
Satu kali dua puluh empat jam. Bang Zaldi mulai sakau pertamanya. Bang Bayu terpaksa memberikan sedikit dosis untuk Bang Zaldi setelah berkonsultasi dengan berbagai pihak terkait terutama petinggi.
Perlahan Bang Zaldi mulai tenang dan bisa berpikir jernih, tidak mengamuk dan menyakiti dirinya sendiri. Belum lagi mabuknya Zaldi yang aneh terus saja melekat bagai kebiasaan yang tidak bisa di hindari.
"Kapan kita pulang Bay?" tanya Bang Zaldi dengan wajahnya yang masih pucat usai Bang Bayu memandikannya karena DanSat itu terus berontak. Bang Bayu merapikan penampilan Bang Zaldi seiring dengan tatto di tubuh Bang Zaldi yang mulai menghilang.
"Kalau kamu bisa mengontrol emosi baru kita pulang. Arnes sedang hamil. Aku cemas kamu akan menyakitinya tanpa sadar. Kasihan bayimu Zal" jawab Bang Bayu.
"Kalau bisa Arnes jangan sampai tau masalah ini Bay. Aku janji akan berusaha menjaga emosiku"
"Kita akan dampingi kamu Zal. Kamu nggak bisa begitu saja lepas dari obat-obatan itu, penyembuhan ini secara bertahap dan tidak bisa langsung terlepas"
"Astagfirullah hal adzim. Maafin Abang dek. Abang nggak sengaja" ucapnya penuh sesal. Tangis hancurnya tak terelakan lagi.
"Sudahlah.. ini bukan salahmu. Kamu sudah melakukan yang terbaik.
"Ijin Dan.. Yang sabar..!! hormat salut kami untuk komandan" kata Made.
***
Para anggota tiba di Kompi. Dari pusat, surat perintah Bang Bayu langsung turun dan pindah di kesatuan yang sama dengan Bang Righan.
Dengan senyumnya Arnes menyambut sang suami. Tak seperti biasa Bang Zaldi begitu lemas, pucat, matanya pun cekung. Tak ada senyum hangat dan sapa dari suami Arnes itu, dingin tanpa balasan saat Arnes memeluknya.
"Abang kenapa?" tanya Arnes heran.
"Capek. Abang pengen istirahat dulu" ucapnya sambil berlalu meninggalkan Arnes.
Bang Bima tau hal itu tapi ia menepis segala pikiran buruknya dan mencoba berpikir positif dengan sikap Bang Zaldi pada adiknya.
Bang Bayu dan Om Adi mengikuti langkah Bang Zaldi ke ruangannya.
-_-_-_-_-
Sampai malam hari Arnes masih berusaha melayani suami seperti bagaimana mestinya, namun sikap Bang Zaldi masih terlihat dingin. Arnes menahan diri untuk tidak menangis di balik perasaannya yang sangat sensitif.
"Abang mau makan apa? Arnes masak lalapan ayam goreng sama sop"
"Apa saja" jawabnya singkat.
Usai makan malam Bang Zaldi tidak masuk kamar dan malah memilih tidur di sofa. Arnes pun mengalah, tapi tangisnya meleleh saat Bang Zaldi menyebut nama 'Jessi'.
...
"Om Bayu jawab..!! siapa Jessi??" tanya Arnes saat malam itu Arnes pergi menemui Bang Bayu di rumah dinasnya, di asrama Batalyon.
"Bukan siapa-siapa Nes, percayalah"
"Om Bayu bohong..!!"
"Bang..!! Yang benar lah. Bang Zaldi selingkuh atau tidak??"
"Kamu jangan bicara aneh-aneh dan memanasi suasana. Kami itu berangkat untuk kerja, bukan mau main perempuan dek..!!" tegur Bang Bayu.
"Terus kenapa ada nama Jessi?" tanya Arnes.
Bang Bayu tidak berani menjelaskan apapun tanpa seijin Bang Zaldi. Karena akan sangat rawan membicarakan hal ini pada bumil.
