
"Namanya Diajeng Arnesia Ken Kaniraras"
***
"Nggak berani Bang. Kalau duduk sakit sekali" sampai pagi hari Anye masih tidak berani untuk duduk.
Bang Rinto hanya bisa mengusap dadanya, tidak tega melihat Anye terus kesakitan padahal semalam ia sudah memberinya obat dari dokter agar tidak terlalu kesakitan. Ia pun sudah meminta pada dokter agar 'menangani' Anye dengan benar. Sungguh ia tidak ingin Anye mengandung buah hatinya lagi. Cukup sudah ia merasa ketakutan yang teramat sangat. Takut kehilangan belahan jiwanya.
Perlahan Anye memiringkan badannya, tapi seolah tenaganya tidak ada sama sekali. Baru kali ini kelahiran bayinya membuatnya syok dan trauma. Dari semalam bahkan Bang Rinto tidak tidur sama sekali.
"Jangan di paksa kalau terlalu belum kuat, nanti juga enakan badannya" bujuk Bang Rinto.
"Pagi bro.." sapa Bang Brian membawakan sarapan pagi untuk Bang Rinto.
"Apa kabar cantik" sapa Bang Brian untuk Anye.
"Heeehh.. cablak" agaknya Rinto masih sedikit menyimpan rasa cemburu kalau Brian menyapa istrinya sedikit berbeda.
"Makan dulu, daripada cemburu terus" kata Bang Brian yang sangat paham sifat Bang Rinto yang pencemburu.
"Siapa yang pencemburu?? Aku cemburu denganmu. Ciiihh.. Noo" jawab Bang Rinto.
Bang Brian menyingkirkan Bang Rinto lalu ia duduk di samping ranjang istri littingnya itu.
"Apa kabar dek? Selamat ya.. Cepat sembuh dan cepat pulih lagi" ingin rasanya Bang Brian menyentuh tangan Anye, tapi apalah daya.. ia hanya seorang mantan. Pria yang pernah singgah. Hanya mampir memberi cinta yang hanya empat bulan saja ia rasakan manisnya madu pernikahan. Meskipun cinta.. semua ia kubur dalam-dalam. Ia akui, tidak mudah memendam cinta pada seorang mantan apalagi mantan tersebut masih ada di depan mata, tanpa pertengkaran dan sudah memberinya seorang putra.
Bang Rinto ingin marah, tapi ini bukan saat yang tepat untuk cemburu dan kekanakan.
Air mata Anye menetes mendengar suara Bang Brian. Ia memalingkan wajahnya. Takut akan mendengar apa yang ia takutkan.
"Dek.. Abang secara pribadi minta ijin untuk membawa Righan bersama Abang" ucap Bang Brian sangat hati-hati. Sebelumnya Bang Brian sudah meminta ijin pada Bang Rinto untuk membicarakan hal ini pada Anye. Lebih cepat lebih baik karena semakin menundanya, hati Anye akan semakin sakit.
"Nggak boleh, dia anak Anye, Anye yang melahirkannya" jawab Anye.
Brian menoleh pada Rinto meminta bantuan untuk menenangkan Anye. Rinto pun menunduk dan mengusap kening Anye.
"Dek.. Brian juga bapaknya"
__ADS_1
Baru mendengar itu saja. Tangis Anye pecah. Ia sangat takut jauh dari Righan meskipun ia tau Ariani juga sangat menyayangi putranya. Righan jatuh saja Ariani sampai tidak bisa tidur saking cemasnya. Ia pun terombang ambing dengan perasaannya.
Terbayang dalam ingatan Rinto saat Brian memohon untuk membawa Righan.
flashback on..
"Aku punya hak apa untuk bicara Bri.. Righan anak kandungmu bersama Anye" ucap Rinto Ia tidak mungkin berkomentar banyak tentang hal ini.
"Tapi aku juga butuh ijinmu untuk membawa Righan" kata Brian.
"Asal kau tau ya Bri. Tidak kau bawa pun aku sanggup menghidupi semua anakku. Aku juga sayang sama Righan" nada suara Rinto mulai meninggi.
"Jangan salah paham Rin. Aku percaya. Aku hanya ingin bertanggung jawab dan mendidik Righan. Kau tau sendiri aku sudah kehilangan dua anakku. Itu sangat berat Rin. Aku ingin merasakan rumah tangga yang utuh bersama Ariani tanpa.. mengingat Anye lagi" ucapnya jujur.
Seketika itu juga Bang Rinto menarik kerah baju Brian.
