Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 94. Perselisihan sengit


__ADS_3

Arnes tidur bersandar di tepi ranjang Bang Zaldi. Sejak tadi Bang Zaldi sudah meminta istrinya itu untuk pulang tapi Arnes menolaknya dengan berbagai macam alasan.


"Haduuhh.. gawat nih kalau nggak di rayu-rayu. bisa dipangkas nih jatah begalku" gumam Zaldi pelan.


"Biar saya antar pulang Bang" kata Bang Righan.


"Nggak bakalan mau dia, takut saya di pegang-pegang sama perawat cantik katanya" jawab Bang Zaldi.


"Aahh.. ada-ada saja ulah perempuan. Kenapa mikirnya harus setinggi langit."


"Ya sudah biarkan saja, malah Anteng dia disini. Di rumah pun bisa ratusan kali dia telepon saya"


Bang Righan bersiap mengangkat Arnes agar adiknya itu tidur di sofa.


"Kamu tidurkan saja Arnes disini. Biar saya yang duduk" pinta Bang Zaldi pada Bang Righan.


"Laahh.. pasiennya siapa Bang?"


"Sudah, nggak apa-apa. Kasihan nanti punggungnya sakit." kata Bang Zaldi. Dirinya mahami tenaga wanita tak bisa di bandingkan dengan pria jika sudah lelah.


Righan pun akhirnya memindahkan Arnes ke atas ranjang. Dengan tanpa sadar Arnes menguasai satu ranjang sedangkan Bang Zaldi hanya tersenyum dan menggeleng geli melihat tingkah Arnes. Ia menarik selimut dan menutup tubuh istrinya.


cckklkk..


"Lho.. ini sebenarnya siapa yang sakit?" tanya Papa Brian yang datang menjenguk Bang Zaldi.


"Ya saya pa, tapi siapa berani lawan ibu Komandan ini" jawab Bang Zaldi.


"Hhmm.. benar juga kamu Zal. Nggak usah cari ribut kalau nggak mau kena SP" kata Papa Brian.


"Ngomong-ngomong kamu kenapa sampai bisa rawat inap? katanya jatuh dari pohon hanya terkilir saja?"


"Nggak tau lah pa kata dokter. Saya banyak pekerjaan tapi malah di minta tiduran saja. Saya khan nggak biasa diem pa" Bang Zaldi mulai mengeluh bosan.


"Kamu nikmati saja waktu istirahat mu. Jarang dari kita bisa beristirahat karena pekerjaan yang menumpuk. Bebaskan saja pikiran untuk beberapa waktu, rebahkan tubuh agar ototmu tidak tegang"


...


Arnes menggeliat di ranjang sedangkan Bang Zaldi masih merasakan pening.


"Lho.. Abang kenapa duduk disitu?" tanya Arnes setelah membuka matanya dengan sempurna.


"Biar istri Abang bisa tidur nyenyak donk" jawab Bang Zaldi.


"Oya dek, Abang bisa minta tolong?"


"Apa Bang?"


***


"Komandan seperti orang ngidam ya Mar?" tanya Made.


"Mana Beta tahu.!!" Markus mengendikan bahunya sambil mencari pohon sagu bersama anggota lain.


"Mudah-mudahan Bu Komandan hamil lagi deh. Kasihan sekali kalau ingat kejadian kemarin" kata Made.


...


Sampai siang hari akhirnya para anggota selesai eksekusi pohon sagu atas permintaan DanSat.


Komandan muda itu makan dengan lahap, badannya pun semakin segar dan sore nanti sudah diijinkan pulang. Sepertinya dokter juga tidak mau berurusan dengan pasien paling pembangkang seperti Bang Zaldi.


//

__ADS_1


Bang Bima dan Bang Righan memapah Bang Zaldi yang masih kesulitan berjalan karena kakinya masih terkilir. Di dalam mobil tidak banyak percakapan di antara mereka.


:


"Abang, nanti Arnes mampir di mall sebentar ya..!!" kata Arnes.


"Mau apa kamu? Lain kali saja..!! tunggu Abang sembuh" tolak Bang Zaldi.


"Macet atau lancar nih??" tanya Arnes sedikit mengancam.


"Cckk.. Ya sudah nih uangnya, tapi nggak usah ke Mall, yang di sekitar kota saja. Nanti di temani Righan belinya" jawab Bang Zaldi. Tentu dirinya tidak mau kalau jatahnya untuk si Usrok harus terbengkalai karena sang istri yang ngambek.


"Kalau sama gelang boleh nggak Bang?" tanya Arnes lagi.


"Hmm..." jawabnya datar.


"Terima kasih Abang. Abang ganteng deh" Arnes memeluk dan mencium wajah Bang Zaldi berkali-kali. Lalu turun dari mobil setelah Bang Bima menepikan mobilnya.


Bang Zaldi tersenyum tipis.


"Sejak kapan wajah Abang gagal. Kamu saja tergila-gila sama wajah ini"


Bang Bima akhirnya tertawa mendengar celetukan Bang Zaldi.


