Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
23. Memanjakan mu.


__ADS_3

Warning..!!


🌹🌹🌹


"Nggak Bang. Terima kasih banyak" ucap Sekar tidak mau merepotkan Gathan.


"Bertahanlah disini sebentar saja. Setidaknya rumah orang tua Abang lebih aman untuk tempatmu berlindung. Abang akan meminta bantuan senior dan berusaha mencari kabar tentang Abangmu" janji Gathan pada Sekar.


"Mau ya..??"


***


Satu Minggu telah berlalu. Ivana berada di pinggir jalan sedang menunggu kendaraan umum untuk pulang ke rumahnya. Ia melihat ada Bang Rinto datang memasuki area kampus memakai motor gagah segagah pemiliknya.


Dari jauh Ivana melihat Anye berlari menuruni tangga dan segera menghampiri Rinto. Ivana terkejut saat Anye meraih punggung tangan Rinto dan menciumnya. Lebih terkejut lagi saat Rinto mengecup kening Anye.


Tuh khan.. apa kubilang. Jaman sekarang nggak ada suami setia. Tinggal di sodorin badan aja udah jadi deh seperti Anye dan Bang Rinto. Si Anye tinggal tunggu labrakan dari istrinya.. geger deh di kantor Bang Rinto. Jadi perempuan kok nggak bisa main cantik.


...


"Bang.. tadi ada Ivana" kata Anye.


"Sudah tau"


"Gimana kalau dia tau hubungan kita?" tanya Anye.


"Memangnya kenapa? Cepat atau lambat semua akan tau" jawab Rinto tidak peduli.


"Anye hanya ingin kuliah. Anye belum siap dengan pertanyaan teman-teman Anye kalau tau Anye sudah menikah"


"Kamu santai sedikit lah pikirnya. Jalani saja apa adanya"


***


"Tolong carikan Bang. Nama Serda Ibrahim Eka Atmaja. Saya sudah cari seminggu ini tapi tidak dapat jejaknya juga" pinta Gathan pada Rinto.


"Oke, Abang carikan..!!"


Rinto mengangkat ponselnya lalu menghubungi rekannya.


"Tolong carikan posisi Serda Ibrahim Eka Atmaja"


Beberapa saat kemudian ada notifikasi masuk di ponsel Rinto.


"Ini yang kamu cari. Ibrahim Eka Atmaja posisi ada di bagian timur. Mau kamu apakan dia??" Rinto meletakan ponsel di meja ruang tamunya.


"Kamu hanya salah langkah untuk cari seseorang"


Rinto pun mengajari Gathan dengan sabar. Maklum saja. Kakak iparnya itu baru bergabung di Batalyon dan masih tahap penyesuaian.


"Ini Bang kopinya" Anye meyuguhkan dua cangkir kopi untuk dua orang pria yang sedang sibuk dengan urusan yang tidak ia mengerti.


"Kamu sudah mandi dan sholat apa belum dek?" tanya Rinto.


"Belum Bang" jawab Anye.


"Cepat mandi dan sholat. Setelah ini ikut Abang" ajak Rinto.


"Kemana Bang?"


"Malam mingguan lah. Kencan kita" ucap Rinto seperti biasa, dingin dan tanpa ekspresi.


"Dasar.. ngajak istri nggak ada romantisnya" gerutu Anye sambil berlalu pergi untuk mandi dan sholat.


"Masih ngambekan tuh Bang?" Gathan melihat tingkah adiknya.

__ADS_1


"Ya begitu itu. Kalau nggak ngambek bukan Anye namanya" jawab Rinto kemudian meminum kopi buatan Anye.


"Nggak ada kopi yang seenak buatanmu dek" gumam Rinto memuji kopi buatan istrinya.


Gathan tersenyum melihat Abangnya. Ternyata meskipun Rinto terlihat kaku, tetap itu semua tak bisa menyembunyikan rasa sayangnya untuk Anye.


