
"Lapar Bang??" tanya Bang Righan saat melihat Abangnya makan sendirian di meja makan.
"Lapar banget. Makan sekalian sana" jawabnya.
"Kenyang Bang"
"Hayoooo lhoo.. nyolong waktu nih Abang sampai kelaparan begitu" kata Bang Righan.
"Lemas habis ganti oli..!!" jawab Bang Zaldi sambil terkikik.
"Aahh Abang.. saya khan sudah bilang tadi. Kata dokter........" ucap Bang Righan serius.
"Nggaaakk.. capek perjalanan ini lho Rig" ucap Bang Zaldi berkilah.
"Huufftt.. syukurlah Bang. Kemarin itu setelah Abang vc. Arnes sempat kram"
"Hmm.." jawab Bang Zaldi ringan padahal dalam hati cemas luar biasa. Rasa rindu yang menyiksa batin sudah membuatnya hampir gila. Kurang lebih tujuh setengah bulan tidak mendekap istri tercinta.
tok..tok..tok..
"Siapa tengah malam begini datang ke rumah?? Tolong buka pintu Rig..!! Saya masih makan" perintah Bang Zaldi.
Sesampainya di depan pintu ternyata Arnes sudah bangun sambil menggelung rambutnya saja karena mendengar suara wanita yang memanggilnya. Matanya sangat sulit di ajak kerjasama.
Pintu pun terbuka.
"Naahh.. ini dia om. Saya lihat ada laki-laki masuk kesini" kata Bu Iman di temani sang suami yang tidak bisa mencegah perbuatan istrinya kalau sedang ada mau.
"Ya saya mbak" jawab Bang Righan.
"Bukan.. kalau om Righan saya tau. Sekitar jam setengah sebelas malam ada laki-laki berbaju hitam datang ke rumah ini. Suami sedang dinas cari nafkah kok malah memasukan laki-laki lain ke dalam rumah. Ini saya ada buktinya" Bu Iman menunjukan sosok dalam ponsel yang sedang ia abadikan.
Arnes sangat ketakutan, seketika perutnya kram karena selama ini tidak ada yang bertandang ke rumahnya selama Bang Zaldi tidak ada selain Bang Righan dan Bang Seno.
"Nggak ada yang kesini Bu. Demi Allah"
"Halaah.. nggak mungkin..!! Geledah om. Jangan sampai ulah junior ini mempermalukan Batalyon kita"
"Stop..!!!" teriak Bang Righan menghentikan langkah petugas piket pos Ksatrian.
"Kalian pulanglah. Tidak ada apa-apa disini..!! Jangan sampai kalian terkena masalah karena ulah kalian sendiri..!!" Bang Righan memberi peringatan tegas.
"Om Righan jangan macam-macam ya. Atau om akan ikut kena tindak karena melindungi tindak asusila" kata Bu Iman.
"Maa.. tenang dulu" Kapten Iman menarik istrinya yang sulit di arahkan itu.
"Memangnya kenapa kalau saya melakukan tindak asusila di rumah ini???" seketika seisi ruangan menoleh dan kaget ternyata ada sosok suami Arnes disana dan para anggota piket memberi hormat padanya.
"Jangankan tindak asusila. Saya malah sudah membuat istri Lettu Erzaldi hamil. Lantas mau apa kalian?? Menindak saya??????" bentak Bang Zaldi sambil meneguk segelas air minum yang ia bawa dari ruang makan, karena suara berisik itu dirinya sampai belum sempat minum untuk melegakan tenggorokan.
"Abaaaaaang..????????" Arnes kaget saat melihat suaminya pulang. Ia berlari lalu memeluk sang suami begitu erat sampai tangisnya terlepas bebas tak peduli dengan dirinya yang sedang membawa beban di perut. Bang Zaldi meletakan gelas yang ia bawa di meja yang berada di sampingnya.
"Huustt.. sudah.. jangan nangis. Iya.. Abang pulang" Bang Zaldi mencium kening Arnes lalu mendekapnya dengan erat.
__ADS_1
"Lain kali.. saring dulu kalau ada berita apapun termasuk berita dari kuntilanak merah ini" ucap keras Bang Zaldi pada para anggota. Matanya menatap Bu Iman dengan murka.
"Zal.. atas kelakuan istri saya. saya mohon maaf" kata Kapten Iman merasa tidak enak.
"Istri Abang kesurupan dimana?? Kenapa selalu cari masalah dengan keluarga saya??? Dengar ya Bang. Saya menghidupi istri dan anak saya dari hasil keringat saya sendiri. Sepeserpun tidak minta dari Abang. Jadi jangan coba mendekat dan mengurusi keluarga saya lagi. Saya masih sangat mampu mengurus dan menghidupi keluarga saya" ucap tegas Bang Zaldi.
"Iya Zal. Saya benar-benar mohon maaf"
"Tapi Pa..!!" Bu Iman masih merasa tidak puas.
"Cukup Ma..!!!! Kalau Mama masih berulah.. lebih baik Mama pulang ke Jawa" ancam Iman sambil berlalu meninggalkan rumah Bang Zaldi karena terlalu malu. Istri Bang Iman mengikutinya masih membawa wajah kesal. Para anggota piket Ksatrian pun meninggalkan tempat setelah berpamitan pada Lettu Zaldi.
"Tunggu kalian semua di pos ya..!! Saya remukan punggung kalian jadi krupuk" seringai Bang Zaldi sudah membuat mereka bergidik ngeri.
