Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 37. Membingungkan.


__ADS_3

Bang Zaldi membawa Arnes ke lingkungan Batalyon saat ada acara olahraga bersama. Semua mata tertuju pada Ibu PasiIntel itu. Mendapat tatapan mata dari sekitarnya.. Arnes merasa gugup hingga rasanya mual langsung menyerang.


"Ijin Ibu. Mari saya bantu" kata Bu Irawan.


"Maaf Bu, saya hanya sedikit gugup saja" ucap jujur Arnes.


"Untuk ibu-ibu yang suka bergosip tolong di kondisikan paruhnya yang menawan. Saya tekankan.. saya sudah menikahi istri saya ini secara agama satu setengah bulan yang lalu dan surat dari KUA baru saya terima kemarin. Saat ini saya masih mengusahakan penambahan anak buah, isu kemarin kalau istri saya sudah mengandung tiga bulan itu salah besar. Kalau sampai saya tau ada yang berani bahas ini lagi.. saya jamin 'bapaknya' akan langsung saya geser ke pedalaman Papua" ucap Bang Zaldi dengan tegas.


Para istri anggota langsung saling lirik tak berani lagi berurusan dengan Pak Erzaldi yang terkenal angker.


"Ya sudah sana..!! Kamu gabung sama ibu-ibu olahraga. Pemanasan dulu dek..!!" kata Bang Zaldi mengingatkan.


"Iya Bang"


...


"Ayo semangat Bu Zaldi..!!" Praka Sartono melatih ibu-ibu tanpa kecuali.


Mendengar nama istrinya di sebut. Bang Zaldi langsung sigap menghampiri Praka Sartono.


"Mana sini. Bu Zaldi biar urusan saya..!!" ucap Bang Zaldi sambil menjepit sebatang rokok di tengah bibirnya.


"Abaang.. sudah ya. Arnes nggak kuat nih" Arnes sudah terengah berkeringat sebesar biji jagung.


"Volly itu turun temurun rata-rata anggota dan istrinya wajib bisa. Kamu khan anak kolong. Masa nggak bisa??" ledek Bang Zaldi.


"Bisa Bang, tapi jangan sekarang" tolak Arnes.


"Halaahh.. jangan bisanya nyerang Abang pakai ilmu kempo mu yang nggak ngalor nggak ngidul itu ya..!!" Bang Zaldi memukul bola dengan kekuatan sedang ke arah Arnes.


"Maju Bu Zaldii..!!!!!" kata Bang Zaldi.


"Lagiii..!!!!!!"


"Kakinya dek..!!!!!"


"Abaaaaaang..!!!!" Arnes yang kewalahan semakin kocar kacir merasa di kerjai sang suami.


bruugghh..


Arnes pingsan di tengah lapangan membuat Bang Zaldi kaget setengah mati dan segera menolong istrinya.


"Dek.. Adek..!!" Bang Zaldi menepuk pipi Arnes.


Tak lama Arnes membuka matanya.


"Baaaa... Hahaha.. cemas ya??? Makanya kalau cemas tuh jangan suka jahat sama istri. Main volly kok istrinya nggak di kasih nafas" gerutu Arnes.


"Woooo... semprul..Siapa yang cemas. Abang hanya nggak mau cuci bajumu kalau kotor kena tanah" Jawab Bang Zaldi kesal sambil menidurkan Arnes di sana. Gaya cool tidak pernah hilang dari Bang Zaldi.


Lettu senior itu berjalan menjauh sambil membuang puntung rokoknya sembarangan. Arnes pun berdiri tapi sesaat kemudian pijakannya tak seimbang, ia pun terhuyung dan ambruk dengan keras.


"Bu Zaldiiii..!!!!!" pekik Ibu-ibu di lapangan. Bang Zaldi hanya menoleh sekilas saat Arnes ambruk lagi.


"Pak Zaldi.. Ibu berdarah pak..!!!!" Bu Irawan sampai berteriak karena Bang Zaldi tak kunjung kembali


"Haahh.. yang benar Bu????" Bang Zaldi berlari cepat dan benar saja, pelipis Arnes sudah berdarah. Wajah istrinya itu seketika sudah pucat.


"Dek.. Ya Allah.. Kenapa kamu ini???? Makanya kalau bercanda jangan keterlaluan..!!!!!!" Bang Zaldi segera membawa Arnes ke unit kesehatan.


//


"Kira-kira kenapa ini pak??" tanya Bang Zaldi cemas.

__ADS_1


"Capek, Kurang tidur juga bisa Dan" jawab seorang anggota kesehatan lapangan.


"Deeeehh.. ada-ada saja" gumam Bang Zaldi ikut memasang perban di pelipis Arnes.


-_-_-_-


Sore hari Arnes memasak untuk makan malam. Bang Zaldi pun ikut membantu istrinya itu.


"Abang di kamar saja. Abang khan nggak percaya kalau Arnes sesak"


"Maaf..!! Yang mulai duluan siapa?? Kamu to??" jawab Bang Zaldi.


"Hhkkk" Arnes berlari ke 'kamar mandi' lalu memuntahkan isi perutnya.


"Masuk angin kamu dek?? Daritadi muntah terus. Sini Abang tato jowo dulu..!!" Bang Zaldi meyusul dan memijat tengkuk Arnes.