"Aku juga pamit lah Bang"


"Kemana? Masih terang nih" tanya Rinto.


"Memangnya Abang aja yang mau kencan??"


"Oohh.. punya juga to kamu?" ledek Rinto.


"Ada deehh" Gathan memberi kode khas laki-lakinya.


"Ya sudah sana. Ingat.. masih bujang" kata Rinto mengingatkan.


***


Rumah sepi karena Gathan mengajak Sekar pergi jalan-jalan. Rama bingung karena belakangan kesehatan Dinda semakin menurun.


"Besok kita cek ke dokter aja ya dek. Abang cemas kamu Kenapa-napa"


"Abang nggak usah berlebihan. Masa sedikit-sedikit ke dokter sih Bang?" Dinda merasa Rama selalu berlebihan tentang kesehatannya. Jangankan sakit begini. Dinda bersin saja team kesehatan langsung diminta mensterilkan rumahnya.


Rama langsung memeluk tubuh Dinda. "Kamu harus sehat, Abang ingin kamu terus ada bersama Abang"


Dinda tau kejadian tujuh belas tahun yang lalu masih membawa rasa takut untuk suami tercintanya itu.


"Iya bang. Dinda akan selalu sehat. Oya Bang.. kita malam mingguan yuk. Dinda pengen berduaan sama Abang" ajak Dinda.


"Tumben banget kamu dek" Rama mengeryit, tapi ia tidak bisa bohong juga kalau jiwa mudanya mendadak naik. Usia 45 tahun nyatanya tidak mengurangi pesona dan kegagahan seorang black mamba.


"Sebelum berangkat pijat Abang dulu donk"


"Ada sedikit" jawab Rama sambil tertawa penuh makna.


***


"Sebentar Bang. Kaki Sekar sakit..!!" ucapnya menghentikan langkah Gathan.


Di bawah cahaya lampu yang temaram.. Gathan bisa melihat sepatu Sekar yang ternyata sudah berlubang, telapak sepatunya pun sudah hilang.


Entah kenapa pemandangan itu langsung membuatnya sakit hati, rasanya ia ingin menangis melihat penderitaan gadis yang berada di sampingnya.


Gathan berjongkok di hadapan Sekar, ia melepas sepatu gadis itu lalu melemparnya ke tong sampah.


"Jangan di buang Bang. Sekar hanya punya itu" Sekar hendak berjalan mengambil sepatu yang Gathan buang. Tapi tangan Gathan mencegahnya. Gathan menarik Sekar ke dalam pelukannya.


"Biar Abang ganti dengan yang baru..!!" Gathan menghapus air mata Sekar.


"Sebenarnya apa yang sudah kamu alami? Seberapa berat bebanmu? Maukah kamu membaginya bersama Abang?"


"Ini masalah Sekar Bang"


"Dimana rumah orang tuamu. Abang akan melamarmu" ucap Gathan serius.


"Nggak Bang" Sekar berusaha melepaskan diri.


"Abang tau kita baru saja bertemu, tapi mau dalam hitungan tahun, bulan, hari, jam, menit dan detik sekalipun kalau Allah mentakdirkan kita berjodoh dengan cara seperti ini.. kita tidak bisa melawannya" kata Gathan mengungkapkan perasaannya.


"Jangan Bang, Abang orang berpangkat dan memiliki derajat"


"Allah tidak melihat kasta umatnya. Yang Allah lihat amal ibadah umatnya" jawab Gathan.

__ADS_1


Tak mau berpanjang lebar bicara.. Gathan langsung melepas sendalnya agar Sekar bisa memakainya.


"Kamu tidak perlu percaya apa kata Abang. Tapi perlu kamu tau, Jika Allah sudah mentakdirkan kita berjodoh.. Bukti itu akan ada di depan matamu"


"Ayo pakai sandalnya.. Di depan sana ada toko sandal..Kita kesana.. Abang nggak mau dengar penolakanmu" ucap Gathan dengan tegas.


