Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)

Di Ujung Peluru 2 & 3 (Hati Sang Prajurit)
DUP 3. 76. Cinta untuk Bu DanSat.


__ADS_3

"Ya sudah Bang, saya jual saja. Satu ekor tiga juga" kata Adi sengaja menaikan harga burung agar seniornya itu tidak jadi membeli burung kesayangannya.


"Gila kamu.. kamu mau peras saya?? Kamu khan tau saya nggak dapat uang tunjangan" protes Bang Zaldi.


"Kalau nggak mau juga nggak apa-apa kok Bang. Nggak masalah"


"Bang.. Arnes mau merpati ini" pinta Arnes.


"Duuuhh ampun dah. Kamu nggak ada rencana pengen liat burung yang lain?? emprit atau beo gitu? Emmhh.. atau mau burung kakatua raja? Sudah aman itu dek.. ada suratnya" tanya Bang Zaldi.


"Arnes nggak suka yang galak. Ini nggak galak Bang" jawab Arnes.


"Elu nih gara-garanya" Bang Zaldi melirik ke arah Letda Adi.


"Siap salah"


"Ya sudah, saya transfer ke rekeningmu" akhirnya Bang Zaldi mengalah demi bumilnya.


***


Para anggota kompi salut dan bahagia sekali mendapat pemimpin seperti Kapten Erzaldi. Kini mereka paham mengapa sampai panglima pun turun tangan langsung menangani perwira tersebut. Keahlian militernya tidak hanya dalam ucapan saja, tapi apapun yang ia lakukan selalu sesuai dengan kenyataan di lapangan. Kapten Zaldi bukan tipe Komandan yang arogan. Hanya satu dari diri DanSat yang kadang membuat para anggota dan istrinya geleng kepala. Saking sayangnya dengan sang istri, hal kecil pun bisa membuat sifat Dansat beralih tiga ratus enam puluh derajat.


"Korve lagi..!! ini ranting berserakan. Bagi ibu-ibu yang hamil tolong di kawal..!! Jangan di biarkan jalan sendirian. Faiz.. kamu nggak usah angkut ranting.. Jaga istrimu...!!!" perintah DanSat sungguh membuat telinga pengang karena tidak bisa melihat wanita hamil berseliweran di hadapannya.


"Kamu duduk dek. Jangan wira-wiri seperti setrika rusak. Abang nyeri lihatnya" tegur Bang Zaldi pada Arnes.


"Ini masih dua belas minggu Bang" jawab Arnes sambil mengusap perutnya yang sudah sedikit membuncit.


"Kamu ini membantah saja. Mau hamil satu, dua, tiga atau bulan tetap saja namanya hamil. Abang nggak mau ambil resiko apapun" jawab Bang Zaldi.


Setiap minggu selama kepemimpinan DanSat. Selalu ada petugas kesehatan yang mengontrol ke rumah anggotanya karena asrama mereka jauh dari pusat kota dan mulai bulan lalu, DanSat sudah mengirim susu khusus ibu hamil, vitamin dan makanan tambahan untuk anak-anak dan balita yang langsung di datangkan dari pulau Jawa.


Ijin Dan. Dua koli paketan dari Jawa baru saja datang" kata seorang anggota.


"Bagikan sekarang..!!" perintah Bang Zaldi.


Tak lama ada penjual jajanan pasar melewati sekitar kompi.


"Abang.. mau itu donk" tunjuk Arnes pada suaminya.


"Abas.. tolong panggil pedagang jajanan pasar itu, suruh masuk kompi.. saya beli semuanya!!!"


"Siap DanSat"


...


Sekuatnya Bang Zaldi menghabiskan jajanan pasar padahal ia juga sudah membaginya dengan para anggota dan menyuapi Ibra juga. Istri DanSat hanya memakan sepotong kue.


"Lain kali Arnes jangan hamil lah Bang, repot banget saya kalau begini caranya" gerutu Bang Bima.

__ADS_1


"kamu khan om nya. Masa sama keponakan nggak mau berkorban" tegur Bang Zaldi.


"Sudah nih Bang. Korban perasaan terus" jawab Bang Bima.


Bang Zaldi tertawa penuh kemenangan.


"Alhamdulillah.. akhirnya saya punya teman susah"


***


Hari-hari begitu tenang di Kompi. Tak ada hal yang menonjol.


Arnes memasak makan siang sedangkan bibi mengasuh Ibra dan Ryan yang kini sudah bisa tengkurap. Bibi sangat bahagia berada dalam keluarga yang patut menjadi contoh.


Entah kenapa pagi itu rasanya Arnes sangat lelah. Nafasnya pun terasa berat. Punggungnya terasa pegal.


"Ibu istirahat saja. Biar bibi yang memasak" kata Bibi. Bibi menyadari majikannya itu banyak melakukan apapun sendiri, meskipun bibi adalah ART tapi apapun yang di lakukannya selalu ada campur tangan Ibu Arnes malah mungkin masih banyak pekerjaan majikannya itu.