__ADS_1
...
"Darimana kamu malam begini" Bang Zaldi menatap Arnes dengan pandangan marah.
"Tau nggak kamu ini musim angin. Kamu juga lagi hamil"
"Apa peduli Abang??" tanya Arnes.
"Apa peduli Abang??? Abang ini suamimu. Harusnya kamu minta ijin kalau mau kemana-mana" bentak Bang Zaldi sampai membuat Ibra dan Ryan menangis ketakutan.
"Abang tanya kamu darimana? Apa kamu menemui b******n di luar sana????" bentak Bang Zaldi lagi.
"Iya, seperti Abang menemui Jessi" jawab Arnes berteriak dan itu memancing emosi Bang Zaldi.
Mata tajam Bang Zaldi begitu menusuk.
"Abang sudah pernah bilang, rendahkan suaramu di depan Abang. Kamu mau melawan Abang?" Bang Zaldi mencengkeram pipi Arnes dengan satu tangan.
"Tidak ada nama Jessi di hidup Abang. Sekarang cepat bilang.. laki-laki mana yang kamu temui, bau maskulin ini menusuk hidung Abang"
"Abang bohoong..!!!" Arnes kesal dan mendorong Bang Zaldi sekuatnya.
Tak lama Om Adi datang, ia menerobos masuk ke dalam rumah lalu menarik lengan seniornya itu.
"Bibi tolong tenangkan anak-anak. Saya bawa Abang ke barak" perintah Om Adi karena bibi sudah ketakutan.
//
Bang Zaldi mulai tenang setelah Om Adi memberinya obat.
"Sampai kapan Abang terus begini. Ini bahaya Bang. Arnes dan anak-anak bisa celaka terutama kandungan Arnes" gumam Om Adi yang menenangkan Bang Zaldi bersama Made.
"Abang membentak Arnes dan mencengkeram pipinya. Abang cepat pulih. Kasihan anak istri Abang" kata Om Adi.
"Sebenarnya ada apa?? Apa yang kalian sembunyikan?? Kenapa Abang kasar sama Arnes?? Apa benar yang kudengar semua tentang Jessi????" tegur Bang Bima tiba-tiba datang kesana.
Bang Zaldi tak sanggup lagi membalas semua pertanyaan Bang Bima.
"Saya yang akan jelaskan Bang..!!"
***
"Dek, maaf. Abang nggak sengaja. Abang memang capek kemarin. Percayalah tidak ada Jessi"
Arnes yang sudah memendam kesal, tak ingin bicara dengan Bang Zaldi dan memilih pergi.
"Dek, sayang..!!" Bang Zaldi ingin mengejarnya tapi mual itu lagi dan lagi menyiksa dirinya.
***
Satu Minggu setelah kejadian itu, masih belum ada komunikasi di antara Bang Zaldi dan Arnes. Saat Bang Zaldi mendekati Arnes, istrinya itu selalu menghindar. Arnes tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri tapi tetap saja tanpa komunikasi membuat hubungan rumah tangga mereka menjadi hambar. Ibra juga menghindarinya karena takut dengan amarah papanya.
Dalam seminggu ini Bang Zaldi kelabakan mengatur emosi dan dirinya sendiri. Penolakan demi penolakan yang Arnes lakukan begitu menyiksa batinnya. Tak mau bicara, tak mau mendekat, bahkan memilih tidur pisah ranjang terlalu sulit ia lewati sendirian. Bang Bayu yang menghubunginya untuk memberikan obatnya pun tidak di indahkan. Fokusnya hanya tertuju pada Arnes.
Bang Zaldi merokok. Rasa rindunya pada sang istri sudah tidak dapat ia kontrol lagi. Di saat yang sama, badannya gemetar dan begitu terasa sakit. Di buangnya batang rokok yang baru terhisap, ia masuk ke dalam kamar, langkahnya oleng ke kiri dan ke kanan.
