Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 99. Menanti sebuah harapan.


__ADS_3

Yang tidak kuat silakan skip..!! Terima kasih 🙏🙏


🌹🌹🌹


Bang Zaldi duduk merosot, tenaganya terkuras habis. Arnes membuka pintu barak A. Langkahnya tertatih melihat keadaan Bang Zaldi.


"Kenapa kamu bawa Arnes kesini dek??" tegur Bang Bayu karena suami Mey sudah menceritakan seluruhnya pada istrinya itu.


"Jangan suka membohongi wanita atau pun menyimpan segala masalah itu sendirian. Tanpa sadar pria itu akan lebih menyakitinya juga" ucap Mey.


"Sekarang Abang lihat, Bang Zaldi kuat nggak menghadapi masalah ini sendirian?? Nggak khan?"


"Tapi memberi tau Arnes sekarang juga termasuk gegabah dek. Kamu sadar khan kondisi perutnya? Arnes hamil.. tekanan dalam dirinya akan terasa semakin berat"


"Apapun itu harus di tanggung bersama Bang. Kenapa setiap pria begitu egois" pekik Mey sampai perutnya terasa kram"


"Kami memang terkesan egois, tapi kami memikirkan banyak hal. Abang pun akan berpikir hal yang sama jika ini menimpa Abang. Setiap keputusan pasti akan menimbulkan resiko dek..!!" ucap keras Bang Bayu.


Arnes menidurkan Bang Zaldi di pahanya. Suaminya itu terus meracau tidak jelas.


"Mana yang sakit Bang? Disini??" Arnes mengusap dada Bang Zaldi. Denyut jantungnya tak beraturan.


"Arnes?? Kamu kesini?? Kamu nggak marah lagi sama Abang?? Apa Abang menyakitimu?" tanyanya dengan suara lemah.


Arnes menangis memandangi wajah Bang Zaldi. Memang selama ini sang suami tidak pernah sekasar apa yang tadi di lakukan.


"Abang menyakitimu???" tanyanya sekali lagi.


Melihat Arnes masih belum juga menjawab, Bang Zaldi mulai menyadari ada hal yang tidak beres tadi.


"Bilang sayang, apa yang Abang lakukan??"


"Nggak ada Bang" jawab Arnes.


"Kenapa kamu tidak jujur kalau Bang Zaldi sudah menggaulimu dengan kasar dan anakmu itu jadi taruhannya" pekik Mey tidak terima. Bagaimanapun juga Arnes adalah keponakannya.


"Dek, bukan begitu caranya..!!!!!" Bang Bayu menarik tangan Mey lalu membawanya keluar barak.


Sekuatnya Bang Zaldi duduk, ia ingin mendengar sendiri dari mulut Arnes.


"Apa benar Abang sudah kasar sama kamu?"


Arnes mengangguk pelan. Air matanya pun tumpah.


Bang Zaldi begitu syok, ia meraup wajahnya dengan penuh sesal karena sudah menyakiti calon anak dan istrinya. Ia tak tau lagi bagaimana harus bersikap di hadapan Arnes.


"Maaf.. maaf.. maaf..!!!" Bang Zaldi menunduk meraih kedua tangan Arnes lalu menciumnya.


"Sumpah demi Allah Abang nggak sengaja. Abang nggak sadar dek. Bagaimana anak kita? Mana yang sakit?? Ayo kita ke rumah sakit..!!!"


Arnes begitu sedih melihat Bang Zaldi. Ia sungguh tak menyangka sang suami bisa mengalami hal seberat ini dalam menjalankan tugasnya.

__ADS_1


"Abang sudah.. jangan seperti ini. Arnes sedih sekali lihatnya. Asal Abang masih bisa ingat kalau Abang masih punya Arnes dan anak-anak. Itu sudah cukup buat Arnes Bang" jawab Arnes.


Bang Zaldi menarik Arnes ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap disana sini berusaha meringankan beban yang sudah ia perbuat terhadap Arnes.


//


Mata Bang Zaldi terus memperhatikan langkah Arnes yang kembali pulang ke rumah, ia memutuskan untuk mengalah dan tidak ikut pulang ke rumah karena takut sakau nya tiba-tiba kambuh dan akan menyakiti anak istrinya lagi.


Arnes pun sebenarnya mengerti tentang permintaan Bang Zaldi yang berusaha menjaganya. Kakinya terasa berat, tapi ia terus melangkah pelan.


Satu langkah, dua langkah, tiga langkah.. Arnes berbalik badan dan berlari menubruk Bang Zaldi.


"Jangan minta Arnes untuk pulang, kita hadapi bersama ya Bang" ucapnya dalam tangis sesenggukan.


"Nggak dek..! Abang ini sudah pecandu. Tanpa sadar bisa saja menyakitimu. Saat Abang tidak sadar seperti tadi, Abang bisa memperlakukanmu dengan sangat buruk. Kasihan anak kita dek, kasihan kamu juga kalau harus menerima sikap buruk Abang"


Arnes merosot dan bersimpuh di kedua kaki Bang Zaldi.


"Biarkan Arnes berbakti sama Abang, seberat apapun itu.. Arnes ingin bersama Abang"


...


Malam itu satu kamar di barak A di gunakan untuk masa karantina DanSat. Tega tidak tega mereka bahu membahu membantu komandan mereka dari ketergantungan obat terlarang.


"Jangan di ikat Bang..!!" pinta Arnes pada Bang Bima.


