Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 104. Hampir gila karenamu.


__ADS_3

Tengah malam buta Arnes terbangun dari tidurnya dan tak mendapati Bang Zaldi di sampingnya padahal tadi ia seperti merasa Bang Zaldi ada dan terus bersamanya.


Rumah sudah sepi sepeninggal bibi yang meninggal dunia karena darah tinggi kambuh dan bibi tidak pernah mau mengatakan sakitnya pada Arnes dan itu membuat Arnes semakin merasa bersalah.


Arnes bangkit dan berjalan keluar kamar mencari Bang Zaldi, ia menoleh ke sekitar.. tak ada sosok Bang Zaldi disana. Arnes menyisir pandangan kesana kemari tapi tidak ada sosok sang suami. Tangannya meraba sakunya. Obat itu masih ada dalam sakunya. Ia kembali ke kamar lalu membuka laci mejanya, tak ada barang itu lagi disana.


Ayo kita susul papa ya dek. Pasti Papa sedang sendirian. Jangan rewel ya nak..!!


...


Seperti dugaan Arnes. Bang Zaldi duduk memeluk lutut sambil menghisap rokok di samping 'rumah' Om Chiko, duduk di antara dua pohon besar. Suami Arnes itu mulai meracau, menggigil, berkeringat. Tak jarang mual muntah hebat begitu menyiksa. Arnes menahan tangisnya tak tega melihat Bang Zaldi yang kesakitan. Suara lantunan doa terdengar dari ponsel.


"Bang..!!" sapa Arnes.


"Mau apa kamu kesini??" tanya Bang Zaldi mulai berubah.


"Arnes temani Abang disini ya..!!" Arnes berjongkok di hadapan Bang Zaldi lalu membenahi kancing bajunya yang berantakan.


"Jangan sentuh saya..!! Saya sudah menikah" ucap Bang Zaldi yang kembali mulai terlupa.


Arnes tak begitu jelas melihat wajah Bang Zaldi yang terus menunduk. Ia meraba pakaian Bang Zaldi. Ada kertas terselip di saku bajunya. Arnes menyalakan ponselnya untuk melihat wajah sang suami.


Sungguh terkejut saat ia melihat bagaimana wajah sang suami. Wajah itu letih dan berantakan, tangannya ada bekas luka dan cakaran tapi ada yang lebih menyayat hati Arnes. Bang Zaldi mengikat tangan dan kakinya pada dua batang pohon. Arnes mengambil kertas tersebut lalu membacanya.


🥀🥀


Arnes istriku sayang..


Maaf jika Abang tidak mengenalimu karena kealpaan Abang, tapi percayalah dalam hati Abang akan selalu ada namamu. Sampai saat ini, Abang masih belum bisa berdamai dengan kenyataan bahwa Abang sudah terjerat dalam masalah ini dan sampai saat ini Abang masih belum bisa memaafkan diri Abang yang sudah memperlakukan istri Abang dengan begitu kasar. Abang tau maaf ini tidak bisa menghapus lukamu terutama kekecewaan di hatimu, tapi pria tak tau diri ini masih terus mengharap cintamu.


Arnes istriku sayang..


Jika saat ini Abang masih di beri waktu.. Abang ingin menghapus waktu saat Abang menyakitimu karena mulai dari detik Abang menyadarinya.. tak sedetik pun Abang lewati tanpa penyesalan. Maafkan khilafnya Abang sebagai imam mu, yang tidak bisa mengarahkan mu lebih dekat pada Yang Maha Kuasa. Kini Abang katakan sekali lagi... Kamu berhak bahagia sayang. Jika memang hidup dengan Abang selalu memecahkan tangismu. Abang ikhlas merelakanmu dengan orang yang bisa lebih membuat batinmu tenang. Tapi.. tolong pahami satu hal.. itu ucapan dunia. Maka Abang meminta kamu untuk hentikan hela nafas dan denyut jantung Abang lebih dulu. Dengan begitu Abang akan tenang mencintaimu dalam diam.


