Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 112. Salah lagi..!!!!!


__ADS_3

Bang Zaldi mengintip Arnes dari lubang kunci. Sejak hamil Neng Popon, Arnes sangat galak padanya, membencinya bagai musuh yang harus di tamatkan.


Begini ya rasanya kalau berhadapan dengan istri ngidam. Dulu saat hamil Ibra biasa saja, tapi saat hamil Neng Popon.. tingkah Arnes luar biasa. Maklum saja lah, laki dan perempuan memang beda.


"Abang lihat apa??"


"Astagfirullah.." Bang Zaldi sangat kaget saat Arnes menyapanya.


"Kamu kok di luar dek? Abang kira di dalam"


"Kalau Arnes di dalam, Abang mau apa?" tanya Arnes dengan kejudesannya.


"Mau nemenin mamanya Neng Popon"


"Nggak, Arnes pengen sendirian" jawab Arnes sambil berlalu.


"Tunggu dek.. Abang mau pamit" kata Bang Zaldi.


Langkah Arnes terhenti, memikirkan ada acara apa belakangan ini sampai suaminya harus pergi hari ini.


"Kemana?"


"Abang mau pergi, kamu sudah nggak butuh Abang lagi. Ada Opa, Papa dan Abangmu disini. Abang mau berangkat sekarang" Bang Zaldi masuk ke dalam kamar dan mengambil pakaiannya.


"Abang mau kemana?" tanya Arnes lagi dengan kejengkelannya.


"Yang jelas, kemanapun Abang pergi, kamu nggak akan terganggu dengan kehadiran Abang" jawab Bang Zaldi serius.


"Abang tega ninggalin Arnes disini?? Gara-gara Arnes suka marah sama Abang?? Arnes juga nggak mau marah. Tapi Arnes pengen marah sama Abang" ucapnya tak paham dengan keadaannya sendiri. Ia sampai melupakan rasa kesalnya karena cemas Bang Zaldi akan pergi.


"Abang nggak tega. Mau ikut Abang nggak??" tanya Bang Zaldi memasang wajah serius.


Bang Zaldi menggandeng tangan Arnes. Opa Rama bengong melihat Bang Zaldi melintas di hadapannya dengan senyum paling buaya darat sepanjang masa.


"Kenapa Zaldi senyum nggak jelas gitu??" tanya Papa Rinto sambil membawa dua cangkir kopi untuk menemani mereka berdua.


"Jangan ikut campur. Itu urusan anak muda. Dulu kita pernah melewati masa-masa indah madu pernikahan" jawab Opa Rama.


Papa Rinto mengangguk membenarkan. Memang selama menikah, Arnes dan Zaldi banyak mendapatkan cobaan. Jadi moment kecil seperti ini pasti bisa menambah keakraban mereka anak dan menantunya.


:


"Abaaang.. nggak mau..!!!! Dingin Abaaaaaang..!!!!" Arnes menjerit ingin keluar dari kamar mandi tapi Bang Zaldi menyergapnya.


"Huusstt.. diam dek...!!! Nggak malu kamu di dengar yang lain" tegur Bang Zaldi.


"Katanya Abang mau pamit pergi berangkat tugas, kenapa malah ajak Arnes mandi??"


"Yang bilang mau pamit pergi berangkat tugas itu siapa?? Abang cuma bilang mau pamit.. Abang mau mandi, nggak pergi kemana-mana" kata Bang Zaldi.


"Arnes nggak mau mandi, dingiin..!!!" Arnes menggigil kedinginan. Selama hamil Neng Popon.. Arnes sangat takut mandi air dingin, yang ia sukai hanya berdandan saja. Memakai perhiasan dan pernak-pernik khas wanita.


Bang Zaldi menyudutkan Arnes di pojok.


"Jangan banyak alasan. Mandi itu wajib.. biar bersih. Sudah dengar suara adzan, Abang hanya mau ajak kamu mandi" ucapnya sambil menanggalkan pakaian Arnes lalu untuk dirinya sendiri.


