
๐Baru di pancing selalu begini. NetizenQ luar biasa.
๐น๐น๐น
"Oohh.. boleh saya bicara sebentar?" tanya pria tersebut.
"Ada apa pak?"
"Mohon maaf, saya rasa penampilan ibu ini cocok untuk foto icon kota"
Saat sedang menatap tajam ke arah Ibu Inggrid, ekor mata Bang Zaldi melihat Arnes sedang bicara berdua dengan seorang pria. Arnes pun tampak tersenyum malu-malu.
Apa lagi istriku ini. Baru meleng sebentar kok sudah di lirik pria lain.
Tanpa pamit Bang Zaldi meninggalkan Bu Inggrid yang masih terpaku. Langkah panjang menghampiri sang istri agar cepat sampai.
"Kenapa dek??" tanya Bang Zaldi lembut padahal dalam hati sudah bagai letupan batu kerikil berhamburan.
"Ini Bang.. Ada yang nawarin Arnes untuk jadi model............"
"Nggak.. nggak bisa.. Kamu lagi hamil. Nanti kamu capek" sambar Bang Zaldi.
"Pak DanSat.. begini.. Saya meminta ibu untuk jadi model.........."
"Ini kamu siapa sih maksa banget, istri saya nggak akan kemana-mana" ucap Bang Zaldi bernada keras.
"Iya pak, ibu menolak jadi model untuk program icon kesehatan dalam kehamilan. Beliau bilang, bapak pasti tidak setuju karena bapak sangat mengkhawatirkan kandungan ibu jika terlalu banyak kegiatan"
"Hmm.. begitu" Bang Zaldi sebenarnya malu tapi semua itu tertutup dengan gaya wibawa nya, membuat yang melihat kadang berhati ciut.
Pria tersebut berpamitan dan sebelum pergi sudah memberikan kartu namanya jika mungkin istri DanSat berubah pikiran.
Siapa yang tidak melirik pada Arnes. Istri DanSat memang sangat cantik, itu sebabnya Bang Zaldi selalu ketar-ketir jika melepaskan sang istri sendirian. Bukan karena tak percaya dengan istrinya tapi b******n di luar sana sungguh tidak bisa ia percaya.
-_-_-_-_-
Bang Zaldi mengambil kameranya di dalam lemari. Agaknya rasa cemburunya masih belum juga hilang.
"Abang mau apa?" tanya Arnes.
"Abang mau abadikan fotomu, yang paling indah.. Biar nggak ada laki-laki lain yang berniat memiliki fotomu" jawab Bang Zaldi.
"Biar saja lah Bang hanya selembar foto, tapi Arnes khan hanya milik Abang" Arnes meraih tangan Bang Zaldi yang masih mengotak atik kameranya.
"Oyaa.. Kamu di lirik banyak pria, Abang nggak suka"
"Memangnya Arnes suka kalau Abang di dekati wanita lain. 'Tunggu, saya masih mau bicara pak' " ucap Arnes mengikuti gaya bicara Bu Inggrid.
"Ibu cantik sekali, cocok jadi model kami" Bang Zaldi pun ikut mencibir mengikuti gaya bicara pria tadi.
"Ciihh.. persetan, kucolok juga matanya yang jelalatan itu. Berani sekali dia memandangi istriku" kata Bang Zaldi berdecih jengkel.
Arnes memang wanita yang sangat pencemburu tapi di sini jelas sekali seorang Zaldi yang lebih pencemburu di atas segalanya.
"Waahh.. Abang pengakuan nih kalau Abang cinta banget sama Arnes???"
"Kalau nggak cinta mana ada tiga kali Unyil salto di perutmu" Bang Zaldi membuang kameranya di atas ranjang lalu menyambar sekilas bibir Arnes.
"Rasanya sudah lama sekali Abang nggak mengajakmu fight. Kamu nggak rindu?"