Bang Zaldi memeluk Arnes dari belakang. Ia yang sudah tidak sanggup mengendalikan diri, mendekap Arnes dengan kasar dan memaksa.
__ADS_1
"Abang mabuk ya??" Arnes yang tidak tau apapun semakin kecewa dengan sikap Bang Zaldi sejak kepulangan nya dari dinas luar. Ia menolak sampai menampar pipi Bang Zaldi.
"Kamu istriku, tapi kamu menolakku. Apa aku harus menemui Jessi untuk menyalurkan semua hasrattku???" Bang Zaldi membuka pakaiian Arnes dengan paksa.
Bibi yang mendengar keributan itu segera keluar rumah dan menghubungi Pak Bima serta Pak Bayu sesuai permintaan mereka berdua. Bibi tak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga tuannya.
Tak sadar dengan sangat kasar Bang Zaldi menggauli istrinya. Kasar, tanpa kasih sayang dan belas kasih sama sekali.Yang ada hanya amarah dan n***u setan.
//
Bang Zaldi melenguh merasakan kenikmatan namun semua seakan terasa sirna lantaran kesadarannya yang tidak utuh. Sedangkan disana berbanding terbalik dengan Arnes suara Arnes yang menangis.
"Abang mau bunuh Arnes sama anak ini??" Arnes sesenggukan. Tenaganya sudah habis tidak sanggup melawan Bang Zaldi lagi.
"Bagaimana ini Bang ( Om Bayu ) ??" tanya Bang Bima bingung.
"Kamu masuk duluan. Arnes adik kandungmu. Nanti saya menyusul" perintah Bang Bayu.
Bang Bayu menggandeng tangan Mey agar bisa membantunya juga.
"Kamu nanti tangani Arnes ya dek, Abang mau urus Zaldi"
:
"Abaaang.." Bang Bima mengambil selimut lalu menutup keduanya. Tangannya menyambar handuk dan menutupi Bang Zaldi.
"Bang, tolong bantu..!!"
//
Bang Bima, Bang Bayu, Bang Righan, Om Adi serta Om Aswin memasukan Bang Zaldi di dalam bak besar berisi air sambil membenamkan lalu menariknya kembali agar pria itu segera sadar. Sakaunya sangat parah hingga mereka harus menanganinya secara laki-laki juga.
"Percuma kamu marah Bim. Zaldi tidak sadar apa yang di lakukannya, otaknya sedang konslet" kata Bang Bayu mengingatkan Bang Bima.
"Konslet tapi punya n***u????"
"Itu manusiawi Bim. Kamu nggak dengar kemarin Zaldi bilang apa? Arnes nggak mau lagi dekat dengannya. Kamu sendiri sebagai seorang suami, stress nggak kalau dalam situasi seperti itu? Disaat hasrat memuncak, istrimu menolak. Zaldi takut sekali Arnes terguncang dan takut padanya kalau tau dirinya sekarang ini seorang pecandu. Itu sebabnya dia belum bilang" jawab Bang Bayu.
...
Bang Zaldi menyerang Bang Bayu, rasa sakitnya sungguh luar biasa. Bang Bayu mengurangi dosis obat untuk penyembuhan Bang Zaldi agar tidak semakin ketergantungan.
"Lebih baik kamu bunuh aku Bay. Istriku sudah marah, nggak peduli denganku lagi. Untuk apa aku hidup?????" ucapnya putus asa.
"Arneeeeesss.. Jangan tinggalin Abang..!!" teriaknya kuat.
"Abang kangen dek..!!" suaranya lirih kemudian melemah.
"Kalem Zal. Slow..!!" hati-hati sekali Bang Bayu mengambil sangkur yang sempat di rebut Bang Zaldi dari saku Om Adi. Di dekapnya erat bahu Bang Zaldi.
"Masa gitu mikirnya sama istri sendiri. Arnes nggak akan tinggalin kamu. Ayo sadar Zal..!! Kasihan anak istrimu"
.
.
.
__ADS_1
.