
Anye ikut menangis bersama Bang Rinto. Betapa besar rasa sayang dari suaminya itu.
"Anye mau mendampingi Abang.. Karena Anye tau siapa suami Anye"
"Terima kasih banyak kesayangan Abang..!!"
"Bang.. gantian Anye donk yang manja..!! Sakit Bang.." rengek kecil Anye.
"Eehh iya.. Maaf dek.. Enak banget di peluk istri. Anget..!!" bisiknya genit.
"Bayi Abang baru lahir lho. Jangan nakal..!!" ancam Anye.
"Nakal sedikit nggak apa-apa lah" jawab Bang Rinto.
Anye memercing kesakitan. Ia bersandar memeluk Bang Rinto. Papa Sen itu merasakan ada yang tidak beres dari istrinya.
"Kita ke kamar..!!"
...
Anye berbaring lemas setelah 'pertikaian' dengan sang suami. Bang Rinto merawat Anye dengan baik.
"Abang rawat kok susah sekali" nada bang Rinto sedikit keras mengingat Anye terus menolak perhatiannya.
"Ini Bang obatnya..!!" kata Gathan yang datang sambil menyerahkan obat untuk Anye.
"Untuk menghentikan pendarahan yang warna merah khan?" tanya Bang Rinto memastikan.
"Iya Bang..!!"
"Saya baru lihat teman tawuran Bang, tampan kali dia rupanya" ucap Gathan saat baru melihat keponakannya.
"Enak aja. Anak baik itu" jawab Bang Rinto.
"Satu Minggu di rumah di sakit. Semoga si kecil Sen cepat sehat" doa Gathan.
"Aamiin..!!!"
"Enam bulan lagi aku yang gendong baby Bang. Mau belajar gendong Sen dulu"
"Eehh.. nggak. Sen bukan bahan coba-coba" Papa Sen itu mulai melotot mendengar om nya mau mencari perkara.
"Selamat malam" sapa seorang perawat jaga.
"Selamat malam" jawab Rinto.
"Pak Rinto bisa minta data konfirmasi ulang untuk bayinya? Nama.. Alamat.. Berat lahir dan panjang badan" tanya perawat tersebut.
"Nama Senopati Cassa Manggala. Alamat............."
***
"Nggak berani Bang.. Kemarin saja sakit sekali"
"Sama Abang. Kalau nggak di latih.. pasti terus sakit. Kemarin bisa.. sekarang juga harus bisa" kata Bang Rinto.
Anye ingin menangis merasakan tubuhnya yang kesakitan. Bayinya memang tidak besar, tapi ada faktor yang membuatnya harus mendapatkan perlakuan khusus saat persalinan.
"Nangis nggak apa-apa, tapi harus belajar jalan demi kebaikanmu sendiri dek" bujuk Bang Rinto.
Anye pun berjalan pelan menuju tempat putranya yang sedang mendapat perawatan di inkubator.
...
Bang Rinto mengusap punggung Anye dan melihat lekat raut wajah Anye yang sedang menatap putranya. Masih ada perasaan takjub, takut dan rasa yang tidak bisa di ungkapkan.
__ADS_1
"Ternyata kita bisa jadi orang tua Bang dan Anye mampu melahirkan bayi kita"
"Iya dek. Terima kasih ya kamu sudah membuat Abang menjadi pria yang sempurna. Maafkan Abang yang terlalu memaksamu"
"Mudah-mudahan Abang selalu bahagia karena sekarang sudah ada yang memanggil papa. Selamat ulang tahun pa. Semoga Sen menjadi kado terindah untuk papa"
Bang Rinto tertegun karena ia tidak mengingat hari ulang tahunnya. Panggilan sayang istrinya hari ini begitu menyentuh perasaannya.
"Aamiin ma. Terima kasih sayang" Bang Rinto mengecup kening Anye.
Getar ponsel mengacaukan kemesraan orang tua baru itu.
"Siapa Bang?" tanya Anye.
"Piket kantor.. sepertinya ada tugas dadakan untuk Abang" jawab Bang Rinto setenang mungkin.
Raut wajah Anye nampak kurang bahagia sebab ia baru saja berbahagia dengan kelahiran putranya tapi sepertinya ia harus berlapang dada karena suaminya harus mendapat tugas luar.
"Boleh atau tidak?" tanya Bang Rinto.
Anye mengangguk meskipun hatinya tidak yakin.
Maafkan suamimu sayang. Tidak ada niat Abang untuk membohongimu. Abang berjanji akan segera menyelesaikan semuanya dan akan memelukmu kembali.
Terdengar suara tangisan kecil dari bayi mungilnya.
"Waktunya di kasih ASI Bu. Apa ibu mau coba?" tanya seorang perawat.
Anye menoleh meminta jawaban dari sang suami.
"Iya, kamu belum menyentuhnya sama sekali" kata Bang Rinto.
Akhirnya perawat mengatur agar Bang Rinto bisa mengambil bayinya karena bayi kecil itu tidak boleh terlalu lama di luar.
Tangis itu terdengar kencang hari ini. Bang Rinto mengambil lalu mencium bayinya, ia menahan tangis yang ia tahan sejak tadi. Perlahan ia serahkan bayi itu pada Anye. Meskipun Anye masih nampak kaku tapi ia mampu memberikan ASI pada putranya dengan baik.
