
Anye menoleh pada wanita yang dilihatnya tadi lalu memperhatikan nya melalui spion mobil. Wanita itu bersembunyi di balik pohon dan melihat juga ke arah mobilnya.
"Bang, kenapa Abang terkesan benci dengan wanita itu? Jangan terlalu membenci Bang, ingat anak kita" kata Anye mengingatkan.
Bang Rinto mengusap wajahnya kemudian mengusap perut Anye.
"Maaf, Abang memang tidak bermaksud mengingatnya.
"Kelihatannya mantan Abang itu sudah mendapatkan ganjaran dari perbuatannya. Jadi Abang tidak perlu membenci dia lagi" kata Anye.
"Ini urusan Abang dek. Kamu tidak tau bagaimana perangai Sheila" jawab Bang Rinto.
"Setiap orang berhak mendapatkan maaf Bang"
"Kamu jangan ikut campur masalah ini lagi. Abang nggak mau bahas tentang dia. Yang terpenting sekarang hubungan kita baik-baik saja dan tidak ada masalah dalam rumah tangga kita" ucap Bang Rinto dengan tegas.
"Iya Bang" jawab Anye yang kemudian memilih bersandar dan memejamkan matanya. Tak lama Anye pun tertidur.
"Maaf dek, Abang harus keras dan tegas sama kamu. Dia tidak pantas mendapatkan kelembutan hatimu"
flashback on
Rinto sangat mencintai Sheila. Bahkan hubungan mereka terjalin cukup lama sejak Sheila kelas dua SMP dan Rinto kelas 1 SMA, sejak cinta monyet bersemi hingga cinta yang mulai di dasari perasaan manusia dewasa.
Rinto tidak ingin ikut dengan kedua orang tuanya menetap di luar negeri sejak ia tau kalau ia hanyalah seorang anak angkat. Rinto memilih tinggal dan kost di Indonesia, meninggalkan segala kemewahan yang orang tua angkatan miliki. Saat SMP Rinto adalah pria yang mandiri, ia sudah mampu merakit mesin motornya sendiri hingga sebuah perusahaan besar meliriknya.
Dalam kemandiriannya, tanpa arahan yang benar dan bimbingan dari orang tuanya.. ia memiliki sifat temperamen yang kurang terarah. Dunia kekerasan, dunia malam sudah akrab bagi dirinya sejak ia berseragam sekolah meskipun ia menyadari bahwa itu adalah sesuatu yang salah. Hingga ia bertemu seorang gadis yang menurut pandangan matanya begitu cantik, Sheila lah orangnya.
"Di kamar kostmu saja mas" ucap Sheila.
"Ya sudah ayo yank"
Sering kali mereka berduaan di dalam kamar kost, dalam kejiwaan Rinto yang labil.. ia masih sadar untuk menjaga harga diri seorang wanita. Meskipun godaan demi godaan Sheila lakukan, tapi Rinto tidak pernah goyah. Ia ingin membuktikan bahwa dia mampu menjadi seorang yang berguna bagi orang tua, bangsa dan negara meskipun ia hanya seorang anak angkat. Kejiwaan Rinto saat itu pun masih jauh dari kata taat dalam beribadah.
...
"Cepat pakai pakaianmu..!! Nanti ada ibu kost" kata Rinto pada Sheila setelah mereka berdua bercinta ala mereka.
"Iya mas.." ucap Sheila ingin kembali mengecup bibir Rinto.
"Sudah.. cukup..!!" Rinto menghentikan kelakuan Sheila karena tidak ingin semakin gelap mata.
"Besok aku mau daftar jadi tentara. Kamu tunggu aku sampai lulus ya?"
"Itu lama mas. Aku nggak suka LDR" ucap Sheila.
"Kalau ada libur pasti aku akan temui kamu" janji Rinto.
"Hmm.." jawab Sheila dengan malas.
***
Singkat cerita hubungan mereka aman-aman saja tanpa hambatan hingga saat ada acara membawa pasangan masing-masing, Sheila tidak datang dengan berbagai alasan dan itu harus membuat Rinto harus membayar orang untuk jadi pasangan semalamnya saat itu.
***
"Kamu kemana?? kenapa kamu membatalkan janji secara mendadak" tegur rinto saat sudah mempunyai waktu untuk IB lagi.
"Maaf mas, aku sakit" alasan Sheila.
"Sakit apa? sekarang bagaimana??" tak pernah sekalipun Rinto tidak perhatian pada Sheila.
__ADS_1
"Hanya demam saja" jawab Sheila sambil memeluk Rinto seperti biasa.
Setiap hari Rinto seperti orang gila, mengucapkan kata cinta, segala apapun yang ia lakukan hanya untuk Sheila.
"Kita ke tempat biasa..!!" ajak Sheila.
"Ayoo..!!"
Perilaku Rinto sudah akrab dengan gemerlap dunia 'setan' bahkan bermesraan dengan Sheila sudah menjadi hal yang sangat wajar baginya.
***
Saat itu Rinto baru saja di lantik menjadi seorang prajurit. Rinto berniat memberi kejutan pada Sheila dan ingin melamarnya tapi saat ia mendatangi kekasihnya itu, Rinto melihat Sheila pergi bersama seorang pria. Rinto pun mengikuti Sheila hingga sampai ke sebuah hotel.
...
braaaaakkkkk....
Rinto mendobrak paksa pintu kamar hotel dan ia bisa melihat dengan jelas apa yang sedang Sheila dan selingkuhannya.
"Maaass.. apa-apaan sih kamu??" pekik Sheila dengan marah. Selingkuhannya itu berguling dan mengambil pakaiannya dengan santai.
