Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
16. Sabar.


__ADS_3

"Abang nggak pengen minta itu khan?" tanya Anye dengan takut saat Rinto membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Kalau Abang minta kenapa?"


"Anye masih mau kuliah Bang. Boleh??" jawab Anye. Ia takut kalau sampai Rinto akan marah mendengar ucapannya barusan.


"Apa yang kamu takutkan?"


"Anye takut jadi bahan ledekan karena baru tujuh belas tahun tapi sudah menikah"


Rinto terdiam sejenak. Jawaban ini sudah menunjukan ketidak siapan mental seorang Anye. Ia bisa saja melakukannya, tapi kalau sudah prinsip tidak ingin 'pengaman' tentu sudah lain cerita. Memaksa seseorang yang tidak siap juga merupakan suatu kejahatan menurutnya.


"Boleh Bang??" tanya Anye lagi.


"Dek.. Kita suami istri, memiliki status yang jelas. Laki dan perempuan dalam satu atap. Tidak ada jaminan Abang bisa terus tahan. Suamimu ini masih normal, Bagaimana kalau hasrat Abang sedang naik? Mau Abang lampiaskan pada siapa sedangkan Abang punya istri" dengan sabar Rinto memberi pengertian pada istrinya.


"Anye tau Bang. Tapi bisakah Anye minta waktu.. Anye belum siap" ucap Anye.


"Insya Allah Abang sabar" jawab Rinto meskipun hatinya tidak yakin.


"Sudah... jangan di bahas lagi. Besok ada kegiatan apa di kampus?"


"Nggak ada Bang. Masih bulan depan orientasi"


Rinto menghela nafasnya tak sanggup membayangkan jurusan nya akan dipenuhi dengan para pria di sekitar istrinya.


***


Hari ini adalah resepsi pernikahan Anye dan Rinto. Tak banyak teman Anye yang tau tentang pernikahannya karena ia memang merahasiakan nya.


Sejak pagi Rinto tidak melihat istrinya sama sekali. Desiran rasa dalam hatinya kali ini melebihi saat menikah dengan Vilia dulu. Kali ini ia di larang memandang wajah istrinya sejak tadi malam.


Bunyi musik sudah menggema di telinganya. Ezhar menuntun langkah Anyelir saat adiknya itu baru saja turun dari mobil dan mengantarnya kepada Rinto.


Rinto meraih jemari Anye. Istrinya itu terlihat cantik bahkan terlihat sangat cantik mengenakan kebaya modern. Sangat seksi dan sangat menggoda di matanya. Mata Rinto terus terpaku sampai Gathan harus menyentuh pundaknya.


"Gandeng Bang..!! Jalan..!!" Bisiknya memberi arahan.


"Malam nanti di pikir nanti..!!!" ledek Brian membuat Anye tertunduk tersipu malu.


Dengan langkah pasti, Rinto menggandeng istrinya menuju pelaminan. Jantungnya berdetak tidak karuan melihat Anye. Rasanya ia ingin menarik istrinya itu ke pelukannya sekarang juga. Hanya bisa menghela nafas panjang ia terus berjalan.


...


Selangkah demi selangkah akhirnya acara pedang pora pun selesai sampai Ardi selaku perwakilan komandan mengesahkan pernikahan itu.

__ADS_1


Acara pertama adalah acara resmi hingga beberapa lama acara itu pun selesai dengan lancar dan tanpa hambatan.


"Pengantin perempuan bisa santai dulu sebentar ya. Nanti ganti pakaian dulu baru lanjut acara kedua" ucap perias.


...


Anye bingung melepas pengait di belakang punggungnya. Kebaya yang ketat semakin membuat rasa sesaknya kian bertambah.


Rinto menoleh memperhatikan ke semua sisi lorong, tak ada orang sama sekali disana. Ia mengintip Anye sedang kesulitan membuka kebayanya. Rinto pun masuk ke dalam ruang ganti lalu menguncinya rapat.


"Abang?? Kenapa kesini? Abang khan nggak ganti baju" kata Anye.


Tak menjawab pertanyaan istrinya. Rinto menatap wajah istrinya dengan lekat.


"Boleh Abang peluk?" bisiknya di telinga Anye.


Anye belum menjawabnya, tapi tatapan mata Rinto seolah mengisyaratkan bahwa suaminya itu sedang ingin dekat dengannya.


"Sebentar saja" pinta Rinto.


Perlahan tapi pasti, Rinto menarik tengkuk Anye. Bibir itu mendekat pada bibir Anye. Secara alami Anye pun membalasnya. Bibir itu saling bertaut memberi rasa. Anye yang tidak pernah mengalaminya bingung menjabarkan rasa yang baru kali ini ia rasakan hingga lenguhan kecil terdengar lembut di telinga Rinto walaupun terasa kaku Rinto rasakan. Rinto membawa Anye ke atas ranjang dan ia pun semakin lepas kendali. Nafasnya sudah putus sambung merasakan gejolak batinnya. Tangannya menyentuh Anye dengan liar.


