Anye dan membawanya ke dalam kamar. Bagai orang kesetanan Bang Rinto membuka pakaian Anye. Pikirannya campur aduk. Tanpa pikir panjang ia pun melucuti pakaiannya sendiri. Tanpa ampun ia langsung mendekap istrinya untuk melampiaskan hasrat yang selama ini ia tahan.
"Jangan Bang.. sakiiiitt" pekik Anye saat Bang Rinto begitu kasar padanya. Ia pun merasa sangat kesakitan.
"Bohong.. Kamu hanya mau menolak Abang" bentak Bang Rinto tidak percaya.
"Ini hukuman supaya kamu tau kalau hanya Abang yang bisa memanjakanmu..!!!!"
...
Anye menangis sesenggukan meminta Bang Rinto menyudahi permainannya tapi Bang Rinto tidak mau mendengarkannya dan tidak peduli meskipun Anye sudah memohon.
__ADS_1
"Sudah Abang. Perut Anye sakit sekali" pintanya sudah tidak sanggup lagi meladeni keinginan Bang Rinto.
Meskipun sedang marah, Bang Rinto akhirnya mendengar juga rintihan sang istri, semarah marahnya Bang Rinto, ia tidak akan sungguh ingin membuat anak istrinya terluka.
Bang Rinto menghentak terakhir, menyelesaikan kejantanannya hingga tuntas. Selama berbulan-bulan tidak mendekap istrinya sudah cukup membuat otot tubuhnya tegang. Kini setelah pelepasan.. pikiran dan badannya sudah terasa rileks. Ia melepaskan dekapannya dari Anye, menahan kantuknya dan duduk bersandar di tepi ranjang. Bang Rinto sedikit menarik selimut dan menyulut rokoknya di dalam kamar. Tak peduli keadaan Anye.
Bang Rinto hanya melirik Anye yang saat itu berbaring membelakanginya dengan posisi meringkuk. Ia sama sekali tidak tau apa yang terjadi pada Anye. Yang Bang Rinto tau, Anye baik-baik saja disana.
Asap memenuhi ruangan. Wajah Bang Rinto sudah tak ubahnya seperti pria terb*****k di dunia. Melihat punggung Anye yang mulus membuat libidonya bangkit lagi dan mulai tak tahan lagi, Bang Rinto meminta hak nya sekali lagi pada sang istri.
"Abang mau apa? Anye capek Bang"
Bang Rinto tidak menjawab, dengan garangnya ia memulai lagi.
***
"Itulah yang sebenarnya Rin. Kamu jangan kasar dengan Anye. Anye sudah seperti putri saya sendiri. Semalam Anye belanja sendirian, istrimu terlihat tidak sehat. Jadi saya mencoba membantu karena saya juga sedang berbelanja" ucap Om Candra berusaha keras melunakan hati Bang Rinto yang terbakar emosi dan cemburu walaupun sempat ada baku hantam di antara mereka.
"Sungguh saya bukan musuhmu. Perasaan saya ke Anye hanya seperti ayah dan anak" Om Candra berusaha mendekat dan menyentuh bahu Bang Rinto.
Hati Bang Rinto sedikit melunak, ia mengusap wajahnya memikirkan Anye. Semalam ia benar-benar buas menyelesaikan istrinya. Sungguh tidak ada kelembutan dan kasih sayang untuk istrinya. Semua hanya nafsu tak terkendali. Bang Rinto duduk dan mulai mengingat ucapan dokter Wira untuk tidak boleh dulu menyentuh istrinya. Ada rasa sesal dalam dada. Kini Bang Rinto merutuki kebodohannya yang di butakan amarah.
"Ijin.. Danyon meminta Danki ke ruangan sekarang juga..!!!"
...
Danyon memanggil Bang Rinto ke ruangan. Bang Rinto kaget saat ada Sheila disana. Terlebih Anye sudah duduk di ruang Danyon.