"Kalau nggak di ikat, Abang bisa ngamuk dan menyakitimu" kata Bang Bima.


"Perlakukan Abang seperti manusia. Suami Arnes bukan hewan..!!!" pekik Arnes.


"Siap Bang..!!"


...


Bang Zaldi sudah tenang dalam tidurnya. Arnes pun mendengar cerita dan kronologis penyebab Bang Zaldi seperti ini.


"Bang Zaldi hanya berdua saja dengan Jessi di dalam kamar?" tanya Arnes sewajarnya kecemburuan seorang istri.


"Iya, tapi saya pastikan tidak yerjadi apapun didalam kamar. Kami hanya mengorek informasi"


"Arnes ngerti Bang" ucapnya menguatkan hati sambil menghapus air matanya. Ia paham sedikit banyak Bang Zaldi pasti 'mendekati' perempuan lain.


"Percayalah Nes. Kami juga perang batin, yang harus kamu yakini.. kami tidak akan menyentuh wanita lain selain istri kami" jawab Bang Bayu.


//


Bang Bayu akhirnya mengajari Arnes bagaimana caranya menakar obat dan mengurangi dosis.


"Zaldi pasti akan tetap mengamuk karena badannya sakit, pikirannya tidak sepenuhnya sadar. Kamu janji tidak akan mengambil hati semua sikap dan ucapan suamimu?" tanya Bang Bayu memastikan.


"Iya Bang. Arnes janji"

__ADS_1


***


Para anggota sedang merawat senjata dan akan latihan menambak. Sekitar pukul sembilan pagi, Bang Zaldi mulai merasakan sakit pada tubuhnya. Menggigil, ngilu dan bagai di hantam keras. Ia pun memilih menghindar, tangan kekar itu sudah mengambil ponsel untuk menghubungi Arnes dan meminta obatnya tapi rasa kuat untuk sembuh membuatnya mengurungkan niat.


Aku harus kuat, harus bisa melewati ini semua. Kalau aku terus meminta obat itu, lama-lama aku bisa mati ketergantungan. Istri dan anakku membutuhkanku. Mereka sudah menyandarkan hidup padaku. Aku tidak mau mengecewakan mereka lebih dalam lagi.


...


Arnes membawakan risoles dan martabak tahu untuk bang Zaldi tapi suaminya itu sedang tidak ada di tempat. Arnes menghubungi Bang Bima untuk membantunya mencari Bang Zaldi.


Kaki Arnes sudah begitu lelah mencari keberadaan Bang Zaldi, tapi saat bersandar.. ia mengingat ada satu ruangan yang tidak pernah di buka jika tidak ada kepentingan dan hanya Bang Zaldi saja yang membawanya. Gudang amunisi.


Arnes pun menguatkan diri berjalan menuju tempat itu. Perlahan ia membuka pintunya. Sungguh pilu saat itu melihat sang suami menggelepar di lantai beristigfar merasakan sakit yang pastinya begitu luar biasa.


"Aaarrghh.. Astagfirullah hal adzim.." Bang Zaldi menahan diri sambil memegang pisau tajam di tangannya.


"Abaang..!!"


Bang Zaldi menatap nanar pada istrinya.


"Pergi kamu, jangan ada disini" antara sadar dan tidak, Bang Zaldi melukai pergelangan tangannya. Darah segar mengalir pelan. Seketika Bang Zaldi ingin menghisapnya.


"Jangan Abang.." Arnes berlari dan menarik tangan Bang Zaldi.


"Abang nggak kuat dek. Abang sudah nggak meminta obat itu darimu, kenapa kamu masih larang Abang juga???" ucapnya kecewa.


"Minggir kamu..!!" Bang Zaldi menyingkirkan Arnes sampai istrinya terpental.


"Ambil darah Arnes kalau Abang mau..!!" ucapnya tak paham apa yang sedang di lakukan Bang Zaldi.


"Saya bilang pergi.. wanita tidak berguna..!!" Bang Zaldi menendang Arnes hingga kepalanya terbentur sisi meja dan berdarah. Arnes yang malang tak menyerah, ia memeluk Bang Zaldi yang saat ini benar-benar marah dan hilang kesadaran. Arnes merangkak memeluk Bang Zaldi.


"Arnes nggak akan pernah pergi meninggalkan Abang dalam keadaan apapun. Cepat sadar Bang, ada si kecil kita di sini" Arnes menyentuhkan tangan Bang Zaldi di perutnya.


"Ini anakmu Bang" ucapnya mendekap erat tubuh Bang Zaldi yang berguncang hebat.


"Jangan bicara lagi atau aku akan membunuhmu..!!"


"Ambilah nyawaku Bang, jika memang dengan begitu bisa membuatmu sembuh" ucapnya begitu ikhlas.


"Saya bilang diam....!!!!!" bentak Bang Zaldi. Ia melepas ikat pinggangnya, lalu mengayunkan hingga mendarat di tubuh Arnes berkali-kali. Belum cukup dengan itu Bang Zaldi masih mencekiknya juga.


Suara itu terdengar jelas di telinga Bang Bima dan Bang Bayu yang baru saja datang untuk mengontrol keadaan Bang Zaldi. Mereka segera berlari ke arah gudang amunisi.


"Ya Tuhan.. Arneeeeesss" seketika itu juga Bang Bima menendang Bang Zaldi dengan kuat lalu mengambil pistol dari sakunya lalu menarik pelatuk.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2