"Ini sudah selesai bi, bibi jaga anak-anak saja. Saya mau jemur pakaian sebentar mumpung panas. Bibi masih suka salah jemur seragam. Saya nggak mau bibi kena tegur Abang lagi" jawab Arnes sambil berlalu mengangkat bak cucian.


:


Panas begitu terik. Arnes menjemur pakaian Bang Zaldi dan anak-anak.Baru beberapa potong pakaian tersampir, pandangan mata Arnes berkunang-kunang. Arnes berpegangan pada tiang jemuran tapi tubuhnya benar-benar tidak sanggup lagi berdiri keras. Arnes terjatuh, sisi keningnya menghantam batu.


Beberapa menit setelahnya, Om Adi melintas di depan rumah Bang Zaldi. Ekor matanya seperti melihat sosok tertelungkup. Ia pun berhenti dan turun dari motor.


"Ada apa ini??" tegur Bang Zaldi. Ia lumayan kesal karena Adi membopong istrinya.


"Ijin Bang, Mbak Arnes saya temukan sudah tertelungkup"


"Aduuuuhh.. Ono opo Ad????"


//


Bang Zaldi benar-benar marah saat bibi mengatakan semuanya.


"Kalau bibi memang nggak bisa dengan suatu pekerjaan, bibi belajar. Saya tau pekerjaan bibi berat, mengasuh anak-anak saya. Saya juga paham Ibra mulai nakal. Tapi istri saya hamil bi. Tenaganya tidak sekuat itu" ucap Bang Zaldi saat menegur bibi.


Arnes menarik tangan Bang Zaldi agar tidak terus bersuara keras.


"Arnes yang mau Bang, Jangan salahkan bibi"


"Kamu juga sama saja. Apa selama ini permintaan Abang sama kamu terlalu berat??? Itu di perutmu ada bayi. Bukan isi keong.. Arneess..!!!! Abang cuma mau kamu istirahat, kalau bosan ya main sama anak-anak sebentar. Ternyata kamu dari pagi sampai sore sibuk sendiri. Bisa jaga anak nggak kamu ini?????" suara keras Bang Zaldi cukup mengagetkan Bang Bima, Om Adi dan Bibi. Tak satupun ada yang berani buka suara karena Bang Zaldi benar-benar marah.


"Sekarang mana yang sakit?? Masih nyeri nggak perutnya???"


"Nggak lagi"


"Itu jujur atau bohong?? Sampai sempat kamu bohong.. Abang tampar juga kamu" ancam Bang Zaldi.

__ADS_1


"Baang..!!!" Bang Bima menegur ucapan Bang Zaldi yang salah dan kasar.


"Astagfirullah hal adzim.." Bang Zaldi mengusap dadanya jadi ikut merasa bersalah. Sifat angker dan kasarnya belum bisa seratus persen hilang.


"Maaf dek. Abang nggak sengaja"


Arnes memalingkan wajahnya dan menyembunyikan tangisnya.


Bang Zaldi berjongkok di hadapan Arnes.


"Abang hanya terlalu cemas. Ya sudah kamu saja yang tampar Abang. Abang sudah kasar sama kamu" Bang Zaldi meraih tangan Arnes lalu menamparkan di pipinya tapi Arnes menarik tangannya dan mengepal.


Arnes berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar lalu menguncinya rapat.


"Nah lho Bang,. kalau sudah ngambek begini terus bagaimana? Abang mah selalu nggak bisa bedakan bicara sama laki-laki atau perempuan" tanya Bang Bima.


"Haduuh Bim.. Jangan buat saya tambah pusing"


"Ijin Bang, Maaf saya menyela. Sebaiknya Abang bujuk saja istri Abang.. mungkin Abang ajak jalan-jalan atau kasih hewan yang lucu" kata Om Adi.


"Paham sekali kau tentang istriku" ucapnya bernada sedikit aneh.


"Tapi.. terima kasih ya kamu sudah menolong istriku..!!" siap Bang.


...


"Abang nggak niat kasih ular lagi khan?" tanya Bang Righan yang ikut mencari hewan lucu di dalam hutan bersama Bang Zaldi karena Bang Bima ada tugas dari seniornya itu.


"Nggak lah, sudah kapok saya kasih ular ke istri" jawab Bang Zaldi.


//


"Gimana.. lucu khan Rig?" tanya Bang Zaldi pada Bang Righan.


"Lucu banget Bang.. Arnes pasti suka" jawab Bang Righan. Mereka pun kembali pulang.


"Oke, kamu gendong yang itu, saya gendong yang ini" perintah Bang Zaldi.


"Siaaaap Abaaang.." jawab Bang Righan dengan garang dan mantap.


"Yuk balik kanan..!!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2