"Jangan Bang..!! Anye takut" Anye mendorong dada Rinto. Tatapan mata Rinto sudah buas dan terlihat ingin menerkamnya. Seragamnya ia lucuti dengan kasar bahkan baju kebaya Anye pun ia longgarkan dengan paksa.


"Abang nggak tahan dek. Tolong..!!" ucapnya sudah dengan suara pria yang butuh sekali pertolongan. Rinto menggigit kecil bibir Anye, tubuhnya menegang, tangannya mengepal kuat.


Melihat Anye menangis, Rinto menjadi tidak tega. Ia menarik nafas panjang menormalkan hati dan pikirannya. Rinto pun melepas kecupannya, menghapus air mata istrinya.


"Sudah jangan nangis. Tapi lain kali nggak boleh ya dek. Dosa..!!" kata Rinto mengingatkan dengan tegas karena sungguh ada rasa kecewa dalam hatinya.


Anye mengangguk cepat agar Rinto segera beralih dari badannya. Rinto bangkit dan mengambil jasnya kemudian keluar dari ruangan.


...


Rinto terpejam di lorong. Ada rasa hancur, sakit, kecewa menghadapi sikap Anye, tapi Rinto mencoba mengerti dengan keadaan ini. Ia meremas bagian tubuhnya yang masih menegang seiring dengan batinnya yang tersiksa.


Dari jauh Seruni melihat Rinto tampak tidak nyaman, ia mencoba mendekati suami Anye itu.


"Bang.. Aku melihat Abang sejak tadi. Apa Anye tidak bisa menyenangkan hatimu?"


Rinto tersentak dan mencoba bersikap sabar dan biasa saja di depan Seruni.


"Apa maksudmu?"


"Abang uring-uringan keluar dari dalam kamar. Bukankah itu berarti Anye tidak bisa menyenangkan hatimu" ucap Seruni sangat lembut tapi begitu menyayat hati Rinto.

__ADS_1


Rinto tersenyum penuh arti di depan Seruni.


Kalau Anye tidak bisa menyenangkan Abang terus bagaimana?" tanya Rinto.


"Aku bisa Bang. Sebenarnya aku masih ada rasa sama Abang. Hanya saja saat itu terkena bujukan Bang Hengky. Aku terpaksa Bang" Seruni mendekati Rinto.


"Jadi kamu menarik kata-katamu? Bukankah duda ini sangat mengganggumu? Yang kamu lihat benar. Abang memang sedang kesal. Tapi sayang.. istri Abang tiada duanya. Ini acara pernikahan.. Abang tidak ingin merusak keanggunan Ratu Abang hari ini. Abang yang salah sudah mendekatinya. Kamu paham??"


Rinto pergi meninggalkan Seruni yang masih terpaku disana. Hatinya semakin kesal saja melihat seruni disana.


...


"Kenapa lagi?? ini acaramu" kata Bang Arben.


"Aku hampir kelepasan Bang. Seruni malah nangis. Mentalnya sungguh kacau. Aku harus bagaimana Bang" ucap Rinto penuh kejengkelan.


Arben tau bagaimana rasanya rindu yang tidak tersalurkan. Ucapan apapun tidak akan pernah masuk dalam pikiran pria kalau sudah sekalut ini dengan perasaannya.


"Berantakan sekali kamu Rin" Arben sendiri sampai bingung bagaimana menenangkan juniornya itu. Kancing baju salah lubang, ikat pinggang tidak terpasang dengan benar, rambut acak-acakan.


"Eehh Joe, tolong bawakan beberapa es batu dan bungkus dengan handuk"


"Siap.."


#


"Bu Rinto.. Kenapa makeup nya berantakan?" penata Rias terpaksa harus menata ulang makeup Anye.


...


Arben mengompres kepala dan perut Rinto dengan sekantong es batu yang di bungkus handuk.


"Pak Rinto, Ibu sudah siap. Apa bapak sudah siap?" tanya perias dan fotografer.


"Sabar sebentar ya..!! Migrain Pak Rinto tiba-tiba kumat" kata Arben mengalihkan suasana.


Perias dan Fotografer pun pergi meninggalkan Rinto dan Arben.


"Sudah mendingan Rin??" tanya Arben.


"Belum Bang" jawab Rinto sesekali masih memercing merasa tidak nyaman.


"Jangan di bayangin terus Rin. Kapan hilangnya????" tegur Arben sambil menyentil Rinto.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2