
"Enak??" Bang Rinto menyuapi Anye. Senang sekali setiap hari nafsu makan istrinya itu semakin bertambah.
"Enak Bang" jawabnya kurang bersemangat.
"Nggak usah kamu pikirkan kejadian tadi. Biar Abang yang pikir semuanya. Ingat kata Abang, tugasmu hanya menjaga anak kita saja. Urusan yang lain biar Abang yang tanggung" kata Bang Rinto sembari menyuapi semur jengkol permintaan sang istri.
Anye menurut saja, memang kepalanya sudah pening kalau terus memikirkan banyak masalah.
...
Sesampainya di penginapan dinas, Anye sudah tidur. Bang Rinto mengecup kening Anye. Hatinya tak tega melihat sang istri tidur membawa perut besarnya tapi harus menghadapi kenyataan kalau ibu mertuanha tak pernah menyayangi istrinya itu.
Dirasa Anye sudah lelap dalam tidurnya. Kini saatnya Bang Rinto menghubungi mamanya yang sedang berada di luar negeri. Ia ingin tau ada kejadian apa hingga papanya bisa menikahi Mama Wiza.
//
"Mama baik-baik saja nak" jawab Mama dengan tenang.
"Papa ingin punya seorang anak. Mama tidak bisa memberi papamu seorang anak. Jadi biarkan papamu bahagia. Lagipula mama sudah tua. Yang ada di pikiran mama hanya ibadah dan kamu. Kamu harta mama yang paling berharga. Bahagialah kamu sama Anye. Ingat pesan mama ya nak. Jangan pernah sakiti hati Anye, jangan duakan dia. Jangan memecah hati seorang wanita" pesan Mama untuk Bang Rinto
"Nggak akan pernah ma. Aku sayang istriku.. juga anakku. Lebih baik aku mati kalau kehilangan mereka" jawab Bang Rinto menahan air matanya. Hatinya ikut sakit membayangkan bagaimana pedihnya hati mamanya karena papanya sudah menduakan mama angkatnya itu.
"Kalau ke Indonesia lagi. Pulanglah ke rumahku ma. Mama masih punya anak disini..!!"
"Pasti sayang. Mama juga sudah kangen kamu, Anye dan cucu mama. Oiya.. mama sudah mengalihkan semua aset perusahaan untuk empat anakmu. Untuk Seno, Bima, Righan dan anakmu yang masih ada dalam kandungan Anye. Mama tau kamu pasti menolak harta mama. Tapi ini semua harta anakmu juga. Mama kerja keras untuk mereka. Jadi.. jangan pernah kamu tolak. Lima aset yang ada, semua untuk kamu"
"Tapi ma, aku ingin kerja keras dari hasil keringatku untuk menghidupi anak dan istriku" jawab Bang Rinto.
"Kalau kamu nggak mau nggak apa-apa. Ini untuk semua cucu mama" kata Mama.
"Sementara anakmu belum bisa mengelola semua aset itu, kamu yang handle semua. Tolong mama nak. Mama sudah mengijinkan papamu menikah lagi, tapi tidak untuk harta yang akan jadi hak semua cucu mama"
Bang Rinto masih diam belum menyetujui ataupun menolak. Hatinya masih terasa berantakan.
//
Bang Rinto tak habis pikir dengan ulah papanya. Di usia setua itu mana mungkin mereka akan punya keturunan lagi. Lalu apa niat Mama Wiza menikah dengan papa. Semua kemungkinan besar itu adalah tentang aset dan harta mamanya.
"Bang..!!" sapa Anye langsung duduk di samping Bang Rinto yang masih duduk di teras saat hari sudah hampir pagi.
"Kamu bangun dek?? Kenapa? Punggungnya sakit?" tanya Bang Rinto.
"Sepi nggak di temani Abang" jawab Anye mengusap punggungnya karena sudah tidak nyaman untuk duduk. Sesekali Anye memercing saat si kecil mulai menendang perutnya.
"Dia lincah sekali dek..! Masa iya anak Abang jago kungfu??" tanya Bang Rinto heran.
__ADS_1
Anye tertawa melihat ekspresi Bang Rinto. Suaminya itu sampai terperanjat merasakan tendangan babynya saat Bang Rinto menempelkan tangannya di perut Anye.
"Pantas kamu kesakitan, kencang sekali tendangannya dek" kata Bang Rinto.
Ini laki atau perempuan?? Kenapa aku jadi ragu, tapi batinku yakin dia perempuan.
"Kita tidur yuk..!!" ajak Bang Rinto.
***
Anye meluruskan kedua kakinya usai kunjungan kerja ke wilayah Bogor. Bang Rinto yang tau lelahnya Anye segera berlari menghampiri Anye.
"Sini bersandar di dada Abang..!!" Bang Rinto duduk membuka kedua pahanya lalu menyandarkan Anye punggung Anye di dadanya.
