
Adzan subuh berkumandang. Bang Zaldi membangunkan Arnes untuk sholat subuh. Bang Bima pun sudah menggeliat di kursinya.
"Kamu sholat nggak??" tanya Bang Bima pada Eliana yang terus melihat ke arah Bang Zaldi dan Arnes.
"Nggak, lagi dapat" jawabnya ketus.
"Ikut saya..!!!" ajak Bang Bima sambil menarik tangan Eliana.
//
"Kamu nggak punya orang tua? Nggak punya keluarga sampai harus membuntut Bang Zaldi????? Kamu jangan coba jadi racun dalam rumah tangga adik saya ya..!!" ucap Bang Bima tegas.
"Aku hidup sendiri. Keluargaku jauh di luar Jawa. Puaasss???" jawab Eliana.
"Saya nggak mau tau, saya hanya mau kamu pergi sejauh-jauhnya dari hidup adik saya dan Bang Zaldi. Sekali lagi kamu bertingkah macam-macam, kamu akan tau rasanya berurusan dengan Bima." ancam Bima tak tanggung-tanggung.
//
Arnes bersandar pada punggung Bang Zaldi usai sholat subuh. Ia pun merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya.
Bang Zaldi mengusap tangan Arnes yang memeluknya sambil menyelesaikan doa terakhirnya.
"Selamat pagi Pak Zaldi. Ibu ingin bertemu dengan Pak Zaldi sekarang" kata seorang perawat menemui Bang Zaldi di mushola rumah sakit.
"Maaf pak, kondisi ibu........"
...
Papa Rinto dan Mama Anye sudah datang di rumah sakit setelah semalam di hubungi Bang Bima. Mereka juga segera datang karena Bang Bima mengabarkan Arnes tidak begitu sehat ketika mereka tiba disana.
Bang Zaldi melangkah tidak pasti saat melihat ibunya mendapat perawatan khusus di ruang ICU. Tangan Ibu ingin menggapai putra satu-satunya itu. Bang Zaldi segera menyambutnya.
"Kenapa nggak bilang kalau ibu sakit??" tanya Bang Zaldi berusaha setegar mungkin menghadapi sang ibu.
"Kamu sedang kerja. Ibu nggak mau ganggu konsentrasimu nak" jawab Ibu.
"Mana ada orang tua yang mengganggu" Bang Zaldi menahan air matanya.
Ibu pun juga ingin menggapai tangan Arnes dan istri Bang Zaldi itu menyambutnya juga.
"Ibu ingin sekali cepat punya cucu" ucap Ibu Bang Zaldi terbata-bata mengungkapkannya.
Bang Zaldi mencium tangan sang ibu.
"Sudah Bu, Di rahim ini sudah ada Zaldi kecil. Ibu akan segera punya cucu" ucapnya kemudian beralih mengusap perut Arnes.
__ADS_1
Arnes menatap raut sedih Bang Zaldi, ia ikut sedih karena Bang Zaldi harus membohongi ibunya.
"Alhamdulillah.. sudah berapa usia kandungannya?? Jaga istrimu baik-baik. Lindungi istrimu, sayangi dia. Istri adalah belahan jiwa, tanpa belahan jiwamu.. kamu nggak bisa apa-apa nak." ibu sampai menitikkan air mata. Terlihat sekali Ibu sangat bahagia mendengarnya.
Arnes diam tak berani menatap dan menjawab pertanyaan ibu mertuanya.
"Insya Allah Zaldi ngerti bu. Cucu ibu masih kecil sekali. Dia nakal, buat mamanya mual dan mabuk sepanjang hari" kata Bang Zaldi membual sambil ikut menatap wajah Arnes kemudian beralih lagi menatap wajah sang ibu yang pandangannya mulai kosong dan menghilang.
"Tidurlah Bu, Zaldi akan jaga baik-baik menantu dan cucu kesayangan ibu" Bang Zaldi menunduk mencium punggung tangan ibunya lalu menyatukan kedua tangan itu diperut ibunya. Bang Zaldi mendekat di telinga sang ibu.
"ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WAASYHADUANNA MUHAMMADAR RASUULULLAH"
Tanpa merasa kesulitan, perlahan sang ibu mengikuti ucapan Bang Zaldi dan kemudian pergi.
Arnes terhuyung bersandar pada dinding. Menguatkan hati saat menyadari ibu mertuanya telah pergi.
Untuk sesaat Bang Zaldi merasakan dunianya gelap dan hilang. Semasa kecil dulu, hanya dengan ibunya saja ia hidup berdua. Menjual ubi yang di tanam, menjual kacang goreng, membuat kue sederhana asal bisa untuk menyambung hidup mereka berdua tanpa hadirnya seorang ayah di tengah mereka. Zaldi kecil bukanlah orang yang manja, sedari kecil ia sudah terbiasa bersikap dewasa
Sejak kecil Bang Zaldi sudah terbiasa hidup susah dan tau apa artinya bekerja keras untuk hidup. Hinaan tetangga karena banyaknya hutang yang menumpuk, di jauhi teman karena sepatu sekolahnya bolong dan baju yang koyak dengan beberapa bekas tambalan sudah menjadi makanan sehari-harinya. Hingga suatu saat hinaan sungguh melukai batinnya, ia pergi dari rumah 'melawan dunia'. Segala kekerasan pernah ia rasakan hingga seorang perwira tinggi menangkap dan menantangnya untuk menjadi seorang perwira.