"Parah.. nggak kebayang bagaimana wajah Arnes yang tergila-gila"


"Ekstrem broo.. hahahaha"


"Oiya Bang.. sepertinya pesanan Abang nanti sore sudah datang"


...


Arnes terus melihat gelang di tangannya. Jiwa wanitanya meronta-ronta melihat perhiasan emas mentereng di tangannya.


"Waahh.. bagus sekali, aku harus nodong Abang cincin sama kalung" gumamnya.


"Yang benar Bang??" tanya Arnes tidak percaya. Ia melompat lompat kegirangan sampai akhirnya perutnya terasa aneh.


"Bang, perut Arnes nggak enak. Arnes mau duduk"


"Kenapa kamu??" Bang Zaldi menarik kursi dengan sebelah kakinya.


"Eghmm.. sakit Bang" Baru saja p****t menempel di kursi, Arnes merasa perutnya semakin kesakitan.


"Kamu yang jelas kalau bicara. Nggak enak, sakit. Yang bermasalah itu mana?? Abang nggak tau..!!" tegur Bang Zaldi ikut panik karena Arnes terus memercing.


Tanpa memperdulikan kakinya, Bang Zaldi memindahkan Arnes agar lebih nyaman tidur di sofa. Bang Zaldi pun bergegas mengambilkan Arnes air minum hangat.


:


"Gimana?? Sudah reda??"


"Belum Bang"


Bang Zaldi tidak tau harus berbuat apa. Tangannya mengusap-usap perut Arnes. Tak disangka rasa sakit itu malah berkurang dan hilang.


tok..tok..tok..


"Permisi pak, ada yang mencari bapak"


:


"Abaaaanngg.. takuuut..!!" Arnes berjalan memutari Bang Zaldi saat seekor kuda mengikuti langkahnya.

__ADS_1


Tak ada yang menyangka kalau DanSat akan menghadiahi istrinya sepasang kuda berwarna coklat gelap yang gagah dan berwarna putih berekor hitam.


"Jangan takut dek. Mereka baik kok, jinak.." kata Bang Zaldi.


"Kenapa Abang kasih Arnes kuda. Arnes takuut"


"Biar kamu nggak ngawur pakai motor di jalanan. Kamu nggak pintar kendarai kendaraan, naik sepeda juga takut. Ini saja lah kamu tunggangi kemana-mana"


"Kenapa nggak sekalian Abang buatkan delman untuk Arnes" ledek Arnes kesal.


"Kalau kamu mau nanti Abang buatkan" jawab Bang Zaldi serius.


Karena terlalu banyak mengomel, Arnes sampai tak menyadari kerudungnya yang berwarna hijau botol sudah di gigit kuda jantan milik Bang Zaldi.


"Hwaaaaaaaaa...." pekik Arnes. Para anggota tak berani banyak menertawai Ibu DanSat favorit mereka.


Bang Zaldi menepuk badan Jangkung.


"Kamu jangan jadi pebinor ya..!! Itu jatah saya..!!!" ancam Bang Zaldi. Anehnya si Jangkung langsung duduk seolah mengerti ancaman tuannya.


...


Arnes masuk ke dalam kamar dengan kesal. Rasanya tak habis pikir dengan Bang Zaldi. Bisa-bisanya suaminya itu mengumpulkan banyak hewan untuk di bawa ke kompi. Rasanya tak ada hewan apapun yang di takuti suaminya itu.


Beda halnya dengan Bang Zaldi yang heran dengan sang istri yang tak suka jika dirinya membawa hewan yang di anggapnya lucu.


"Kenapa nggak sekalian Abang kumpulkan teman-teman Abang yang lain??? Biar besok sekalian kita di terkamnya Bang..!!"


"Siapa maksudmu?? Si Jangkung khan ada surat ijinnya" tanya Bang Zaldi.


"Buaya.. itu teman Abang khan?"


Bang Zaldi menghela nafasnya.


"Abang sudah nggak berteman lagi sama si buaya. Abang mainnya sama garangan.. minimal beruk. Katamu Abang Owa jantan" balas Bang Zaldi.


"Abang ini benar-benar ya. Nggak bisa nyenangin perempuan" jawab Arnes.


"Kalau perempuan Abang nggak bisa. Kalau kamu ya sudah pasti Abang usahakan" jawab Bang Zaldi membujuk rayu Arnes. Bang Zaldi menyambar bibir Arnes lalu mel***tnya. Tangan Arnes ia arahkan pada anak buahnya.


"Di senangin Om Zaldi mau nggak??" bisiknya nakal.


***


"Ayo.. papi suapin..!!"


Pandangan Bang Zaldi berkunang. Seketika tubuhnya ambruk. Dadanya tak sengaja terhantam batu.


"Daan..!!!!" Pagi ini kompi panik karena tiba-tiba DanSat pingsan.


:


"Ijin Ibu.. " Markus terengah-engah melapor pada Arnes yang tengah menyiram tanaman.


"Kenapa om?" Arnes pun jadi panik.


"DanSat pingsan saat makan berdua dengan Miranda"


"Miranda??????? Abang memang keterlaluan..!!!!!" Arnes melempar selang air lalu berjalan cepat menuju Kompi.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2