Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
115. Pahit dan terpahit.


__ADS_3

"Kau mengajariku????? Sekeras apapun aku.. Aku menyayangi Anye sepenuh hatiku. Dia hidup matiku Bri.. Aku mempertahankan nyawaku hanya demi anak dan istriku Anyelir" ucap Bang Rinto tak kalah keras.


Mendengar suara khas Bang Rinto yang khas dan penuh wibawa itu membuat Anye tidak tahan lagi seketika Anye menangis pilu dan terisak sesak. Ia sungguh merasakan genggaman tangan yang begitu posesif, yang selalu ia rindukan selama ini.


"Nggak mungkin ini Bang Rinto. Kalian pasti bohong..!!" ucap Anye tidak percaya.


"Ini Abang dek. Abang sudah pulang..!!" Bang Rinto berusaha meyakinkan Anye.


Banyangan tentang hilangnya Bang Rinto langsung membuat mentalnya kembali down berada di kerapuhan jiwanya yang paling buruk. Seketika Anye pingsan di pelukan Bang Rinto.


...


Seno dan Bima sama-sama menangis kencang. Brian menggendong Seno sedangkan Rinto menggendong dan menyusui putra keduanya penuh kasih. Ini kali pertama ia menggendong putranya yang dulu masih ada dalam kandungan.


"Jangan nangis nak. Ini Papa. Papa sudah pulang..!!" bujuk Bang Rinto pada Bima yang terus memandang wajahnya.


"Semakin demam saja Bang..!!" Gathan cemas sekali melihat keadaan Anye.


"Kenapa dokter belum datang juga??" tanya Brian pada seorang ajudannya.


"Ijin Dan.. masih di jalan" jawab Pratu Jeri.


Rinto menyandarkan punggungnya di dinding sambil memperhatikan Anye yang belum sadar juga. Air matanya menetes tak sanggup merasakan pedihnya hati harus kehilangan wanita yang paling ia sayangi. Sakit teramat sakit merajai relung hati.


"Aku memintamu untuk menjaganya, bukan menikahinya Brian..!!!!" mata Bang Rinto sungguh berkilat marah. Sakit, sesak, hancur lebur meremukan batinnya. Teguran keras itu pun cukup menghantam batin Brian.


Tak lama Ayah Rama, Papa Rival datang bersama istri masing-masing dan dokter yang tadi sempat di hubungi Brian. Mereka membahas segala yang terbaik demi mencapai cara terbaik menyelesaikan masalah pelik ini.


Hati Brian terpukul sekali saat ini. Tapi Rinto pun tak kalah sakitnya menghadapi masalah ini. Papa Rival mencoba menenangkan putranya. Shila dan Dinda beralih menggendong Bima dan Seno untuk menidurkan kedua bocah kecil itu. Dokter segera menangani Anye.


#


"Keadaannya tidak baik" kata dokter.


Dalam perjalanan tadi Rama dan Rival sudah memberi penjelasan pada dokter agar tidak membahas lebih dahulu perihal kehamilan Anye sebab Rinto sedang sangat sensitif sekali. Aura pemburunya bisa saja muncul di saat yang tidak tepat jika tau Anye sedang mengandung anak Abrian. Jika memang harus terbongkar. Biar Abrian saja yang membongkar semuanya.

__ADS_1


"Aku akan bawa Anye pulang ke Jawa." Rinto bersiap mengangkat tubuh Anye.


"Kamu nggak bisa sembarang membawanya. Bagaimanapun juga yang orang lain tau, Anye adalah istriku" cegah Brian.


"Persetan dengan kau Brian..!!!" Rinto menepis tangan Brian dengan kasar.


"Bisakah kita perhatikan keadaan Anye dulu sebelum kita bersitegang???" Brian ingin mengajak Rinto berbicara tapi saat ini memang emosi Rinto sangat sulit untuk di kendalikan.


"Apalagi.. Aku hanya ingin mengambil istriku kembali" kata Rinto tanpa ingin mendengar apapun lagi.


"Aku tidak mengijinkan kamu membawanya dalam keadaan seperti ini..!!" ucap tegas Brian.


Baku hantam pun hampir terjadi jika Gathan dan Arben tidak melerai segala perdebatan itu.


-_-_-_-


Situasi semakin memanas di rumah Brian. Anye sudah sadar dan bersandar pada mamanya. Mama Shila memijat kaki Anye dan sesekali mengusap punggungnya dengan sayang.


Komandan sampai harus turun tangan dan mengundang ustadz ke rumah Brian untuk memberikan pencerahan rohani kepada kedua pria muda itu.


#


Rambut Brian dan Rinto masih basah. Pak ustadz tersenyum melihat kedua wajah pria itu tegang sama sekali tidak ada aura perdamaian.


"Saya sudah mendengar masalah pelik dari kalian. Tapi saya mau kalian menjabarkan duduk persoalan dengan jelas dari mulut kalian sendiri tentang kejadian ini. Di mulai dari Pak Brian..!!"


"Jujur saat Rinto menitipkan Anye pada saya, belum ada rasa sama sekali dalam hati saya. Hingga berita hilangnya Rinto membuat Anye depresi, jiwanya terguncang tidak sanggup menerima kabar hilangnya Rinto. Segala ingatan buruknya tentang rasa kehilangan sudah memperburuk keadaan mentalnya. Hati saya tersentuh dan tergerak karena saya juga baru mengalami rasanya kehilangan. Dari sana perlahan.. cinta saya tumbuh tanpa bisa di cegah hadirnya. Saya sungguh mencintai Anyelir, dan sejak saat itu Anye dekat dengan saya karena kesamaan perasaan.. Anye menjadi tergantung pada saya dan saya pun tak bisa jauh dari dia dan anaknya. Saya menikahi Anye tulus dari dalam hati" ucap Bang Brian.