"Anye pengen pulang Bang. Pengen tidur"
Mendengar itu, hati Bang Rinto sedih sekali. Pastilah Anye sudah sangat lelah dengan banyaknya kegiatan.
"Hari ini, hari terakhir kegiatan khan? Mau pulang besok atau lusa??" tangan kekar itu tak hentinya mengusap perut Anye.
"Besok pagi Bang..!! Anye pengen cepat pulang" ucapnya setengah merengek.
"Iya sayang.. Kita pulang pakai jadwal pagi ya" jawab Bang Rinto menuruti keinginan istri tercinta.
...
"Sepertinya nggak ada ma. Anye sehat saja. Malah saya yang pagi, siang, sore mual.. tapi sudah nggak parah seperti sebelumnya" jawab Bang Rinto.
"Sabar Rin.. namanya godaan bayi. Besok kalau punya anak bisa di ceritakan bagaimana pengorbanan papanya" kata Ayah Rama.
"Kalau ayah sich mending ayah yang mabuk. Nggak tega kalau lihat istri sudah bawa perut besar, masih harus mual"
"Iya benar yah. Nggak apa-apa lah tertimpa mabuk sebentar yang penting anak istri sehat" jawab Bang Rinto.
"Ngomong-ngomong.. sampai sana nanti, kamu atau Brian awasi komandan markas. Ayah sudah memberinya tugas untuk menangani para purnawirawan serta kerja bakti bangun jalan dan buat klinik di kompleks perumahan. Itu hukuman dari ayah"
"Siap laksanakan yah" jawab Bang Rinto.
Saat serius mengobrol bersama keluarga.. Mey dan Seno terlibat pertengkaran sengit memperebutkan semir sepatu milik Bang Rinto.
"Kalian ribut apa?? Mama tidur Bang" tegur Bang Rinto pada putranya.
"Abang mau berangkat dinas..!!" pekik si kecil Seno yang sekarang sudah lebih sering meniru gaya papanya.
"Bersikaplah seperti pria dewasa Seno" tegur Mey.
__ADS_1
"Aku sudah dewasa. Kalau berangkat dinas itu harus rapi dan tampan biar kalau ketemu gadis cantik di jalan akan terpesona" jawab Seno.
Bang Rinto langsung terduduk lemas mendengar celotehan putranya apalagi tatapan mata Mama Dinda sudah mengarah padanya. Hanya Ayah Rama yang tertawa terbahak karena Bang Rinto ketahuan belangnya.
"Siapa yang ajar bilang begitu Bang? Ketemu gadis cantik????" suara Anye semakin menciutkan nyali Bang Rinto.
"Papa yang bilang. Di hadapan wanita, pria harus jantan dan gagah. Mata berkedip saja.. mereka sudah nempel" ucap Seno penuh semangat.
"Abang bicara begitu di hadapan anak kita????" tegur Anye. Matanya membulat besar menghakimi Bang Rinto.
"Ora dek. Guyon..!!" jawab Bang Rinto seperti anak kecil ketahuan mengambil uang ibunya.
"Mana semirnya. Ini mau papa pakai. Abang Seno main dulu sama Tante Mey" perintah Anye dengan senyum cantiknya.
Sesaat setelah Seno dan Mey pergi, raut wajah Anye kembali pada setting wajah semula.
"Guyon.. guyon..!! Abang tuh bapaknya.. harus mengajari anaknya adab yang baik. Bukan di ajari tutorial menggoda wanita" pekik Anye sambil mencubit perut dan pinggang Bang Rinto.
"Ampun dek.. Abang kapok. Nggak gitu lagi..!!" ucap Bang Rinto yang tidak berani melawan Anye.
"Sikap push up..!!" perintah Anye sambil berkacak pinggang.
Saat Bang Rinto sudah siap turun untuk push up. Anye langsung duduk di punggung Bang Rinto.
"Masya Allah dek..!! Yo ora kuat to. Iso prethel ndhuk"
"Harus kuat..!! Angkat Anye aja kuat. Kalau bikin Anye kesal rajin. Kenapa push up begitu saja Abang nggak bisa????" tanya Anye.
"Kalau angkat kamu itu urusannya beda" jawab Bang Rinto.
"Apa bedanya? Sama-sama beban"
"Turun dulu.. pindah di bawah Abang. Biar kamu tau ada beban lain yang harus selesai" pinta Bang Rinto yang sudah dapat lima kali posisi naik turun.
Ayah Rama tertawa geli mendengar perdebatan anak dan menantunya itu.
"Ayah nggak usah ketawa. Mertua dan menantu sama saja" tegur Mama Dinda.
Ayah Rama menggaruk kepalanya sambil nyengir sendiri mengingat masa mudanya dulu.
.
.
.
__ADS_1