
Anye membawa bayinya pulang dari rumah sakit di temani Ezhar. Segala apapun yang terjadi pada Anye sudah menjadi tanggung jawab Ezhar seperti permintaan Abangnya.
"Bang.. kemana Bang Rinto bertugas?" tanya Anye saat kembali melihat tidak ada pesan singkat dari Bang Rinto yang masuk ke ponselnya.
"Dek, dalam dunia militer, tidak semua bisa kamu ketahui. Percayalah suamimu baik-baik saja. Dia bukan prajurit asal jadi. Dia hebat dek..!!" kata Ezhar sambil mendekap adiknya yang sedang menggendong baby Sen.
Anye menangis mengingat saat pertemuan dengan Bang Rinto. Suaminya itu terluka parah terkena anak panah.
"Bang, bisakah satu kali saja Anye dengar suara Abang? Perasaan Anye nggak enak sekali" kata Anye.
"Sabar ya, kalau ada informasi.. Abang kabari kamu ya..!!" kata Ezhar. Ia mengalah untuk tidur di rumah adiknya sambil menjaga si kecil Sen. Si kecil itu terus menangis membuat Anye kewalahan.
***
"Anye, kamu masak apa? Abang mau bawa untuk buka puasa di kantor. Hari ini ada acara" tanya Bang Ezhar.
"Masak Rendang sama tumis buncis Bang. Bang Rinto suka sekali makan rendang. Abang mau??"
"Mau, cepat siapkan..!!"
-_-_-_-
"Sabar ya Bang. Saat pengumpulan BAP. Ayah sama Papa juga Om Rival pasti bantu Abang" kata Ezhar.
"Saya nggak mau merepotkan semua orang"
"Kalau sampai Anye tau Abang melindunginya sampai seperti ini, entah apa reaksinya Bang"
"Ini hal wajar yang dilakukan suami untuk istrinya. Asalkan Anye tenang bersama Sen. Abang sudah bahagia.
Ezhar tersenyum melihat Abangnya. Ia menyerahkan kotak makan pada Bang Rinto.
"Kangen masakan istri nggak Bang? Cepat makan..!!"
"Kangen sekali. Tapi Abang puasa" jawab jujur Bang Rinto.
Bang Rinto segera membuka isi kotak makan itu. Ingin sekali menahan rasa harunya tapi perasaan memang tidak bisa bohong.
"Abang sedang tidak fit. Jangan puasa. Oohh.. iya. Ini foto Seno sama mamanya" Ezhar menyerahkan ponselnya pada Bang Rinto.
"Anak istri Abang belum bisa puasa.. Abang sehat.. Apa salahnya Abang yang puasa" sembari mengambil ponsel di tangan Ezhar.
Ezhar melihat Abangnya, tidak ada tanda seniornya itu sangat sehat. Tubuhnya penuh lebam dan luka karena ada pembinaan di dalam sana meskipun tidak parah. Itu hanya tingkat pendisiplinan karena sudah bersinggungan dengan warga sipil.
"Jagoan Papa... Tunggu Papa pulang ya nak. Papa akan lakukan apapun demi kebahagiaan kalian" ucapnya saat melihat foto Seno. Jarinya mengusap wajah Anye di foto itu.
-_-_-_-_-
"Assalamualaikum dek. Apa kabar sayang. Jangan cemaskan Abang.. Abang baik-baik saja. Jaga diri dek. Jangan telat makan. Mudah-mudahan kamu memaafkan Abang yang tidak bisa menjagamu saat kamu membutuhkan Abang.." pesan voice note Bang Rinto melalui file pribadi Ezhar.
__ADS_1
"Seno sudah semakin sehat khan sayang?"
Anye sampai meneteskan air mata setelah satu minggu lamanya hatinya gundah gulana menanti kabar dari sang suami. Ajaib sekali.. mendengar suara papanya, si kecil Seno berhenti menangis dan langsung tenang.
"Wa'alaikumsalam Abang.. Sejak tadi anak Abang menangis kencang. Mungkin merasakan kesedihan mamanya atau mungkin adek juga rindu dengan papanya. Tapi mendengar suara Abang, adek sudah tenang. Kalau Abang ada waktu.. kasih Anye kabar lagi..!!" ucap Anye kemudian tidak bisa menahan tangisnya. Ia merekam balasan di ponsel Bang Ezhar.
Ezhar pun menyimpan rekam balasan dari Anye.
"Kamu dengar sendiri. Suamimu sangat luar biasa"
"Iya Bang" ada senyum mengembang dari bibir Anye tapi ia tak bisa menyembunyikan rasa sedih dan cemasnya.