Matanya melirik nakal pada istrinya. Di kehamilan Arnes ini sungguh membuatnya mabuk kepayang, lupa daratan.. yang ia tau istrinya telah mencemari pikiran dan hatinya.


Tak tau siapa yang memulai lebih dulu, bibir mereka sudah saling menghangatkan. Tak ada keributan lagi dari bibir mereka berdua. Tangan Bang Zaldi memutar kran hingga air terdengar kencang menyamarkan desahann mereka berdua. Lama.. semakin lama, Bang Zaldi melepaskan paggutannya dan menyandarkan keningnya di dinding dalam guyuran air shower.

__ADS_1


"Abang mau disini??" tanya Arnes menatap mata Bang Zaldi yang sudah menuntut pelepasan.


"Nggak.. nggak boleh di tempat seperti ini. Ada si dedek yang harus di ajari kebaikan sejak masih dalam kandungan. Kecuali si dedek belum datang, Abang berani dek" jawab Bang Zaldi masih sedikit mengingat untuk mengerem diri.


"Sudah.. ayo mandi dulu..!!"


...


Bang Zaldi mengusap wajahnya usai sholat. Sedari tadi ia menahan perasaan. Entah kusyuk atau tidak ibadahnya yang jelas ia sudah berusaha menjadi sebaik-baiknya umat manusia.


Arnes mencium punggung tangan Bang Zaldi. Aroma wangi favorit suaminya itu menyeruak masuk ke hidung melegakan rongga pernafasan. Bang Zaldi mengecup kening Arnes lalu melepas mukennya, ia pun mengangkat dan merebahkan tubuh Arnes di ranjang.


"Cantikku, Nyonya Zaldi kesayangan Abang.. Semakin hari kamu semakin menggoda saja. Ternyata benar ya. Istri hamil tuh tiada duanya"


"Abang minta Arnes hamil terus nih?"


"Cckk.. kamu ini memang sulit di rayu. Maksud Abang.. Baru kali ini Abang menikmati proses istri hamil.. dan kamu benar-benar buat Abang kelabakan" Bang Zaldi kembali menciumi kening dan seluruh wajah Arnes.


Awalnya sejak memulai menggoda Arnes tadi, Bang Zaldi tidak punya niat apapun tapi saat sudah bersama Arnes, niatnya itu jadi berubah. Kini ia begitu menginginkan istrinya melebihi apapun.


"Boleh khan ma.. mamaaa?" tanyanya sambil mengusap paha Arnes, Bang Zaldi merajuk manja merayu Arnes yang belum juga membalasnya.


"Iyaa boleh pa."


Senyum Bang Zaldi langsung sumringah mendapat lampu hijau dari sang istri.


...


Arnes secepatnya memakai pakaiannya saat mendengar Ryan menangis kencang sedangkan Bang Zaldi seolah tuli, lemas tanpa tenaga setelah Bang Zaldi menuntaskan tugasnya sebagai suami.


"Ada apa Opa??" tanya Arnes sambil menutup pintu kamarnya.


Arnes bingung harus menjawab apa, pasalnya Bang Zaldi benar-benar tepar kelelahan.


"Hmm.. itu Opa.."


"Ya sudah cepat kita bawa ke rumah sakit. Biar Adi standby disini. Demam anakmu tinggi sekali" kata Papa Rinto memutuskan.


...


"Jangan dekat aku Seno. Aku geli..!!!" pekik Tante Mey di atas mobil.


"Ooohh.. Dasar gendut" ledek Bang Seno.


"Abaaaanngg.. Seno nih" Tante Mey selalu tidak bisa mengontrol dirinya jika sudah bertemu muka dengan Bang Seno.


"Aduuhh Seno..!!! Jangan buat ulah kamu ini. Mey ini kesal sekali lihat wajahmu" kata Bang Bayu.


Mendengar kata Bang Bayu, niat jahat Bang Seno semakin menjadi.


