
Bang Zaldi menarik Bang Bima dan memasukan dalam kamar mandi barak. Papa Rinto tidak ikut campur dalam urusan menantu dan putranya tersebut karena memang posisi Bang Bima salah besar dan tidak bisa di toleransi. Papa Rinto pun ingin marah, tapi kompi adalah kekuasaan Bang Zaldi sepenuhnya.
byuuuurrr...
Bang Zaldi menyiram berember-ember air untuk menyadarkan Bang Bima. Pria itu terus menyebut nama Puri.
"Bangun kamu Bim?? Kamu habis main gila ya..!! Bukannya sadar anak istri baru nggak ada" Bang Zaldi menampar pipi Bang Bima dengan keras.
"Kalian tolong redam berita ini ya..!!" pinta Bang Zaldi pada anak buahnya.
"Tutup pintunya. Kita saja yang tangani..!!" perintahnya pada Om Adi. Bang Zaldi membongkar pakaian Bang Bima.
"B*****t, sejak kapan Bima jadi b******n..!!!" umpatnya kesal.
"Guyur lagi dia.. sampai sadar..!!!!"
***
Pagi buta Bang Zaldi sudah bersiap akan pulang, ia mengecup bibir Arnes.
"Abang pulang sebentar ya, nanti setelah selesai acara, Abang langsung kesini lagi"
Arnes tak menjawabnya karena masih tidur dalam pengaruh obat sesuai permintaan Bang Zaldi agar istrinya benar-benar istirahat total.
-_-_-_-_-
Para anggota sedang berjajar rapi menyayikan yel-yel. Bang Zaldi tentu saja berada pada barisan paling depan.
Panglima berjalan bergandengan dengan istri, namun tiba-tiba si cantik Arnes berjalan cepat dan mengambil tempat di samping Bang Zaldi untuk ikut menyambut Panglima tentu saja Bang Zaldi kaget bukan main melihat istrinya yang tadinya berada di rumah sakit, sekarang malah sudah berdiri di sampingnya.
"Ini istri Kapten Erzaldi?" sapa Bu panglima.
"Ijin ibu.. siap..!! Saya istri dari Kapten Erzaldi" jawab Arnes.
"Aduuhh.. sedang hamil ya.. pucat sekali Bu Zaldi. Apa mualnya parah?" tanya Bu panglima. Arnes dan ibu panglima kian akrab bagai ibu dan anak. Mereka langsung berjalan bersama di tenda VIP.
"Istrimu hamil kenapa harus siapkan aneh-aneh seperti ini. Misi saya hanya ingin melihat keadaan anggota saya. Bukan minta kamu sambut seperti ini. Maaf ya saya merepotkan..!!" kata Panglima.
Bang Zaldi sampai mati kutu tidak bisa menjawab apapun karena terlalu syok Arnes bisa hadir dalam acara tersebut, kecemasannya menjadi berlipat-lipat.
Panglima yang tau perasaan anggotanya itu segera merangkul. Tak lama Bang Bima pun datang setelah usai menyelesaikan yel. Panglima pun merangkulnya juga.
//
Arnes bisa makan camilan meskipun tidak banyak. Tapi sedikit pun Bang Zaldi tidak bisa makan, ia ingin sekali Arnes menyuapinya tapi tidak mungkin ia melancarkan keinginannya di hadapan Panglima.
__ADS_1
Rasa mualnya mengganggu di saat yang tidak tepat membuatnya harus menunduk menghalau rasa perut yang teraduk-aduk.
"Istrimu biasa di suapi atau tidak? Sudah biasa saja dengan saya. Jangan terlalu formal, saja tidak suka dengan hal yang terlalu kaku"
"Mohon ijin Panglima.. boleh saya suapi suami saya? Sebenarnya Abang yang bersusah payah mengidam" kata Arnes.
"Hahahaha.. bisa saja anakmu mengerjai papanya" Panglima tertawa terbahak mendengarnya.
"Sama seperti ayahnya anak-anak nih om, dulu ngidamnya juga nggak mau makan kalau nggak di bekali ayam goreng tepung. Juga suka mual tiba-tiba"
Arnes ikut tersenyum lebar mendengarnya sambil berdiri menyuapi suaminya.
"Dek.. Abang pengen makan sambal kecap sama acar bawang merah" pinta Bang Zaldi.
"Aduuhh Bang, kita nggak siap buat sambal kecap. Nggak ada di menu Bang" jawab Arnes.
"Buat lah dek..!!"
Panglima kembali tertawa melihat sikap DanSat yang bisa tiba-tiba berubah dari garang menjadi manja.
"Buat dulu Bu Zaldi. Turuti saja maunya, Pak Zaldi sudah lelah bekerja, sambal kecap saja tidak susah" kata Bu panglima.
:
Bang Zaldi makan lahap sekali makan sambal kecap di temani krupuk dan tahu di goreng dadu kecil. Seketika rasa mualnya hilang.