***
Dua hari kemudian.. Anye mulai curiga dengan Bang Ezhar karena Abangnya itu sebenarnya tidak suka membawa bekal, tapi selama beberapa hari terakhir selalu meminta membawa bekal. Apalagi banyak hal yang membuat perasaan Anye bertanya-tanya. Mengapa Bang Ezhar dengan mudahnya mendapat kabar dari Bang Rinto semudah itu sedangkan ayahnya dulu hanya mengabari melalui radar militer.
Anye berinisiatif menitipkan Sen pada mamanya dengan alasan ada tugas yang tidak bisa ia tinggalkan.
-_-_-_-
Ojeg online Anye melaju tidak jauh dari mobil Ezhar, disana ia melihat Bang Ezhar memasuki area gedung kantor tahanan militer pusat setelah sedikit bertegur sapa dengan petugas piket jaga.
"Untuk apa Abang kesini??" gumam Anye lalu ia secepatnya mengikuti Ezhar yang ternyata menenteng kotak makannya.
"Permisi ibu.. ibu siapa dan ada kepentingan apa?" tanya seorang petugas piket jaga.
"Maaf pak, saya istri dari Kapten Rinto Dirgantara....."
"Abang di gedung tahanan militer? Ada apa?" Anye bertanya dalam hati.
"Terima kasih banyak pak"
Anye berlalu dan bergegas masuk dengan langkah gontai.
...
"Ya Allah Ya Tuhanku.. Suamiku berada di sel ini? penuh luka?" tangisnya pecah tak sanggup melihat keadaan Bang Rinto.
"Kenapa Abang harus bohong sama Anye.. Ada apa Bang?"
Lihatlah dirimu Bang, baru beberapa hari.. tubuhmu menghitam, kurus, tanpa rambut kesayanganmu. Sungguh aku istri yang begitu menyusahkanmu. Aku ingin memelukmu Bang.
Anye mendengar percakapan mereka.
"Bang.. Anye bahagia sekali mendengar suara Abang"
"Bilang padanya untuk sabar sedikit lagi. Abang tidak akan ingkar janji" kata Bang Rinto.
...
__ADS_1
Hingga sore hari Anye berada disana sampai Mayor Arif mendatanginya.
"Maaf, saya lihat sejak saya melihat anda duduk sendiri. Siapa yang ingin anda temui?"
"Suami saya. Kapten Rinto Dirgantara"
...
Rinto mendengar suara langkah kaki yang tidak asing di telinganya.
Anye menahan isakan tangis kecil melewati satu lorong sempit. Lima kamar di bagian kanan dan lima kamar di bagian kiri. Ada pintu besi tanpa ventilasi dan hanya ada sepotong lubang berukuran lima puluh kali dua puluh centimeter sebagai jalan udara agar kamar tidak pengap.
Rinto berdiri berjalan ke arah pintu, air matanya menetes membasahi pipi.
"Abang disini.."
Anye melihat ada tangan terjulur dari ruang tahanan paling ujung sebelah kiri, ia yakin itu tangan Bang Rinto. Anye berlari kecil menghampiri tangan itu.
"Abaaang..!!!!" tangis Anye mulai pecah. Anye menunduk mencium tangan suaminya.
"Peluk Anye Bang. Jangan biarkan Anye sendiri..!!" pinta Anye menangis kencang.
Melalui lubang kecil itu. Rinto mencoba memeluk sang istri meskipun sangat sulit.
"Kenapa Seno di tinggal sendiri?" tanya Bang Rinto dengan suara tercekat.
Tak ada jawaban. Hanya tangisan mengungkapkan semua rasa.
"Kalau sampai di rumah nanti, menangis lah di atas sajadahmu. Hanya Allah saja yang bisa menenangkanmu. Sayang.. tidak ada kepedihan yang tidak pernah berakhir. Percayalah kita akan kembali seperti dulu lagi" kata Bang Rinto.
"Besok jangan kesini lagi ya.. Percayalah Abang yang akan pulang. Suamimu adalah abdi negara. Kuatkan hatimu.. Tapi jika Abang tidak akan kembali lagi karena Ibu Pertiwi memanggil dan Jika bumi ini meminta Abang untuk tidur, Semoga rasa bangga itu mengantar Abang ke pintu surga"
"Abang janji akan pulang ya Bang..!!"
"Insya Allah..!!" jawab Bang Rinto.
***
Anye menangis di dalam kamarnya. Bang Ezhar dan Bang Gathan berusaha menenangkannya.
"Besok pagi Abang menikah dengan Anissa. Abang tidak ingin tangismu menghias hari bahagia Abang" Bang Ezhar membujuk Anye.
"Anye, jangan nangis lagi ya. Kasihan anakmu butuh perhatianmu" Sekar ikut membujuk Anye, sekarang ia sudah resmi menjadi Nyonya Gathan.
"Anye ingin Abang segera kembali"
"Abang tau perasaanmu dek. Kami tidak akan putus mencari keadilan seperti yang suamimu lakukan" kata Bang Gathan.
.
__ADS_1
.
.