Kini Bang Zaldi kembali fokus pada Arnes yang bersandar memeluknya. Mata Bang Zaldi melirik ke bawah memperhatikan wajah sang istri.
"Kenapa dek"
"Rasanya kok sakit sekali ya Bang" ucap Arnes lirih.
"Apa yang sakit??"
"Itu Bang.. Disitu..!!" jawab Arnes.
"Apa dek? Ngomong yang jelas, Abang nggak ngerti..!!"
Arnes sedikit berjinjit dan berbisik di telinga Bang Zaldi.
"Masa sih dek??" Bang Zaldi kaget sekali mendengarnya. Reflek Bang Zaldi mengarahkan Arnes di sudut dinding lalu menutup dengan tubuhnya yang tegap dan gagah. Bang Zaldi memasukan tangannya ke dalam dress Arnes lalu mengecek lokasi yang dibisikkan Arnes tadi. Bang Righan menggaruk kepalanya salah tingkah mengingat ia masih bujangan. Meskipun Arnes adalah adiknya tapi tetap saja ia merasa canggung.
"Allahu Akbar.. Si kuncung otw bro...!!!" Bang Zaldi kaget bukan main. Ian mengarahkan Arnes untuk duduk.
"Ya Tuhan Bang.. Gimana ini. Saya mau ke mess dulu ambil motor"
"Righan.. kamu jangan panik..!!!" Bang Zaldi mondar mandir kesana kemari menyiapkan barang apa yang harus di bawanya.
"Aduuuhh.. ke rumah sakit bawa apa sih??? Kenapa pikiranku buntu di saat yang tidak tepat Ya Allah.." pekiknya.
"Bang.. saya naik motor apa sama Abang??" tanya Bang Righan dengan pikiran yang ikut buntu.
"Bantu siapkan perlengkapan dulu Rig..!!"
"Oke Bang..!!" Bang Righan mengambil plastik dan menuang isi toples itu sampai habis.
"Kamu buat apa Righaaaaaann..!!!"
"Bawa kacang goreng Bang"
"Gusti Allah.. Buat apa bawa kacang??? Faedahnya apa????" Bang Zaldi semakin kesal melihat wajah Bang Righan yang tanpa dosa itu.
"Abaaaaaang.. sakiiit" Arnes mulai lemas. Tanduknya mulai timbul melihat ulah kedua pria panik di hadapannya.
"Hwaaaaa.. cepat berangkat Bang..!!!!!!" pekik Bang Righan.
__ADS_1
Secepat kilat Bang Zaldi mengangkat rangsel tempurnya dan menyelipkan sebuah senjata di pinggangnya.
"Abaaaaaang..!!!!!! Arnes mau melahirkan.. bukan perang Baratayudha" teriak Arnes sekuatnya.
Bang Zaldi melempar rangsel dan memijat pangkal hidungnya.
"Haduuuhh Tuhan.. Kenapa aku bisa bodoh begini"
Bang Zaldi mengatur nafasnya sejenak lalu mencoba berpikir tenang.
"Tenang.. tenang.. tenang. Jangan gugup Zal.. please.. kamu sandarannya Arnes." gumam Bang Zaldi mengusap dadanya yang luar biasa ketakutan. Ia segera masuk ke kamar dan mencari segala perlengkapan Arnes. Matanya berkaca-kaca, ia kembali melihat telapak tangannya yang masih menyisakan noda darah.
"Oke sayang.. Kita berjuang sama-sama"
//
"Abaang.. Arnes nggak tahan. Sakitnya luar biasa"
"Iya dek, Abang tau. Sabar ya dek. Kamu hebat.. istri Abang kuat" ucap Bang Zaldi memberi semangat pada Arnes
"Abaang.. saya tanya sekali lagi. Abang nggak colek Arnes khan?" tanya Bang Righan. Terus terang Bang Zaldi risih karena kakak iparnya itu menanyakan urusan pribadinya.
"Baang.. saya serius. Ini bukan masalah saya kepo atau tidak. Berhubungan suami istri adalah urusan pribadi Abang, tapi khan Abang tau kalau anak Abang sungsang"
"Eehh yang benar kamu kalau ngomong" tegur Bang Zaldi.
"Kapan saya main-main dengan urusan seperti ini. Memangnya Arnes nggak cerita??" tanya Bang Righan.
"Dek, kamu sembunyikan hal seperti ini dari Abang?? Maksudnya apa??????" pandangan mata Bang Zaldi menegur Arnes secara keras.
Arnes mendekat pada Bang Zaldi susah payah meskipun perutnya kesakitan dan ia berbisik di telinga suaminya itu.
"Tadi Arnes mimpi kempo sama Abang. Abang nggak macam-macam khan??"
"Macam-macam apa sih, ngaco aja kamu. Terus siapa yang menang kempo???" jawab Bang Zaldi belum mau mengakui.
"Abang nih, Arnes serius" ucapnya memercing kesakitan.
"Nggak dek.." jawab Bang Zaldi merasa tersudut.
"Nggak apa Bang??? Yang benar donk.. Anak Abang ngamuk nih" ancam Arnes.
"Halaah.. njawil sitik wae lho dek" jawab Bang Zaldi.
"Tuh khan, Abang mah usil"
"Apa kubilang.. Kucing nggak bakalan diemin ikan nganggur"
"Heehh Righan.. Kamu kira nggak berat tujuh setengah bulan nggak asah tombak?? Abang sudah mau mati kejang nahan Usrok kalau lagi protes minta pulang ke kandang. Cepat nikah kamu biar nggak ngomong aja" omel Bang Zaldi.
.
.
__ADS_1
.