"Duduk..!!!!!" perintah Danyon saat Rinto memasuki ruangan.
Bang Rinto mengambil duduk di samping istrinya dan melihat banyaknya foto berserakan di atas meja. Foto panasnya bersama Sheila.
"Jelaskan apa maksud semua itu. Seorang perwira merusak wanita, mencoreng nama Batalyon..!!!!!!" bentak Danyon.
"Katakan dengan jelas. Itu kamu atau bukan??"
Rinto melirik Anye yang wajahnya sudah penuh dengan kesedihan. Hati Rinto ikut tertusuk nyeri.
"Karena Ibu Danki adalah putri Pak Rama. Biarkan kasus ini Pak Rama sendiri yang menyelesaikan" kata Danyon dengan pasrah karena pada akhirnya kasus ini akan naik ke meja Komandan Markas juga.
__ADS_1
"Tunggu.. Kasus ini selesai sampai disini saja. Saya percaya suami saya tidak ada hubungan dengan ibu Sheila" Anye mencegah kasus ini naik ke tingkat yang lebih tinggi. Anye memercing menahan rasa sakitnya. Wajahnya sudah teramat pucat.
"Kenapa dek? Sakit sekali ya? Kita ke rumah sakit ya sayang..??" tanya Bang Rinto dengan lembut. Entah sirna kemana kegarangannya.
Melihat Anye dan Rinto tidak terpengaruh, Sheila membuat keributan, Ia berteriak dan marah memancing reaksi para anggota termasuk Rama yang mendengar desas desus itu sejak pagi.
...
"Jelaskan apa maksudnya Rin..!!!!!!"
"Ijin Komandan. Memang benar ini adalah foto saya bersama Sheila" kata Rinto dengan jantan mengakui yang ada di foto memang benar adalah dirinya bersama Sheila di hadapan ayah mertuanya.
"Saya memang bersamanya selama beberapa malam ini. Bukankah istri Mas Rinto tau, saya bermesraan dengan suaminya di mall" tanya Sheila sengaja merusak suasana hati Anye.
Anye tersenyum ringan disana.
"Kamu hanya dapat bibirnya sudah bangga. Kamu tidak tau kalau aku sudah dapat segalanya? Aku tertimpa daun jatuh saja, daunnya yang disalahkan Abang. Apa kamu tau, aku dapat bayiku ini karena Abang yang sangat menginginkanku. Kamu nggak perlu banyak bicara. Abang tidak mengorek makanan bekas seperti mu. Yang Abang mau hanya wanita high class dan bisa memuaskannya sepertiku" jawab Anye dengan sombongnya.
Sheila begitu marah dan akan menyerang Anye tapi Bang Rinto menghalanginya. Ia sungguh melindungi Anye dari kemarahan Sheila yang jelas kalah dari sikap Anye.
"Kamu memanfaatkan situasi dan menggunakan foto lama kita???? Itu masa lalu terburuk dan terbodohku Sheila" Bang Rinto geram sampai mengarahkan jarinya untuk mencengkeram kuat lengan Sheila.
"Keluarkan isi memorinya..!!!!!!!!!!" perintah Bang Rinto.
Karena sudah sangat ketakutan melihat kemarahan Bang Rinto, Sheila segera membongkar ponselnya dan menyerahkan memori card pada Bang Rinto.
"Katakan pada Komandan saya, apa saya dulu pernah bertindak lebih dari itu???" bentak Bang Rinto.
Sheila melepas paksa tangan Bang Rinto lalu ia mengambil tasnya dan kabur tanpa permisi.
"Wanita j****g..!!!!!!" umpat Rinto menyimpan amarah meledak di dalam dada.
Anye bersandar tak kuat lagi merasakan tubuhnya, perutnya seakan lepas merosot kebawah karena terlalu sakit.
Ayah Rama menarik kerah seragam menantunya. "Rinto.. kekacauan apa yang sudah kamu buat???? Kenapa Sheila lari???"
.
.
__ADS_1
.