
Nara menulis bagaikan susu dan nila setitik bagai komentar tanpa arah bisa merusak karya apalagi karya on going. Netizen yang baik, tolong bisa membedakan kritik yang membangun dan menjatuhkan 🙏🙏🙏.
🌹🌹🌹
Terpaksa Brian tidak bisa membantu mengangkat semua barang karena harus memapah Rinto yang ambruk seperti orang habis kena keroyok.
Baru beberapa meter berjalan. Rinto sudah kembali muntah dan mungkin kini isi lambungnya sudah habis bersih. Tidak ada satupun makanan apapun yang bisa masuk ke perutnya saat ini.
"Rinto kenapa Bri???" tanya Bang Satriyo yang ikut disana karena menjemput para pejabat.
"Mabuk Bang. Istrinya hamil" jawab Brian.
"Bagaimana kondisi Kapten Rinto??" suara panglima membuat Brian terkejut. Ia memberi penghormatan pada panglima sampai lupa kalau ia sedang memapah Rinto.
"Selamat siang Panglima..!!!!!" sapa Brian tegas.
Rinto terlepas begitu saja hingga terperosok dengan sempurna ke semak-semak di jalanan samping bandara.
"Rinto..!!!!"
"Kapten..!!!!"
Para anggota terpekik melihat Bang Rinto terjungkal. Panglima tak kalah kaget sampai ikut menolong Kapten Rinto.
-_-_-_-_-
Anye mengusap punggung Bang Rinto dan kini ia sungguh merasa kasihan melihat suaminya begitu tersiksa. Tapi mau bagaimana lagi.. tidak ada obat yang pasti untuk suami yang ketularan mabuk.
"Makan ya Bang?" bujuk Anye.
Bang Rinto menolak dan hanya menggeleng. Untuk bersuara pun rasanya seakan menjadi pekerjaan yang berat.
"Abang mau makan apa? Biar Anye belikan" kata Anye.
"Nggak ada dek. Abang cuma mau tidur" selang infus menancap di punggung tangan Bang Rinto.
Wajah Bang Rinto masih pucat. Sesekali suami Anye itu hanya memercing merasakan mual, sakit di punggung panas di bagian rongga dada. Kepalanya terasa berat berputar-putar.
Anye mengusap tangan dan pipi Bang Rinto yang tergores saat terperosok ambruk di semak tadi.
"Rasanya nggak enak ya Bang?"
"Nggak apa-apa. Ini sih kecil. Yang penting kamu bisa makan, tidur nyenyak.. mau Abang jungkir balik juga nggak apa-apa dek" jawab Bang Rinto.
"Berdoa saja supaya anak Abang jadi anak yang sholeh. Tau bagaimana perjuangan mamanya selama mengandungnya"
"Aamiin.."
Bang Rinto kembali meremas perutnya, sepertinya sudah mau mual lagi.
Bang Brian masuk ke kamar rawat lalu menghampiri Bang Rinto membawa kantong plastik kecil.
"Aku coba cari keladi tapi belum dapat. Kamu coba ubi mentah ini. Siapa tau bisa mengurangi mualmu"
"Kau kira aku tikus sawah???" jawab Rinto ketus.
"Eehh.. untung gue sayang ya. Kalau nggak.. sudah ku kasih racun rumput nih. Tinggal makan aja rewel banget" gerutu Bang Brian.
"Mana bawa sini..!!"
Bang Rinto pun segera memakan ubi mentah itu dan ajaibnya rasa mualnya perlahan berkurang.
"Naahh.. berkurang khan? Makanya jangan banyak suudzon sama orang. Itu otak sudah berkerak kebanyakan mikir sales rokok" cerocos Bang Brian.
__ADS_1
Tak hanya wajah Bang Rinto yang berubah panik, tapi wajah Anye juga nampak kesal lagi.
"Waahh sumpah elu bikin perkara aja Bri" Bang Rinto panik saat Anye meliriknya.
"Selama di pendidikan elu beli rokok khan?" tanya Bang Brian memperkeruh suasana.
"Abaaang.." Anye kesal sampai mencubit pinggang Bang Rinto.
"Abang beli rokok di kantin dek. Mana ada sales rokok" jawab Bang Rinto panik.
"Pulang lu, dasar racun. Tanggung jawab kalau nanti ada berita di Batalyon.. Kapten Rinto di bantai istrinya karena hasutan tetangga" Bang Rinto meradang karena ulah Brian.
"Ya sudah, aku pulang. Mau manja-manja sama Ariani" ucap Bang Brian semakin memanasi karena tau Bang Rinto harus berpuasa dalam waktu yang cukup lama.
"Pengen tau rasanya ubun-ubun di sedot???????" hardik Bang Rinto.
Bang Brian langsung keluar kamar setelah puas mengganggu Bang Rinto.
"Abang nggak macam-macam dek.. sumpah..!!" kata Bang Rinto meyakinkan karena ia sangat cemas kalau Anye marah. Selama hamil Anye memang lebih pemarah dan sensitif. Hal kecil pun bisa jadi panjang urusannya kalau bersama Anye.
"Abang harus bagaimana biar kamu percaya, minimal nggak marah sama Abang"
"Kalau Abang sembuh, Abang masak seafood buat Anye..!!!!!" kata Anye tak ingin penawaran lagi.
"Hanya itu dek??" tanya Bang Rinto.
