
Bang Zaldi sudah hampir tidak sadar di kursi depan rumah Papa Rinto.
"Ayo di bawa ke rumah sakit..!!" ajak Papa Rinto.
-_-_-_-
"Masih mulas Bang?" tanya Bang Seno.
"Sudah nggak lagi" jawab Bang Zaldi.
Arnes menunduk memainkan kedua kakinya di belakang punggung Bang Seno.
Bang Zaldi tidak marah meskipun Arnes mengerjainya sampai dirinya harus ditangani di rumah sakit. Tapi jiwa usilnya ingin sekali mengerjai adik Seno yang nakal bukan main ini.
"Minta maaf sama Bang Zaldi..!!" pinta Bang Seno meskipun Bang Seno tau abangnya itu bukan seorang pendendam.
"Ehmm.. maaf" ucap Arnes dengan gengsi.
"Kamu bukan bocah khan? Anak play group saja tau caranya minta maaf" tegur Bang Seno.
"Tapi Arnes nggak mau Bang. Si Owa ini sudah ledekin Arnes. Dia bilang Arnes ini kepala udang. Isinya t*i semua" bisik Arnes.
"Coba kamu ingat. Selama ini kamu pintar nggak? Selama ini keahlianmu hanya buat panik orang" tanya Bang Seno ikut berbisik. Bang Zaldi masih memasang wajah datar meskipun dalam hatinya tertawa terbahak.
Arnes melirik Abangnya dengan kesal. Merasa tidak di bela dan sudah di pelototi dengan ancaman. Arnes menguatkan hati untuk mengatakan maaf pada Bang Zaldi.
"Arnes minta maaf Bang. Arnes hanya main-main saja"
"Maaf di terima" jawab Bang Zaldi dengan sombongnya.
Bang Seno menggaruk kepalanya. Bisa-bisanya sifat Bang Zaldi berubah drastis sejak bertemu Arnes. Ia tau betul Bang Zaldi orang yang tegas, setia kawan, tapi tidak pernah sombong. Tapi hari ini Bang Zaldi terlihat berbeda.
"Waahh.. besok gimana nih Bang? Kalau Abang belum kuat, siapa pengganti Abang main reog??" tanya Bang Seno.
"Terpaksa Sony, Irfan khan bawa bass drum. Tapi ini sudah kuat Sen" jawab Bang Zaldi.
"Gilaa.. Abang bawa yang mana? Semua berat. Gimana kalau Abang nggak kuat"
"Mana saja sesuai perintah Dan Rinto" Jawab Bang Zaldi.
***
Reog berputar di tengah lapangan. Bang Zaldi menunjukan atraksi reognya untuk menunjukan budaya Bangsa agar rakyat pun tau, tentara pun tetap menghargai budaya bangsa agar budaya tidak pernah hilang tergerus jaman.
Di tempatnya, Bang Seno kebingungan mencari pengganti Bang Irfan yang mendadak di batalkan karena kakinya terkilir. Mau tidak mau Bang Zaldi harus menggantikan tugas Bang Irfan.
"Ijin Bang.. Abang nih yang di minta gantikan Bang Irfan. Abang siap?" tanya Bang Zaldi yang sedang meneguk minuman, habislah satu botol minuman tanggung dalam waktu beberapa detik.
"Ya sudah.. Ayo jalan. Saya ganti pakaian dulu..!!" jawabnya meskipun badannya pun sudah lelah karena sejak pagi ada saja kegiatan yang dilakukannya.
#
Bunyi musik pengiring selesai di tabuh. Bang Zaldi pun berfoto bersama warga masyarakat sekitar. Hingga satu persatu warga mulai meninggalkan halaman mall yang luas dan ramai.
__ADS_1
Arnes sejak tadi pun disana karena menonton atraksi Abangnya. Mata uniknya melihat anak anjing kecil lucu jenis golden retriever. Jiwa ingin taunya muncul. Arnes melihat ke sekeliling tak terlihat pemiliknya. Anjing kecil itu sedang menggigiti sesuatu.
"Kamu makan apa sih anjing kecil??" Arnes mengambil makanan anjing kecil itu saat mulut si anjing kecil sudah bersiap menggigit makanannya. Tak disangka anjing kecil itu menggonggong dan mengejar Arnes. Arnes yang kelabakan, lari tunggang langgang.
"Boniiiiiiiiiiii....." teriak seorang gadis pemilik anjing kecil itu.
Bang Seno dan Bang Zaldi panik melihat Arnes berlari ke arah mereka. Refleks Bang Zaldi lari dan mendekap Arnes, tangannya menepis anjing kecil yang melompat dan menyerang Arnes.
"Boniii.. jangan..!! Stop..!!!!!" pekik wanita tersebut.
Bang Seno ingin menendang anjing tersebut tapi gadis itu segera memeluk anjingnya, hampir saja gadis itu tertendang sepatu PDL Bang Seno.
"Jangan di tendang ya Bang. Dia anjing kesayanganku" pintanya sambil menangis.
Melihat itu hati Bang Seno langsung luluh. Ia mengulurkan tangannya.
#
"Bodohnya kamu Nes. Untuk apa kamu mau tau saja apa yang di makan Boni????" tegur Bang Seno.
