
Untuk siapapun yang mampir ke cerita Nara. Kalau tidak cocok dengan jalan ceritanya harap skip saja. Ini Nara yang buat.. Nara berhak membuat cerita sesuai imajinasi. Daripada menimbulkan efek tidak nyaman. 🙏🙏🙏. Terima kasih dan I love you untuk readers setia Nara 😘😘
🌹🌹🌹
Arnes ingin membalas lagi tapi mata Bang Zaldi sudah memelototi dirinya, perutnya pun sudah terasa kencang dan sakit.
"Kenapa?? Sakit khan????" tegur Bang Zaldi melihat Arnes memercing kesakitan. Tak membuang waktu lama Bang Zaldi mengangkat Arnes ke ruangannya.
"Abang nggak pernah larang kamu marah sampai seperti itu, tapi kamu juga harus sadar, ada bayi itu di perut. Cemburu ya cemburu aja, tapi nggak pakai bawa anak segala..!!!!!!" tegur keras Bang Zaldi.
"Abang yang mulai.. kenapa jadi Abang yang marah???"
"Abang tau Abang salah. Abang marah karena kamu main-main saja sama anak Abang. Dia nggak tau apa-apa dengan rasa marahmu itu"
Arnes masih saja kesal dan ingin lepas dari Bang Zaldi hingga akhirnya terpaksa Bang Zaldi harus mendekapnya lebih kuat.
"Diaam..!!!!! Abang bilang diam atau kamu terima akibatnya..!!!!!!" ancam Bang Zaldi tidak main-main.
Bang Zaldi menendang pintu ruangannya lalu merebahkan Arnes di sofa.
"Jangan bertingkah..!! Diam disitu..!!!" Bang Zaldi mengambil minyak telon dari lacinya, ia menyibak sedikit baju Arnes lalu segera mengoleskan ke perut Arnes. Tangan kekar itu memijat pelan sisi kanan dan kiri perut dengan lembut sampai ke punggung.
Arnes sesenggukan menangis. Hatinya masih terasa jengkel.
"Wes, sekarang cepat bilang apa yang mengganjal di hati. Biar kamu nggak marah lagi. Abang dengarkan maumu bagaimana"
"Arnes nggak suka Abang bohongi. Pamit kerja padahal nggak kerja dan malah main ke kafe. Di sana banyak perempuan dan pastinya nggak akan diam saja karena mereka 'kerja'. Kalau Abang ingin bersenang-senang dan bebas harusnya Abang jangan nikah. Setelah menikah apa Abang pernah lihat Arnes nongkrong sama teman-teman??? Abang jenuh dan butuh hiburan. Apa Abang nggak bisa tanya pada diri sendiri.. apakah istriku hari ini jenuh?? tiap hari lihat tembok rumah sambil mengasuh anak-anak yang mulai aktif" tangis Arnes semakin kencang.
"Kenapa laki-laki punya dunia sendiri sedangkan Arnes tidak terhibur"
Hati Bang Zaldi terasa tertampar. Sakit sekali ternyata di balik kecemburuan Arnes yang menjadi-jadi tersimpan rasa sepi yang begitu dalam. Kesibukan dengan banyaknya pekerjaan terkadang membuatnya lupa bahwa ada hal lain yang Arnes butuhkan, waktu lebih dan memanjakan istrinya.
"Abang salah. Abang minta maaf ya..!!" ucap sesal Bang Zaldi.
Arnes memalingkan wajahnya.
"Abang kurang perhatian bukannya Abang tidak peduli. Keadaan yang buat Abang lalai memberikan hakmu. Maaf ya sayang..!! Abang nggak sengaja. Abang manusia biasa yang tidak luput dari salah dan dosa" kata Bang Zaldi.
"Pokoknya Arnes marah.. mau marah lama-lama" pekiknya kesal.
Bang Zaldi pasrah tak berani berdebat apapun lagi selain mengusap perut buncit sang istri.
"Yowes piye karepe.. bojomu iki manut wae"
Arnes susah payah bangkit dari tidurnya. Setiap mendengar suara Bang Zaldi atau melihat wajah suaminya itu emosinya langsung meningkat. Ia menyambar sepatunya dan menghantam lengan Bang Zaldi berkali-kali tanpa balasan dari suaminya itu.
"Arnes malas sekali lihat wajah Abang" ucapnya kesal sambil tangannya terus memukul.
"Iya.. iya, Abang jelek dah. Jelek banget. Sudah ya sayang.. Nggak baik lempar suami pakai sepatu. Jangan ya..!!!" Bang Zaldi mengecup bibir Arnes sampai istrinya terdiam. Tangannya mengambil sepatu dari tangan Arnes.
__ADS_1
"Pukul saja Abang, tapi nggak boleh pakai sepatu"
"Abang jahaaatt" ucapnya sambil menangis.
"Abang nggak akan begitu lagi" Bang Zaldi menyodorkan jari kelingkingnya.
"Mau jalan-jalan? Kita beli jajan di taman yuk..!!" bujuk Bang Zaldi.
"Nggak mau.. Arnes benci Abang" ucapnya terisak-isak.