"Tolong buang bawangnya Bang. Baunya menyengat sekali. Arnes nggak kuat" pintanya.


Bang Zaldi segera mengambil semua bawang yang ada di meja lalu menyingkirkan jauh dari pandangan mata Arnes.


"Sudah tuh.."


Baru beberapa langkah Arnes berjalan, ia kembali pingsan.


"Duuhh.. kenapa sih kamu ini" Bang Zaldi kebingungan sendiri saat Arnes sakit seperti ini. Secepatnya Bang Zaldi membawa Arnes ke dalam kamar.


"Ndhuk, bangun sayang. Bilang sama Abang mana yang sakit..!!" berbagai macam cara ia lakukan untuk menyadarkan Arnes.


Setelah sepuluh menit akhirnya Arnes sadar juga.


"Arnes nggak mau masak Bang" ucapnya menahan mualnya lagi.


"Iya.. nggak usah masak. Nanti Abang beli di depan Batalyon. Kamu mau makan apa??" tanya Bang Zaldi.


"Mana ada itu disini dek..!!"


"Arnes lapar lho Bang. Carikan ya.." mata Arnes berkedip-kedip dengan imutnya, Bang Zaldi jadi tidak tega melihatnya.


"Ya sudah sebentar ya..!!" Bang Zaldi mengambil ponselnya.


Mohon ijin Danyon, Wadanyon, Senior dan rekan anggota Pedang Hitam.


Z : Apa ada yang tau lapak penjual uli dan ketan hitam??? Butuh infonya segera.


Dny : Eeehh.. dikira ada berita apa Pasi kirim berita di group. Nggak tau Bro..


Wdny : Sorry nggak tau Zal.


Sen1 : Bikin kaget ternyata cari uliπŸ˜‘


Ang1 : Ijin Dan.. ada di kampung buntu.


Z : Maaf ya semua. Ini Bu Pasi rewel aje πŸ˜…. Terima kasih atas kerjasamanya.


"Abang cari sekarang" kata Bang Zaldi.


"Nggak mauuu" Arnes memegangi celana pendek Bang Zaldi.


"Arnes nggak mau di tinggal" rengeknya.


Entah kenapa hari ini Bang Zaldi merasa Arnes begitu rewel tidak seperti biasanya.


"Terus maunya gimana, hmmm??" Bang Zaldi mengusap punggung Arnes.

__ADS_1


"Abang nyanyi dulu..!!" pinta Arnes.


Bang Zaldi pun berdehem ringan dan mulai bernyanyi.


Pengenku siji, nyanding kowe selawase


Ra ono wong liyo sing iso misahake


Cukup sliramu gawe atiku tenang


Ra bakal ilang mergo kowe sing tak sayang


"Bukan itu Bang??"


"Cckk.. terus nyanyi apa dek??" Bang Zaldi menggaruk kepalanya bersabar hati.


"Gundhul pacul..!!"


"Ya ealaaahh" Bang Zaldi berdehem lagi.


Gundhul.. gundhul pacul cul.......


...


"Terima kasih ya Raf.. maaf saya merepotkan terus"


"Sama-sama Dan. Nggak apa-apa. Demi Ibu Komandan favorit" kata Rafli.


"Bisa aja kamu"


//


Arnes memegangi kepala dan perutnya usai memakan uli dan tape ketan. Ia meminum banyak air tapi masih belum cukup melegakan rasa sakitnya.


"Bang, nafas Arnes sesak.. perut Arnes juga panas sekali" ucapnya mengadu pada Bang Zaldi.


"Lailaha Illallah.. Kamu ini sebenarnya kenapa??? Apa yang sakit???" Bang Zaldi stress sendiri menghadapi Arnes.


"Arnes nggak tau Bang.. Semuanya rasanya sakit. Abang nih marah terus" Arnes menangis dan masuk ke dalam kamar.


Bang Zaldi mengusap dadanya kembali tetap berusaha sabar kemudian menyusul Arnes ke dalam kamarnya.


"Abang minta maaf kalau marah terus sama kamu. Abang nggak ada niat marah dek. Tolong Maklumi Abang sedikit ya. Tugas kantor banyak sekali, imbasnya terbawa sampai rumah. Maaf..!!"


Arnes menghapus air matanya. Setiap Bang Zaldi berbicara sedikit keras ia jadi sedih sekali seperti ini seperti Bang Zaldi sudah melakukan tindak KDRT padanya.


"Abang suka bentak Arnes" kata Arnes masih tidak terima.


"Kapan sih Abang bentak kamu?? Abang kerjanya di lapangan dek, biasa bicara keras.. ya maaf kadang suka kebawa kebiasaan" jawab Bang Zaldi mulai terpancing lagi.


"Tuh khan Abang"


"Astagfirullah hal adzim.." Bang Zaldi kembali mengelus dadanya. Ia pun mengurangi nada suaranya dan mencoba membujuk Arnes. Biarpun masa pacarannya sudah telat tapi tak ada salahnya membujuk rayu sang istri.


"Bu Komandannya Abang yang paling cantik.. caraka mu ini siap di perintahkan. Sayangnya pengen apa?"


Bibir Arnes mencebik sudah ingin menangis lagi.


"Pengen di sayang Abang. Arnes kesel sama Abang tapi pengen dekat sama Abang" ucapnya dan akhirnya menangis.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2