Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
96. Tantangan baru.


__ADS_3

Anye yang sensitif menangis tersedu mendengar setiap ucapan suaminya. Dadanya sesak hingga ia sulit bernafas.


"Ada yang mau Ibu Rinto sampaikan?" tanya Danyon.


Anye masih sesenggukan hampir tidak bisa menjawab.


"Menikah dengan seorang prajurit adalah sebuah pilihan yang matang dan panjang. Tapi hati.. tetaplah hati. Di atas kertas kami sanggup.. namun pada kenyataannya.. kami menangis mati rasa membayangkan suami bertaruh nyawa. Kami hanya ingin satu. Berangkat selamat pulang selamat utuh tanpa kurang suatu apapun" ucapnya hingga tidak terdengar apapun lagi dari ibu Danki.


Suasana riuh satu ruangan. Danki mengangkat Anye dan menidurkan di sofa dalam ruang kecil di aula.


Di dalam ruangan itu, tangan Bang Rinto melepas pengait di punggung Anye lalu melonggarkan pengait pada rok yang Anye kenakan.


"Duuhh dek, kamu ini tegang sekali dengar bahasan tentang dinas. Melow sekali hatimu ini" gumam Bang Rinto sambil mengusap minyak angin ke sela leher dan dada Anye.


"Ijin.. Danki butuh apa?" tanya Bowo yang kebetulan sedang piket jaga.


"Nggak ada. Terima kasih" jawab Bang Rinto.


Ayah Rama yang mendengar putrinya pingsan langsung menerobos masuk ke dalam aula.


"Anye kenapa Rin???" tanya Rama dengan Cemas. Gathan dan Ezhar tak kalah panik.


"Bang.. di bawa ke rumah sakit saja" kata Gathan.


"Anye nggak apa-apa. Kalian tenang saja" ucap Bang Rinto.


"Nggak apa-apa gimana? Nggak ada angin nggak ada hujan tau-tau melow di kegiatan seperti ini" kata Ayah Rama.


"Wajar yah, Anye memang sensitif sekali sekarang. Anye lagi hamil yah" senyum Bang Rinto sambil mengusap kening Anye.


"Haaahh..???? Berapa bulan Bang????" tanya Gathan.


"Tiga bulan"


"Lho.. bukannya waktu itu kamu di larang untuk kerja yang memicu kerja keras jantung dan paru-paru?????" Ayah Rama terbelalak.. pikirannya tidak bisa fokus untuk menerka apa yang terjadi.


"Yaaaaaa......mau gimana lagi yah, dekat dengan istri khan nggak mungkin kita cuma saling melotot tukar sinar ultraviolet. Memangnya anak bisa di download??" jawab Bang Rinto.


"Ya Tuhan Rinto.. untung kamu nggak mati jantungan" Ayah Rama sampai mengusap wajahnya, ia sungguh tak habis pikir dengan tingkah menantunya.


"Bang..!!" Anye mulai sadar dari pingsannya.


"Ini Abang dek"


"Mau jambu air Bang" pinta Anye.


"Oohh.. iya, sebentar dek..!!"


"Thomas.. panjat jambu air di depan ruang Danyon sekarang" perintah Rinto pada Thomas.


"Tapi Danki..!!"


"Ambil dulu..!! Nanti saya yang tanggung" kata Bang Rinto.


Rama hanya menggeleng tak mau tau kesulitan Rinto menghadapi bumil.


"Selamat menikmati jantungan yang sebenarnya menghadapi bumil" ucap Rama sambil meninggalkan ruangan.


Rinto menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena benar. Menghadapi bumil pasti penuh kesabaran ekstra.


-_-_-_-


Anye duduk bersandar di ruang tv sambil menyantap jambu air yang tidak tau seberapa banyak ia makan.

__ADS_1


Suara ketukan pintu menghentikan Anye pada posisi nyamannya. Ia berdiri dan berjalan membuka pintu.


"Mama.. Papa???" senyum Anye mengembang saat tau yang datang adalah Mama Hanum dan Papa Broto.


"Hai sayang.. Apa kabar??" tanya Mama Hanum.


"Anye baik ma.." Anye langsung memeluk Mamanya dengan erat.


Tak lama Rinto datang dengan motor besarnya dan melihat Mama Papa datang ke rumahnya.


"Mama.. Papa..!! Kok nggak bilang mau datang?"


"Ini juga mendadak Rin.. Ada pekerjaan di Indonesia. Jadi Mama Papa akan stay di Indonesia dulu" kata Papa Broto.


Anye tiba-tiba mual, ia berlari ke kamar mandi.


"Istrimu kenapa Rin?" tanya Mama Hanum.


"Nggak apa-apa ma. Anye hamil lagi. Dia nggak pernah sehat di masa hamilnya ma" jawab Rinto dengan raut wajah sedih.


"Setiap wanita pasti mengalami pengalaman hamil yang berbeda. Semua akan baik-baik saja asalkan Anye masih mau makan" kata Mama Hanum.


"Masih mau ma. Tapi sedikit sekali makannya"


"Sabar..sabar dan sabar" Papa Broto menyemangati Rinto.