"Rindu lah Bang, tapi khan Abang banyak pekerjaan"
__ADS_1
"Dengar kata Abang dek. Bagi Abang kamu sudah yang terbaik. Apa yang Abang inginkan, Abang butuhkan.. kamu bisa melakukannya. Empat jempol untukmu sayang. Tapiii.. Sekali-kali Abang juga pengen istri yang agresif. Kamu masih terlalu takut meminta hak mu, padahal sejujurnya.. kebanyakan suami sangat menyukai itu. Wanita di luar sana tidak terduga. Abang akui pandangan pria terkadang suka salah arah, dan Abang ingin kenyang di rumah agar mata Abang pun tidak salah arah" ucapnya terus terang.
"Okee kalau memang begitu maunya Abang" tangan Arnes menyelinapp masuk ke pakaian Bang Zaldi dan menelusuri punggungnya. Sebelah tangannya lagi menulusuri bagian secret mission. Mata Bang Zaldi sampai terpejam merasakan senssasi rasa.
Ada jedag jedug tak karuan membuat Bang Zaldi tak sanggup lagi menahan gejolak yang sudah menumpuk penuh karena cukup lama belum tersalurkan. Bang Zaldi menuntut pelepasan, ia membuka matanya dan menyerusuk 'menyerang' Arnes.
"Malam ini Arnes yang kendalikan pinta Arnes"
"Nggak boleh. Kamu nggak boleh terlalu capek. Kasihan dedek. Nanti saja kalau dedek sudah keluar. Sekarang kamu terima jadi saja" Bang Zaldi mellucuti pakaiannya dengan cepat dan menuntaskan semuanya.
***
Bang Zaldi benar-benar tidak sanggup membuka matanya. Rasa lelah tak terkira merajai seluruh tubuhnya padahal ia mengira Arnes yang akan lemas setelahnya.
"Bang.. mandi dulu..!! Ini sudah lewat subuh Bang..!!" kata Arnes membangunkan Bang Zaldi.
"Aduuhh.. tiga menit lagi dek. Sakit semua nih badan Abang"
tok..tok..tok..
Pagi masih terlalu gelap ada suara orang bertamu. Ketukan pintu itu lumayan bersahutan hingga Arnes berlari cepat untuk membuka pintunya. Merasakan istrinya berlari, Bang Zaldi refleks bangun dari tidurnya lalu menyusul istrinya.
"Jangan lari dek..!!!!!"
Arnes terpaku melihat wanita di hadapannya. Wanita itu berlutut memeluk kaki Arnes.
"Tolong.. aku butuh bertemu suamimu"
//
Bang Zaldi duduk di sebelah Arnes dan merangkul istrinya yang masih syok itu.
"Bang.. bagaimana ini??" tanya Arnes.
"Tapi perut mbak Livi sudah besar Bang" kata Arnes.
"Apa salahnya. Livi istrinya Bima. Ini hanya masalah berkas saja khan?? Nanti Abang tangani" Bang Zaldi segera menyelesaikan kepanikan dua wanita itu.
"Nanti minta tolong anggotamu untuk membersihkan rumah yang akan kamu tempati. Kamu mau tinggal di mess atau disini Bim?" arahan Bang Zaldi pada Bang Bima.
"Di mess saja Bang. Lebih nyaman"
...
Berkas Bang Bima sedang di tangani dan akan di kirim secepatnya untuk menaikan status Eliana 'Livi'.
tok..tok..tok..
"Masuk sayang..!!" ucap Bang Zaldi karena tadi ia meminta istrinya agar menyusulnya ke ruangan. Bang Zaldi meminta kopi karena badannya terasa lelah dan mengantuk.
"Pak Zaldi tau saya datang??" wajah Bu Inggrid terlihat berbinar-binar.
"Saya tidak tau respon bapak akan seperti ini menyambut saya datang" Bu Inggrid langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Bang Zaldi sedangkan DanSat baru itu masih ternganga menghadapi situasi yang membuatnya serba salah.
Tepat saat itu Arnes membuka pintunya dan melihat ada wanita lain di ruangan suaminya. Hatinya kesal bukan main tapi tak mungkin ia menunjukkan rasa kesalnya.
"Eehh.. ada ibu Inggrid, coba tadi ada yang kabari saya.. pasti saya buat kopinya tiga" sapa Arnes dengan senyumnya.
"Lama sekali buatnya?" tegur Bang Zaldi.