"Anye pasti menjaganya Bang. Kapan Abang berangkat?" tanya Anye.
"Nanti malam"
"Secepat itukah Bang?" tanya Anye lagi.
"Abang pasti cepat pulang..!!"
Tangis bayi Anye dan Rinto begitu kuat. Ia tidak ingin menyusu lagi. Ketika Papa Sen mencoba menggendong bayinya. Seketika tangis itu terhenti.
Kamu kenapa sih nak. Papa janji akan cepat pulang. Temani Mama sampai tiba saatnya Papa pulang.
"Dia diam Bang" kata Anye.
"Manja seperti mamanya"
***
Anye meminta pulang dulu ke rumah, ia tidak mau berada di rumah sakit lagi meskipun Bang Rinto sudah membujuknya. Mama Dinda dan ayah Rama sedang mengusahakan agar cucu mereka tetap dalam kondisi yang baik, sebab memaksakan mamanya dengan mental yang kurang stabil juga tidak akan berdampak baik nantinya.
"Abang tugas berapa lama? kenapa pakaiannya hanya sedikit?" tanya Anye.
Bang Rinto tersenyum mendengar pertanyaan Anye.
"Laki-laki tidak butuh banyak barang dalam hidupnya. Yang penting perut terisi.. itu sudah cukup" jawab Bang Rinto.
Bang Rinto mengangkat rangselnya yang tidak terlalu besar.
"Abang berangkat ya..!!"
__ADS_1
"Nanti hubungi Anye ya Bang"
"Kalau Abang dapat sinyal pasti segera menghubungimu" jawab Bang Rinto.
Ezhar menunggu Bang Rinto di depan pintu rumah. sebenarnya ia amat tidak tega melihat keadaan Anye. Tapi perintah, tidak akan bisa di bantah.
Bang Rinto mengecup kening Anye, mata hingga bibir. Setelah itu Bang Rinto berlalu pergi tanpa mendengar kata dan balasan Anye terlebih dahulu.
"Mobil POM? Abang naik mobil POM? Ada tugas apa?" gumam Anye.
-_-_-_-_-
"Abang siap?" tanya Ezhar.
"Iya.. "
...
Bang Rinto berlutut menekuk satu kaki. Rambutnya di pangkas habis. Seluruh benda miliknya termasuk ponsel harus ia relakan untuk disita.
"Tolong jaga anak dan anak istri Abang. Abang titipkan Anye dan Seno dalam penjagaanmu" pesan Bang Rinto pada Ezhar.
"Siap Bang. Abang tenang saja. Kita sudah punya bukti yang kuat. Semoga semua segera usai dan Abang bisa berkumpul lagi dengan keluarga" kata Ezhar.
"Iya.. terima kasih" tak banyak kata yang terucap. Yang ada di pikirannya hanya senyum dan bahagia istrinya.
"Saya akan mengabari Abang perkembangan apapun yang terjadi pada Anye dan Sen"
Bang Rinto hanya tersenyum kecil.
***
Rinto hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada. Puluhan pukulan mendarat di tubuh Bang Rinto. Belum lagi cambukan yang terasa perih tapi tak ada yang bisa mengalahkan perih di hatinya. Rasa sakit seperti apapun, ia tahan kuat.
Mayor Arif menangani sendiri kelakuan seorang perwira yang telah menikam seorang warga sipil dan warga sipil itu di duga adalah pria idaman lain dari Danki A.
"Kamu lulusan terbaik di angkatanmu. Tapi kenapa sikapmu tidak bisa menjadi contoh tauladan junior bahkan anggotamu?" tanya Mayor Arif tak habis pikir dengan sikap Rinto yang tidak bisa mengendalikan diri.
"Saya menyelamatkan harga diri istri saya. Jika Abang mengalami hal seperti saya. Mampukah Abang menahan diri? Melihat pria lain melecehkan istri Abang. Pakai logika Abang, keadaan istri saya sangat lemah. Jangankan untuk berselingkuh. Jika istri saya audah lelah.. menyangga dirinya saja tidak mampu" jawab Bang Rinto. Matanya memerah dengan amarah yang memuncak.
Mayor Arif memikirkan semua perkataan Bang Rinto.
"Saya mungkin memahami perasaanmu. Tapi hukum terkadang tidak berpihak pada kita. Apa kamu punya bukti kalau istrimu tidak bersalah?"
"Ada..!!"
"Kamu harus buktikan saat permintaan BAP" kata Mayor Arif.
"Siap..!!" Rinto memercing menahan sakit tapi ia siap menanggung segala resiko asalkan Anye dan bayinya bisa tidur nyenyak tanpa mendapat masalah apapun.
...
"Abaaang..!!!" Anye merasakan tubuhnya sakit. Seketika terbayang wajah suami tercinta. Ia melihat ponselnya, tak ada sedikitpun pesan singkat yang singgah disana.
"Abang.. cepat pulang ya Bang..!!" air mata Anye meleleh. Ada perasaan yang sulit ia uraikan. Rindu, cemas, takut melebur menjadi satu.
...
Rinto menggigil di dalam sel tahanannya. Tidak ada apapun disana. Hanya Rinto bergelung seorang diri. Memang ia belum pulih benar sejak menemani kelahiran putranya.
"Abang kangen kamu dek. Sabar ya sayang. Sabar sebentar saja. Abang pasti pulang..!!"
.
.
__ADS_1
.