***


Ghatan menidurkan bayinya di ranjang. Ia bahagia sekali menimang bayi mungilnya.


"Begini ya rasanya jadi bapak? Abang nggak nyangka akan jadi bapak secepat ini"


"Sekar juga nggak nyangka Bang, sekarang sudah jadi orang tua" ucapnya penuh rasa haru.


"Sekar belum siap Bang. Kalau Abang mau punya anak lagi, Abang saja yang hamil. Sekar kapok" jawab Sekar.


Gathan hanya tertawa mendengar Sekar menggerutu.


"Iya.. Abang nggak paksa. Abang juga pasti hati-hati. Lihat istri sudah seperti itu, nggak mungkin Abang nggak mikir. Nggak tega juga dek" ucapnya memang tidak tega melihat Sekar melahirkan putranya. Gathan mendekati Sekar dan memeluknya erat.


"Awas kalau Abang ingkar. Sekar marah sama Abang" kata Sekar.


"Abang janji" ucapnya kemudian mengecup bibir Sekar dengan mesra.


"Abang sayang kamu dek"


"Sekar juga sayang Abang"


***


"Gimana dok?" tanya Rinto saat memeriksakan kondisi kehamilan Anye.


"Bayimu sehat. Kalau masalah sering pusing wajar ya, Anye ada darah rendah" jawab dokter Wira.


"Nanti saya kasih resep vitamin"


"Terima kasih banyak dok" ucap Bang Rinto.


-_-_-_-


"Bang, tugas terakhir Anye sudah masuk di bab akhir mesin" kata Anye.


"Ada kendala?" tanya Bang Rinto.

__ADS_1


"Cuma suruh foto bagian motor aja" jawab Anye.


"Harus siap kapan?" tanya Bang Rinto lagi.


"Tiga hari lagi"


"Oohh.. masih cukup waktunya untuk Abang carikan foto. Besok Abang ke bagian perbengkelan" kata Bang Rinto.


***


Hari sudah mulai siang. Anye bosan sendirian di rumah. Mama papa mertua sedang bekerja, Seno sedang ikut mama dan ayah. Anye mondar mandir di dalam rumah.


"Nunggu Abang lama sekali. Rasanya ingin mengerjakan sesuatu, tapi Apa?" gumam Anye.


Tak lama matanya melihat sesuatu, ia tersenyum bahagia.


-_-_-_-


"Assalamualaikum.. dek..!!" sapa Bang Rinto, rumah nampak sepi sekali.


Tak ada jawaban dari sang istri. Bang Rinto kembali ke depan rumah melihat sandal milik Anye. Ternyata masih ada, tapi kemana istrinya itu.


Bang Rinto memasang telinganya. Dari arah garasi terdengar suara berisik seperti besi sedang beradu. Bang Rinto pin segera berjalan ke arah garasi.


"Astagfirullah hal adzim.. Laa Ilaha Illallah.." pekik Bang Rinto sambil mengacak-acak rambutnya dengan gemas membuat Anye kaget sampai refleks membuang kunci Inggris saking kagetnya.


"Abaaaanngg.. Anye kaget"


"Harusnya yang kaget itu Abang dek..!! Kenapa kamu preteli motor trail Abang??????? Itu mahal..!!!"


"Anye khan sudah bilang mau ambil foto bagian motor" kata Anye tanpa rasa bersalah. Wajahnya, pakaiannya, tangannya semua penuh noda oli.


"Tapi nggak pakai motor aktif donk sayang. Di bengkel Batalyon banyak mesin mati"


"Ini hanya Anye foto sebentar Bang. Nggak lama"


"Abang tanya.. kamu bisa kembalikan seperti semula nggak??? Ini balikinnya pakai tenaga. Lagian Abang heran.. kamu kok kuat preteli motor Abang????" tanya Bang Rinto heran.


Anye melihat hasil karyanya. Ia mulai lupa harus memasang dari mana setiap komponen kecil dari motor tersebut.


"Nggak bisa Bang. Anye lupa bagian mana dulu yang harus di pasang" jawab Anye.


"Sudah Abang duga. Kamu terima bongkar, tapi nggak terima pasang" gerutu Bang Rinto.


"Lain kali jangan pegang barang Abang lagi" ucap Bang Rinto kesal.


"Jadi Abang marah cuma gara-gara motor ini?? Abang lebih sayang motor daripada Anye??" wajah Anye mulai memerah sedih.


"Nah khan.. Laki mah salah bener tetep aja salah. Semua salah emang punya laki" jawab Bang Rinto.


Anye menangis sesenggukan, sekarang posisinya Anye seperti wanita paling tersakiti di dunia.


"Cckk.. Yo wes Abang salah, Abang yang jahat sudah bentak-bentak. Maaf ya sayang" ucap Bang Rinto mengalah.


Anye memalingkan wajahnya.


"Abang sengaja ngerayu khan? Tapi Anye tetep kesel"


"Iya..iya.. marahlah sepuasmu. Kalau perlu mobil kamu bongkar juga nggak apa lah. Abang ikhlas.. yang penting jatah preman lancar" jawab Bang Rinto.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2