"Terima kasih banyak ya Bu. Ibu sudah bekerja sangat keras untuk membesarkan Zaldi. Maafkan anakmu ini yang belum bisa membahagiakan ibu. Zaldi janji akan menjaga Arnes dan mendidik anak Zaldi agar menjadi orang yang berguna. Zaldi ikhlas mengantar ibu pergi. Zaldi sayang ibu" ucapnya mengecup kening ibunya kemudian beralih menyentuh kaki ibunya. Disana Bang Zaldi mencium kaki itu dan memeluknya erat.
Arnes mengusap punggung Bang Zaldi melupakan rasa sakitnya sendiri. Bang Zaldi akhirnya tidak kuat, ia terduduk lemas di kursi dan langsung memeluk Arnes, bersandar di dada istrinya.. menumpahkan tangis tertahan.
//
"Pa.. Ma.. ibu sudah tidur dengan tenang"
"Ibuuuu..!!!' Tanpa di duga, Eliana menghambur memeluk Bang Zaldi sampai Arnes terdorong dan menabrak bak sampah di belakangnya. Sigap tangan Bang Zaldi memegangi istrinya itu, Bang Bima yang geram seketika menarik tangan Eliana dengan kasar.
"Bawa dia keluar Bim..!!!!!" perintah Bang Zaldi tidak ingin di ganggu.
"Kamu nggak apa-apa dek??" tanya Bang Zaldi saat melihat Arnes memercing.
"Nggak apa-apa Bang" jawab Arnes tak ingin membuat Bang Zaldi semakin cemas.
***
Pihak rumah sakit sudah merapikan jenazah ibu Bang Zaldi. Jenazah ibu Bang Zaldi sudah di pulangkan ke rumah untuk di sholatkan.
//
bruugghh...
Arnes pingsan saat sibuk menyiapkan acara doa untuk ibu mertuanya saat Bang Zaldi sedang berada di pemakaman. Bang Zaldi cemas sekali dan meminta Arnes di rumah saja karena kesehatan Arnes semakin memburuk.
__ADS_1
Papa Rinto pun akhirnya meminta Mama Anye untuk menemani Arnes karena tidak mungkin Arnes ikut dalam keadaan sakit seperti itu.
//
"Bang.. Arnes pingsan lagi" bisik Bang Bima saat Bang Zaldi sedang sibuk bersama para pelayat.
"Pa.. sebaiknya saya bawa Arnes ke rumah sakit dulu. Saya titip para pelayat ya..!!"
"Bapak-bapak.. Mohon maaf tanpa mengurangi rasa hormat, saya mohon ijin sebentar. Istri saya sedang sakit. Saya mau bawa ke rumah sakit dulu" pamit Bang Zaldi pada para tamu.
"Ya sudah sana" Papa Rinto pun tak kalah cemas dengan keadaan Arnes.
"Silakan pak. Utamakan keluarga dulu..!!" ucap Para pelayat
-_-_-_-_-
Baru sampai depan rumah sakit Arnes kembali pingsan. Bang Zaldi yang tidak sabar segera membawanya ke ruang IGD rumah sakit.
//
"Dari uji Lab istri bapak baik-baik saja, tidak sakit" kata seorang dokter.
"Nggak mungkin dok, istri saya ini berkali-kali pingsan. Apa karena sudah dua hari ini nggak mau makan???" tanya Bang Zaldi.
"Saya pindah ke rumah sakit lain saja lah" ucapnya benar-benar frustasi. Saat sudah bersiap mengangkat Arnes, dokter itu mencegah tindakan Bang Zaldi.
"Sabar pak, pelan-pelan. Janinnya masih sangat kecil"
Bang Zaldi pun melonggarkan tangannya lalu menatap wajah pucat sang istri yang terbaring memejamkan matanya. Kini ia baru menyadari sikap dan gelagat Arnes belakangan ini adalah bawaan sang jabang bayi yang sudah hadir disana. Bang Zaldi menangis sesenggukan menghambur memeluk tubuh Arnes.
"Ya Allah.. kamu datang saat eyang sudah pergi nak. Pantas eyang tenang sekali. Sehat-sehat ya kamu nak. Jangan nakal, kasihan Mama" ucapnya bergumam sendiri sambil mengusap perut Arnes.
"Bang.. nggak suka bau obat" ucap Arnes pelan.
"Bagaimana ini dok. Sejak kemarin istri saya mudah sekali sensitif"
"Di rawat beberapa jam ya pak. Biasa hormon ibu hamil beda-beda" kata dokter.
"Ya sudah, apa saja lah dok yang penting istri saya sehat lagi. Nggak tega saya lihatnya" Sikap garang Bang Zaldi mendadak memudar memandangi wajah Arnes. Satu-satunya wanita yang tersisa, yang paling ia cintai.
.
.
.
__ADS_1