
"Aku boleh naik kuda juga nggak Bang?" tanya Puri pada Bang Bima.
"Jangan kisruh kamu ya. Abang nggak bisa tunggangi kuda. Masa Bang Zaldi juga yang harus menjagamu" ucap kesal Bang Bima.
Puri diam saja dan menunduk tak ingin melawan perkataan Bang Bima. Ia menyadari tidak baik mengganggu rumah tangga adik iparnya dalam bentuk sekecil apapun.
"Minta yang lain bisa nggak? Kalau seperti Bang Zaldi.. Abang nggak bisa dan Abang nggak mungkin minta Bang Zaldi untuk menjagamu juga" kata Bang Bima.
Puri mengangguk tanda mengerti. Bang Bima mulai menyadari ucapannya yang sedikit keras. Ia tidak ingin segala ucapannya akan berakibat fatal seperti kepergian Livi. Ingatan buruk itu selalu menghantui apalagi melihat perut Puri yang kian membesar.
"Abang nggak mau ambil resiko. Kita peluk Miranda aja ya terus Abang ajak naik motor keliling sekitar sini..!! Belum pernah khan lihat sekitar sini"
Senyum Puri langsung terkembang. Bang Bima menggandeng tangan Puri, sejak ada Puri.. tak sedikitpun Bima berlaku tidak peduli pada istrinya.
//
Bang Zaldi merapikan pakaian Arnes saat mendengar suara dering telepon. Dirinya sungguh melupakan dimana dirinya berpijak saat sudah bersama Arnes. Bang Zaldi pun menjawab panggilan telepon itu.
"Hallo.. " sapa Bang Zaldi
"Ini Oscar"
"Siap.. Mohon maaf Komandan.. Ijin arahan"
//
"Tidak perlu di pecat, saya akan mengundurkan diri" kata Bang Zaldi.
"Zaldii.. Ini perintah. Kamu tidak bisa mencampur aduk urusan rumah tangga dengan pekerjaanmu. Mana janji sumpahmu pada Bangsa dan Negara??" tegur Komandan Markas.
"Sumpah di atas kertas kadang tidak selaras dengan pikiran saat menghadapi kenyataan. Saya tidak ingin meninggalkan istri saya dalam kondisi apapun saat ini" ucap Bang Zaldi tegas.
"Mohon maaf pak. Bisa saya bicara dengan suami saya sebentar?" kata Arnes yang sedari tadi menguping di luar ruangan.
Komandan mengijinkan karena beliau sudah tau jika DanSat hanya bisa luluh dengan satu orang saja, yaitu istrinya.
"Silakan Bu Zaldi" komandan pun mohon ijin keluar.
:
"Nggak.. kamu jangan coba membujuk Abang"
Arnes duduk di paha Bang Zaldi kemudian memeluk suaminya. Mata Bang Zaldi terpejam, ia menolak untuk berpikir dan merasakan kemungkinan pahit yang mungkin saja terjadi jika dirinya pergi meninggalkan Arnes.
"Tolong dek, Abang nggak mau dengar apapun yang menyangkut pekerjaan. Abang lelah sekali"
Arnes membelai wajah Bang Zaldi dengan lembut. Perlu banyak cara untuk menaklukan hati sang aligator.
"Bang, pegang deh perut Arnes. Laki apa perempuan ya?" tanya Arnes mengalihkan perhatian Bang Zaldi.
"Sama saja" jawab Bang Zaldi malas.
Arnes memasang wajahnya yang paling sedih.
"Abang nggak suka lagi ya sama hamilnya Arnes?" tanyanya dengan sengaja.
"Ya suka lah, mana mungkin Abang nggak suka. Sebelum kamu minta, Abang sudah sangat berharap dan selalu Abang sebut dalam doa"
Arnes menahan rasa harunya.
"Anak Abang ini sangat bangga sama papanya. Prajurit gagah dan luar biasa. Kenapa Abang mematahkan semangat anak-anak?"
__ADS_1
"Abang hanya tidak tega kalau kamu harus sendirian selama Abang tinggal. Kandunganmu ini masih sangat rawan. Abang nggak bisa percaya orang lain untuk jaga kamu dek"
"Abang khan pergi hanya satu minggu" kata Arnes.
"Apa kamu tau apa yang akan terjadi satu menit kedepan. Nggak usah sok jadi mami loreng kamu dek"
"Arnes nggak sendirian Bang. Ada bibi, ada Bu Samsudin, Bu Sanusi. Abang berangkatlah, selesaikan tanggung jawab Abang sebagai prajurit. Buat anak-anak Abang bangga" bujuk Arnes.
"Dengan taruhan nyawa anak dan istri Abang??"
"Percayakan semua sama Allah Bang. Arnes akan baik-baik saja selama Abang tinggal" jawab Arnes meyakinkan.
Bang Zaldi semakin posesif mengeratkan pelukannya.
"Kamu bisa janji??"
"Ya seperti janji Abang yang akan segera pulang karena istri dan anak Abang menunggu"
Wajah Bang Zaldi tampak pias, ia membolak-balik pikiran agar tidak salah langkah.
-_-_-_-_-_-
Malam hari pun tiba. Bang Zaldi memutuskan untuk berangkat dinas luar. Tidak akan lama karena posisinya saat ini adalah sebagai komandan utama di kompinya, tapi dengan satu syarat...