"Ini yang kamu lakukan saat aku berusaha keras untuk sungguh menghalalkan kamu.. Aku nggak merusakmu karena aku sayang kamu" ucap Rinto dengan kecewa.
"Apa selama ini yang kita lakukan halal?? Kamu nggak pernah ada untuk aku mas. Kamu pergi mengejar cita-citanya sendiri tapi belum tentu hasil jerih payahmu itu mampu membahagiakan aku nantinya" ucap Sheila.
"B*****t.. jadi selama ini aku mencintai wanita yang salah. Aku berharap bertahun-tahun dari hubungan kita selama ini akan membuat kita saling mengerti dan memahami. Tapi pengkhianatanmu ini sudah cukup menunjukan betapa tidak pantasnya kamu untuk ku. Syukur aku tidak menikahimu karena aku tidak akan rela jika anak ku kelak terlahir dari wanita macam kamu" umpat Rinto tak dapat menahan amarahnya.
-_-_-_-
"B******n.. apa gunanya setiap hari mengucap kata cinta. Bertahun-tahun aku bertahan mencintaimu. Semua wanita sama saja.. dalam pikiran hanya ada harta. Apa kamu pikir aku akan membuatmu mati dengan hajiku yang pas pas-an" Rinto memukul kemudi mobilnya dengan frustasi.
"Aaarrgghhh... Aku benci dengan hidupku. Apa aku terlahir sesial ini" teriaknya hingga dadanya terasa sesak.
flashback off...
"B*****t..!!" Bang Rinto mengerem mobilnya secara tiba-tiba ke tepi jalan, ia masih belum bisa berhenti mengumpat saat merasakan hatinya begitu sakit. Rem mendadak itu sangat mengagetkan Anye. Ia gelagapan sampai perutnya merasa sedikit kram lagi.
"Abaaaanngg..!!!! kenapa berhenti tiba-tiba?????" Anye memegangi dada dan perutnya yang sempat kaget karena ulah Bang Rinto.
"Jangan pernah kamu khianati Abang" ucapnya dengan mata memerah, tangannya mengepal kuat.
"Anye bukan Sheila yang akan mengkhianati Abang" Anye menyentuh dada bidang suaminya, ia merasakan gemuruh detak jantung yang begitu kencang.
Bang Rinto bersandar pada jok mobilnya, tangannya mulai melepaskan ketegangan yang ia rasakan. Matanya terpejam, nafasnya kasar.
Anye menarik Bang Rinto ke dalam pelukannya.
"Darimana kamu tau kalau Sheila mengkhianati Abang?" tanya Bang Rinto.
"Karena Anye pun pernah mengalaminya, jadi Anye tahu bagaimana sakitnya" jawab Anye sambil membelai wajah Bang Rinto.
"Lupakan Bang.. banyak berucap syukur, itu tandanya Allah sayang pada kita. Kita di pisahkan dari orang seperti itu. Istighfar Bang..!!!"
"Astagfirullah hal adzim.." Bang Rinto langsung memeluk pinggang Anye dengan erat.
"Apa saat ini Abang sedang membuat Anye cemburu?? Daritadi Abang hanya mengingat wanita lain" Anye berpura-pura jengkel dengan memalingkan wajahnya.
"Dek.. nggak dek.. Maafin Abang.. Abang yang salah" ucap Bang Rinto mulai panik.
Anye semakin memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Sayang.. maaf..!!!" Bang Rinto takut sekali kalau Anye sampai tidak memaafkannya.
"Abang harus bagaimana ini biar kamu nggak marah"
Anye berpikir keras sebelum akhirnya tersenyum nakal.
"Abang harus bilang 'Abang cinta kamu Anyelirku' sampai ke rumah..!!"
"Haahh.. Astaga..!!!" Bang Rinto melepas pelukan Anye, mata Bang Rinto sampai melotot mendengar nya.
"Nggak mau juga nggak apa-apa" Anye melihat keluar jendela sambil melipat kedua tangan di depan dada. Wajahnya sudah memasang tampang cemberut.
Bang Rinto menghadapkan wajah Anye ke arahnya.
"Abang cinta kamu Anyelirku sayang" Bang Rinto mengecup hangat bibir manis itu hingga kecupannya semakin dalam mewakili perasaan Bang Rinto saat ini.
...
"Nggak bisa, hukuman tetap hukuman" ucap Anye sambil mengancingkan pakaiannya. Bang Rinto pun membenahi seragamnya. Untung mereka berada di jalan alternatif yang sepi.
"Syarat dan ketentuan yang berlaku setelah Abang mengucapkannya sampai rumah..!!" ancam Bang Rinto.
"Iyaaaaa...."
Bang Rinto tersenyum licik dan nakal, ia menggigit kecil bibirnya sambil mencubit pipi Anye dengan gemas. Mobil pun melaju kembali ke asrama.
"Abang cinta kamu Anyelirku.."
"Abang cinta kamu Anyelirku.."
"Abang cinta kamu Anyelirku.."
.
.
.
...
"Selamat siang.." anggota di pos jaga memberi salam hormat pada Bang Rinto yang saat itu sudah membuka jendela mobilnya.
"Abang cinta kamu Anyelirku.." ucap Bang Rinto lantang, jelas namun begitu santai. Hanya tangannya yang melambai menerima penghormatan dari anggotanya.
Para anggota jaga bengong namun sesaat kemudian mereka terkikik geli.
Rama dan Ardi yang tidak sengaja mendengar itu pun menjadi ternganga di buatnya.
"Apa-apaan bocah tengil itu???" ucap Rama.
"Menantumu itu kaca dirimu" balas Ardi.
"Apa?" tanya Rama.
" M E N Y E B A L K A N " jawab Ardi.
"Woooo... Aseeemm.." Rama mengepalkan tinjunya.
.
.
__ADS_1
.