
Anye sudah membeli bahan untuk menu makan siang sesuai permintaan sang suami. Anye tau suaminya tidak pernah pilih makanan. Apapun yang ia masak tidak pernah tidak habis di lahap suaminya itu.
***
Selesai apel pagi Rinto melihat seorang wanita memakai pakaian tentara sedang menuju ruang personel, ruangan Bang Candra. Ia merasa seperti pernah mengenalnya.
"Bang Rinto" sapa Annisa.
Bang Rinto masih terus memperhatikan penampilan Annisa yang berubah dan memakai seragam hamil.
"Kamu hamil Nissa?" tanya Bang Rinto.
"Iya Bang" jawab Nissa.
Belum selesai mereka berbicara, ada Gathan yang menghampiri mereka. Seperti biasa jika ada hal yang sepertinya janggal dalam pikiran. Kepala Bang Rinto langsung terasa pening.
"Abang harus uji menembak lagi setelah Abang sakit" alasan Gathan untuk menghindarkan Nissa dari Bang Rinto.
"Abang masih mampu. Urusan tembak menembak itu keciiill" Jawab Bang Rinto.
"Makanya ayo buktikan Bang" Gathan meraih lengan seniornya itu dan lekas berjalan.
-_-_-_-
Rinto membuka penutup telinga dan meletakan senapannya. Kepalanya sudah semakin sakit, ia menunduk merasakan kepalanya tidak bisa berpikir apapun.
"Nissa istri siapa? Kenapa aku bisa lupa hal sepele seperti ini??" gumam Rinto dengan kesal.
"Istri saya" ucap Bang Candra.
Rinto mendengar dan menatap mata Bang Candra. Ada keraguan di hatinya karena yang ia ingat hanya kejengkelannya saat tau Bang Candra seperti menaruh hati pada Anye.
"Eeerrgghh... Rasanya kepalaku sakit sekali" Rinto sampai berjongkok karena tidak kuat berpikir lebih dalam.
"Bapak harus pertanggung jawabkan ucapan bapak itu. Mbak Nissa......" Gathan tak sanggup mengucapkannya dan langsung membawa Rinto di ruang kesehatan bersama Alex dan Thomas.
-_-_-_-
"Abang kenapa? sakit kepala lagi ya?" tanya Anye sambil memberi Bang Rinto jahe hangat karena di daerahnya sudah masuk udara dingin.
"Iya dek..!!" jawabnya masih lemas dan menyerahkan lagi gelas jahe hangatnya.
"Pijatin Abang donk dek..!!" rengeknya dengan manja sambil menyusup meminta pelukan Anye.
Dengan lembut Anye memijat dan mengusap punggung Bang Rinto.
"Yang depan dek..!!" pintanya sambil mengalihkan tangan Anye ke depan dadanya.
"Bawah lagi..!!" pinta Bang Rinto lagi. Akhirnya Anye memijat perut Bang Rinto karena mengira perut suaminya yang sedang sakit.
"Yang bawah lagi..!!!!" rengek Bang Rinto semakin menjadi dan akhirnya membuat Anye kesal.
"Abang jangan main-main ya. Sama dokter sudah dilarang macam-macam" ucap Anye tegas.
"Cuma pijat dek, nggak ada yang lain" jawab Bang Rinto mendongak dan menatap mata Anye dengan manja.
"Nggak.. nggak ada..! Abang itu nggak bisa di kasih hati. Sekali di kasih hati minta jantung. Anye pijit nanti jadi nagih yang lain" kata Anye.
__ADS_1
Bang Rinto mulai melancarkan aksi cemberutnya, kalau sedang manja begini.. Bang Rinto semakin kolokan melebihi Seno.
"Abang khan stress dek.. Butuh perhatian. Ucapnya sambil menarik tangan Anye ke pusatnya. Sebenarnya Anye sangat jengkel sekali melihat kelakuan Bang Rinto yang tidak mau bersabar. Tapi sejak hari itu, Bang Rinto sama sekali belum mengajaknya lagi.
Mau tidak mau Anye pun menuruti keinginan suaminya yang mulai menginginkannya. Bang Rinto mengecup dan memberi sentuhan padanya dalam penuh rasa rindu begitupun Anye yang membalas sentuhan untuk suaminya.
"Ke kamar yuk dek..!!" ajak Bang Rinto dengan suara berat. Wajahnya sudah sangat merindukan saat berdua dengan Anye.
"Rintoo.. Rintoo.. main yuk..!!" teriak Bang Satriyo yang sebenarnya ingin menjenguk keadaan juniornya itu karena jam masih menunjukan pukul empat sore hari.
"Aaaarrgghhhh.. Ya Tuhan. Kenapa para bandit itu datang sekarang" ucap Bang Rinto dengan geram.
"Ayo sayang..!!" ajak Bang Rinto sudah tidak peduli lagi. Libidonya sudah melesat terlalu tinggi.
"Abaang..!!! Nanti lagi lah. Ada tamu" kata Anye.
Anye melongok melihat ke teras depan ternyata Bang Satriyo datang bersama Bang Topan dan Bang Abrian sambil menaiki sepeda pancal mereka.