"Hwahahaha.. anakmu nanti mirip aku Imey" ledek Bang Seno.


"Nggak mau... kalau anakku nggak mirip Bang Bayu, ku tumbuk wajahmu Sen" ancam Tante Mey tidak terima.


"Astaga.. bisa nggak sih makhluk dua ini nggak di pertemukan. Setiap mereka bertemu selalu begini" Papa Rinto sampai pusing di buatnya.


"Diam kenapa sih Sen. Kamu yang buat ulah.. saya yang susah Senooo" kata Bang Bayu sambil memperhatikan jalanan.


...

__ADS_1


Bang Zaldi menguap di depan pintu sambil menggeliat malas. Badannya masih saja terasa lemas. Kepalanya pun terasa berat.


"Pada kemana ini Bim?? Kenapa sepi sekali"


"Ke rumah sakit Bang. Ryan sakit.. demam tinggi lagi" jawab Bang Bima.


"Haaahh.. kenapa nggak ada yang beritau saya?????" Bang Zaldi merasa kecewa karena tidak tau tentang keadaan putranya tadi.


"Sudahlah Bang jangan berdebat. Kami paham Abang butuh istirahat. Saya mau pulang dulu Bang. Puri sudah lelah, pengen lupis lagi dia ini. Nanti saya nyusul ke rumah sakit" kata Bang Bima.


"Langsung pulang saja. Kasihan istrimu butuh istirahat. Nanti saya kabari bagaimana Ryan"


...


Bang Zaldi berlari di lorong ruang IGD bersama Om Adi. Om Adi hanya bisa mengelus dada saat mengendarai motor bersama Bang Zaldi. Nyawanya seakan di ujung ubun-ubun merasakan kencangnya Abang senior mengendarai motor.


"Bagaimana Ryan dek?? Sakit apa anakku?" tanya Bang Zaldi pada Arnes.


Dokter baru saja keluar dan melepas maskernya tapi Bang Zaldi sudah begitu cemas.


"Bagaimana anak saya dok?"


"Kita harus bicara Pak.. Bu..!!"


//


plaak..plaaak.. plaaaakkkk...


"Sabar dek, jangan marah dulu..!!" Bang Zaldi mencegah amarah Arnes yang meledak-ledak. Arnes sangat syok saat mendengar penjelasan dokter.


"Maaf Bu, sebaiknya masalah ini ibu bicarakan dengan bapak. Kami sebagai dokter hanya bisa sekuatnya membantu. Ryan bayi yang sangat kuat"


"Sama siapa Abang lakukan itu??????" tanya Arnes menangis sampai akhirnya pingsan.


"Dek..!! Haduuuh..." Bang Zaldi membawa Arnes untuk di rebahkan di bed ruangan dokter.


Papa Rinto dan Bang Seno langsung menerobos masuk di ruang dokter.


"Kenapa jadi gini Zal?? Apa penjelasan dokter. Kenapa nggak di jelaskan saja" tanya Papa Rinto.


"Mau jelaskan gimana pa, seperti biasa Arnes mendengar berita sepotong tapi mencernanya di hati secara utuh"


"Ada apa??"


"Ada infeksi paru-paru pa.. dan juga, ada indikasi Ryan ada riwayat penyakit kelamin bawaan dari orang tua" jawab Bang Zaldi.


"Lalu apa hubungannya sama kamu Zal??"


"Arnes ini lupa kalau Ryan bukan anak kandungnya pa. Dia syok dan menuduhku suka main perempuan. Arnes menampariku dan marah saking kagetnya" perasaan Bang Zaldi campur aduk antara ingin tertawa dan sedih menghadapi reaksi Arnes.


"Astagaa.. ya sudah terima saja. Mau bagaimana lagi. Musuhmu bumil kesayangan. Nanti kamu jelaskan pelan-pelan Zal..!!"


.


.


.


.

__ADS_1


HARAP TENANG. Cerita belum usai..!!!


__ADS_2