"Itu aja belum tentu Abang bisa" ucap Anye terdengar seperti ejekan.
"Jangan meremehkan. Kamu bisa tambah nasi bolak balik kalau Abang yang masak"
Anye diam enggan menanggapi suaminya. Bang Rinto hanya bisa menghela nafas panjang berbesar hati demi istri dan anak yang masih ada dalam kandungan.
***
...
Memakai celana kolor dan kaos lorengnya, Bang Rinto menguleg semua bahan di dalam cobek. Telinganya ia buntu menggunakan headset, badannya bergoyang mengikuti irama lagu koplo kesukaannya.. sesekali ia menghisap rokok di jari kirinya.
"Demi bojo.. opo wae di lakoni" gumamnya dengan mantap.
"Semangaatt..!!!!!!!"
"Apa Bang?" Suara Anye dari kamar.
"Nggak dek, tidur lagi aja. Abang masih masak" jawab Bang Rinto.
#
"Kok sambal teri Bang????" tanya Anye tidak puas melihat hasil masakan Bang Rinto.
"Kamu minta seafood khan sayang?"
"Iya.."
"Teri asalnya dari mana?" tanya Bang Rinto.
"Laut"
"Makanan laut apa namanya??"
"Seafood" jawab Anye.
"Ya itu.. teri khan termasuk seafood" kata Bang Rinto.
__ADS_1
"Aaaahh.. Abaaaanngg..!!!!!" Anye kesal sekali mendengar Bang Rinto yang seolah mengerjainya.
"Coba dulu. Kamu pasti ketagihan..!!" Bang Rinto mengambilkan Anye sepiring nasi agar istrinya itu bisa segera mencoba masakan buatannya.
Meskipun masih cemberut, Anye tetap melahap makanan yang sudah di masak Bang Rinto dan ternyata... masakan Bang Rinto benar-benar enak meskipun hanya sambal teri saja tapi rasanya sungguh luar biasa.
"Rintooo.. main yuk..!!"
Terdengar suara panggilan dari teras depan rumah.
Bang Rinto membuang kain serbet dengan kasar, kesal sekali rasanya harus bertatap muka dengan Bang Satriyo yang usil.
"Siap Bang.. ijin arahan..!!" jawab Bang Rinto sambil keluar menuju teras depan.
...
"Bang.. Masih ada Komandan kompi bantuan dan kompi markas yang jarang berangkat dinas. Tolong Bang.. saya nggak bisa tinggalkan Anye" kata Bang Rinto memohon.
"Tapi ini tugas Rin. Masa kamu mau tolak kewajibanmu??" tanya Bang Satriyo.
"Bang.. apa selama ini saya pernah menolak di tugaskan?? Daerah konflik pun saya tangani. Saya hanya minta satu pengertian.. Dibalik seragam saya ini. Saya seorang suami dan seorang ayah. Hidup saya di hantui rasa bersalah karena saya kurang bertanggung jawab pada keluarga saya sendiri" jawab Bang Rinto serius.
"Baiklah Rin. Pada kenyataannya kamu memang terlalu banyak berangkat dinas luar. Saya akan cancel namamu dan Brian..!!" kata Bang Satriyo.
"Siap Abang. Terima kasih banyak"
-_-_-_-_-
"Oohh.. bapak yang masak ya Bu?" tanya bi Dijah pada Anye.
"Iya bi"
"Pak Rinto sayang sekali ya sama ibu. Saya suka lihatnya Bu. Andai saja anak perempuan saya dapat laki-laki seperti pak Rinto, hati saya pasti akan tenang Bu" kata Bi Dijah.
"Memang anak bibi ada dimana?" tanya Anye.
"Kerja di kota ini juga. Makanya saya ikut keluar Jawa saat pak Rama menawari pekerjaan karena saya ingin mencari anak saya mawar" jawab Bi Dijah.
Seketika dada Anye terasa sangat sakit dan sesak. Tepat saat itu Bang Rinto datang.
"Ada apa ini bi??" tanya Bang Rinto sedikit keras. Bang Rinto menyangga punggung Anye dan mendekapnya.
"Saya nggak tau pak. Saya hanya bilang.. saya ke kota ini juga untuk mencari anak saya Mawar" jawab Bi Dijah.
"Astagfirullah.." Bang Rinto tak kalah kagetnya dan membantu Anye untuk duduk.
"Bapak kenal?? Dia kerja di perusahaan besar sebagai sekertaris" kata bi Dijah dengan bangga.
"Kami tau, tapi saya pribadi menolak mengenalnya" ucap Bang Rinto jujur di hadapan Anye.
"Semua tentang mawar. Istri saya yang menangani"
"Apa boleh mawar tinggal disini pak??" tanya bi Dijah penuh harap.
"Tidak boleh. Kalau bibi dan Mawar memaksa.. saya akan pulangkan Bi Dijah dan Mawar. Tidak ada yang boleh tinggal disini tanpa ijin saya ataupun tau rumah saya ini..!!!" kata Bang Rinto tak ingin memberi celah.
Bibi menunduk tak paham mengapa Mawar tak boleh tinggal di rumah Pak Rinto, padahal Mawar adalah gadis yang lembut, baik hati, pekerja keras dan tidak pernah macam-macam, dengan laki-laki pun tidak berani.
.
.
.
__ADS_1