Bang Rinto langsung kelojotan uring-uringan saking kesalnya.
"Gue kagak main, takut di tumbuk emak gue" teriak Bang Rinto dari dalam rumah dengan kesal.
Ketiga pria di luar sana terkikik karena mereka sudah berniat bulat mengerjai Danki pemarah itu.
"Kabur lewat jendela biar emak lu kagak tau" teriak Bang Topan.
Rinto masih saja mematung di tempatnya sampai akhirnya Brian yang berbicara.
"Waahh.. lu nggak kompak. Gue bocorin rahasia lu waktu masih bujangan ya. 13F" ancam Brian.
Seketika itu juga Rinto berdiri dari duduknya dan segera berjalan ke teras depan.
"Nggak ada sayang. Rahasia apa sih..!! Brian ngaco tuh. Tau lah kamu kalau laki sudah bicara.. suka nggak ngarah" jawab Bang Rinto.
Ketiga pria jahil itu sudah senang sekali melihat Rinto terjebak dalam masalah.
"130H4Y password rahasiamu di balik gambar senjata" kata Bang Satriyo.
"Eehh.. Sumpah Bang Sat" sembur Rinto.
Anye melirik Bang Rinto lalu pergi dari hadapan suaminya seolah tak peduli. Bang Rinto membuang nafas lega dan mengusap dadanya.
...
"Teruskan PP Bang.. Abang memang demen lihat saya di aniaya bini muda" gerutu Rinto.
"Hahaayy.. tampang aja sangar, sama bini nyali ciut" ledek Bang Topan.
"Bukan gitu Bang. Kalau kita nggak baikin bini, bisa-bisa jatah preman kita berkurang donk" kata Rinto.
"Tuh khan, pikiranmu isinya nista semua. Kalau di bongkar t*i ayam semua itu Rin" kata Bang Satriyo.
"Memangnya Abang nggak?" ledek Rinto
"Ya sama sih, bedanya Abang nggak berani simpan file di rumah. Hahahaha" Bang Satriyo tertawa yang membuat ketiga rekannya sebal.
"Tertawalah sampai gigi Abang itu kering" gerutu Abrian.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong.. gimana kesehatanmu? Gimana kamu ini.. Pasukan berani mati di Batalyon kita tinggal sedikit. Ayo berjuang cepat sehat...!!" kata Bang Satriyo menyemangati.
"Saya sudah sehat Bang, kenapa semua orang meragukan kemampuan saya?" tanya Rinto.
Bang Satriyo menepuk bahu Rinto. Ia turut prihatin dengan keadaan Rinto saat ini.
Annisa pulang di antar oleh Pak Candra. Keempat pria itu memperhatikan pak Candra yang sedang membantu Annisa yang nampaknya kurang sehat.
"Selamat sore..!!" keempat pria itu menyapa Dan Candra.
"Sore..!!" jawab Dan Candra kemudian
"Lain kali bapak tidak perlu mengantar saya. Untuk hari ini terima kasih banyak Pak"
"Sama-sama. Tapi baiklah kalau kamu kurang nyaman" jawab pak Candra.
"Saya pamit dulu ya Nissa"
"Silakan Pak..!!" Kata Nissa kemudian tersenyum pada keempat pria sebelum menuju masuk kedalam rumah.
"Ayo semua..!! Saya duluan ya" sapa Dan Candra.
"Siap Komandan..!!!" jawab keempat pria tersebut.
"Eehh.. Wajahmu terlihat sekali tidak mengharapkan kehadiran Pak Candra" tegur Brian pada Rinto.
"Aku masih nggak suka saja kalau ingat dia melirik istriku sembarangan" jawab Rinto.
"Waahh.. repot nih kalau ketemu laki cemburuan model akut. Perasaan dulu tiap sama perempuan nggak gede gini cemburunya. Kelihatan di luar garang dan berwibawa tapi ternyata di dalam meledak juga"
"Siapa yang suka sih Bang punya istri di taksir orang. Dia khan sudah punya Nissa" kata Rinto.
"Lagipula mereka suami istri, lalu kenapa mereka tidak satu atap"
Ketiga rekan Rinto tercekat bingung harus mengatakan apa. Situasi ini begitu rumit untuk di jelaskan.
***
Anye meraba dinding rumah. Perutnya terasa panas, dadanya pun terasa sesak, kepala berputar-putar.
"Abang.. tolong Anye..!!" pinta Anye saat Bang Rinto sedang mengunci pintu rumah.
"Eehh dek.. kenapa kamu????" Bang Rinto segera berlari membantu Anye.
"Nggak tau Bang. Badan Anye rasanya berat" jawab Anye.
"Ya Allah, Kita ke kamar ya..!! kenapa kamu ini. Sehat-sehat to dek, biar Abang nggak kepikiran terus?" Bang Rinto langsung membawa Anye kedalam kamar.
"Cuma nggak enak badan Bang" jawab Anye.
"Nggak dek.. Nggak mungkin. Kamu demam" kata Bang Rinto panik.
"Kamu mikir apa sih sayang???"
Bang Rinto ribut sendiri di dalam rumah karena begitu mencemaskan Anye.
.
__ADS_1
.
.