🥀🥀


Arnes meraba sesuatu dan benar tersimpan pisau lipat di saku Bang Zaldi. Arnes meremas kertas itu lalu membuangnya ke sembarang arah, ia mengambil sesuatu di tasnya lalu memasukan sesuatu berwarna hitam itu di mulut Bang Zaldi. Arnes memberi air minum sampai sesuatu itu tertelan.


Tangannya gemetar, tangisnya meleleh tapi ia berusaha kuat demi sang suami. Saat ini suaminya sedang berusaha jatuh bangun. Arnes mendekap menyandarkan kepala Bang Zaldi di dadanya. Dibelainya pria yang begitu mencintai dirinya itu. Jika dirinya pun lemah, lalu bagaimana rumah tangga mereka akan berdiri tegak lagi.


"Buka mata Abang..!!!!" perintah Arnes setelah beberapa saat.


"Pergi kamu dari sini..!!!!" bentak Bang Zaldi mengangkat tangannya bersiap memukul Arnes tapi tangan itu sudah terikat kuat. Kakinya yang ingin menendang pun juga terikat kuat. Masih belum cukup dengan itu Bang Zaldi mengikat tali itu pada lehernya juga.


Arnes sangat syok melihatnya apalagi saat Bang Zaldi tercekik. Arnes segera membukanya sekuat tenaga yang ia miliki hingga tangannya terluka membuka semua ikatan yang ada pada Bang Zaldi. Betapa sang suami tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri tapi juga untuk keselamatan istrinya.


Nafas kelegaan dan ngos-ngosan terdengar dari Bang Zaldi.


plaaaakk.. plaaaakkkk..

__ADS_1


"Ini keberapa kalinya Abang ingin mencampakkan Arnes?? Kenapa Aligator ku selemah ini??????" Arnes berbalik membentak Bang Zaldi.


"Setelah semua yang kita alami, Abang ingin meninggalkan Arnes. Mana janji Abang???????"


Bang Zaldi memicingkan mata. Rasa campur aduk masih terasa tapi ia mulai mengenali dan menyadari sosok di hadapannya.


"Kenapa disini dek? Bukannya tunggu Abang di rumah saja..!!"


Arnes memukuli Bang Zaldi membabi buta. Bang Zaldi yang mendapat serangan tiba-tiba itu tak bisa menghindar tapi juga tidak ada niat untuk membalas dan hanya membiarkan Arnes meluapkan emosinya hingga puas.


"Arnes mau cari orang yang sudah menghamili Arnes" ucapnya lantang.


"Katanya orang itu mau tanggung jawab, ternyata malah mau lari dari kenyataan"


"Aduuhh.. ngomongnya kenapa begitu to dek?"


"Apa Arnes salah bicara? Arnes baru menemukan tulisan cakar ayam dengan kata-kata nyontek dari film layar pecah" ucap Arnes kesal.


Bang Zaldi menunduk merasa bersalah. Ia mengakui dirinya memang sempat serapuh itu tadi.


"Sudah lah, Arnes kesal sekali sama Abang" Arnes berdiri dan langsung meninggalkan Bang Zaldi.


"Mau kemana sayang? Jalannya pelan..!! Neng Popon bisa kaget" kata Bang Zaldi.


"Arnes khan sudah bilang mau cari bapaknya" jawab Arnes.


"Ini bapaknya dek. Sudah ya jangan marah lagi. Kasihan Neng Popon"


"Dek.. kenapa ini??"


"Sakiiiit..!!" rengek Arnes sampai membungkuk menahan nyeri.


Bang Zaldi yang begitu cemas segera membawa Arnes pulang ke rumah.


Arnes terus merintih membuat Bang Zaldi cemas setengah mati.


...


"Saya nggak tau pa, mungkin Arnes kecapekan" jawab Bang Zaldi. Wajahnya masih lemas, kuyu, pucat dan berantakan.