"Jadi gimana ini? Abang pergi sendiri? Kamu nggak mau ikut?" tanya Bang Zaldi.
Arnes begitu dilema. Ingin ikut tapi kesal melihat wajah Bang Zaldi. Ingin tidak ikut tapi dalam hatinya ingin dekat dengan sang suami.
"Kalau Arnes minta sesuatu, Abang kabulkan??"
"Jelas donk.. Apa sih yang nggak untuk istri kesayangan" jawab Bang Zaldi.
...
Bang Zaldi begitu cemas mendengar permintaan sang istri.
"Ada permintaan lain yang lebih ringan nggak?"
"Nggak, Arnes pengen naik ini"
"Ya Allah Tuhan.. Bismillah mugo-mugo slamet anak bojo" gumam Bang Zaldi.
"Astagfirullah hal adzim.. Lailaha Illallah.. Gustii nyuwun tuluung..!!!!!" Bang Zaldi berpegangan pada sisi pintu kanan kemudi truk Reo. Ia sangat cemas dan tidak berani sedikit pun meninggalkan Arnes yang ingin mengemudikan truk Reo.
"Abang diam. Arnes nggak bisa konsentrasi..!!" jawab Arnes.
Bang Bima, Bang Zaldi, Bang Bayu dan Om Adi ikut duduk di tempat kecil dalam truk reo itu.
"Ya Allah.. Rem deekk.. benjut ora karuan kalau nabrak pohon" pekik Bang Zaldi lagi.
Ketika pria yang lain sudah panas dingin di sopiri istri DanSat.
"Pelan beloknya Neees..!!" kata Bang Bima.
Tiba-tiba seekor kambing menyebrang jalan, Arnes pun mengerem mendadak.
"Allahu Akbar..!!!!" pekik keempat pria tersebut bersamaan, mereka terpental sampai menabrak dashboard. Hanya Bang Zaldi saja yang berusaha menahan tubuhnya agar tidak menindih Arnes karena Arnes pun menahan tubuhnya agar tidak terkena kemudi.
Keempat pria tersebut langsung membuka pintu, mereka turun dan muntah karena tidak tahan dan tegang saat Arnes mengemudikan mobilnya.
Suara menyakitkan terdengar bersahut-sahutan dari empat pria tersebut.
"Zal, jangan ijinkan Arnes kendarai truk lagi.. aku mau jadi bapak" protes Bang Bayu.
"Apa sih yang ada dalam pikiran Abang sampai ijinkan Arnes kendarai truk???" Bang Bima tak kalah kesal.
__ADS_1
"Ijin Abang, saya nggak mau mati muda. Saya belum kawin Abaaang"
"Kalian kira saya nggak panik?? Mana saya tau kalau Arnes mau ajak kita naik kora-kora??" jawab Bang Zaldi kemudian kembali muntah. Badannya benar-benar lemas sedangkan si cantik Arnes di atas sana malah menebalkan lipstiknya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Langsung pulang lah kita..!! Adi.. kamu ambil alih kemudinya..!!" perintah Bang Bayu.
...
Sampai di depan rumah, Bang Zaldi muntah lagi. Setelah dirasa sudah cukup kuat, ia membantu Arnes untuk turun dari truk. Opa Rama menggeleng melihat kelakuan cucunya.
"Darimana??" tanya Opa Rama.
"Naik truk Opa. Abang nggak ijinkan Arnes mengemudikan truk kembali kesini" kata Arnes mengadu.
"Ya sudah sana cepat masuk dan mandi. Jangan kerjai suamimu lagi. Bisa mati jantungan dia nanti" perintah Opa Rama.
:
"Gimana rasanya momong bini hamil??" entah Opa sedang sungguh bertanya atau hanya ingin meledek saja.
"Bukan main Opa. Rewel, pemarah, mudah menangis, manja luar biasa. Apapun yang saya lakukan rasanya tidak ada satu hal pun yang benar dimatanya" wajah Bang Zaldi nampak sedih tapi ia pasrah menerima apapun yang ia rasakan saat ini.
"Kamu menyesal??" tanya Opa Rama sambil menyodorkan secangkir wedang jahe.
"Minum dulu..!! Buatan Oma Dinda paling mantap"
Bang Zaldi mengambil cangkir yang disodorkan Opa Rama.
"Ya nggak lah Opa. Kenapa harus menyesal?"
"Istri bawel itu sangat menyebalkan apalagi saat kita pusing karena terlalu banyak pekerjaan" kata Opa Rama menguji Bang Zaldi.
"Bawel itu sudah satu paket komplit menempel pada makhluk bernama wanita dari jaman batu sudah begitu" jawab Bang Zaldi.
"Bang.. Abang..!!" terdengar suara Arnes memanggil Bang Zaldi dari dalam rumah.
"Aduuhh.. ada apa lagi mamanya Neng Popon??"
"Hmm.. garwa ( belahan jiwa ) mu kenapa lagi itu?" Opa Rama memonyongkan bibir memberi kode.
"Baang.. sini duluuuu...!!!" suara manja Arnes terdengar lagi.
"Iya sayang.. ini lho Abang jalan" jawabnya dengan hati jedag jedug.
.
.
.
.
__ADS_1
.