Bang Bima baru saja bergabung setelah tadi pamit ke toilet.
"Kamu yang tabah ya Bima. Harus kuat..!! Kita manusia hanya bisa berusaha tapi segalanya Allah yang menentukan"
"Siap Panglima" jawab Bang Bima datar.
Arnes duduk dan menunduk. Hatinya terasa sakit dan sedih seolah mendapatkan penolakan dari Abang kandungnya sendiri.
Bang Zaldi peka dengan keadaan itu segera menggenggam erat tangan Arnes yang begitu dingin.
-_-_-_-_-
Acara bersama Panglima sudah usai. Langit berubah mendung, angin mulai bertiup sedikit kencang. Arnes menghampiri Bang Bima meskipun badannya masih belum pulih benar.
"Bang, apa Abang marah sama Arnes?"
"Nggak.. cepat kamu masuk ke ruangan. Sebentar lagi hujan lebat" jawab Bang Bima masih terdengar datar dan tidak ingin menatap wajah adiknya.
"Arnes minta maaf Bang...!!"
__ADS_1
"Untuk apa?"
"Arnes membuat Livi marah" jawab Arnes.
Bang Bima mengingat segala perlakuannya yang sangat jarang memperhatikan Livi, ia hanya mendatangi istrinya dan bermanis-manis layaknya seorang pria hidung belang saat ia membutuhkan penyaluran saja.
"Sekarang apa kelebihan mu? Kamu manja dan menginginkan ini dan itu, semua itu kamu sengaja?? Abang sampai harus terus mengurusimu. Livi pun tak sempat Abang beri perhatian" bentaknya beriringan dengan hujan yang begitu lebat membasahi bumi. Rasa bersalah pada Livi membuat hatinya begitu sakit. Ingin ia meminta maaf dan mengulang cerita indahnya tapi tak mungkin lagi semua terjadi. Livi telah pergi bersama putri kecil yang sungguh ia sayangi.
Arnes memegang perutnya yang terasa nyeri, kaku dan kram. Sungguh ini semua bukan inginnya, menginginkan ini dan itu.
"Nggak Bang..!! Arnes nggak sengaja" Arnes mencoba meraih tangan Bang Bima.
Bang Bima menepis tangan Arnes.
"Arnes nggak akan manja lagi. Nggak akan ngidam ini itu lagi. Arnes nggak akan menyusahkan siapapun lagi" susah payah Arnes berlutut memohon pada Bang Bima tapi kakak Arnes itu menepisnya.
"Livi sudah tidak ada lagi. Maaf mu tidak ada gunanya"
"Abaaaanngg.. Arnes minta maaf.." tangis Arnes begitu pilu dan histeris.
"Bimaaa..!!!!" Bang Zaldi menegur keras kakak iparnya.
Bang Zaldi membantu Arnes untuk berdiri tapi istrinya itu masih enggan untuk bergerak.
Bang Bima berlalu pergi, Arnes berlari karena ingin mendapatkan maaf dari sang kakak. Tak sengaja langkah kaki Bang Bima membuat Bang Bima sedikit menyeretnya hingga Arnes terjungkal, pipinya tergores di lapangan.
Para anggota bersiap di bawah hujan. Mereka ikut cemas dengan keadaan nasib Bu DanSat yang begitu menyedihkan. Belum usai juga pengorbanan dan rasa sedih itu dirasakan wanita cantik kesayangan komandan.
Bang Zaldi membantu Arnes berdiri lalu mendekapnya.
"Kau tau sudah berapa kali istriku keluar masuk rumah sakit?? Semua yang terjadi ini memang sudah takdir, tapi kalau Livi sampai merasa tidak kamu sayangi, ini murni kesalahanmu. Kenapa kamu sampai tidak memberikan hak yang seharusnya Livi dapatkan?? Sejak kamu mengucapkan ijab qobul, lahir batin Livi adalah tanggung jawabmu..!!" ucapnya pada Bang Bima. Bang Zaldi sungguh menjaga Arnes dan tidak ingin terjadi apapun pada istrinya yang memang belum pulih dari acara kabur-kaburan.
"Aku juga berkorban membahagiakan adikku Bang..!!"
buugghh... buugghhhh..
"Sekarang kamu yang harus merasakannya. Mana ada seorang kakak mengungkit kebaikannya, otakmu miring Bima. Kamu harus benar-benar istirahat agar mabukmu hilang dari kepala..!!!" bentaknya dan memalingkan wajah Arnes agar istrinya tidak melihat dirinya yang sedang menendang kakak kandungnya.
Belum selesai masalah itu, ada sebuah mobil polisi mendatangi markas kompi. Baru saja kaki dari anggota kepolisian turun. Seluruh anggota menatap tajam seolah mereka bersiap memasang badan.
"Mohon maaf.. kami di perintahkan untuk..............."
.
.
__ADS_1
.
.