:
"Saya benar-benar menitipkan Arnes sama kamu Bim. Istrimu sedang hamil, Arnes juga sedang hamil. Saya tidak meminta kamu mendampingi saya dengan pertimbangan kamu adalah Abang kandung Arnes, akan lebih mudah baginya meminta tolong padamu. Jangan sekali-kali kamu membuatnya menangis lagi dan kalau sampai itu terjadi, kamu akan berhadapan dengan saya. Pandai-pandailah kamu memberi perhatian pada bumil" pinta Bang Zaldi sembari anak buahnya memasang 'tatto' di lengan dan dada Bang Zaldi.
"Siap Bang, saya paham..!!"
Bang Zaldi melihat gambar wajah Arnes dalam pantulan cermin.
"Kami janji akan membantu Komandan menjaga ibu. Kami juga tidak ingin ada apa-apa dengan ibu"
"Terima kasih ya atas bantuannya"
"Sama-sama Dan" anggota tersebut menipiskan rambut kanan dan kiri Bang Zaldi lalu menyisakan rambut bagian atasnya.
Mata Bang Zaldi melirik pakaian yang akan di pakainya nanti. Dirinya teringat akan masa lalunya.
"Jadi ingat jaman saya saat masih menjadi beban keluarga dan negara" ucapnya.
"Ngomong-ngomong teman Arnes dulu begini juga bentuknya. Dia takut nggak ya?" gumam Bang Zaldi.
...
"Astagfirullah hal adzim... bapaak..!!!!"
"Hussstt.. pelan bi..!! Nanti Arnes kaget"
"Bi.. Abang kenapa Bi???" Arnes berjalan cepat menghampiri bibi di ruang tamu.
Arnes terus menatap Bang Zaldi dengan penampilan yang berubah total. Hampir ia tidak mengenali suaminya sendiri. Rambut Bang Zaldi berwarna pirang dan berdiri kontras dengan kulitnya yang tidak terlalu terang. Tindik di hidung dan telinga juga menambah kesan angker. Bibir berwarna gelap dan gelang hitam di tangan melengkapi aksesoris tubuhnya.
"Ibuuu.." Bibi menyapa Arnes yang hanya diam membisu.
Bang Zaldi mendekat tapi Arnes melangkah mundur menyesuaikan langkah Bang Zaldi.
"Kamu takut sama Abang?" tanya Bang Zaldi cemas melihat keadaan Arnes yang tiba-tiba berubah total.
"Mama pernah cerita kalau Papa pernah nyamar jadi begal dan itu menakutkan, tapi menurut Mama.. Papa masih terlihat gagah. Tapi Abang kok begini ya" Arnes terduduk dengan keras di lantai memandangi Bang Zaldi yang sudah berubah menjadi anak p**k.
__ADS_1
"Eeeehh.. hati-hati dek..!!" Bang Zaldi melangkah cepat dan menangkap Arnes agar istrinya tidak terjatuh.
"Jangan pegang Arnes Bang. Arnes takuut. Kenapa Abang nggak gagah" ucapnya lirih.
"Nggak gagah piye to dek. Lah Abang dapat job nya begini. Kalau pedagang sih masih lumayan"
"Abang mau kerja apa? Kenapa gayanya begitu?? Balikin gaya Abang yang kemarin" rengek Arnes sampai menangis.
"Ya Allah dek, kalau tau reaksimu begini mending Abang nyamar jadi orang gila aja" jawab Bang Zaldi penuh rasa bersalah.
Bang Zaldi melihat jam tangannya sudah menunjukan kalau dirinya harus segera berangkat.
"Abang harus segera berangkat dek". ia mengarahkan agar Arnes duduk di sofa. Di temuinya kedua putra kebangganya.
Satu persatu dengan lembut Bang Zaldi menciumi kedua putranya.
"Papa kerja sebentar. Nurut ya sama mama"
Bang Zaldi segera keluar dari kamar lalu menemui Arnes.
"Abang benar-benar titip anak-anak" ucapnya penuh permohonan.
Bang Zaldi akhirnya keluar rumah tanpa pamit, hanya tangannya saja sedikit mengusap pipi Arnes lalu perutnya yang masih belum terlihat karena ia tidak ingin melihat wajah sedih sang istri. Arnes pun hanya bisa ternganga menatap punggung Bang Zaldi yang menjauh darinya.
Sebegitu beratkah jauh dari Arnes Bang?.
...
"Kemana aja sih Zal???" gerutu littingnya dalam satu tugas penyamaran.
"Sabar lah Bay, bini gue lagi hamil. Ada saja lah yang buat aku cemas."
"Lu kira bini gue nggak hamil. Makanya cepat selesaikan, lima hari selesai.. kita balik kanan" ucapnya sambil mengangkut sampah plastik sebagai bahan penyamarannya.
"Tampil begini seharian. Markas nggak ada kostum yang lain apa ya??" gerutu Bang Zaldi.
"Tenang Bang dua hari lagi khan gaya kita bagai lelaki hidung belang" kata Om Adi.
Wajah Bang Zaldi dan Bayu seketika berubah nakal.
"Mumpung bini nggak tau Zal" goda Bang Bayu mengajak berbuat nakal.
Kelompok mereka terkikik geli sebelum melaksanakan tugas sebelum hari menjelang subuh.
Bang Zaldi tiba-tiba terdiam dan merogoh sakunya mencari permen yang biasa ia makan saat mulai merasa mabuk.
Ini kenapa tiba-tiba kliyengan ya. Apa aku salah makan?
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1