
Bang Rinto masih merokok melonggarkan jalan pikirannya. Ikan kesayangan sudah raib dan hanya tinggal etalase panjang dan kosong tiada guna di depan matanya. Dua puluh lima juta melayang tanpa sisa. Ingin marah pada sang istri tapi semua ini hanya harta benda belaka. Tidak marah tapi masih ada sisa rasa kesal dalam hati.
"Abang masih marah ya??" tegur Anye sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Kalau Abang marah.. nanti kamu balik marah. Ujung-ujungnya kamu potong jatah preman Abang" jawab Bang Rinto pasrah dalam nada kesalnya.
"Abang hanya sebut dua puluh lima. Mana Anye tau itu artinya dua puluh lima juta" kata Anye.
"Anye juga mana paham kalau itu ikan Arwana. Anye kira itu calon ikan asin" jawab polos Anye.
"Ya kalii Abang mau jual ikan asin. Ada-ada saja kamu ini" gerutu Bang Rinto.
Anye yang tau Bang Rinto sedang kesal padanya segera mencari cara untuk mendinginkan hati sang suami.
"Maafin Anye ya Abang..!!" Anye merangkulkan kedua tangan di belakang leher Bang Rinto lalu bersandar manja menautkan keningnya di kening Bang Rinto. Ia tau sejak kelahiran Arnes, Bang Rinto jarang sekali tidur di kamar karena kalau malam Bang Rinto lah yang menenangkan Arnes.
Bibir Anye mendekat menggoda Bang Rinto. Tak ayal godaan kecil itu mendapat respon manis dari Bang Rinto. Ingin mendekati sang istri tapi hatinya cukup waswas. Bang Rinto berdehem melonggarkan jalan nafasnya. Jakunnya naik turun sudah gemas ingin mendekati Anye.
"Kamu mau tebus kesalahanmu pakai apa??" tanya Bang Rinto.
"Abang maunya apa??" bisik Anye.
"Nantang atau tanya nih??" tak menunggu waktu lama Bang Rinto mengangkat Anye ke dalam kamar tapi Anye terus bersikap sok jual mahal.
"Nantang donk. Anye mau tau si Jalu bisa apa" mata Bang Rinto membulat mendengar jawaban Anye. Bang Rinto hampir tak percaya kalau istrinya itu kini sangatlah pintar menjadi istri 'sholehahnya".
"Yang jelas dia nggak bodoh di depanmu" jawab Bang Rinto.
#
tok..tok..tok..
"Papaaaa.. buka pintunya..!! Seno sama Bima mau masuk..!!" Seno berteriak di depan pintu mengganggu konsentrasi Bang Rinto. Anye sudah bingung saat putranya itu semakin kencang mengetuk pintu sedangkan Bang Rinto sudah tak bisa menjawab apapun lagi. Fokusnya sudah ada pada jalan satu arah.
"Bang.. Seno panggil Abang" kata Anye.
"Duuhh.. ini anak ketularan Bang Sat. Ada saja kelakuan.. nggak bisa lihat papanya sehat sedikit" ucap Bang Rinto dengan geram sudah sampai ke ubun-ubun.
#
Bang Rinto memaju mundurkan truk mainan milik Seno. Wajahnya masam tak bertenaga.
"Papa ngantuk ya?" tanya Seno.
"Ngantuk banget Bang. Papa lagi tidur kamu ganggu saja kerjanya" omel Bang Rinto.
"Seno pengen main sama papa Brian, tapi Papa Brian nggak ada sama adek Righan"
Rasa pening di kepala Bang Rinto mendadak hilang. Selama ini Seno dan Bima juga dekat dengan Bang Brian. Sudah dua bulan lamanya mereka tidak bersama seperti dulu lagi.
"Sabar Bang. Tahun depan kita bisa ketemu sama Papa Brian. Papa dan Papa Brian khan tentara, jadi ya harus sabar kalau papa atau Papa Brian bertugas di mana-mana di Indonesia ini" kata Bang Rinto menjelaskan.
Anye mengusap air matanya. Agaknya ia mendengar dan merindukan putranya bersama Bang Brian.
__ADS_1
//
Senyum Anye mengembang cantik saat melihat wajah Righan saat ia menghubunginya lewat sambungan video call. Putranya itu semakin lincah dan pintar dalam asuhan Ariani.
"Mama jangan kirim baju sama uang lagi. Masih belum habis nih ma. Nanti papa Brian ngomel karena nggak muat lagi lemarinya" kata Ariani yang menerima panggilan telepon itu.
"Baju?? Uang??" Anye tak tau apa yang di maksud Ariani sebab Anye merasa tidak pernah mengirim uang karena Bang Brian melarangnya.
"Itu, dua kardus pakaian untuk anak-anak sama uang yang dikirim kemarin masih ada" jawab Ariani.
Anye menoleh melihat Bang Rinto yang sedang asyik menonton film kartun anak-anak.
"Oohh.. mungkin Abang" jawab Anye.
//
"Abang kirim uang dan Barang untuk anak-anak sama uang??" tanya Anye.
"Heemb.." jawab Bang Rinto sambil sesekali melihat ponselnya setelah Anye mengembalikannya.