"B*****t kau Bri.. Apa tidak bisa sabar sedikit saja menjaga istriku????" bentak Rinto.


"Pak Rinto.. bisa tenang dulu??" pak ustadz berusaha meredakan amarah Rinto.


"Pak Rinto, menitipkan ini akhirnya menjadi tanda kutip dalam hubungan rumah tangga kalian"


"Seharusnya Brian juga paham maksud pria beristri. Tidak mungkin saya 'menjual' istri saya padanya" jawab Rinto sudah terlanjur sakit hati.

__ADS_1


Rinto duduk mengusap dadanya masih tak sanggup membayangkan Anye sudah tersentuh oleh sahabatnya sendiri. Ingin rasanya ia mati bunuh diri karena tidak bisa menjaga Anye dengan baik.


"Lalu apa beban Bang Rinto?" tanya Pak ustadz.


"Kalau tau akan seperti ini jadinya.. saya tidak akan pernah berangkat dinas ataupun menitipkan Anye pada Brian. Saya sangat mencintai Anyelir melebihi nyawa saya sendiri. Saya terombang ambing di lautan luas. Mempertahankan nyawa saya, berharap saya tetap hidup dan bisa cepat kembali menemui anak dan istri saya. Saya tau mereka akan sedih jika saya sampai tidak kembali. Tapi apa yang saya dapat??? Istri saya sudah bersama yang lain. Saya bekerja untuk negara ini tapi saya masih sadar dan ingat kemana langkah saya harus kembali pulang. Anak istri saya bagai denyut nadi saya, mereka hilang.. hidup saya pun tak berarti a" Rinto begitu frustasi hingga bicarapun rasanya terasa sangat berat.


"Pak Rinto.. Pak Brian.. saya akan jelaskan hukum pernikahan yang kalian lakukan. Bagaimana kalau seorang perempuan yang suaminya mafqud akan menikah dengan laki-laki lain? Apakah ia harus bercerai lebih dahulu dengan suaminya yang mafqud itu ataukah ia dapat langsung saja menikah dengan laki-laki lain tanpa bercerai lebih dahulu dengan suaminya yang mafqud itu? Hal ini patut dipertanyakan oleh karena ada aturan bahwa salah satu syarat perkawinan.. jawabannya adalah bahwa calon pengantin harus bebas dari ikatan perkawinan dengan orang lain, bahwa dilarang kawin dengan wanita yang masih terikat satu perkawinan dengan pria lain, disatu pihak.. bahwa suatu perkawinan dapat dibatalkan apabila perempuan yang dikawini ternyata kemudian diketahui masih menjadi isteri pria lain yang mafqud tersebut. Sampai disini bapak semua jelas??" Pak ustadz menjelaskan.


"Jelas..!!" jawab Rinto dan Brian.


"Nah.. maka dari itu, perempuan yang dikawini ternyata kemudian diketahui masih menjadi isteri pria lain yang mafqud. Maka.. perkawinan dapat di batalkan jika.. perkawinan itu dapat dibatalkan atau tidak dapat dibatalkan tergantung dari suami yang mafqud. Kalau kemudian suami yang mafqud itu diketemukan dan dia kemudian membatalkan perkawinan isterinya, maka perkawinan isterinya dengan pria lain itu menjadi batal. Tetapi kalau kemudian suami yang mafqud itu diketemukan dan dia kemudian tidak membatalkan perkawinan isterinya, maka perkawinan isterinya dengan pria lain itu menjadi tidak batal. Sekarang keputusan berada di tangan Pak Rinto" kata pak ustadz.


Brian duduk bersandar dengan lemas mendengar semua penjelasan pak ustadz. Posisinya begitu lemah. Ia takut sebentar lagi Anye akan benar-benar hilang dari sisinya.


"Saya tetap pada pendirian saya untuk membawa Anye pergi dari Brian..!!" ucap tegas Bang Rinto dalam kepedihan batinnya.


"Brian.. kita sama-sama dewasa. Kamu tau hukumnya menikahi wanita dengan status suami mafqud. Jika saya tidak ikhlas maka pernikahan kalian batal"


Brian sampai menitikan air mata, kedua pria itu begitu mencintai wanita yang sama. Tapi apapun yang terjadi.. semua harus di hadapi dengan tegar seperti ucapnya saat itu.


"Aku menikahinya juga memberinya cinta. Mungkin suatu saat.. kamu bisa mengambilnya dariku, tapi saat ini aku tidak bisa menyerahkan atau menceraikan Anye karena.. dia sedang mengandung anakku Rin" ucap jujur Brian.


"Apaaaaaa??????? Jahanam kau Briaaann..!!!!" untuk kesekian kalinya Rinto harus menghadapi kenyataan pahit seperti ini. Ia meremas dadanya yang terasa tertekan kuat. Nafasnya seakan menghilang, wajahnya pucat. Kesadarannya pun menghilang.


.


.


.


Nara mengucapkan Minal Aidin wal Faidzin. Selamat hari raya Idul Fitri bagi yang menjalankan. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga silaturahmi kita tetap terjaga meskipun hanya lewat dunia maya.


Salam sayang


Nara Kamanatha 🥰

__ADS_1


__ADS_2