"Sabar donk.. Abang ini nggak sabaran sekali" senyum Arnes malu-malu kucing. Tanpa sadar sikap Arnes itu membuat Bang Zaldi mengingat kejadian semalam, Arnes sungguh membuat hatinya terkunci dan tidak bisa melihat wanita lain. Arnes adalah candu terberatnya saat ini.
__ADS_1
"Ngomong ada apa Bu Inggrid sampai datang kesini?" tanya Bang Zaldi padahal ia mengalihkan perasaannya karena bayangan Arnes terus menari membuyarkan pikirannya.
"Seperti yang saya bilang pak. Saya butuh pengawal untuk menemani saya keluar kota" jawab Bu Inggrid.
"Bu Inggrid.. saya sudah sampaikan bahwa kami bukan pihak protokoler dan saya tidak bisa meninggalkan tempat untuk melakukan kegiatan yang bukan merupakan kewenangan pihak saya" Bang Zaldi memberikan ketegasannya. Bang Zaldi meminta Arnes agar berdiri dekat di sampingnya.
"Pak, bagaimana kalau kita kerjasama. Bapak khan ada kuasa di daerah sini. Jadi yaa.. mungkin mulai saat ini kita bisa mulai berteman" ajak Bu Inggrid.
"Saya tidak suka bertele-tele, katakan dengan jelas maksud dan tujuan Ibu datang kesini..!!"
"Saya ingin bicara berdua dengan Pak Zaldi" pinta Bu Inggrid.
"Maaf ya Bu. Kami biasa bekerja dengan berkelompok, jadi saya tidak menyarankan untuk kita bicara berdua, lagipula saya rasa tidak ada sangkut pautnya apa yang saya bicarakan dengan profesi saya" jawab Bang Zaldi.
"Baiklah pak, kalau begitu saya pamit undur diri" pamit Bu Inggrid sambil berlalu pergi.
Selepas Bu Inggrid pergi, Arnes menarik kursi yang tadi di duduki Bu Inggrid.
Ada pesan singkat dari Bu Inggrid masuk ke ponsel Bang Zaldi.
Nanti kita bicarakan lagi, saya tau bapak tidak enak karena istri bapak.
"Jambuuu alasss.. opo maksude, marai geger wae" gumam Bang Zaldi kelabakan takut Arnes tau pesan singkat itu.
"Apa katanya??" tanya Arnes yang menebak bagai punya indera ke enam.
"Haahh.."
"Apa kata si Inggrid itu?"
Bang Zaldi menyerahkan ponselnya daripada ribut dengan sang istri.
"Jadi kalau nggak ada Arnes, Abang mau bicara berdua.. terus kopi darat sama dia??" tanya Arnes mulai murka.
"Abang lebih suka ngopi sama kamu. Apalagi kamu kasih lemper ketan, Abang tambah suka" Bang Zaldi mencubit kecil dagu istrinya yang sejak tadi sudah mendung berpetir.
"Biar apa Abang minta ketan?"
Bang Zaldi memainkan alisnya dengan nakal. Tangannya mulai nakal membuka kancing bajunya, badannya sudah condong ingin mencium bibir Arnes. Ingatan perlakuan Arnes semalam masih terngiang dalam ingatannya.
braaaaakkkkk..
"Bang..!!" Bang Bima tiba-tiba membuka pintu dan berdiri ternganga bersama Papa Brian.
Bang Zaldi kelabakan mengancingkan seragam lalu duduk dengan sempurna di depan laptopnya.
"Kalau sibuk nanti saja Zal" kata Papa Brian yang juga.
"Nggak sama sekali pa, silakan duduk" ucapnya tapi ia begitu kesulitan mengancingkan kancing bawahnya. Saking gugupnya, kancing bajunya sampai terlepas.
"Aahh.. sial..!! ketahuan deh kalau aku pengen nyolong waktu berdua" gumam Bang Zaldi lirih.
"Nafas dulu Bang..!!" tegur Bang Bima puas sekali menertawai adik iparnya.
"Ikut-ikutan aja lu" lirik Bang Zaldi kesal. Ia memilih melepas seragam luarnya daripada ketahuan kancing bajunya terlepas.
.
.
.
__ADS_1
.