"Jangan macam-macam kamu Bri.. kamu masih mencintai Anye??"
"Aku janji perlahan akan membuang rasa itu. tapi tolong ijinkan aku membawa Righan. Dia satu-satunya kenangan dan rasa cinta yang pernah ada. Biar aku mengingatnya dalam diri Righan saja"
"Tolong.. aku tidak minta yang lainnya"
"Permintaanmu itu sangat berat untuk Anye. Righan masih sangat kecil. Masih dua tahun dan kamu mau memisahkan anak sekecil itu dari ibunya????" bentak Rinto.
Brian berlutut dan memohon di kaki Rinto. Hanya tangis yang mewakili perasaannya saat ini.
"Kau gila Bri.. Bagaimana caraku bertanggung jawab sama Anye"
flashback off...
"Bri.. nanti aku coba bicara sama Anye. Sepertinya Anye belum terlalu kuat untuk kita bahas ini sekarang" kata Bang Rinto.
"Aku paham Rin"
#
Siang hari suhu tubuh Anye mendadak demam tinggi. Bang Rinto kebingungan menggendong si kecil Arnes yang juga menangis kencang mencari ibunya.
__ADS_1
"Dek.. cepat sembuh sayang. Lihat anakmu ingin kamu peluk. Apa kamu nggak kasihan sama anakmu" ucap Bang Rinto ikut sedih. Ia merasa sangat bersalah sudah mengijinkan Brian untuk bicara. Tapi memang keadaannya sudah tidak ada waktu lagi untuk bicara secara nyaman karena keberangkatan Brian ternyata sudah di majukan di minggu ini.
Bayi berbobot dua setengah kilogram itu merengek dalam gendongan papanya membuat tegarnya hati seorang pria menjadi luluh lantah.
"Inces bobok sama papa dulu ya, nanti papa bilang sama mama kalau inces kangen mama" kini Bang Rinto menangisi si kecil Arnes. Hatinya sebagai seorang ayah ikut merasa sakit melihat putrinya terus menangis.
#
"Sayang.. peluk inces sebentar ya...!!" bujuk Bang Rinto menyapa Anye dengan tatapan kosong. Perlahan Bang Rinto mendekatkan si keci Arnes tapi ternyata Anye menolaknya.
"Jangan begitu sayang.. kasihan anak kita"
"Anye nggak mau dengar suara tangisnya. Bawa dia pergi..!!!!!" pekik Anye.
Hati ayah mana yang tidak menangis melihat putrinya yang sejak dalam kandungan ia perjuangkan dan setelah lahir harus mendapat penolakan ibu kandungnya. Bang Rinto merasakan pahitnya mengingat dirinya yang terbuang, ia tidak ingin Arnes merasakan hal yang sama seperti dirinya.
#
Sekar membantu Rinto menggendong Baby Arnes di ruang bayi bersama Gathan sedangkan Rinto berada di dalam kamar melakukan pendekatan pada Anye. Karena saat ini memakai emosi tidak akan menghasilkan apapun.
"Sayang.. tahun depan Abang pindah ke Jawa.. isi jabatan di kompi baru. Kalau satu tahun saja biarkan Brian merawat Righan, Abang rasa nggak apa-apa" bujuk Bang Rinto sangat berhati-hati. Bang Rinto mendekap Anye di satu ranjang. Di belainya istrinya itu dengan sayang, tanpa emosi dan tanpa nada keras.
"Abang mau pisahkan Anye dari Righan???" tanya Anye mulai sinis.
"Dek.. Brian itu bapak kandungnya Righan. Brian juga ingin bertanggung jawab dalam tumbuh kembang putranya, bukan hanya soal materi. Satu tahun bukan waktu yang lama.. kamu harus ingat, cintamu bukan hanya Righan saja. Masih ada Inces Arnes yang sudah kamu abaikan. Apa itu tidak jahat sayang??" pelan-pelan Bang Rinto menasihati Anye.
"Abang janji hanya satu tahun saja??" tanya Anye, perlahan ia membuka hati dan pikirannya untuk belajar arti sebuah keikhlasan.
"Papa janji ma. Hanya satu tahun saja. Kompi Papa tidak akan jauh dari tempat Brian. Disana kita akan besarkan dan didik anak kita sama-sama" janji Bang Rinto.
Anye belum menjawabnya dan masih terus menangis. Bang Rinto pun mengalah untuk memberi waktu pada Anye untuk lebih tenang meskipun ia harus berpacu dengan waktu agar si kecil inces Arnes bisa segera mendapat pelukan sang Mama.
.
.
.
__ADS_1