
"Arnes nggak bisa memilihnya Bang..!!"
"Makanya jangan sok tau. Apa yang Abang lakukan ini semua demi kamu, demi anak kita. Abang masih memikirkan jalan tengah. Bukan ingin menjerumuskanmu..!!!" ucap keras Bang Zaldi.
Arnes lemas tanpa daya setelah mendengar suara keras Bang Zaldi. Bang Zaldi pun akhirnya menjadi tidak tega juga jika di hadapkan pada keadaan seperti ini.
"Selama ini mungkin Abang kurang memberimu perhatian. Tapi semua ini tentu bukan tanpa alasan. Abang ingin kamu tenang menjalani kehamilanmu. Kamu mau tau rasanya jadi Abang?? Hancur, remuk dan binasa melihat dua anak kita tiada dengan sia-sia. Rasa sakit itu tidak bisa Abang lupakan apalagi saat melihatmu menangis. Rasanya Abang ingin mati karena tidak bisa berbuat apa-apa" ucap Bang Zaldi semakin membuat Arnes menangis kencang.
"Tapi Abang sudah pernah janji tidak akan menyimpan rahasia apapun lagi."
"Abang hanya menunggu kesiapan mentalmu. Nggak mungkin Abang gegabah membuatmu berpikir terlalu berat"
Arnes tidak menjawab lagi apapun perkataan suaminya. Badannya sudah letih, pikirannya pun sudah terlalu penuh membuatnya seketika limbung.
"Begini saja kamu tidak tahan. Bagaimana bisa Abang cerita sama kamu dek" Bang Zaldi segera membawa Arnes masuk ke dalam ruangan.
:
Seperti biasa Bang Zaldi selalu mengeluarkan peralatan tempurnya. Minyak angin gosok andalan saat Arnes sedang teler.
Tangan Arnes mengambil kertas yang tertindih badannya lalu membacanya.
Bang Zaldi yang terkejut segera menyambarnya tapi sayang sekali Arnes sudah selesai membacanya.
"Benarkah Ryan akan lepas dariku Bang?"
"Dia nggak akan kemana-mana. Putramu akan tetap selalu bersamamu" jawab Bang Zaldi.
"Jadi Abang akan menemui Inggrid??"
"Tenang dan percayalah sama Abang. Abang menemuinya untuk menyelesaikan masalah. Bukan untuk menambahi masalah."
"Kapan Bang??" tanya Arnes.
"Sore nanti"
"Arnes ikut ya Bang?"
"Nggak sayang, Abang mohon kali ini jangan pakai kecemburuan mu. Abang khawatir kamu ada apa-apa disana"
"Andaikan Arnes yang menemui pria lain untuk menyelesaikan masalah seperti ini.. Apa Abang ijinkan?" tanya Arnes.
Bang Zaldi terhenyak dan merasakan sakit di hatinya. Jelas sekali dirinya tidak akan kuat jika Arnes menemui pria lain, apapun alasannya.
"Kenapa kamu paling bisa buat Abang nggak karuan gini dek. Abang nggak mungkin kuat lihat kamu sama laki-laki lain. Tapi ini beda sayang...."
"Apapun alasannya.. itu tidak baik Bang" jawab Arnes.
"Baiklah kalau itu maumu. Tapi janji.. jangan sampai ada apa-apa sama si kecil Abang ini..!!" pinta Bang Zaldi.
Arnes mengangguk pasti. Bang Zaldi mengecup kening Arnes. Hatinya masih tak gelisah tak menentu tapi ia juga harus menghargai keputusan sang istri.
-_-_-_-_-
__ADS_1
Opa Rama dan Oma Dinda menunggu di rumah sambil mengasuh Ibra dan Ryan bersama Bang Bima. Sedangkan Papa Rinto, Mama Anye dan Bang Seno ikut ke rutan menemui Bu Inggrid. Bukan karena tidak percaya dengan Bang Zaldi tapi lebih cemas dengan keadaan Arnes nantinya.