"Arnes cuma mau tau dia makan apa Bang. Tapi malah Arnes di cakarnya. Sakiit..!!" ucapnya mengadu meminta perhatian Abangnya.
"Sekarang begini ya dek. Kamu lagi makan, santai.. makananmu di rebut. Kamu marah nggak??" tanya Bang Zaldi sengaja menyembunyikan tangannya yang malah sampai tergigit Boni.
"Kamu saja yang bodoh. Dasar otak udang"
"Arnes nggak merebut, hanya lihat saja" ucapnya tak mau kalah.
"Ini nih.. devinisi wanita nggak pernah salah" jawab Bang Zaldi.
"Oiya.. kita belum kenalan. Siapa namamu?" tanya Bang Seno.
"Nama saya. Bryna Eleanor" jawab Bryna.
"Saya Seno" Seno dan Bryna saling menjabat tangan, mata mereka saling menatap. Detak jantung Bang Seno salto kesana kemari melihat paras cantik Bryna.
Tenang Sen.. dia wanita biasa, bukan malaikat, bukan peri.
Bryna dan Bang Seno saling mengalihkan pandangan.
Kami beda keyakinan..
Batin Bang Seno tanpa sadar.
...
"Lho Bang.. tangan Abang luka???" tanya Bang Seno saat tau Bang Zaldi memberikan iodine di tangannya.
"Luka kecil saja" jawab Bang Zaldi santai.
Bang Seno memicingkan mata. Ternyata luka itu adalah luka gigitan Boni.
"Ya Allah Bang.. luka begini tapi nggak bilang"
__ADS_1
"Nggak apa-apa. Luka dari adikmu" jawab Bang Zaldi membuat Bang Seno ternganga.
***
Sore ini menjelang malam Sabtu. Abang Seno mengajak Arnes nongkrong bersama teman-temannya
"Arnes nggak usah ikut lah Bang, malu" kata Arnes.
"Selama kamu belum jadi istri orang, kamu harus ikut kemanapun Abang pergi. Kalau kamu ketemu lagi sama laki-laki macam Guntur itu, Abang cabik-cabik kulitnya" jawab Bang Seno.
"Cepat naik..!!!!!!" perintah Bang Seno agar Arnes segera naik ke atas motornya.
...
Teman Bang Seno dari Batalyon tak hentinya menertawai kakak Arnes itu karena membawa wanita di antara mereka. Tapi tanggung jawabnya sebagai seorang kakak tentu tidak ia lupakan begitu saja apalagi Bima belum bertugas di sini. Papa dan Mama sering kunjungan kerja. Tak mungkin ia menelantarkan adik perempuan satu-satunya itu.
Bang Zaldi santai saja tanpa tanggapan tapi matanya tak hentinya menatap Arnes. Para lelaki meminum minuman yang sedikit mengandung alkohol.
"Kamu disini sebentar ya Nes. Abang mau beli minuman untuk kamu di luar cafe" kata Bang Seno.
"Jangan di tinggal adikmu. Jaga dia.. Saya saja yang beli di luar" ucap Bang Zaldi datar.
"Arnes ikut Abang aja. Pusing di dalam sini" jawab Arnes jujur. Ia memang tidak biasa dengan lampu kelap kelip.
Belum sampai mereka keluar, ada seorang pria menarik tangan Arnes.
"Benar khan kataku. Wanita j****g. Murahan sekali kau ini.. Itu sebabnya aku membuang mu dulu" bentak pria tersebut dengan kasar.
Dada Bang Seno terasa panas tapi ternyata entah kenapa ada hati yang lebih terbakar lagi mendengar kata-kata itu. Bang Zaldi langsung menghantam hingga gigi geraham pria tersebut terlepas. Ternyata pria itu adalah Guntur. Guntur sudah habis di hajar Bang Zaldi hingga tulang iganya retak.
-_-_-_-_-
Dan Rinto menghajar Bang Seno dan Bang Zaldi hingga remuk babak belur. Semua perwira mendapat hukuman namun tidak separah kedua pria tersebut. Bang Zaldi terkena hukuman paling parah karena sudah menghajar seseorang hingga nyawanya nyaris melayang tapi kali ini Dan Rinto pun menghajar Zaldi sampai ambruk tak sanggup bergerak. Sekuat-kuatnya Bang Zaldi berdiri mempertanggung jawabkan perbuatannya.
"Kenapa kalian main di club malam bawa Arnes???" tanya Dan Rinto.
"Ijin Dan.. saya yang membawanya" jawab jujur Bang Seno secara formal.
"Lalu apa alasanmu Lettu Erzaldi?? Bagaimana kalau sampai anak buahmu tau kelakuanmu di luar sana????"
"Alasan pribadi" jawab Bang Zaldi tak banyak bicara.
"Hanya ada satu perempuan disana. Apa maksudmu kamu membela Arnes???"
Bang Zaldi mengepal kuat tapi ia melonggarkan jemarinya lagi.
"Siap..!! Menjunjung tinggi kehormatan wanita. Itu salah satunya Dan"
"Apa salah duanya????" bentak Dan Rinto.
.
.
__ADS_1
.