Papa Rinto memperhatikan tatapan mata Bang Zaldi yang tidak stabil tapi selalu berusaha sadar. Salut, sedih namun bangga memiliki menantu seperti Bang Zaldi.


"Bagaimana iem ( ie Mey )?" tanya Bang Zaldi yang menunggu penjelasan dari Tante Mey.


"Banyak pikiran dan terlalu capek. Sebenarnya ada apa sampai Arnes menyusul kesana?"


"Kau tau lah iem" jawab Bang Zaldi melemah, ia sungguh merasa bersalah.


"Terus bagaimana caranya Abang ( menghormati ) bisa sadar???" tanya Mey mengintrogasi Bang Zaldi.

__ADS_1


"Arnes memberiku arang aktif" jawab Bang Zaldi yang masih merasakan sisa rasa sakit yang masih tertinggal di tubuhnya.


Belum usai pembicaraan, Bang Zaldi berlari ke wastafel. Mual kembali menyerang tengah hari menjelang pagi.


Bang Bima dan Bang Seno menyusul dan membantu Bang Zaldi. Tak tega dengan menantunya, Papa Rinto pun ikut menyusul.


"Kamu buat Papa bingung Zal. Kamu ini mual karena obat atau bawaan bayi????"


"Sini biar Papa yang tangani..!!"


Papa Rinto menoleh saat mendengar suara Papa Brian yang entah sejak kapan berada di sana.


Dengan cekatan Papa Brian melepas kancing baju Bang Zaldi dan meletakkan pakaian itu. Prihatin sekali rasanya hati Papa Brian melihat keadaan Bang Zaldi.


"Pa.. ini ubi nya..!!" Mama Ariani menyerahkan lunch box pada suaminya.


"Oke Mama sayang. Mama tunggu di dalam saja. Papa mau tangani pasien rewel ini dulu..!!"


Mama Ariani tersenyum lalu meninggalkan pria-pria tersebut.


"Naahh.. kunyah ini sampai mualnya hilang" Papa Brian menyuapi Bang Zaldi sambil memijat kepala Bang Zaldi.


"Kenapa nggak kamu tangani menantumu?? Kamu khan bisa Rin" tegur Papa Brian berbisik.


"Bisa apa? Bisa kacau?? Mending kamu suruh aku kerja yang lain, aku nggak bisa memijat sepertimu. Memijat Anye tidak dapat protes saja sudah syukur Bri. Naahh.. kalau kamu tanya bisa bikin anak banyak atau nggak, itu baru benar. Sama nih seperti Zaldi, buat doank pintar.. sudah jadi malah seperti rumput tertiup angin"


Memang dalam hidup ini kita tidak akan mungkin serba bisa melakukan sesuatu. sebagai manusia pasti ada kurang dan lebihnya.


"Wooo.. semprul. Mertua dan menantu sama saja miringnya" gerutu Papa Brian.


...


"Jahat kamu Nes. Bang Zaldi sampai mual karena terlalu panik" kata Tante Mey. Mama Anye, Mama Riani, Tante Mey dan Arnes terkikik geli di dalam kamar menertawai Bang Zaldi yang sempat kelabakan melihat Arnes yang sempat sakit padahal istri DanSat itu tidak benar-benar sakit.


Pintu kamar terbuka, seketika raut wajah Arnes berubah. Ia kembali merintih. Bang Zaldi masuk ke dalam kamar masih membawa wajah mendung.


"Masih sakit dek?"


"Masih.." jawab Arnes manja.


"Lebih baik kita ke rumah sakit saja. Abang cemas sekali dek..!!"


"Eehh... nggak perlu Bang. Kita disini saja" tolak Arnes yang tidak ingin mendapatkan perawatan medis di rumah sakit.


"Arneess..!!! Nurut Abang dek. Kasihan anak kita" perintah Bang Zaldi tegas.


Arnes menatap mata Tante Mey untuk meminta pertolongan.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2