Sesampainya disana mata Bu Inggrid berbinar karena ternyata Kapten Erzaldi memilih untuk menemuinya. Tapi senyum di wajahnya tiba-tiba hilang saat melihat Arnes berjalan di belakang pria tersebut.
"Kamu selalu pergi membawa anjingmu?" kata-kata itu seketika langsung menyinggung perasaan Bang Zaldi tapi ternyata Arnes lebih kalem dalam menghadapi Bu Inggrid. Arnes menarik lengan Bang Zaldi agar tidak terpancing dengan ucapan Bu Inggrid.
"Tentu saja Bu Inggrid, anjing setia akan menggigit siapapun yang akan mengganggu tuannya" dengan tenang Arnes menjawab sindiran itu.
"Ooohh.. Dengan kata lain kalian memilih Ryan saya ambil alih??"
"Saya hanya ingin tau, kenapa keluargamu bersikap seperti itu? Waktu itu almarhumah mamanya Ryan, sekarang kamu. Apa yang menarik dari suami saya?"
"Karena dia menghilangkan nyawa sumber keuangan kami. Jadi suamimu itu harus membayar mahal segala yang dia perbuat. Kalau dia inginkan Ryan, berarti Bang Zaldi harus mau dengan ibunya Ryan. Tapi sekarang ibunya Ryan sudah tidak ada, jadi dia harus membayarnya denganku. Kalau kau ingin keduanya tidak bisa Arnes. Kamu harus memilih.. Suamimu atau Ryan"
Seketika Arnes merasakan perutnya kram. Nafasnya sesak, tidak menyangka akan seperti ini hasilnya, tapi ia sudah berjanji pada Bang Zaldi akan baik-baik saja apapun yang akan terjadi.
"Kita keluar ya dek...!!" ajak Bang Zaldi.
"Arnes nggak apa-apa Bang..!!" jawab Arnes menarik nafasnya lalu membuangnya perlahan.
"Saya menyerahkan keputusan pada suami saya. kalau memang suami saya ingin bersamamu.. saya akan melepaskan dia." Jawab Arnes dengan tenang.
"Apa sih kamu ini. Ngawur..!! Nggak usah kamu dengarkan dia. Mau ikut nggak waras juga kamu??"
"Bagaimana Bang? Istrimu saja sudah merestui keputusanku" kata Bu Inggrid.
Bang Zaldi semakin kesal. Pikirannya berantakan saat sang istri 'melepaskannya' begitu saja.
"Kau tau.. pengadilan tidak akan mengabulkan permintaanmu. Kesalahanmu sudah terlalu rumit. Kamu memakai ijazah palsu untuk menjadi seorang walikota dan kau tau.. kakakmu si Guntur itu pun tak akan bisa menjadi seorang prajurit kalau om kamu yang seorang panglima itu tidak mendukungnya. Dia juga memalsukan data ijazahnya, terlalu banyak buat masalah dalam kemiliteran dan yang paling wajib kamu dengar.. keluargamu tidak menginginkan Ryan.. itu semua di ucapkan saat masih ada di pengadilan" Bang Zaldi sudah begitu geram pada sikap keluarga Alm Guntur.
Arnes baru mendengar semua kenyataan itu hari ini.
"Darimana kamu tau semua itu??? Kamu mencari tau segala hal tentangku???" tanya Bu Inggrid tidak terima.
"Hai nona manis.. kamu lupa siapa saya???? Saya si mata hantu.. saya mata kanan panji 'bumi' ini. Mudah bagi saya kalau hanya untuk mencari tahu siapa dirimu" jawab Bang Zaldi, ia sedikit mendongakan dagu Inggrid.
Bu Inggrid menepis tangan Bang Zaldi.
"Jangan coba menggangguku atau anak istriku. Karena kamu akan tau rasanya berhadapan dengan Kapten Erzaldi.
Bu Inggrid tersenyum kecut, apalagi sang pengacara yang ia bayar mahal malah hanya terdiam tanpa bisa berbuat apapun. Rayuannya untuk mengancam Bang Zaldi kini malah akan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri. Hukuman penjara akan ia hadapi bertahun-tahun lamanya.