***


"Malam mingguan kok di hotel sih Bang?" tanya Anye kesal. Ia berharap Rinto akan membawanya pergi ke tempat wisata, atau tempat keramaian lainnya.


"Ya nanti to. Sekarang disini dulu sama Abang" jawab Rinto.


"Iihh.. Abang. Pasti deh ada maksud terselubung"


"Abang deposito dulu dek" ajak Rinto.


"Nggak mau Bang. Anye takut sakit lagi" Anye mengibaskan tangan Bang Rinto menolak mentah-mentah ajakan suaminya.


"Eehh.. waktu itu Abang bilang apa?" tanya Rinto mengingatkan.


"Nggak boleh nolak ajakan suami" jawab Anye dengan ketus.


"Terus itu tadi apa??"


"Aahh.. Abang. Anye masih takut" Anye sudah berjalan ke arah pintu dan ingin kabur dari Rinto.


"Ya sudah.. nggak jadi deh. Kita tiduran saja di ranjang. Sayang lho.. Abang sudah pesan mahal ini kamarnya" Rinto bersabar hati membujuk Anye.. nampaknya stok kesabarannya harus ekstra besar untuk menghadapi Anye. Ia menggandeng tangan Anye naik ke atas ranjang.


"Eehh dek, lepas dulu pakaiannya. Kalau kusut khan nggak enak dilihat" kata Rinto memulai bujukannya secara halus.


"Oh iya ya Bang" Anye mengikuti Rinto melepas pakaiannya.


"Iya.."


Rinto masuk ke dalam selimut, Anye pun kemudian mengikuti apa yang dilakukan suaminya.


"Sini Abang peluk..!! Satu Minggu sudah berat lho dek" Rinto memeluk Anye, hembusan nafas Rinto membuatnya terbuai seiring dengan tangan sang suami yang mulai nakal menjalari tubuhnya hingga Anye tak menyadari Rinto sudah berhasil melakukannya. Rinto pun membalik tubuh Anye, kini ia menguasai tubuh istrinya secara penuh.


Anye tak tau lagi mengapa dirinya merasa sangat nyaman. Melihat Istrinya merasa nyaman, Rinto pun mengecup dan semakin melakukan aksinya.


Setelah beberapa lama. Rinto semakin tidak sanggup mengendalikan diri. "Sebenarnya Abang pengen cepat punya anak dek" bisik jujur Rinto di samping telinga Anye. Mengingat istrinya masih sangat takut, juga ia yang hampir sampai di penyelesaian.. Rinto mengangkat tubuhnya.


"Aaaaa.. jangan pergi.." rengek manja Anye yang baru kali ini merasakan nyaman dan hangatnya pelukan suami.


"Abang nggak kuat dek.. Jangan main-main kamu..!!!" nada keras Rinto mengingatkan Anye tapi istrinya itu semakin menariknya.


Rinto berusaha keras menahan diri sampai menggigit bibir bawahnya karena sudah tidak tahan lagi. Tangannya menggenggam jemari Anye dengan sangat kuat.


Aarrgghh..lepas..!! Sudahlah.. masa bodoh. Anye istriku. Buat apa kupikir pusing. Apapun yang terjadi, semua akan jadi tanggung jawabku.


"Alhamdulillah.. Terima kasih istri Sholehah nya Abang. Kamu nggak apa-apa khan?" Rinto mengusap kening Anye penuh cinta.


"Abang mau kemana??" tanya Anye saat Rinto akan bergeser.


"Katanya minta jalan-jalan?"


"Lagi.." pinta Anye dengan malu-malu.


"Hmm.. siapa tadi yang bilang nggak mau???" ledek Rinto semakin gemas menatap wajah istrinya.


"Iihh.. Abang.."


"Nakal juga istri Om Rinto ini" Rinto mencolek hidung mancung Anye.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2