"Kata Bang Brian nggak usah kirim uang Bang"
"Abang tau, tapi Righan juga anak Abang. Salahkah kalau papanya mau menyenangkan anak??" tanya Bang Rinto.
Seketika itu juga Anye menubruk Bang Rinto dan memeluknya. Ia menangis penuh rasa syukur telah dipertemukan dengan pria seperti Bang Rinto.
"Terima kasih banyak ya Bang. Abang mau terima Righan dan mengasihinya sepenuh hati"
"Hayoooo.. Papa sayangin Mama. Kata Papa nggak boleh pegang perempuan sembarangan? Hayo lepas Mama..!! Nanti di marahi Tuhan" protes Seno mulai pintar bicara.
"Ya ampun Abang.. Memangnya papa bilang apa sama Abang??" tanya Anye pada putra pertamanya.
"Papa bilang. Nggak boleh pukul perempuan, sayang sama perempuan, nggak boleh pegang perempuan sembarangan, nggak pegang dada, perut, paha, sama si kuncung. Nggak boleh di lihat kan juga"
Anye berkedip-kedip heran tak tau sejak kapan Bang Rinto mengajari putranya itu.
"Seharusnya Papa nggak boleh dekat dengan mama. Karena mama perempuan"
Sekarang Bang Rinto yang berkedip resah karena penjabaran tentang s**s educationnya kurang tertangkap dengan baik dalam pikiran Seno.
"Tau rasa deh Abang. Sama anaknya nggak boleh dekat mamanya tuh Bang" kata Anye.
"Duuhh.. apa Abang salah kasih arahan??" bisik Bang Rinto.
***
Satu tahun berlalu. Satu persatu anggota pindah dari wilayah timur menuju arah barat termasuk Bang Rinto.
Si kecil Arnes berjalan kesana kemari karena ia sudah bisa berjalan di usia satu tahun dan hanya pertumbuhan giginya saja yang terlambat. Papanya sampai harus memakai tenaga ekstra untuk mengasuh putri kecil kesayangan.
"Biar saya saja yang jaga Arnes" kata Alex yang mengikutinya pindah ke Jawa. Om Alex memang sudah terbiasa bermain dan mengasuh si kecil Arnes.
"Titip sebentar ya Lex. Saya kebelet nih. Mau ke toilet" pinta om Rinto.
__ADS_1
"Siap Dan"
ddrrrtttt... ddrrrtt... dddrrtt...
//
"Lari kemana kira-kira Lex????" tanya Bang Rinto cemas setengah mati.
"Tadi di sekitar sini saja Dan" jawab Alex.
"Aahh.. ceroboh sekali kamu Lex. Saya bisa di tabokin mamanya nih" gerutu Bang Rinto.
//
Lelah memutari bandara, si kecil Arnes tak kunjung di temukan juga sampai akhirnya Bang Rinto melihat putrinya terkapar di atas rumput.
"Arneesss...!!!!!!" Bang Rinto panik melihat putrinya bersimbah darah. Pikirannya buntu tak bisa berpikir jernih. Tepat saat itu Anye datang dan juga syok melihat putrinya.
"Ya Allah.. Arneesss..!!!!!!" pekik Anye sampai kakinya gemetar dan lemas. Anye terhuyung menabrak Bang Rinto. Suami Anye itu pun akhirnya juga ikut ambruk bersama Anye.
"Pak Rintooo" para anggota berlarian membantu Pak Rinto dan istri.
Tak lama seseorang melangkah membawa sebuah mangkok plastik dan sebuah tissue basah.
"Ijin Dan.. kenapa tidur disini??" tanya Jeri yang juga melihat kepanikan para anggota.
"Lho.. Arnes kok tiduran di rumput??" tanya Jeri tanpa rasa bersalah. Ia pun menghampiri Arnes dan mengangkat tubuh si kecil Arnes.
"Mau lagi Om..!!" pinta Arnes saat membuka matanya.
Melihat putrinya baik-baik saja. Anye menangis haru sedangkan Bang Rinto malah lemas tanpa tenaga sampai harus di bantu beberapa anggota untuk memapahnya.
//
"Push up kamu Jeri...!!!!!!!!" perintah Bang Rinto sambil menggendong Arnes.
"Siap Dan..!!"
"Bisa-bisanya nggak langsung kembalikan Arnes sama saya atau mamanya. Saya cari si cenil kemana-mana. Kamu suapin buah naga belepotan lagi.. bikin orang jantungan aja" nada keras Bang Rinto masih terdengar emosi.
"Sudah Pa.. jangan marah terus. Lihat tuh urat leher Papa sampai mau putus" kata Anye menenangkan suaminya.
"Biar nggak ceroboh lagi ma. Mau meninggal rasanya papa lihat badan anak merah semua" kata Bang Rinto masih emosi.
"Dedek Anes cayang papa" Arnes kecil menciumi pipi papanya. Bang Rinto langsung luluh, senyum sayang pada putrinya langsung terpampang nyata.
"Papa juga sayang dedek" ucapnya begitu lembut, tak ada nada garang dan keras dari seorang Rinto Dirgantara.
.
.
.
__ADS_1