...
"Masih sakit perutnya?" tanya Bang Zaldi yang melihat Arnes sesekali masih memercing kesakitan.
Arnes masih diam seribu bahasa, enggan menjawab kecemasan suaminya. Wajah galak dan judes masih ia persembahkan untuk Pak DanSat.
"Bilang dek.. Jangan diam saja..!! Abang cemas sekali nih"
"Tanya saja pada nona manis Abang. Pegang saja dagunya yang indah itu..!!!"
Kini Bang Zaldi baru menyadari letak kesalahannya. Hal sekecil apapun akan menjadi masalah jika sudah tertangkap mata bumil.
__ADS_1
"Kamu lah yang paling manis. Istri Abang paling cantik" kata Bang Zaldi membujuk rayu istri tercinta.
"Abang bohong pa, tadi Abang bilang kalau Inggrid manis" kata Arnes mengadu. Tika tau mengapa hal sekecil ini bisa sangat menyakiti perasaannya.
"Waaahh.. parah nih Abang" tegur Bang Seno memanasi.
"Lah iya Sen. Masa adikmu cantik begini masih nggak di akui cantiknya" Papa Rinto juga semakin memperburuk keadaan.
"Papa sama Seno memang keterlaluan. Bukannya buat saya damai, ini malah di adu, di suruh ribut" gerutu Bang Zaldi.
"Abang mau salahkan Bang Seno sama Papa??? Abang tuh nggak sadar juga ya..!!!" Arnes mencubit pinggang Bang Zaldi dengan kuat.
"Siap salah Bu DanSat.. Kapten Erzaldi siap terima apapun resikonya..!!!!" Jawab Bang Zaldi sembari memercing menahan sakit.
"Nes, suruh bilang 'Abang sayang kamu Arnesku' sampai rumah tanpa putus..!!" kata Mama Anye menyahut.
"Ehmm.. rasain.. mati lu ayam..!! Monyong.. monyong lah itu bibir..!!" Gumam Papa Rinto.
"Papa nyesel???" lirik Mama Anye.
"Nggak donk sayang" senyum Papa Rinto terlihat begitu tampan di usianya yang sudah sangat matang.
"Kalau Abang???" Lirik Arnes pada Bang Zaldi dengan tatapan menghakimi.
Aduuuhh.. bener-bener dah punya bumil. Khas sekali kelakuannya, permintaannya.. anak Papa sehat terus ya ndhuk.
"Abang nggak nyesel, ngomong begitu apa susahnya.. yang penting kamu maafin Abang" kata Bang Zaldi penuh permohonan.
"Arnes nggak mau maafin Abang. Kalau nggak mau bilang ya sudah" ucapan Arnes bagai ancaman mematikan untuk Bang Zaldi.
Sial bertubi tubi datang mengancam. Bang Zaldi kelabakan dibuatnya. Andaikan saja posisi mereka ada di rumah, mungkin saja dirinya bisa melakukan misi penyelamatan darurat, tapi sekarang posisi mereka sedang berada di dalam mobil. Bang Zaldi mati kutu tak bisa berbuat apapun. Ingin merayu pun sulit.
"Untukmu Arnesia istri kesayanganku.. Abang sangat mencintaimu" ucapnya menahan malu setengah mati di hadapan mertua dan kakak iparnya.
"Gombaaalll..!!!" Ledek Papa Rinto.
"Rayuan kadal sawah" sambung Bang Seno tertawa terpingkal.
Mama Anye menyembunyikan tawanya teringat masa lalu bersama Papa Rinto.
"Terus saja meledek. Aligator bukan buaya" ucap Bang Zaldi bersungut-sungut kesal.
"Cieee.. Abang baper..!! Perempuan bener ini ponakan gue. Papanya aja melow banget"
Bang Zaldi mengusap dadanya bersabar hati karena belakangan ini dirinya pun ikut sensitif.
.
.
.
.
__ADS_1